Chapter 5 Kebencian Bara Adhiyaksa
"Bagaimana aku bisa memakai sepeda ini jika pemiliknya saja tidak ada," ujar Bara Adhiyaksa.
Bara menatap supirnya yang sedang membenarkan mesin mobil miliknya.
"Tuan. Mesinnya baik-baik saja namun bensinnya saja yang habis," ujar Xeon.
Bara menghela nafas panjang lalu tak lama kemudian muncullah mobil milik Arion.
"Mobil ini bukannya milik Arion?" Bara bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Tak lama kemudian Arion pun turun dari mobil.
"Aku bersyukur karena mobil milikmu mendapatkan gangguan. Jika tidak kau akan melihat kejadian menyedihkan yang terekam di ponselku ini," ujar Arion dengan nada tenang.
Bara Adhiyaksa menatap Arion dengan tatapan kebingungan. Bara mulai penasaran dengan maksud perkataan dari rivalnya.
"Apa maksud dari perkataan kamu itu, Arion?" Bara Adhiyaksa mulai bertanya pada Arion dengan nada dingin.
Arion hanya menghela nafas panjang, dia bingung dan sedikit khawatir jika Bara mengetahui kebenarannya.
"Aku berharap kau tidak melakukan hal-hal yang merugikan dirimu sendiri setelah kau tahu kebenarannya," balas Arion.
Arion mengambil ponselnya dan mencari sebuah video, lalu dia berikan ponsel miliknya kepada Bara. Bara langsung mengambil ponsel milik Arion.
"Kau buka saja video itu, aku sendiri tidak sanggup melihat rekaman itu."
Bara membuka video itu dan terkejut dengan isinya.
"Dasar wanita murahan. Tunggu pembalasanku," batin Bara.
Bara menyerahkan ponsel Arion setelah memindahkan video itu di ponsel miliknya.
"Terimakasih telah memberitahu aku, Arion. Sekarang aku tahu kebenarannya," ujar Bara.
"Tidak masalah, Bara. Inilah alasanku tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita," ujar Arion.
"Ouh ya, Bara. Mengapa kau ada di sini?" tanya Arion.
"Mobilku kehabisan bahan bakar. Tadinya aku ingin menemui Fera namun ketika tahu kebenarannya hanya ada kebencian dalam diriku padanya," balas Bara.
"Inilah salah satu cara Allah untuk mempertemukan jodoh yang terbaik untukmu," ujar Arion.
"Kau benar, Arion. Aku minta maap jika selama ini selalu iri denganmu," ujar Bara.
"Tidak masalah, Bara. Aku sudah melupakan hal itu. Lebih baik kau melakukan hal-hal yang bermanfaat saja. Ouh ya aku harus pergi karena ada rapat penting dengan klienku," ujar Arion.
"Kau benar, Arion. Hati-hati," ujar Bara.
Arion pun membuka pintu mobil miliknya lalu masuk.
"Hati-hati, Arion."
Arion hanya mengangguk lalu mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Setelah kepergian Arion, Bara tampak termenung.
"Aku tidak menyangka, pria yang ingin aku hancurkan karirnya. Dia justru membantuku agar tidak menyesal pada akhirnya," ujar Bara.
"Tuan. Saya akan mencari bahan bakar dulu," ujar Xeon.
"Baiklah, Xeon. Aku akan menunggu di dalam mobil saja," ujar Bara.
Bara pun masuk ke dalam mobil.
Setelah berada dalam mobil, Bara menelpon seseorang.
"Halo, Tuan."
"Aku ingin rencana untuk menghancurkan Arion dibatalkan,"
"Kenapa, Tuan?"
"Tidak perlu banyak bertanya!"
"Batalkan saja!"
"Ba_baiklah, Tuan."
Bara memutuskan sambungan teleponnya.
"Selama ini aku telah berbuat jahat padamu, Arion. Kamu tidak pernah membalas perbuatan diriku," ujar Bara.
"Sebenarnya hatimu terbuat dari apa?" tanyanya.
Bara pun bersandar di kursi dan tanpa sadar terlelap.
***
Di sisi lain...
Arion telah sampai di Mansion miliknya.
"Tuan. Saya ingin bertanya?"
Eliot memulai pembicaraan dengan sebuah pertanyaan, Arion tersenyum menanggapi.
"Tentu saja,"
Arion membalas pertanyaan Eliot dengan sangat lembut.
"Tuan, kenapa Anda memberitahu soal pengkhianatan kekasihnya kepada Bara?"
Mendengar perkataan dari pria yang berstatus sebagai asisten pribadinya membuatnya tersenyum.
"Aku tidak ingin berbuat jahat dengan menyembunyikan sebuah kejahatan, tidak semua kejahatan harus dibalas dengan hal yang sama pula."
Setelah mengatakan hal itu, Arion langsung masuk ke dalam Mansion.
"Anda benar-benar orang yang sangat baik."
Eliot pun masuk ke dalam Mansion.
Di dalam Mansion...
Arion membaringkan tubuhnya di sofa dan mengambil air putih lalu meminumnya dengan perlahan-lahan.
"Tuan," ujar Eliot.
"Ya," sahut Arion.
"Apa tidak sebaiknya Anda segera menikah," ujar Eliot.
"Aku sedang memikirkan hal itu, Eliot. Diriku harus berfikir agar kejadian lalu tidak terulang lagi," ujar Arion.
"Bagaimana dengan rencana sayembara?" tanya Eliot.
Arion tersedak karena perkataan dari Arion.
"Kau yakin?" tanya Arion.
"Kita coba saja, Tuan," balas Eliot.
Arion hanya mengangguk dan menghela nafas panjang.
"Jika ini rencana ini berhasil aku akan memberimu banyak bonus," ujar Arion.
"Anda tidak bohong atau sedang bercanda, Tuan?" tanya Eliot.
"Apakah aku pernah berbohong padamu, Eliot?" tanya Arion.
Eliot terdiam lalu memeluk Arion dengan erat.
"Kamu tahu, Eliot. Kita sudah bersahabat sejak kecil, apa dirimu tidak mempercayai aku?" tanya Arion dengan nada sedih. Jujur, hatinya begitu terluka dan sakit dengan perkataan dari Eliot sahabatnya. Namun dia tidak ingin kemarahan menguasai dirinya.
Eliot menyadari kesalahan pada nada bicaranya, dia langsung menunduk.
"Maapkan aku, Arion. Aku tidak bermaksud seperti itu," balas Eliot.
"Tidak masalah. Sebaiknya kamu kembali ke kantor bukankah ada rapat penting dengan klien?" tanya Arion.
"Baiklah," balas Eliot.
Eliot menghela nafas panjang lalu pergi meninggalkan Arion.
Arion melihat Arloji yang melingkar di tangan kanannya.
"Aku harus mempersiapkan diri untuk pertemuan nanti malam," ujar Arion.
Arion pun memutuskan untuk pulang ke Mansion miliknya.
Di sisi lain...
Pria tampan dan dingin berusia 25 tahun sedang mencekik leher musuhnya. Dia memelintir kepala musuhnya agar sang pemilik kesakitan.
"Katakan padaku, di mana Bara Adhiyaksa?" tanya pria itu dengan nada emosi.
"Saya tidak akan memberitahu kepada kamu tentang keberadaan Tuan Bara Adhiyaksa," balas pria muda itu dengan nada menantang.
"Ouh jadi kau memilih kekerasan," ujar pria menyeramkan itu.
Pria itu mengangkat tubuh pria muda itu lalu membantingnya pada tembok.
Bug!
Pria menyeramkan itu tersenyum menyeringai.
"Katakan di mana keberadaan Bara Adhiyaksa padaku, Zico. Aku akan membebaskan dirimu," ujar pria itu dengan nada tenang.
"Sudah aku bilang, pantang bagiku untuk memberitahu keberadaan Bara pada pria iblis seperti dirimu!" teriak Zico.
"Baiklah jika itu mau kamu, Zico. Bersiaplah menerima kematian!"
Pria itu tersenyum menyeringai lalu mengambil pistol dari balik jubahnya.
"Kau ingin mengucapkan kata terakhir?" tanya pria itu.
"Tentu saja tidak iblis," balas Zico.
Pria itu tersenyum menyeringai.
"Bersiaplah untuk mati, Zico," ujar pria itu.
"Aku sudah siap," ujar Zico.
Pria itu mengarahkan pistol yang memiliki laser merah ke arah dada Zico.
"Pikirkanlah sekali lagi, Zico. Katakan padaku keberadaan Bara Adhiyaksa," ujar pria itu.
"Sudah berapa kali aku katakan. Tidak," tolak Zico.
"Ah baiklah kau lebih ingin mati rupanya," ujar pria itu.
Pria itu bersiap untuk menarik pelatuk pistol kesayangannya namun tiba-tiba seorang gadis menyiram satu ember air pada tubuhnya.
"Lari!" teriak gadis itu pada Zico.
Zico yang melihat pria itu membersihkan matanya karena air langsung menarik tangan gadis itu untuk lari.
Pria itu tampak kesal dan semakin marah.
"Sialan!" umpat pria itu.
