Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 2 Gagal!

Pria itu bersandar di dinding dekat jendela, dia membayangkan perkataan kasarnya pada sang Ibunda. Dia ingin sekali bertanya pada wanita yang telah melahirkan dirinya namun dia tidak mampu. Masa kecilnya sangat buruk, ditambah lagi dengan sikap Ayah dan Ibu angkatnya yang terkesan kejam padanya. Setiap hari dia selalu disiksa secara fisik dan mental, Ayah dan Ibu angkatnya tidak memberikan makan dan minum. Lebih parahnya dia harus tidur di gudang yang tidak layak huni karena banyak sekali binatang-binatang mengerikan. Karena masa lalu kelam itu lah membuat pria itu tumbuh menjadi seorang anak yang temperamental dan dingin.

Pria itu menghapus air matanya dengan sapu tangan miliknya.

"Sebaiknya aku segera pergi ke Restoran setelah itu baru menuju ke Perusahaan," ujar pria itu.

Pria itu mengambil jam tangan miliknya dan pergi dari kamar miliknya.

Di sisi lain...

Maura, Alisha, Leona, dan Citra telah selesai kuliah.

"Maura kamu ada waktu tidak?" tanya Citra.

"Aku saat ini sedang tidak ada waktu. Mungkin lain kali bisa," balas Maura.

"Baiklah. Tidak masalah lain kali saja," ujar Citra.

Citra diam-diam kesal karena rencananya yang di susun matang-matang harus gagal.

"Ayo kita pulang," ujar Maura.

Ketiga temannya hanya mengangguk dan akhirnya mereka pun pulang.

Sesampainya di Mansion...

Maura bersantai sebentar dan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam tepat.

"Aku rindu dengan Ayah dan Bunda. Sebaiknya diriku menelepon mereka dahulu," ujar Maura.

Maura pun mengambil ponsel miliknya dan menelepon Ayahnya.

"Assalamu'alaikum, Ayah."

"Waalaikumsalam, nak."

"Ayah bagaimana kabarnya?"

"Alhamdulillah nak, Ayah baik-baik saja. Bagaimana dengan kamu?"

"Alhamdulillah aku baik, Ayah. Bunda mana?"

"Bunda ada nak. Kamu bicara bersama dengannya saja ya. Ayah harus berangkat menemui klien,"

( Sang Ayah memberikan ponselnya pada istrinya. )

"Assalamu'alaikum, nak."

"Waalaikumsalam, Bunda."

"Bagaimana kabar kamu nak? Kuliahnya lancarkan?"

"Alhamdulillah baik dan lancar,"

"Syukurlah nak. Kamu sudah makan?"

"Sudah, Bunda. Bagaimana dengan dirimu?"

"Sudah nak. Ouh ya uang kamu sudah habis ya? Nanti Bunda akan suruh Ayah transfer,"

"Jangan, Bunda. Aku sudah bekerja sambil kuliah,"

"Apa!"

Tak lama kemudian sambungan telepon diputuskan sepihak, Maura merasa sangat bingung dan dia kepikiran dengan Bundanya. Setelah asik melamun tanpa sadar waktu telah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.

"Astaghfirullah. Aku harus segera pergi ke Kantor," ujar Maura.

Maura pun bergegas berganti pakaian formal lalu pergi.

Di sisi lain...

Citra telah sampai di Villa miliknya, dia sangat kesal sekali.

"Kalau seperti ini terus rencananya bisa gagal dan aku tidak akan pernah mendapat uang 900 Milyar itu," ujar Citra.

Citra tampak mondar-mandir tidak tenang dan akhirnya dia memutuskan untuk memberitahu orang yang telah menyuruhnya.

Telepon seseorang di seberang sana tampak berdering dengan kencang, dan seorang pria muda mengangkatnya.

"Bagaimana dengan tawaran dariku, Nona Citra? Apa kau setuju untuk membantu diriku menghancurkan bisnis Arion?"

"Saya menerimanya, Tuan. Tapi sepertinya butuh waktu lama agar rencana itu berhasil,"

"Tidak masalah. Aku akan memberimu waktu 6 bulan tapi jika kamu gagal maka bayaran itu akan gagal."

"Baiklah, Tuan. Saya tidak akan gagal."

Sambungan telepon diputuskan sepihak oleh pria itu.

Citra tampak sedang memikirkan sebuah rencana untuk menjebak Arion dengan mengorbankan Maura.

"Aku harus membuat rencana dengan lebih matang," ujar Citra.

Citra pun masuk ke dalam Villa miliknya.

Di tempat lain...

Sebuah mobil mewah berhenti di parkiran khusus CEO pemilik resmi Perusahaan itu. Dengan perlahan dia membuka pintu mobilnya lalu kembali menutupnya. Pria itu memakai kacamata hitam miliknya sehingga membuat dirinya semakin tampan, apalagi jas formal berwarna putih yang membungkus otot kekar dan roti sobek miliknya.

Pria itu melangkah dengan tegas memasuki Perusahaan miliknya dan tanpa sengaja bertabrakan dengan tubuh mungil Maura. Keduanya sama-sama terjatuh ke lantai dan untung saja karyawan lainnya belum datang. Maura yang menyadari hal itu langsung bangkit dan membantu pria itu berdiri dan tidak lama dia menunduk takut.

Pria membuka kacamata hitam miliknya dan menatap orang yang telah menabraknya.

"Sebelumnya, Saya minta maap karena telah menabrak Anda."

Pria itu menghela nafas panjang, gadis dihadapannya sangat jelas memperlihatkan rasa takutnya.

"Kali ini kamu beruntung karena suasana hatiku sedang baik, aku memaafkan dirimu. Kembali ke ruanganmu!" tegasnya.

"Terimakasih, Tuan."

Maura pun pergi dengan tubuh yang masih bergetar ketakutan. Setelah kepergian Maura, pria itu tersenyum bahagia.

"Gadis yang aneh dan berbeda dari wanita lainnya."

Pria itu kembali tersenyum lalu pergi.

Di sisi lain...

Maura masuk ke dalam ruangan Sekretaris CEO dengan tubuh yang masih bergetar hebat.

"Aduh Maura. Kenapa kamu bisa tidak fokus seperti ini?"

"Kamu bisa di pecat karena menabrak seorang CEO pemilik Perusahaan ini."

Tak lama kemudian terdengar suara derap langkah tegas seorang pria memasuki ruangan pribadi milik CEO.

"Bagaimana ini, Ya Allah. Aku takut beliau memecat diriku," ujar Maura.

Tak lama telepon ruangan miliknya berdering dan Maura langsung mengangkatnya.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi. Keruangan Saya sekarang!"

Sambungan diputuskan kembali secara sepihak. Tubuh Maura menegang, kaki bahkan tidak sanggup melangkah.

Di sisi lain...

~ CEO Room ~

Pria itu tampak memeriksa berkas-berkas yang ada dihadapannya dengan penuh ketelitian. Ruangan itu di dominasi dengan warna cerah dan menenangkan. Terdapat banyak sekali poto-poto keluar milik pria itu dan fasilitas lengkap lainnya.

Tak lama kemudian pintu diketuk.

Tok! Tok! Tok!

Pria itu melirik ke arah pintu sebentar dan kembali fokus.

"Masuk!" tegas pria itu.

Tak lama kemudian pintu terbuka dan masuklah Maura.

"Maap, Tuan. Ada yang bisa Saya bantu?" tanya Maura.

"Ya, buatkan aku segelas susu coklat hangat."

"Baiklah, Tuan."

Maura pergi ke dapur khusus yang ada di dalam ruangan CEO itu. Pria itu membuka kacamata hitam miliknya, dan dia tersenyum melihat siapa yang menjadi Sekretarisnya.

"Pasti akan sangat menyenangkan jika dia yang menjadi Sekretaris diriku," ujar pria itu, "Aku menyukai rasa takutnya."

Tak lama kemudian Maura datang dia masih menunduk karena takut.

"Maap, Tuan. Susunya mau diletakkan di mana?" tanya Maura pelan.

Pria itu hanya menatap Maura dari balik kacamata hitam miliknya.

"Letakkan saja di meja ini."

Setelah selesai mengerjakan tugas, Maura kembali kehadapan pria itu.

"Tuan. Ada lagi yang harus Saya kerjakan?" tanya Maura.

"Ya, tentu saja." balas pria itu.

Pria itu menyerahkan beberapa berkas kepada Maura.

"Kamu hantarkan berkas-berkas ini pada CEO dari Perusahaan W.H. Corporation, bilang padanya bahwa Saya menyetujui kerja sama dengan Perusahaan miliknya," ujar pria itu.

"Baiklah, Tuan. Kalau begitu Saya izin pamit dahulu," ujar Maura.

"Silahkan," ujar pria itu.

Maura pun membungkuk hormat lalu pergi dari hadapan pria itu dan sang CEO hanya tersenyum.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel