Chapter 6 Kekhawatiran Zico
Zico dan Maura terus saja berlari untuk mencari tempat persembunyian yang aman. Setelah menemukan tempat yang tepat mereka langsung bersembunyi.
Zico menghela nafas panjang dan menatap Maura dalam-dalam, dia sangat khawatir dengan keberanian Maura. Maura sendiri sebenarnya takut, namun dia harus belajar berani untuk menyelamatkan nyawa orang lain.
"Apa yang kau lakukan? Kamu tahu itu sangat berbahaya," ujar Zico.
Maura menghela nafas dalam-dalam dan menatap Zico.
"Aku hanya ingin menolong orang yang sedang dalam bahaya," balas Maura dengan nada tenang.
Zico hanya diam membeku.
"Kamu tahu tidak dia itu bukan pria sembarangan," ujar Zico.
"Dia itu pembunuh berdarah dingin yang sangat kejam dan tidak kenal ampun," lanjutnya.
"Memang apa sih yang kamu lakukan di tengah malam seperti ini?" tanya Maura.
"Aku sedang berjalan menuju Mansion ku namun dia datang tiba-tiba," balas Zico.
"Siapa sebenarnya pria itu? Mengapa dia ingin membunuh kamu?" tanya Maura.
"Dia tentu saja orang jahat yang ingin menghancurkanku bisnis dan Perusahaan orang lain," balas Zico.
Maura tampak terkejut dan sangat ketakutan.
"Kamu tenang saja aku akan menghubungi Tuan Bara untuk melindungi dirimu," ujar Zico.
Maura hanya mengangguk dan berusaha menenangkan dirinya.
"Aku akan menghubungi Tuan Bara untuk mengantarkan kamu pulang," ujar Maura.
"Tidak usah, Kakak. Aku akan pulang sendiri saja lagi pula pria itu tidak kenal denganku dan belum melihat wajahku," ujar Maura.
"Apa kau yakin di luar sana berbahaya," ujar Zico.
"Saya yakin dan pamit pulang duluan," ujar Maura.
Maura pun keluar dari tempat persembunyiannya dan pergi meninggalkan Zico sendirian, Zico tidak tenang karena Maura memilih pergi tanpa seseorang yang menemaninya.
"Aku harus beritahu Tuan Bara tentang masalah diriku," ujar Zico.
Zico pun mulai menelepon Bara Adhiyaksa.
"Kau di mana, Zico?" tanya Bara Adhiyaksa.
"Tuan, Saya sedang bersembunyi dari kejaran Xavier," balas Zico.
"Apa!" teriak Bara Adhiyaksa.
"Bagaimana mungkin kau bisa bertemu dengannya, Zico?" tanya Bara Adhiyaksa.
"Aku sendiri heran, Tuan. Sebenarnya aku keluar untuk mencari makan malam namun naas aku bertemu dengannya," balas Zico.
"Awalnya dia tidak menyadari kehadiran diriku, namun tiba-tiba pengawal setianya mengadu pada Xavier. Aku hampir terbunuh jika gadis muda itu tidak menolongku," lanjut Zico.
"Siapa gadis itu?" tanya Bara Adhiyaksa.
"Saya tidak tahu, Tuan," balas Zico.
"Gadis itu tiba-tiba saja datang dan menyiram Xavier dengan satu ember air," lanjut Zico.
"Apa kau tidak mengenal ciri-ciri dari gadis itu? Ouh ya, apa dia bersamamu?" tanya Bara Adhiyaksa.
"Saya hafal ciri-ciri gadis itu, Tuan," balas Zico dengan cepat.
"Sayangnya dia lebih memilih untuk pergi sendirian dan menolak untuk pulang bersamaku," lanjut Zico.
"Bahaya. Sebutkan ciri-ciri gadis itu," ujar Bara Adhiyaksa.
"Gadis itu memiliki tinggi badan 140, tubuhnya sangat mungil namun langsing, rambutnya hitam dan panjang sampai ke punggung, wajahnya sangat cantik serta manis," ujar Zico.
"Tunggu, sepertinya aku mengenali siapa gadis itu. Zico dia adalah Sekretaris Arion," ujar Bara Adhiyaksa dengan nada panik.
"Benarkah, Tuan? Lantas kenapa dia menolongku?" tanya Zico.
"Bukankah hubungan Anda dengan Tuan Arion hanyalah sebatas musuh?" lanjut Zico.
"Tidak, Zico. Kami sudah menjadi sahabat dan dia bukan musuhku lagi," balas Bara.
"Aku akan mengirimkan beberapa pasukan khusus untuk menjemputmu, kirimkan lokasinya padaku. Jangan kemana-mana," lanjut Bara.
"Baik, Tuan."
Tak lama kemudian sambungan diputuskan sepihak.
"Aku jadi cemas memikirkan gadis itu. Lindungi dia Tuhan," ujar Zico.
Zico mengusap wajahnya dan bersandar pada dinding.
Di sisi lain...
~ Mansion Bara ~
Bara sedang memerintahkan sebagian pasukannya untuk menjemput, Zico. Pikirannya sangat tidak tenang saat ini saat Xavier mulai menampakkan diri.
"Aku sampai lupa menghubungi Arion," ujar Bara.
Bara pun mencari nama kontak Arion dan mulai memanggil.
"Halo, Arion. Ada apa menghubungiku?" tanya Arion.
"Sekretaris kamu dalam bahaya, maapkan Zico," balas Bara dengan nada lirih.
"Apa yang terjadi dengannya kenapa bisa dalam bahaya?" tanya Arion.
"Dia telah menyelamatkan nyawa Zico yang akan dilenyapkan oleh Xavier," balas Bara.
"Xavier," ujar Arion.
"Benar dia telah kembali untuk menghancurkan para pebisnis sukses seperti kita," ujar Bara.
"Sungguh berbahaya," ujar Arion.
Arion tiba-tiba saja memutuskan sambungan teleponnya, membuat Bara semakin khawatir.
"Apa kata Tuan Arion?" tanya Zico penasaran.
Zico telah kembali ke Mansion Bara beberapa jam lalu.
"Kau tahu, Zico. Bagi Arion gadis itu sudah seperti adiknya sendiri. Dia benar-benar panik," balas Bara.
"Lantas apa rencana Anda Tuan?" tanya Zico.
"Mengirimkan pasukan yang tersisa untuk membantu Arion," balas Bara.
"Saya setuju, Tuan."
Bara hanya tersenyum tipis sebenarnya dia khawatir.
"Aku akan membersihkan diri dulu. Kau juga jangan lupa," ujar Bara.
Bara pun pergi meninggalkan Zico.
"Sebaiknya aku juga segera membersihkan diri dan istirahat," ujar Zico.
Zico pun pergi ke kamarnya.
Di tempat lain...
Maura sedang berjalan sendirian ditengah jalanan yang gelap dan mencekam, tiba-tiba muncullah sosok pria dengan jubah hitamnya. Maura tercengang karena pria dihadapannya merupakan orang yang sama dengan pria pembunuh tadi.
Tubuh Maura bergetar hebat, kakinya tidak bisa bergerak sedikitpun. Tatapan pria itu seakan-akan mengintimidasi Maura.
"Lindungi hamba Ya Allah," lirih Maura pelan, sehingga pria dihadapannya tidak mendengar.
Setelah beberapa menit kemudian, sebuah mobil mewah berhenti dihadapannya.
"Masuklah, adikku!" perintah Arion dengan nada tegas.
Sosok pria misterius itu menatap Maura dalam-dalam dan tersenyum menyeringai.
"Terimakasih Ya Allah," ujar Maura.
Maura pun langsung masuk ke mobil dan Arion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
"Sialan!" umpat pria itu.
"Kali ini kau lolos, Zico. Aku akan mengintai dirimu selalu," ujar pria itu.
Pria itu pun pergi dari tempatnya berdiri.
Sementara itu...
Dalam mobil...
Arion menatap dalam-dalam Maura, dia telah menganggap Maura sebagai adiknya.
"Aku akan melindungi kamu adikku," ujar Arion.
Arion mengusap lembut kepala Maura.
"Kamu menginap saja di Mansion kedua orang tuaku demi keamanan dirimu," ujar Arion.
Arion memberikan sebotol minuman susu buah kepada Maura.
"Minumlah agar kamu tenang," ujar Arion.
"Terimakasih, Tuan," ujar Maura.
"Jangan, Tuan. Aku sudah bilang jika di luar kantor panggil diriku Kakak," ujar Arion.
"Baiklah Kakak. Terimakasih," ujar Maura.
Arion hanya mengangguk dan kembali fokus mengemudi.
Beberapa menit kemudian...
Arion memarkirkan mobilnya di halaman Mansion milik kedua orang tuanya.
"Ayo. Kita sudah sampai," ujar Arion.
"Baiklah, Kakak. Aku akan turun," ujar Maura.
Arion dan Maura pun turun dari mobil, mereka disambut oleh kedua orang tua Arion serta adiknya.
"Selamat datang di Mansion kami nak,"
"Kakak selamat datang di Mansion keluarga,"
Berbeda dengan suami dan putrinya, wanita paruh itu hanya diam menatap Maura dalam-dalam. Maura sendiri bingung dan menatap wanita paruh baya itu dengan lembut.
