Chapter 10 Misi Penculikan 2
Setelah kepergian Arion, Maura memutuskan untuk masuk ke dalam Mansion milik Neneknya.
"Kamu sudah pulang nak?" tanya Nenek.
"Sudah, Nenek. Kamu sudah makan?" tanya Maura.
"Belum nak," balas Nenek.
"Maura mau masak dulu," ujar Maura.
"Hati-hati ya nak," ujar Nenek.
Maura tersenyum dan pergi ke dapur.
"Ya Allah, tolong lindungilah cucuku selalu. Jangan biarkan dia terluka sedikitpun dan bahagiakan Maura," ujar Nenek.
Nenek pun pergi ke kamarnya.
Di dapur, Maura sedang memasak telur dadar dan semur hati ayam. Gerakan tangannya sangat cepat dan juga teratur.
Maura tersenyum ketika masakan yang dia buat sudah matang.
"Alhamdulillah sudah matang," ujar Maura.
Maura pun segera menata makanan yang dia buat dan meletakkan di meja makan.
"Panggil Nenek dulu saja," ujar Maura.
Maura pun pergi ke kamar Neneknya.
Sesampainya di kamar...
"Nenek. Maura sudah masak. Makan dulu yuk," ujar Maura.
"Iya nak. Ayo makan dulu," ujar Nenek.
Nenek dan Maura pun memutuskan untuk sarapan.
Di tempat lain...
Seorang pria berjubah hitam sedang berbincang dengan orang kepercayaannya.
"Apa tugas yang akan Anda berikan?" tanya pria itu.
"Aku meminta kamu untuk menculik gadis bernama Maura ini," balas Xavier.
"Baiklah. Saya permisi," ujar pria itu.
Pria itu pun pergi dari hadapan Xavier.
"Citra. Aku pasti bisa mendapatkan kamu dan memberikan pelajaran berharga," ujar Xavier.
Xavier pun kembali ke ruangan pribadi miliknya setelah berbicara dengan orang suruhannya.
Sesampainya di ruangan pribadi...
Xavier langsung bersandar di sofa lembut dan mahal miliknya.
"Aku tidak sabar untuk menyiksa wanita itu," ujar Xavier.
Xavier tersenyum menyeringai dan mengambil sesuatu dari laci mejanya.
"Sabar ya pistol. Kamu akan segera menemukan darah segar," ujar Xavier.
Xavier pun membuka kancing baju miliknya dan menyemprotkan parfum pavorit miliknya.
Tak lama kemudian ponselnya berdering dan dia dengan cepat mengangkatnya.
"Ada apa kau menelpon aku?" tanya Xavier.
"Xavier ada masalah penting. Cepatlah datang ke Markas,"
"Baiklah."
Sambungan telepon terputus.
Xavier mengambil jas miliknya lalu memutuskan untuk pergi.
Xavier menghidupkan mesin mobil miliknya dan melajukan dengan kecepatan tinggi.
Sementara itu...
~ Markas Singa Hitam ~
Terlihat enam pria sedang mengobrol serius sambil menunggu kedatangan pemimpin mereka. Siapa lagi kalau bukan Xavier.
"Kamu sudah beritahu, Xavier?"
"Tentu saja sudah."
"Dia akan datang sebentar lagi,"
"Baiklah kalau begitu."
Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah Xavier.
"Kau sudah datang?"
"Ya aku buru-buru kemari," balas Xavier.
"Kemarilah, Xavier. Aku ingin berbincang denganmu,"
"Baiklah."
Xavier pun duduk di samping kedua temannya yang sama-sama berotot kekar.
"Apa yang kamu minum sehingga tubuhmu berotot?"
"Aku hanya olahraga dengan rutin," balas Xavier singkat.
"Tidak ada alasan lainnya?"
"Tidak ada hanya itu saja," balas Xavier.
Xavier hanya diam saja dia menatap lurus ke arah papan target.
Xavier mengambil pistol dari saku jubahnya dan menembak tepat sasaran.
"Apa kau ada masalah, Xavier?" tanya Samuel.
"Ya, aku menyuruh seorang wanita untuk menangkap Bara namun dia berkhianat dan kabur," balas Xavier.
"Jika wanita itu sudah tertangkap serahkan saja padaku," ujar Juan.
"Kamu mau apakan wanita itu, Juan?" tanya Alland.
"Tidak salah lagi jika Juan sudah berkata seperti itu dia akan menghabisi wanita itu dengan cara manis," balas Carlos.
"Cara manis? Apa maksudmu?" tanya Samuel.
"Kau tahu tidak Juan itu penikmat wanita pelanggar janji. Dia tidak akan segan-segan membunuh wanita itu dengan cara manis," balas Kelvin.
"Baiklah, Juan. Aku akan menyerahkan wanita itu padamu. Kau boleh bermain-main dengan dia sepuasnya," ujar Xavier.
"Bisakah kita mulai perbincangan pentingnya. Kalian tahu aku banyak pekerjaan dan jadwalku sangatlah padat," ujar Arvin.
Sontak saja keenam anggota Geng Psikopat Singa Hitam menatapnya dengan tatapan bingung.
"Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Arvin.
"Ah sudahlah. Sebaiknya kita mulai saja perbincangan serius ini," balas Samuel.
"Tentu saja itu lebih baik," ujar Arvin.
Tak lama kemudian ruangan rapat Geng Psikopat menjadi hening, tidak ada satu pun yang berani bersuara.
"Ternyata ada yang diam-diam memberitahu rencana kita pada ketiga pemimpin Perusahaan yang hendak dibunuh," ujar Samuel.
Xavier memukul meja dengan keras membuat teman-temannya terkejut bukan main.
"Kurang ajar!" teriak Xavier.
"Bagaimana bisa rencana tertutup kita diketahui?" tanya Alland dan Arvin.
"Aku juga tidak mengerti. Namun yang pasti kita harus mencari orang yang telah membeberkan rencana kita," ujar Juan, Carlos, dan Kelvin.
"Aku setuju dengan kalian bertiga. Arvin aku tugaskan kamu untuk mencari orang itu dan bawa dia kehadapan diriku," ujar Xavier.
"Dengan senang hati," ujar Arvin.
Suasana kembali hening seketika, suhu ruangan semakin dingin.
"Apa ada lagi yang ingin dibicarakan?" tanya Xavier.
"Tidak ada," ujar Samuel, "Kalian boleh kembali ke Mansion masing-masing. Aku masih banyak pertemuan yang harus dilakukan."
"Aku tidak menyangka orang seperti dirimu bisa sibuk juga," goda Arvin.
"Sudahlah sekarang kita pulang," ujar Carlos.
Mereka pun memutuskan untuk pergi karena banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Xavier Raigander Arlan, pria berusia 27 tahun. Ketua Geng Psikopat Singa Hitam sekaligus CEO dari Perusahaan XRA Corporation. Dikenal sebagai sosok yang kejam, pemarah, licik, Manifulatif, penyiksa, dan tidak berperasaan. Siapa pun yang bermain-main dengannya akan mati secara tragis tidak peduli pria atau pun wanita. Banyak rumor yang mengatakan kalau Xavier sangat suka sekali bercinta dengan sembarang wanita, baginya uang adalah segalanya.
Xavier merupakan putra dari Ray Arlan dan Raya Arlan. Xavier menuruni sifat Ayahnya.
Samuel Xaston Dackyson, pria berusia 27 tahun. Wakil ketua dari Geng Psikopat Singa Hitam dan CEO dari Perusahaan SXD Corporation. Sama halnya dengan Xavier, pria tampan ini juga dikenal dengan sosok yang kejam,pemarah, licik, Manifulatif, penyiksa, dan tidak berperasaan. Siapa pun yang bermain-main dengannya akan mati secara tragis tidak peduli pria atau pun wanita. Banyak rumor yang beredar bahwa Samuel sangat suka menyiksa tawanannya dengan sangat brutal, dia bahkan tega memotong-motong tangan musuhnya tanpa belas kasihan. Baginya jeritan dari korban adalah nada terindah, sangat menyenangkan dan juga menenangkan. Samuel merupakan putra dari Axsel Xaston Dackyson, pria paruh baya yang suka sekali menyiksa dan membunuh. Berbeda dengan Ibunya, Alexa Wilia Dackyson yang memiliki sikap yang lemah-lembut, penyayang, dan setia. Sikap Axsel sepenuhnya menurun pada Samuel putra kesayangannya, sebenarnya Samuel memiliki seorang adik perempuan namun Bundanya mengasingkan adiknya di Hutan demi keselamatan putrinya. Axsel tidak menyukai anak perempuan, dia tidak akan segan-segan membunuh anak kandungnya sendiri jika anaknya seorang Perempuan. Adik Samuel lahir saat Axsel membawa Samuel jalan-jalan ke New York, Amerika Serikat. Saat itu usia Samuel 8 tahun. Sudah bertahun-tahun lamanya berpisah dengan putrinya Alexa merasa kesepian dan juga rindu.
