Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab. 5 Kenapa mesti dia?

Ke 4 sahabat Frans merasakan hal aneh, kenapa harus Frans, dan kenapa tidak mencari marketing lain untuk disana. Yach … kita pasti berjauhan, gak bisa hangout bareng lagi dan makan siang bareng, dan bergosip ria. Frans menimpali semua kata ke 4 sahabatnya itu, “ampun dech kalian semua… kayak gue pergi ke mana ajah, lagian masih di Bandung kaleee … gue masih bisa mampir dan main ke kalian pass ke Jakarta. Atau kalian bisa datang dan menginap di sana. Sahabatnya itu hanya bisa menganggukkan kepala mereka lemas. Lalu kapan rencana loe di mutasi ke sana Frans, timpal Dodi. Akhir bulan depan. Santai ajahlah guys.

Waktu berjalan cepat sekali, mereka melakukan kesibukan masing-masing dan waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore. Beberapa karyawan lain sudah ada yang merapikan meja dan tas mereka. Lalu Iren berdiri dan berkata kepada ke 4 sahabatnya, “Bagaimana kalau malam ini kita karaokean yuk guys … “ Boleh, jawab Silvia menyetujuinya dan Dodi mengangkat jempol tangan ke atas kepalanya sambil berkata sip !!! lets go … Hanya Frans saja yang tidak menjawab, karena dia masih sibuk mengerjakan hitungan dan penawaran untuk diberikan ke kliennya.

Frans ! … Dodi memanggil, tapi Frans masih seperti orang sedang berfikir dan memainkan jarinya seperti ada yang di hitungnya. Ke 4 sahabatnya saling bertatapan, dan memanggil serentak “ FRANSISCO” … Frans yang sedari tadi serius dalam menghitung, langsung buyar dan kaget melihat ke 4 sahabatnya tidak melepaskan matanya dari hadapannya. Semua memasang muka serius seperti orang sedang kesal semua.

“ Baik Tuan dan nyonya ” kalian itu yach … Frans hanya bersikap pasrah dengan semua tatan sahabatnya, dan langsung mematikan komputernya. Seketika temanya langsung merubah tatapannya menjadi senyum dan bahagia … melihat Frans sahabat mereka mulai bangun dan merapikan kursi yang dia duduki tadi.

Di lantai 9 …

Michele sedang merapikan meja kerjanya dan menutup laptop dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Pandangannya tertuju pada tempat sampah di mana Frans, tadi pagi membuang kapas penuh darah karena ulah Michele mendorong dan menendangnya. Michele hanya teringat dan tersenyum geli . Lalu dia keluar dari ruangannya dan pamit kepada Mila sekretarisnya. Saya pulang dulu ya Mil … “ Mila menjawab, iya bu… saya juga mau pulang nich, tunggu di jemput Wawan. Wawan adalah pacar Mila, mereka sudah berpacaran selama 3 tahun, tetapi belum di lamar-lamar.

Seketika hp Michele berbunyi dan Michele melihat siapa yang menelphonenya. Oh ternyata mamanya. Ya ma... jawab Michele, “ … Michele mama minta maaf ya, pak Soleh mama suruh jemput mama di Bogor, dan dia sedang on the way jemput mama. Tadi mama bareng tante Ibrahim sahabat mama, tiba-tiba mobilnya mogok ini. Sedang di derek kembali ke Jakarta. Nah mama dan tante Ibrahim menunggu di cafe tempat teman mama. Kamu pulang naik taxi silver B*** ajah yach...

Iya gak apa-apa ma, lagian kan jarak Michele ke rumah tidak jauh ini. Mama itu yang jaraknya jauh banget... canda Michele. Ok, makasih ya sayang... lalu telphone dimatikan mamanya.

Pemandangan di lobby sepulang kerja, banyak karyawan yang cepat-cepat untuk segera pulang atau sekedar makan malam bersama. Lalu terdengar suara lift berbunyi saling bersautan.

Ting... Ting

Ting...

Ke 3 lift terbuka bersamaan selang beberapa detik, keluarlah Michele dari lift direksi... tak lama lift lainnya, lift karyawan keluarlah Frans dan ke 4 sahabatnya dan beberapa karyawan lain dari lantai yang berbeda.

Para karyawan yang mengetahui Ibu Michele anak pemilik tempatnya bekerja, mereka saling menyapa dan memberi hormat. Selamat sore bu Michele, selamat sore bu... begitu juga teman- teman Frans dan ke 4 sahabat Frans... sore bu Michele. Frans yang focus pada hpnya yang sedang melihat instagram sambil memainkan jempolnya dilayar turun naik... tidak memperhatikan Michele berada di dektnya... dan dilewatkan begitu saja. Michele yang melihat Frans melewatinya, segera memanggilnya pelan, “Fransisco” panggil Michele. Mendengar namanya di panggil, Frans menoleh kearah asal suara tadi... “eh bu Michele” maaf saya tidak melihat... Michele merasa kesal karena di cuekin salah satu karyawannya ini sedikit bete dan hampir memarahinya. Untung saja Michele masih bisa menahan emosinya karena ini sudah di luar jam kantor dan masih di dalam lobby perusahaannya.

Frans dengan santainya tapi tetap sopan kepada atasannya, berkata : “ ibu mau pulang?” Saya lihat mobil pak Soleh tidak ada di depan. Michele sedikit kaget karena Frans bisa mengetahui nama supir pribadinya. Michele langsung menjawab cepat karena tadi dia sempat berpikir sejenak... “Iya mau pulang” jawab Michele singkat. Naik apa bu, Frans menyambung sedikit basa-basinya. Mendengar pertanyaan dari Frans, Michele kali ini sedikit bingung dan panik, karena dia belum tahu mau naik apa pulangnya, dan Michele pun belum memesan taxi seperti yang disarankan mamanya tadi. Ehhmmm... naik.. naik taxi kali, jawab Michele sekenanya berharap Frans tidak akan bertanya lagi. Ternyata dugaannya salah, Frans dengan santainya lagi, tanpa berpikir dan menyaring mulutnya, berkata: “mau saya antar” Michele yang mendengar dibuatnya kaget. Ada yach, seorang karyawannya yang berani seperti Frans ini... gak mikir apa, bisa menawari atasannya pulang bareng dengannya. Apakah dia gak berpikir bisa jadi gosip kalau Michele dan Frans berboncengan bareng.

Tiba-tiba terdengar teriakan para sahabatnya, Fransiscoooo.... “Frans menoleh kearah sahabatnya itu dan menjawab singkat... “ Bentaaar !!! Michele yang mendengar nama Frans, melihat ke arah sahabatnya Frans... “sudah kamu pulang saja” tidak usah urusin urusan saya” menyuruh Frans untuk berlalu dari hadapannya. Ikut saya karaoke dengan teman saya yuk bu... Kata Frans kembali dengan celotehnya bak burung berkicau... ya kalau ibu gak ada acara sich...

Lagi-lagi Frans berulah. Mendengar itu, Michele berjalan sedikit menjauh dari Frans. Becanda koq bu... Frans berkata santai. Lagian saya berani bertaruh, ibu gak mau berkaraoke dengan saya dan teman-teman saya.

Belum sempat Michele berkata... Frans pamit dan berkata, “oke bu sambil menundukkan kepalanya saya pamit dulu. Dan Frans pergi meninggalkan Michele di lobby dan menuju ke arah pakiran tempat ia memarkir motornya.

Michele yang sekarang berdiri sendiri di lobby tapi masih di dalam gedung dibalik kaca, mencoba menelphone taxi, tapi nadanya sibuk terus... Sedikit jengkel serta kesal, dan tidak enak berlama-lama di lobby... karena masih ada beberapa karyawan pria yang melihat ke arahnya dari kejauhan dan ada satpam yang sedang bertugas di dekat meja receptionis melihat kearahnya dengan curi-curi pandang.

Michelepun akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan lobby dan berjalan keluar, sekalian dia mau mencoba berjalan kaki santai sambil mencegat kalau ada taxi yang lewat. Tapi hingga berjalan 30 menit tidak ada taxi kosong yang lewat, semua taxi sepertinya full yang melewati Michele berjalan. Kakinya sudah terasa pegal dan sakit.

Terdengar dari kejauhan suara motor yang tadi pagi melintas kencang di pelataran lobby, Michele mencoba mengingat suara itu. Dan benar, itu suara motor yang tadi pagi ... seseorang mengendarainya dengan jaket hitam dengan tas bagpacknya di belakang punggungnya. Tapi motor itu hanya melewatinya, Michele hanya ingin tahu suara motor apa yang suaranya sampai keras seperti itu. Dan Michelepun kembali menyusuri jalan dan terasa sudah sangat jauh. Dia melihat ada 3 orang pemuda berandal dari kejauhan di depannya... hatinya sedikit was-was tak karuan, haruskah dia kembali ke arah kantornya atau menyeberang jalan. Tapi Michele tidak melihat ada orang yang menyeberang jalan dan semua orang menggunakan jembatan penyeberangan yang letaknya setelah 3 orang pemuda itu berdiri.

Ya Tuhan, lindungi anakmu ini dari segala macam cobaan dan berandal itu, dalam hatinya Michele memohon.

Tak lama selesai memohon, suara motor besar tadi berhenti di sampingnya. Michele kaget dan hampir tidak percaya, Permohonannya secepat itu langsung di jawab.

Memang dasar gila ini orang berhenti disampingnya, tapi tidak turun dari motornya atau sekedar menyapanya atau... paling tidak, buka helm. Michele jadi bertambah was-was, mana 3 orang berandalan itu sekarang berjalan menuju ke arahnya. Frans yang melihat gelagat takut boss cantiknya ini... merasa iba dan kasihan. Michele memutuskan untuk pergi meninggalkan pengendara motor itu dan menjauh dari 3 pemuda berandal itu.

Tiba-tiba namanya dipanggil... “bu Michele” mari ikut saya saja... sambil membuka helmya Frans melempar senyum manisnya... dengan rambut yang sedikit berantakan ketika membuka helmnya. Michele melihat apa yang di lihat di depannya, hampir tidak percaya, Kenapa mesti dia sich? Sambil mendekat Michele berkata, ….. kamu... !!!!!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel