Chapter 7 CEO Misterius
Wanita paruh baya itu tanpa sadar memeluk erat tubuh Maura, Arion, adiknya, dan sang Ayah hanya diam melihat reaksi sang Istri sekaligus Ibundanya.
"Nyonya," ujar Maura dengan nada lembut.
"Jangan panggil aku Nyonya. Panggil saja aku Bunda," ujar wanita paruh baya itu.
Arion semakin terkejut mendengar perkataan dari Ibunda sekaligus istri dari Ayahnya.
"Mita,"
"Ya, Ayah," ujar Mita.
"Ambilkan minuman dan makanan,"
"Baiklah, Ayah," ujar Mita.
Mita pun pergi menjauh dari Rizwan Gazwan untuk menyiapkan apa yang diperintahkan Ayahnya.
"Amilia. Sampai kapan kamu akan membiarkan tamu kita untuk berdiri saja?" tanya Rizwan.
"Aku lupa Mas karena terlalu bahagia," balas Amilia.
Rizwan memandang Arion dan tersenyum.
"Ayo nak kita duduk," ujar Amilia.
"Baiklah, Bunda," ujar Maura.
Tak lama kemudian Mita datang dengan membawa makanan dan minuman.
"Kamu pasti sangat lelah ya nak, silahkan dinikmati," ujar Rizwan.
"Terimakasih, Paman," ujar Maura.
Rizwan hanya mengangguk lalu membawa istrinya pergi untuk berbincang-bincang.
"Kakak namanya siapa?" tanya Mita.
"Aku Maura," balas Maura dengan nada lembut.
"Aku Mita," ujar Mita.
"Salam kenal Kakak," lanjut Mita.
Maura tersenyum hangat dan senyumnya itu membuat Mita tenang.
Arion membiarkan adiknya untuk mengobrol, lalu dia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.
"Aku senang deh kakak malam ini akan menginap disini. Tidur bersamaku ya," pinta Mita.
"Baiklah, Mita. Kakak akan tidur bersamamu," ujar Maura.
Maura dan Mita pun mengobrol dengan penuh canda tawa.
Di sisi lain...
Rizwan dan Amilia sedang berbincang-bincang serius.
"Aku tidak setuju jika mereka menjalin hubungan," ujar Amilia.
"Kenapa? Arion berhak memilih," ujar Rizwan.
"Justru itu suatu kesalahan besar jika mereka menjalin hubungan," balas Amilia.
"Kamu ini aneh sekali. Bukankah kamu sangat menginginkan Arion menikah namun disaat dia sudah memiliki kekasih sifat mu malah seperti ini," ujar Rizwan.
"Aku memang menginginkan Arion menikah namun tidak dengan gadis itu," ujar Amilia.
"Apa alasanmu sebenarnya, Amilia. Kenapa sikapmu sangat berubah?" tanya Rizwan.
"Aku merasakan ikatan lain antara diriku dan gadis itu," balas Amilia.
"Ikatan seperti apa?" tanya Rizwan.
"Ikatan batin. Apa kamu tidak merasakan hal itu Mas?" tanya Amilia.
Rizwan terdiam mematung mendengar perkataan dari istrinya.
"Apa Mas melupakan Mila? Putri pertama kita yang hilang dan sampai sekarang belum ditemukan?" tanya Amilia.
Tanpa mereka sadari Arion mendengar perdebatan kedua orangtuanya.
"Jadi aku memiliki adik lain selain Mita, Bunda?" tanya Arion.
Rizwan dan Amilia terkejut dan menatap putranya dalam-dalam.
"Nak, sedang apa kamu disini?" tanya Rizwan dan Amilia, mereka sangat syok ketika mendengar suara tegas Arion putra pertama mereka.
Arion tidak menjawab pertanyaan dari kedua orang tuanya dia lebih memilih diam.
"Kamu mau tahu tentang Mila, Arion?" tanya Rizwan.
"Ya, Ayah. Aku harus tahu tentangnya dan agar diriku bisa membantu menemukan dia kembali," balas Arion.
"Baiklah. Ayah akan menceritakan semuanya," ujar Rizwan.
Rizwan menghela nafas panjang dan mulai bercerita, Arion tampak fokus mendengarkan.
Beberapa tahun yang lalu...
Dulu kamu masih berusia 5 tahun, Arion. Bunda kamu sedang mengandung adik keduamu yang sudah 9 bulan. Saat itu Ayah menitipkan kamu kepada Kakek dan Nenekmu selama 4 tahun, selang beberapa hari kamu dititipkan, Bunda kamu masuk ke rumah sakit hendak melahirkan adikmu yang kedua. Beberapa jam kemudian, lahirlah seorang bayi mungil perempuan yang sangat cantik dan manis. Namun kebahagiaan kami tidak berlangsung lama, ketika malam tiba saat Ayah ingin melihat bayi yang telah kami berikan nama Mila. Adikmu sudah tidak ada lagi di ruangan bayi, Ayah dan Bunda sangat sedih bahkan sudah bertahun-tahun kami mencarinya namun hasilnya nihil, adikmu tetap tidak ditemukan.
***
Arion hanya diam dan tanpa sadar air matanya mengalir deras.
"Kenapa Ayah tidak bilang bertahun-tahun lalu? Mengapa baru sekarang mengatakannya?" tanya Arion.
"Maapkan kami nak. Aku tidak memberitahu dirimu dan juga orang tua kami atas hilangnya cucu perempuan mereka," balas Amilia.
"Ayah tenang saja. Aku akan mencari Mila kembali," ujar Arion.
"Baiklah nak. Temukan dia dan bawa kembali kepada kami," ujar Rizwan.
"Pasti, Ayah. Mila adalah adikku yang kedua," ujar Arion.
Rizwan dan Amilia tersenyum dan mereka saling berpelukkan hangat.
"Sayang sebaiknya kita istirahat sudah malam," ujar Rizwan.
"Benar, Sayang. Ouh iya Arion Maura akan tidur dengan siapa?" tanya Amilia.
"Maura akan tidur dengan Mita, Bunda," balas Arion.
"Baiklah nak. Mereka sudah seperti kakak dan adik," balas Amilia.
"Benar, Bunda. Arion sengaja meninggalkan Maura bersama Mita agar mereka bisa berbincang-bincang," ujar Arion.
"Ya sudah nak. Kamu istirahat saja," ujar Amilia.
"Baiklah, Bunda."
Arion pun pergi ke kamarnya begitu pula dengan Rizwan dan istrinya.
Di sisi lain...
~ Kamar ~
Mita dan Maura tampak sedang berbincang-bincang.
"Kakak kita mau tidur jam berapa?" tanya Mita.
"Kamu mau jam berapa?" tanya Maura.
"Jam sembilan saja kakak. Aku ingin mengobrol sepuasnya denganmu," balas Mita.
"Baiklah, Mita. Kita akan tidur pukul sembilan malam," ujar Maura.
"Kakak aku punya cemilan," ujar Mita.
Mita pun mendekati lemari dan mengambil Chiki.
"Kakak aku bawa Wafer sama Chiki. Mau yang mana?" tanya Mita.
"Wafer saja deh," balas Maura.
Mita pun memberikan wafer itu pada Maura.
"Wafernya enak ya," ujar Maura.
"Benar Kakak. Aku suka banget dengan wafernya," ujar Mita.
Mereka pun terus saja mengobrol hingga tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Mita sudah jam sembilan malam. Kita tidur ya," ujar Maura.
"Kakak benar dan aku juga sudah sangat mengantuk," ujar Mita.
Maura pun bangkit hendak membuang sampah pada tempatnya.
"Aku mau ke kamar mandi dulu untuk berwudhu," ujar Maura.
"Kalau boleh tahu, apa manfaat berwudhu?" tanya Mita.
"Setiap kita tidur setelah berwudhu dan berdoa maka malaikat akan menjaga kita dari kanan, kiri serta yang lainnya. Malaikat akan melindungi kita sampai fajar datang," balas Maura.
"Wah ... ayo kita berwudhu," ujar Mita.
Mita dan Maura pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu, setelah selesai mereka kembali dan langsung istirahat sehabis berdoa.
Di sisi lain...
Seorang pria berjubah hitam tampak duduk di kursi kebesaran miliknya yang berada di dalam ruangan kerja pribadinya. Ruangan itu tampak gelap dan tidak ada pencahayaan sedikit pun selain cahaya bulan purnama yang terang benderang.
Pria itu tampak duduk dengan posisi membelakangi pintu keluar, dihadapannya hanya ada sebuah poto keluarga yang membuat dirinya menatap dengan penuh kebencian.
"Bara Adhiyaksa kamu tidak akan bisa bersembunyi terlalu lama dariku. Aku pastikan kau akan mati dengan mengenaskan," ujar pria itu dengan senyuman menyeringai.
Pria itu membuka laci yang berada disampingnya dan mengambil sebuah pisau yang sangat tajam.
