Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 8 CEO Misterius 2

Pria itu tampak asik memainkan pistolnya, dia mengambil beberapa peluru lalu menembak buah apel yang ada di piring.

Dor!

Pria itu tersenyum menyeringai saat targetnya tertembak dan hancur.

"Seperti halnya dengan apel itu maka kamu akan hancur lebur, Bara Adhiyaksa. Kematian dirimu sangat aku tunggu," ujar pria itu.

Pria itu bangkit dari kursi kebesarannya dan melemparkan pistolnya ke sofa.

"Aku harus menghubungi Devian," ujar pria itu.

Pria itu pun mengambil ponselnya dan menghubungi Devian.

"Halo, Tuan."

"Kau sudah menemukan siapa orang yang telah membantu Bara Adhiyaksa?" tanya pria itu.

"Sudah, Tuan. Ternyata pria itu telah ditolong oleh seorang gadis muda," balas Devian.

"Gadis muda? Menarik," ujar pria itu.

"Lebih menariknya gadis itu masih berusia 21 tahun," ujar Devian.

"Cari tahu informasi gadis itu. Aku memberimu waktu dua hari," ujar pria itu.

"Ah baiklah, Tuan. Saya akan tepat waktu untuk mengabari Anda," ujar Devian.

"Baiklah, Devian. Ketika kau sudah menemukan informasi itu langsung datang saja ke Mansion ku," ujar pria itu.

"Baiklah, Tuan. Saya akan datang ke Mansion Anda," ujar Devian.

Pria itu pun memutuskan sambungan teleponnya.

"Rupanya kamu ingin bermain-main denganku gadis kecil. Baiklah akan aku kabulkan," ujar pria itu.

Pria itu tersenyum menyeringai lalu memutuskan untuk pergi bertemu dengan teman-teman yang merupakan anggota dari geng nya.

Di sisi lain...

~ Markas Singa Hitam ~

Geng Psikopat Singa Hitam, merupakan sebuah kelompok yang sangat kuat dan tidak terkalahkan. Mereka memiliki tujuan yang sama yakni merebut bisnis Perusahaan lain, membunuh pemimpin Perusahaannya, dan mengambil alih kepemimpinan. Geng ini dikenal sangat kejam, tidak berperasaan, serta menakutkan. Geng ini beranggotakan 7 orang, yaitu: Xavier, Samuel, Juan, Carlos, Kelvin, Alland, dan Arvin.

"Mana Xavier?" tanya Samuel.

"Belum datang," balas Juan.

"Biasanya dia sudah datang untuk berkumpul bersama kita," ujar Carlos.

"Entahlah tidak biasanya dia telat seperti ini," ujar Kelvin.

"Nanti juga dia akan datang," ujar Alland dan Arvin.

Tak lama kemudian Xavier pun datang, auranya benar-benar gelap dan menyeramkan.

"Akhirnya kau datang juga, Xavier. Kami sudah lama menunggu dirimu," ujar Samuel.

"Maapkan aku. Ada sedikit masalah yang harus diriku selesaikan," ujar Xavier.

"Ayo mulai rapatnya. Aku sudah tidak sabar untuk membunuh lagi," ujar Alland dan Arvin.

"Bersabarlah kalian. Bukankah setiap pertemuan harus ada minuman dan makanan?" tanya Juan.

"Biar aku saja yang pesan. Namun, Alland yang bayar," balas Arvin.

"Baiklah untuk kali ini," ujar Alland.

Alland pun menelepon seseorang untuk memesan makanan dan minuman.

"Aku sudah pesankan," ujar Alland.

Xavier tersenyum dan mengirimkan uang diam-diam ke ponsel Alland, Alland melirik kearahnya dan tersenyum.

"Baiklah kita mulai saja perbincangan penting kita," ujar Alland.

"Baiklah," ujar Kelvin.

Tak lama kemudian suasana ruangan kembali hening.

"Perusahaan mana yang akan kita hancurkan dan ambil alih?" tanya Juan.

"Aku merasa Perusahaan Teddy Company layak untuk dihancurkan," balas Arvin.

"Baiklah aku setuju," ujar Xavier.

"Perusahaan Herton Groups juga layak untuk dihancurkan," ujar Carlos.

"Ah aku setuju," ujar Samuel.

"Aku rasa Perusahaan Orchard Groups juga layak untuk dihancurkan," ujar Arvin.

"Ah Perusahaan itu hampir saja aku lupakan," ujar Xavier.

"Kita bagi tugas saja," ujar Alland.

"Aku dan Samuel akan menangkap Teddy," ujar Xavier.

Samuel hanya mengangguk dan tersenyum kepada Xavier.

"Aku dan Carlos yang akan menangkap Romi," ujar Juan.

"Baiklah Juan. Aku setuju," ujar Carlos.

"Aku dan Alland akan menangkap Jack," ujar Kelvin.

Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

"Arvin aku menyuruhmu untuk membunuh Galih," ujar Xavier.

"Kau tenang saja, Xavier. Galih itu lemah akan dengan sangat mudah membunuhnya," ujar Arvin.

"Baiklah rapat kali ini selesai," ujar Xavier.

Mereka pun tampak bercanda sambil tertawa. Tanpa mereka sadari mata-mata dari Aryan Pemilik Perusahaan Aria Company sedang merekam perbincangan mereka.

"Sebaiknya aku pergi dari sini dan menemui Tuan Aryan," ujar pria itu.

Pria itu pun pergi dengan sangat berhati-hati.

Di sisi lain...

~ Aria Company ~

Aryan sedang berbincang-bincang serius dengan kliennya, dia membahas tentang bisnisnya.

"Aryan kita harus berhati-hati agar bisnis kita tidak dihancurkan oleh Xavier," ujar pria itu.

"Kau tenang saja. Aku sudah mengirimkan Lars untuk mengawasi dia diam-diam," ujar Aryan.

"Syukurlah kalau begitu," ujar pria itu.

"Xavier memang berbahaya. Dia itu pria serakah dan kita harus bisa menghancurkan dia," ujar Aryan.

"Bagaimana mungkin bisa, Aryan. Dia itu psikopat kita bisa saja mati di tangannya," ujar pria itu.

"Kamu harus yakin pada diri sendiri, Zayn. Aku akan memikirkan cara untuk membuat dia hancur," ujar Aryan.

"Bagaimana caranya?" tanya Zayn.

"Aku akan menggunakan Sekretaris Arion untuk menghancurkan Xavier," balas Aryan.

"Apa kau punya dendam pada Arion?" tanya Zayn.

"Tentu saja aku memiliki dendam pribadi padanya," balas Aryan.

"Bukankah selama ini kalian baik-baik saja?" tanya Zayn.

"Tentu saja tidak, Zayn. Aku iri pada keberhasilan dia," balas Aryan.

"Menurutku itu alasan yang tidak masuk akal, Aryan. Hanya karena keberhasilannya kau iri dan hendak menghancurkan dia. Aku benar-benar tidak habis pikir," ujar Zayn.

"Kau membelanya?" tanya Aryan dengan nada kesal dan marah.

"Ya kau terlalu egois dengan mengorbankan orang lain demi untuk membalas dendam dan menggapai tujuanmu. Sungguh kau lebih jahat dari Xavier!" teriak Zayn dengan nada marah dan emosi.

Zayn pun pergi meninggalkan Aryan sendirian.

"Mengapa Arion selalu saja dibela? Kesuksesan dia membuat diriku ingin sekali menghancurkannya," ujar Aryan.

Aryan pun menepis gelas dihadapannya hingga hancur berantakan.

"Aku akan tetap menjalankan siasat balas dendam ini," ujar Aryan.

Aryan tersenyum menyeringai dan menelepon orang kepercayaannya.

"Selamat malam, Tuan Aryan. Ada yang bisa Saya bantu?" tanya Dino.

"Ya, Dino. Aku minta kau mencari seorang gadis yang mata duitan lalu bawa dia padaku," balas Aryan.

"Ah baiklah, Tuan. Kenapa harus yang mata duitan, mengapa tidak gadis polos saja?" tanya Dino.

"Tidak. Aku punya rencana lain," balas Aryan.

"Ah baiklah, Tuan."

Aryan pun memutuskan sambungan teleponnya.

"Tidak lama lagi kau akan aku hancurkan, Arion. Xavier akan murka padamu," ujar Aryan.

Aryan pun bangkit dan memutuskan untuk kembali ke Mansion miliknya karena sudah larut malam.

Di sisi lain...

Citra sedang berpesta minuman alkohol bersama dengan teman-temannya, mereka tampak asik berjoget-joget.

"Citra. Kamu dapat uang dari mana bisa mengajak kami bersenang-senang?" tanya Lea.

"Tentu saja aku membantu pengusaha kaya untuk mencapai tujuan mereka," balas Citra.

"Dapat berapa juta?" tanya Lea.

"100 juta perbulan," balas Citra.

Citra masih saja berlenggak-lenggok dihadapan pria-pria yang menatapnya dengan penuh gairah.

"Wah aku jadi iri padamu," ujar Lea.

"Aku akan mengajakmu bersenang-senang setiap saat," ujar Citra.

Mereka pun tertawa terbahak-bahak.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel