Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 1 Gadis Penyuka Bunga

Di sebuah Mansion yang sangat mewah, tampak seorang gadis sedang menyiram bunga-bunga indah miliknya. Dia adalah Maura Ayunda, putri angkat kesayangan dari Ayunda Haris dan Haris Smith. Sejak kecil Maura memang menyukai bunga, bermacam warna bunga sudah dia tanam. Maura adalah seorang anak perempuan yang sangat ramah dan penyayang, dia sangat disukai oleh semua teman kuliahnya. Dia adalah perempuan yang sangat mandiri, meskipun dari keluarga kaya dirinya tidak sombong. Saat ini dia hanya tinggal sendirian karena kedua orangtuanya sedang melakukan perjalanan bisnis keluar negeri. Dirinya hanya tinggal bersama dengan para pelayan saja. Gadis itu terkenal sangat rajin dalam bekerja di sebuah Perusahaan besar milik orang lain.

"Nona muda. Anda tidak ingin minum dahulu?" tanya pelayan.

"Nanti saja, Bibi. Aku sedang tidak haus," balas Maura.

Maura tersenyum dan pelayan itu ikut tersenyum, Nona mudanya ini berbeda dengan yang lainnya. Biasanya jika Nona muda lain akan sombong namun Maura tidak.

Setelah selesai menyiram bunga-bunga miliknya, Maura langsung mencuci tangan dengan sabun.

"Nona muda. Saya sudah membawa air untuk Anda," ujar pelayan.

Maura hanya tersenyum hangat.

"Terimakasih, Bibi. Maura mau siap-siap dulu karena harus kuliah," ujar Maura.

"Ya, Nona muda. Mau dibawakan bekal apa?" tanya pelayan.

"Apa pun yang Bibi masak, Maura pasti akan memakannya," balas Maura.

Maura pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.

Sesampainya di kamar...

Maura langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia sengaja bangun pukul tiga pagi untuk menyiram bunga-bunga miliknya.

Tak lama kemudian Maura pun keluar dari kamar mandi dengan memakai dress panjang semata kaki, dengan lengan yang panjang.

"Lancarkan kuliahku, Ya Allah."

Maura menatap cermin dihadapannya lalu dia mulai menyisir rambutnya dan memakai selendang.

"Saatnya berangkat," ujar Maura.

Maura mengambil tas selempang miliknya lalu keluar dari kamarnya.

Maura berjalan menuruni anak tangga dan langsung di sambut oleh pelayan setianya.

"Nona muda, bekal Anda sudah siap," ujar pelayan.

"Terimakasih, Bibi. Maura pamit ya," ujar Maura.

Maura mencium tangan pelayannya.

"Assalamu'alaikum," ujar Maura.

"Waalaikumsalam, nak."

Maura pun pergi.

Di sisi lain...

Sahabat Maura sedang menunggu Maura di depan gerbang kampus.

"Alisha. Maura belum datang ya?" tanya Leona.

"Aku juga heran biasanya dia sudah tampil," balas Alisha.

"Tidak perlu khawatir sebentar lagi dia pasti datang," ujar Citra.

Citra sangat tidak suka Maura, karena sikapnya yang ramah dan juga baik kepada seluruh teman kampusnya.

Tak lama kemudian Maura datang membuat kedua teman baiknya tersenyum. Namun, Citra hanya diam menatap sahabatnya dengan tatapan tidak suka.

"Ara, kenapa kamu belum datang?" tanya Leona dan Alisha.

"Maap ya Lena, Lisa. Aku habis menyiram tanaman dahulu," balas Maura.

Alleona dan Alisha tersenyum senang, mereka menyukai hobi menyehatkan dari Maura.

"Maura ajarkan kami menanam bunga," ujar Leona.

"Tentu saja aku akan ajari. Ayo kita ke kelas," ujar Maura.

Mereka pun pergi ke kelas.

Sesampainya di kelas...

Mereka langsung menuju ke tempat masing-masing.

Maura duduk bersama dengan Leona sementara Citra duduk bersama dengan Alisha.

"Buat tugas kearsipan. Kita mau kerjakan di mana?" tanya Alisha.

"Bagaimana kalau di Hotel. Biar lebih fokus," balas Citra.

"Di Hotel? Aku tidak berani karena disana banyak sekali pria yang suka mabuk," ujar Leona.

Citra sangat kesal dengan sikap Leona dan Alisha yang terlalu menjaga diri.

"Aku setuju dengan Leona dan Alisha. Sebaiknya kita mengerjakan tugas kearsipan di Restoran saja," ujar Maura.

"Aku akan traktir kalian makan," lanjutnya.

"Kami setuju," ujar Leona dan Alisha.

Tak lama kemudian mahasiswa dan mahasiswi lain pun datang. Lalu tiba-tiba ada seorang gadis yang mendekati Maura.

"Apa boleh aku berkenalan dengan kamu?" tanya gadis itu dengan nada pelan, jujur dia sangat pemalu.

"Tentu saja, perkenalkan nama Saya Maura Ayunda," balas Maura.

Gadis pemalu itu tersenyum hangat.

"Namaku Arina Arista," ujar Arina.

"Aku senang bisa berkenalan dengan kamu, Arina. Sebelumnya Saya tidak pernah melihat kamu, mahasiswi baru ya?" tanya Maura.

"Benar aku mahasiswi baru di kampus ini," balas Arina.

Alisha dan Leona pun ikut berkenalan.

"Hai, Arina. Namaku Alisha Ardilla Arnold. Kamu bisa memanggilku, Alisha," ujar Alisha.

"Hai, Alisha. Salam kenal ya," ujar Arina.

Alisha tersenyum hangat.

"Hai, Arina. Namaku Alleona Putri Fernando. Kamu bisa memanggilku, Leona," ujar Leona.

"Hai, Leona. Salam kenal ya," ujar Arina.

Leona tersenyum dan tidak lama kemudian datanglah seorang dosen pria.

"Kembali ke tempat kalian masing-masing!" tegasnya.

Mereka pun langsung kembali ke tempat masing-masing dan mendengarkan pembahasan mata kuliah hari ini.

Di sisi lain...

Seorang pria tampan berusia 25 tahun sedang menatap pemandangan dari dalam jendela kamarnya. Tubuh pria itu sangat kokoh dan kekar dengan balutan jas formal berwarna hitam. Kulitnya yang putih serta hidungnya yang mancung semakin membuat pria itu tampak sempurna.

"Apa aku harus berdiam diri di ruangan kantor sambil menunggu jam 7 pagi?" tanya pria itu dengan nada lembut.

Tak lama ponselnya berdering.

Ada apa kau meneleponku?

Tuan. Sebelumnya maafkan Saya.

Katakan saja dengan cepat!

Tuan. Saya mendengarkan kabar tentang rumor buruk tentang Anda.

Berani sekali mereka!

Aku tidak mau tahu, cari pelaku yang menyebarkan rumor itu.

Baiklah, Tuan. Saya akan menghubungi Anda kembali nanti.

Baiklah.

Sambungan telepon terputus secara sepihak, pria itu melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Tangan kokohnya menampakkan urat-urat yang tegang, satu detik kemudian sudah membentuk kepalan tangan dan siap menonjok seseorang.

Sialan!

Siapa yang berani menyebarkan rumor buruk tentangku?

Aku tidak akan pernah mengampuni dia!

Pria itu mengambil vas bunga yang berada dihadapannya dan melemparkan ke lantai dengan keras.

Pyaar!

Vas bunga seharga jutaan dolar itu pecah dengan sia-sia di tangan pria yang marah itu.

Tanpa dia sadari, ada seorang wanita paruh baya menatap pria itu dengan tatapan sedih. Wanita itu tidak menyangka bahwa putranya yang dulu sangat hangat kini berubah menjadi temperamental.

"Nak," panggil wanita itu.

Mendengar suara wanita paruh baya itu membuat sang pria bertambah marah, urat-urat lehernya semakin menonjol.

"Pergi dari sini!" tegas pria itu.

"Bunda mau bicara denganmu nak. Sebentar saja," ujar wanita itu.

"Aku tidak sudi bicara dengan wanita yang telah membuang putranya sendiri," sindir pria itu.

Hati wanita itu sangat terluka dan sekaligus terkejut dengan perkataan putranya.

"Bunda tidak mengerti dengan apa yang kamu katakan nak," ujar wanita itu dengan tatapan sendu.

Pria itu hanya tersenyum sinis.

"Pergi dari hadapanku!" bentak pria itu.

Wanita paruh baya itu akhirnya memutuskan untuk pergi, karena dia tidak ingin putranya semakin marah dan berujung membenci dirinya.

Setelah kepergian wanita itu, pria itu tanpa sadar meneteskan air matanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel