Chapter 3 CEO Wilson Corporation
Maura telah sampai di Perusahaan Wilson Corporation, dia langsung turun dari mobilnya dan menutup pintunya dengan perlahan-lahan. Maura mengagumi keindahan Perusahaan besar nomor satu di Kota New York, Amerika Serikat. Maura tidak menyadari ada yang memperhatikan gerak-geriknya, seorang pria yang merupakan Sekretaris dari CEO Perusahaan Wilson Corporation. Pria itu langsung mendekati Maura yang masih terpaku menatap Perusahaan milik Tuannya. Siapa sih yang tidak mengenal Perusahaan Wilson Corporation, Perusahaan yang bergerak di bidang kuliner, minuman, pakaian, dan lainnya. Wilson adalah salah satu perusahaan terbesar dan tidak terkalahkan, apa lagi Perusahaan ini dipimpin oleh seorang CEO yang tegas, dingin, kejam dan berwibawa.
Saking asiknya memandang Perusahaan Wilson Corporation, tiba-tiba bahunya ditepuk oleh pria itu.
"Maaf. Anda siapa?" tanya pria itu dengan nada dingin.
Maura menatap pria itu sepenuhnya dan menundukkan pandangannya.
"Maap, Nona. Anda siapa?" tanya pria itu.
"Maafkan Saya, Tuan. Kedatangan Saya kemari ingin bertemu dengan CEO Perusahaan ini," balas Maura dengan tegas.
"Baiklah. Mari Nona biar Saya yang akan mengantarkan Anda bertemu dengannya," ujar pria itu.
Maura hanya mengangguk dan masih menunduk, lalu mereka pun pergi.
Di sisi lain...
~ CEO Room ~
Pria yang berstatus sebagai CEO Perusahaan W.H Corporation itu sedang menghubungi seseorang.
"Apa kau sudah berhasil menjalankan tugas yang aku berikan?"
"Sedikit lagi selesai, Tuan. Anda tenang saja,"
"Ingatlah satu hal aku tidak suka kegagalan."
"Tidak akan, Tuan."
Tak lama kemudian pintu diketuk dari luar, pria itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Masuk!" tegasnya.
Tak lama kemudian pintu ruangan pun terbuka.
"Ya, Alex. Apa ada tamu?" tanya pria itu.
"Benar, Tuan. Dia adalah Sekretaris Perusahaan A.G. Corporation," balas Alex, pria yang berstatus sebagai Sekretaris itu.
"Suruh dia masuk!" tegasnya.
"Baiklah, Tuan."
Alex menunduk lalu pergi.
Setelah kepergian Alex, pria itu membalikkan tubuhnya lalu duduk di kursi kebesaran. Tak lama kemudian datanglah Maura dengan kepala yang masih menunduk.
"Bicaralah!" tegasnya.
"Tuan. Saya diperintahkan Tuan Arion untuk menyerahkan berkas kerja sama kepada Anda. Beliau sudah setuju dan menandatanganinya," ujar Maura.
"Letakkan saja di meja lalu kau pergilah," ujar pria itu.
"Baiklah, Tuan. Saya akan letakkan berkas ini di meja Anda," ujar Maura.
Maura pun meletakkan berkasnya di meja lalu pergi.
Setelah kepergian Maura, pria itu memeriksa berkas-berkas itu.
"Sekretaris Arion yang satu ini sangat berbeda," ujar pria itu.
Pria itu tersenyum kecil.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, dia langsung mengangkatnya.
"Halo, Arion."
"Halo, apa Sekretaris ku sudah datang padamu?"
"Aku tidak menyukainya tapi dia sangat berbeda."
"Baiklah. Aku tutup dulu perbincangan kita,"
"Baiklah."
Sambungan telepon terputus.
"Sebaiknya aku melanjutkan tugasku saja agar fikiranku tidak tertuju padanya," ujar pria itu.
Pria itu pun kembali fokus pada pekerjaannya.
***
Di sisi lain...
~ Mansion ~
Seorang pria paruh baya tampak terdiam, dia sangat sedih karena putranya sangat membencinya. Dihatinya dia ingin sekali menceritakan kebenaran pada sang putra namun ancaman itu mampu membuat dia takut.
"Mas," lirih sang istri.
"Kamu sudah pulang, Sayang. Apa kamu berhasil berbicara dengan putra kita?" tanya sang suami.
"Aku gagal Mas. Bahkan dia sangat marah padaku," balas sang istri.
Sang suami hanya diam dia menitikkan air matanya.
"Kenapa takdir kami seperti ini, Ya Allah. Kami awalnya sangat bahagia tapi setelah tahu dia membenci kami. Rasanya sungguh hancur," batin pria paruh baya itu.
Pria itu pun pergi membuat sang istri sangat sedih.
"Baiklah nak. Ayah dan Bunda tidak akan mengganggumu lagi," ujar wanita paruh baya.
Wanita paruh baya pun pergi untuk menyusul suaminya.
Di sisi lain...
Citra tampak menemui orang yang menyuruhnya untuk menghancurkan Arion di sebuah Restoran.
~ Restoran Aloe ~
Restoran Aloe merupakan sebuah Restoran yang berada di Kota Sukabumi Jawa barat. Restoran ini menyediakan banyak makanan berat, sedang, dan ringan. Contohnya, pisang dengan taburan coklat, bubur jagung dengan taburan cokelat bubuk, meses, dan keju. Makanan berat restoran ini menyajikan Pizza, burger, dan fried chicken.
Citra tampak kesal karena orang yang menyuruhnya tidak datang juga.
"Kemana sih pria itu? Lelet banget jadi orang jam segini masih belum datang," ujar Citra.
Tak lama kemudian orang yang ditunggu akhirnya datang.
"Apa kau berhasil Nona Citra?" tanya pria itu.
"Belum, Tuan. Saya sedang memikirkan rencananya dengan sangat matang," balas Citra.
"Aku memberimu waktu 1 Minggu lagi dan jika kamu gagal maka, kerjasama kita batal. Dirimu tidak akan mendapatkan apa-apa," ujar pria itu.
Pria itu menatap sekelilingnya dan memanggil pelayan yang melewati mejanya.
"Anda mau pesan apa, Tuan?" tanya pelayan itu.
"Nona Citra. Kau mau pesan apa?" tanya pria itu.
Citra tampak senang.
"Semua menu yang ada di Restoran ini saja," balas Citra.
Pria itu sangat tercengang dengan perkataan Citra.
"Rakus," batinnya.
Pria itu memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Anda mau pesan apa, Tuan?" tanya pelayan.
"Burger, Fried Chicken, dan Pizza," balas pria itu.
"Baiklah, Tuan. Saya akan kembali lagi setelah pesanan Anda siap," ujar pelayan.
Pelayan itu pun pergi.
"Apa porsi makan kamu seperti itu setiap hari?" tanya pria itu.
"Anda benar, Tuan. Saya makan dengan porsi yang sangat banyak," balas Citra.
Hening.
Keduanya tidak berbicara lagi.
Di sisi lain...
Dalam perjalanan kembali ke Perusahaan, Maura masih saja memikirkan pria misterius yang merupakan klien dari bosnya itu.
"Klien Tuan Arion yang itu sangat berbeda dari yang lain, sifatnya membuatku merinding. Semoga saja Pak Arion tidak menyuruh diriku bertemu dengannya kembali," ujar Maura.
Saking asiknya berbicara dengan dirinya sendiri, tanpa sadar Maura telah sampai di Perusahaan milik Tuannya.
"Nona, Maura. Kita sudah sampai," ujar Jack Orchard.
Maura terkejut bukan main dan dia segera turun lalu mengucapkan terimakasih.
"Terimakasih, Tuan Jack karena Anda telah mengantarkan Saya," ujar Maura.
Jack hanya tersenyum tipis lalu Maura pun pergi menghilang dari hadapannya.
Siapa sih yang tidak mengenal sosok Jack Orchard, pria keturunan Indonesia-Amerika itu merupakan sahabat dari Arion. Jack merupakan seorang CEO pemilik Perusahaan Orchard Group, di usianya yang menginjak 25 tahun dia masih senang menyendiri tanpa ada niatan untuk menikah. Jack juga terkenal dengan sikapnya yang sangat misterius, dingin, dan kejam. Bahkan, dia tidak akan segan-segan membunuh musuh yang mengganggu ketenangan dirinya.
Setelah Maura sudah masuk ke dalam Perusahaan sahabatnya, Jack Orchard pun pergi.
Di sisi lain...
Maura berniat untuk pergi ke ruangan pribadi Arion. Setelah sampai di ruangan Tuannya, dia langsung mengetuk pintunya.
"Masuk!"
Maura mendengar suara tegas dari dalam ruangan pribadi Tuannya, lalu dia bergegas untuk masuk.
