Bab 7. Ternyata, Sungguh Menyenangkan
Di dalam suara musik dan orang-orang bernyanyi terdengar sayup-sayup, dari lagu yang melow sampai lagu yang keras semua terdengar. Dengan sinar lampu yang tidak terlalu terang, dan lampu kerlap-kerlip, bahkan bisa di bilang minim cahaya di sepanjang lorong yang dilewatinya.
Frans sungguh tidak melepaskan tangannya yang memegang tanganku, Michele berkata dalam hati. Sungguh dia menjagaku seakan dia tak mau kehilangan dirinya. Kembali Michele membayangkan itu.
Hei Frans ... !!! Dari kejauhan terdengar ada yang memanggilnya. Benar saja, dia adalah Robby, teman sewaktu kuliah di Aussie, walau tidak akrab dengan Frans, Frans selalu melihat Robby sebelah mata, karena Robby orangnya iseng dan jahil, suka mempermainkan wanita, pacarnya di mana-mana. Playboy cap golok dech.
Tumben kata Robby, loe bawa pacar !!! Gue kira loe gak suka wanita. Frans tidak memperdulikan perkataan Robby, tapi sebaliknya, Michele yang mendengar sedikit kaget dengan ucapan Robby tadi. Apakah Frans benar tidak memiliki pacar atau dia memang tidak menyukai wanita? Ah sudahlah... peduli setan. Kalau gak betah mending pulang dech... Michele berharap dalam hati.
Tiba sampai room yang di maksud 309, Frans membuka pintu dan mempersilahkan masuk boss cantiknya Michele duluan masuk dan seketika itu Iren dan Dodi yang sedang bernyanyi, langsung terhenti begitu melihat seseorang yang di kenalnya kembali hadir di hadapan mereka. Begitu juga dengan Fauzi dan Silvia, yang dalam posisi duduk berseberangan langsung beranjak bangun dari sofanya... dan menyapa “malam bu,... “ “eh ibu” saking kagetnya mereka tidak menyangka.
Frans yang datang bersama Michele, langsung memberikan tempat disebelah Silvia duduk dan Frans yang rencana akan duduk di seberang Michele... tangannya tiba-tiba di tarik Michele dan Michelepun memberi isyarat dengan matanya, agar Frans duduk disampingnya. Michele, berbisik disamping telinga Frans... “Saya malu, dan tidak mengenal teman kamu ini”
Wajar kalau atasan tidak mengenal semua bawahannya. Jadi Michele merasa asing dan yang di kenalnya hanyalah Frans. Dan itupun baru kenal lantaran kejadian di hari ini. Michele melihat Frans memang berbeda tidak seperti pria-pria lain yang hidung belang dan suka mempermainkan wanita. Ya walaupun tadi sempat terjadi salah paham lantaran Michele mengira Frans mengintip celana dalam Michele.
Suasana kembali ceria tapi sedikit kaku, lalu di cairkan oleh ajakan Fauzi untuk Frans bernyanyi, Iren memberitahukan ke Michele, bahwa Frans pintar menyanyi, suaranya seperti penyanyi luar negeri. Ya ... Frans memang pintar menyanyi dan fasih beberapa bahasa.
Ayo Frans... Teriak Dodi dan Silvia, persembahkan lagu ini untuk ibu Michele ....
Mereka telah memilihkan lagu yang biasa Frans nyanyikan dengan penuh penghayatan ... seperti apa ajah ...
Lagunya The Carpenters yang berjudul “Close to you”...
Maju kedepan dong Frans, tunjukkan kamu bisa... celoteh Fauzi dan Iren mengiyakan ucapan Fauzi.
Frans hanya berdiri disamping Michele dan Michele tersenyum melihat Frans tersipu malu... dengan lagu yang di pilihkan sahabat-sahabatnya itu.
Lampu di redupkan kembali oleh Silvia dan semua menghadap ke layar TV sambil membaca liriknya...
Why do birds suddenly appear
Every time you are near?
Just like me, they long to be
Close to you
Why do stars fall down from the sky
Every time you walk by?
Just like me, they long to be
Close to you
Semua yang mendengar Frans bernyanyi ikut bergoyang ke kanan kiri... dan sesuatu yang tak di duga terjadi saat Fran bernyanyi.
Tangan kanan Michele menarik samping celana Frans dengan tatapan masih menghadap layar tanpa melihat ke arah Frans, seakan menikmati lagu yang Frans nyanyikan... dan spontan Frans meraih tangan kanan Michele dengan tangan kirinya seakan seperti sepasang kekasih yang diam-diam berpacaran yang baru memulai dengan berpegangan tangan dan ternyata gayung bersambut... Michele pun menggenggam ujung tangan Frans.
Sebelum lagu akan berakhir Dodi tanpa sengaja melihat Frans dan ibu Michele berpegangan tangan, tetapi para sahabat Frans lainnya tidak menyadari hal itu. Dodi hanya berkata dalam hati, cieeee... pegangan tangan sambil tersenyum... tapi hati kecilnya menyanggah “ah mana mungkin” karena Dodi tahu, jikalau Frans tidak terlalu focus dengan urusan wanita.
Lagu terus berganti dan canda tawa terus berlanjut, suasana yang awalnya tegang dalam beberapa jam sudah sangat melupakan jarak antara mereka bawahan dan atasan.
Sebagai lagu penutup ... Michele memberanikan diri untuk bernyanyi di hadapan para sahabat Frans, itupun karena desakan mereka. Tatapan Michele mengarah ke Frans, dan Frans menganggukkan kepala tanda menyetujui dan meminta Michele untuk bernyanyi. Frans yang melihat Michele sepintas berpikir, kenapa dia melihatku seperti itu, seperti meminta persetujuan dariku untuk bernyanyi.
Silvia dengan micnya, menyerahkan ke hadapan Frans dan menyuruhnya untuk berduet dengan Michele.
“Nothing Gonna Change My Love For You” sebagai lagu penutup dari acara dan pertemuan tak terduga mereka para sahabat Frans dengan Michele, yang merupakan Ibu pimpinan tertinggi mereka.
Ketika selesai dengan lagu itu, mereka semua tertawa dan bertepuk tangan. Dan seorang waitress mengetuk pintu dan menyerahkan billingnya kepada Frans, karena Frans yang terdekat dari weitress itu.
Frans ingin mengambil dompet untuk membayar, tangan Michele langsung merebut billing tagihan tersebut sambil berkata: “biar saya saja yang mentraktir kalian”. Sontak semua sahabat Frans bertepuk tangan dan mengucapkan terima kasih kepada Ibu Michele. Bahkan celetukkan mereka, “sering-sering ya bu Michele ajak kita karaoke” Michele tersenyum dan berkata : “jangan khawatir” kabari saya kalau ada acara seperti ini.
Siap bu... !!! Kata Dodi dan Iren spontan, secepat mungkin kita berkabar bu Michele, sebelum Frans di pindah ke Bandung. Sontak Michele terdiam, dan mengikuti yang lain sahabat Frans juga ikut terdiam sedih. Frans yang melihat perubahan orang-orang disekitar terdiam, langsung memecahkan suasana... doooorrr !!!!! Idih koq pada diem, lagian kan cuma ke Bandung, gak jauh kaliii.... Kenapa saya tidak tahu ya? Siapa yang memindahkan kamu ke Bandung Frans? Tanya Michele seperti sedang menginterogasi tersangka... Frans terdiam, dan langsung berkata : “pulang yuk... sudah malam nich... Tapi tidak dengan Michele, dia menarik tangan Frans yang di lihat semua sahabat Frans... seakan Michele ingin mendapat jawaban segera. Frans melepaskan tangan Michele dan berkata : “Besok ajah yach kita bahas lagi”
Entah kenapa, hati Michele sedikit tersinggung, kenapa dia sebagai seorang pimpinan tertinggi, tidak mengetahui ini. Dan dia baru merasakan kedekatan dengan Frans, tetapi dia malah mau menjauh. Seperti ada yang akan hilang dan meninggalkan dia, ucap Michele dalam hati.
Setelah sampai di luar parkiran. Frans bertanya kepada Michele, “Ibu Michele bagaimana kalau Sivia dan Iren mengantar ibu pulang, karena sepertinya sebentar lagi akan turun hujan...” Silvia dan Iren saling betatapan sebentar, iya... iya bu, saya siap mengantar Ibu Michele ... Kalau dengan saya, takutnya Ibu Michele kebasahan kalau turun hujan.
Michele menatap Frans sebentar, dan kemudian melihat semua sahabat Frans.... lalu tersenyum sambil berkata: “Frans sudah menculik dan mengajak saya ke tempat ini, dan dia harus bertanggung jawab mengantar saya pulang.
Gleeek ... Frans tidak menyangka Ibu Michele berkata demikian, juga sahabat-sahabat Frans. Betul ... timpal Iren, Frans harus bertanggung jawab dengan apa yang dia perbuat kepada Ibu Michele. Semua akhirnya tertawa lepas...
Bukan itu maksud gue berkata kepada para sahabatnya. Gue gak mau Ibu Michele kena hujan saja, kalau sakit, kan berabe nanti ... Michele memotong pembicaraan Frans, Iyalah kamu harus bertanggung jawab terhadap saya. Antara senang dan kaget, Frans tersenyum sendiri ... dan para sahabatnya mendukung penuh.
Lalu Frans memberikan jaketnya kepada Michele, dan mengancinkan jaketnya. Ibu Michele, saya pamit pulang dulu ya, sapa sahabat Frans semua... “Oh iya, Iren, Silvia, Dodi dan Fauzi, terima kasih untuk malam ini ya.
