Bab 3. Mampirlah Ke Ruanganku
Fransisco yang masih sedikit ling lung, terkaget ketika Michele berkata datar kepadanya … hayuuuk ! mau sampai kapan saya harus menahan pintu lift ini. Fransisco langsung bangun dari duduk nya di lantai dan berdiri keluar. Tampak dihadapannya pemandangan yang luar biasa, belum pernah ia lihat sebelumnya, selama iya bekerja sudah lebih dari 5 tahun di perusahaan PT. Flamingo Karya Utama. Jadi perusahaan tempat ia bekerja adalah perusahaan terbesar di asia, dengan berbagai macam di dalamnya anak perusahaan yang mengurusi bidang properti, hotel dan resort yang berada di Asia dan lain-lain, salah satunya di Indonesia.
Michele langsung berjalan menuju ruangannya dan Fransisco mengikutinya sambil melihat sekelilingnya yang menakjubkan. Di lantai 9 ini ternyata hanya terdapat ruangan Ibu Michele, boss cantiknya, ruang sekertarisnya yang terletak di depan ruangan Michele, 2 buah ruangan meeting, 1 ruangan besar dan 1 lagi ruangan kecilnya, juga ada taman kecil di dalam ruangan ini dengan kolam kecil dan terdengar gemercik air terjun buatan, dan juga ada bar mini kecil untuk sekedar minum-minum dan minum teh di sore hari dan meja receptionis untuk dilantai itu. Itulah pemandangan indah yang Fransisko lihat sekilas sambil mengekor di belakang bossnya.
Tampak meja sekertarisnya yang masih kosong, karena Mila sang sekertaris belum datang. “Masuk Frans, Michele mengajak Fransisco masuk keruangannya. Michele menaruh tas di samping meja kerjanya dan sambil menyalakan laptopnya, yang ia keluarkan dari tas kerja 1 lagi. Kemudian ia berjalan ke sudut di mana Michele menaruh kotak P3K dan obat-obatan dan mengabilnya untuk diberikan kepada Fransisco. Michele memang selalu menyediakan obat-obatan apabila diperlukan bila terjadi sesuatu dengan dirinya. Jadi dia tidak perlu untuk mencari atau menunggu obat yg diperlukan itu, dia segera mendapatkannya.
Michele walaupun di kantornya terkenal galak dan tegas, ternyata dia juga merupakan seorang pemimpin yang baik dan perhatian kepada bawahannya. Tidak seperti kata karyawan lain yang sering menggosipkan, gerak gerik setiap atasannya … Fransisco berbicara sendiri dalam hatinya.
Lamunan hati Fransisco terhenti kala Michele berkata dengan datar kepada Fransisco, heiiii !!! …. Kenapa bengong? Kamu kesambet setan …. Michele memang sering berucap sekenanya kepada siapa ajah yang mungkin merasa nyaman dengan orang itu. Ya walau kenal Fransisco baru beberapa menit yang lalu, tetapi dia merasa bahwa Fransisco adalah bawahannya. Lekas obati luka kamu dan setelah selesai kamu segera tinggalkan saya sendiri. Fransisco yang mendengarkan bossnya berkata demikian, langsung membuka kotak P3Knya, dan mengambil kapas untuk membersihkan darah merah yang tadi sempat keluar setelah tendangan tanpa bayangan dari bossnya.
Karena tidak ada cermin, Fransisco mengambil hp iphone12 nya dan berkaca pada kamera yang dihadapkan kepada wajahnya. Kepolosannya yang membuat dia tidak menyadari, sepasang mata melihat ke arahnya sambil tersenyum lucu, dan menahan agar tidak terdengar Fransisco, kalau ia mentertawainya. Bagaimana tidak lucu menurut Michele, pemandangan yang dihadapannya, adalah seorang bawahannya yang sedang berkaca seperti orang sedang make up, sambil memoncongkan mulutnya dan menggeser hidungnya. Fransisco memang tampan, bodynya pria sekali, idaman para wanita pastinya, kulitnya putih bersih, pasti dia sering merawat tubuhnya. Potongan rambutnya sedikit acak-acakan yang tetap teratur belahan rambutnya. Seperti pria-pria korea kata teman-teman kantornya. Tapi Fransisco biasa saja menanggapi teman-teman atau para sahabatnya kalau sedang bersamanya.
Tanpa sengaja Fransisco menyadari ada yang sedari tadi melihatnya, dan dia berkata “jangan diliatin terus, nanti bisa naksir loh...” seketika itu juga Michele tersadar dari lamunannya sesaat, kala dia melihat Fransisco, mengobati luka di hidungnya dan darahpun berhenti. Kamu ya... gak punya sopan berkata begitu kepada atasannmu, Michele berceloteh sedikit kesal dengan ucapan Fransisco. “Maaf dech bu...” dengan santainya Fransisco berkata dengan cueknya, lah ibu melihat saya diam-diam sambil melamun. Jangan-jangan ibu berpikir yang tidak-tidak dengan saya yach...? Sembarangan ngomong, jaga ucapan kamu... Kata Michele sambil memalingkan wajahnya dan melihat ke arah laptopnya. Kalau sudah selesai kamu kembali ke ruangan kamu. Fransisco yang mendapat perintah dari atasannya boss cantiknya, dia langsung merapikan tempat obat-obatan yang dia pakai, menutupnya dan mengambil tumpukan kapas yang dia gunakan tadi.
Baiklah bu, saya pamit kembali ke meja saya, terima kasih untuk obat-obatannya dan sekali lagi maaf atas kejadian hari ini yang mengganggu kenyaman ibu. Fransisco berjalan ke arah lemari tempat kotak P3K tadi di ambil oleh Michele. Mata Michele mengikuti arah kemana Fransisco berjalan dan dia melihat masih ada sedikit darah di belakang kepala Fransisco yang mengenai kerah belakang bajunya. Lalu berkata:” Frans... kemari sebentar pinta Michele dengan suara datarnya. Ya bu, jawab Fransisco.
Michele lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya, dan mengambil tissue basah. Kemari kamu, perintah atasannya itu. Fransisco yang tidak mengerti dan bingung, mau diapakan lagi nich gue... jangan sampai kesekian kali gue kena masalah sama boss galak ini, dalam hatinya dia berbicara. Sini ... kenapa bengong? Saya gak akan makan kamu koq, tenang ajah... hadap belakang kamu... Fransisco di minta menghadap ke arah pintu dan membelakangi bossnya. Jangan mikir macam-macam kamu, saya atasan kamu, tidak akan saya macam-macam dengan orang seperti kamu. Itu ada bekas darah di kerah belakang baju kamu, dan belas darah di kepala kamu bagian belakang, memang kamu tidak berasa? Michele langsung mengarahkan tissue basahnya untuk mengusap bekas darah di belakang keala Fransisco.
Seeeeerrrrr.... Fransisco kaget !! merasakan sentuhan tangan boss cantiknya mengusapkan tissue pada tengkuk belakang kepalanya, dan menyentuh kulit lehernya dengan perlahan. Darah mudanya spontan bergejolak dan merasakan sentuhan lembut jemari tangan boss cantiknya yang membuatnya sedikit rangsangan pada lehernya. Michele yang sedang membersihkan darahnya, juga merasakan hal yang sama, desiran darah yang mengalir di tubuhnya tiba-tiba bergejolak tanpa aturan. Jantung ke dua orang inipun sama-sama berdetak cepat seakan berlomba memacu siapa yang akan meledak dulu... Michele tanpa sengaja menelan air liur di tenggorokannya. Dia menarik kerah baju Fransisco untuk membersihkan bekas darah yang menempel, dan tanpa sengaja, beberapa kancing baju Fransisco terlepas ... Michele melihat jenjang leher Fransisco bagian belakang dan sedikit berhayal dia dapat mengelusnya dan mencium leher ini. Tiba-tiba ....
Tok.. tok tok tok .. tok...
Pagi bu... dan ke dua orang di dalam ruangan itu berhenti dan kaget setengah mati, seperti melihat setan ... Mila yang tadinya ingin langsung masuk, dia ikutan kaget melihat apa yang dilakukan bossnya dengan bawahannya di dalam 1 ruangan. Mana dia melihat baju Frans sedikit terbuka beberapa kancing atasnya.
“Maaf bu... maaf sekali saya tidak tahu... kalauu... Mila langsung mundur teratur ke belakang dan segera menutup pintu ruangan bossnya.
Michele dan Fransisco yang melihat kejadian barusan yang dilakukan sekretaris Michele, langsung spontan saling bertatapan beberapa saat, tanpa mengeluarkan kata-kata apapun. Michele langsung berkata : “ sudah, kembali sana” sambil mendorong pelan pundak Fransisco.
