Bab 2. Jangan Berisik
Terdengar dari kejauhan di luar lobby kantornya suara motor besar meraung cepat melewati pelataran kantor tempat Michele turun dari mobilnya tadi dan langsung hilang sepintas dengan suara yang lama kelamaan terdengar kecil menghilang. Michele yang mendengar suara itupun langsung berhenti melangkahkan kakinya memasuki lift dan melihat ke arah luar lobby dan berteriak memanggil satpam yang berjaga di dekat meja receptionis… “Satpam …!!!!” teriak Michele yang membuat seluruh karyawan yang baru datang serta orang di sekitanya melihat asal teriakan tersebut. Seorang satpam yang melihat ke arah Michele langsung berlari menghampiri Ibu bossnya yang terkenal galak itu. Mati aku !!!, gumannya dalam hati satpam itu.
“Selamat pagi bu … “
Siapa orang tadi yang mengendarai motor dengan suara keras dan ngebut di depan kantor barusan …!! Satpam itu berkata, “ dia adalah salah satu karyawan di sini juga bu, namanya Pak Fransisco..” bagian apa dia di sini, Michele memotong cepat perkataan pak satpam tersebut. Bagian marketing bu …, lalu Michele berkata lagi dengan kesal sambi melihat ke arah sekitar lobby dan berkata ke satpam tersebut …. Suruh bagian HRD memberi peringatan kepada orang itu tegasnya. Baik bu … jawab satpam tersebut cepat. Dalam hati satpam itu, matilah kau pak Frans kalau bu Michele sudah bertindak.
Michele langsung berbalik melangkahkan kakinya menuju lift tadi dan ketika lift terbuka dan ingin memekan lantai tujuannya di lantai 9 … Dengan cepat, masukklah seseorang pria yang sedang tergesa-gesa menaiki lift yang sama dengan Michele dan sedikit menabrak Michele dan hampir terjatuh karena dorongan pria itu… “ Buk … sebuah tas tangan yang Michele kalungkan ditangannya terjatuh, dan ia terdorong ke sudut lift sambil menahan sakit dan mulai mengeluarkan aura marahnya untuk kedua kalinya di pagi itu … “Siapa kamu !!!! teriak Michele … “Maaf bu”, pria itu sambil berusaha membantunya untuk berdiri dan memegang pinggul belakang Michele, dan pintu lift mulai tertutup rapat. Michele yang dengan refleknya di pegang pinggul belakangnya … dengan cepat mendorong pria itu hingga terdorong membentur tiang pegangan tangan yang berada di sudut lift itu.
Pria itu menjawab pelan, “Maaf bu Michele” suaranya pelan merasa bersalah … “kamu siapa? Dibagian apa kamu kerja? Teriak Michele kepada pria itu. “Saya Fransisco bu, dibagian marketing” Fransisco menjawab sambil memegangdan mengusap kepalaya yang sakit. Punya mata tidak, masuk lift dan menabrak saya seenaknya… ketus Michele. Fransisco berdiri didepan Michele menghadap pintu lift dan Michele berdiri di sebelah kanan belakang Fransisco.
Penglihatannya Michele sekilas ke arah kepala Fransisco yang tadi terbentur, dan dia melihat darah segar mengalir turun ke arah kerah bajunya, tanpa Fransisco sadari. Dia hanya merasakan perih pada kepalanya dan menahan rasa sakit itu. Sepertinya jaim di depan Boss cantiknya itu, namun galak. Dan ini tidak seperti marahnya Michele yang dia kenal dan selalu dia memujinya waktuitu.
Mau kelantai berapa kamu? Michele berbicara dengan logat ketusnya ke Fransisco…. Dan Fransisco tersadar dia belum memencet lantai yang dituju, dan dia melihat sekeliling lift itu dan melirik sekitarnya, bahwa ia telah salah menaiki lift yang diperuntukkan untuk seorang direksi, dia langsung memencet nomer lift itu dengan pedenya, walau iya sadar ia telah salah menaiki lift.
Kenapa? Baru sadar kamu naik lift yang salah… bicata Michele dengan nada ketusnya. Michele ingin memberitahukan kepada Fransisco soal darah yang mengalir kearah kerah bajunya Fransisco, tangan kiri Michele ingin memegang pundak kanan Fransisco …. Tiba-tiba, ting … suara lift berbunyi, tanda Fransisco telah sampai pada lantai 7 dimana divisi marketing berada. Sekali lagi .. Fransisco berbalik menghadap Michele dan berkata … “Ibu Michele, saya mohon maaf atas kejadian hari ini … saya tidak akan mengulanginya bu Michele”. Fransisco langsung berbalik untuk meninggalkan Michele seorang diri di dalam lift …. Buuuks !!!! Fransisco mental kebelakang ke arah Michele dan terjatuh tepat di samping kaki kiri Michele, ternyata dia tersadar bahwa ia telah menabrak lift yang baru tertutup rapat.
Michele sempat hampir tertawa lepas tapi langsung tersadar dan langsung menutup mukanya dengan tas yang ia pegang sambil dalam hati berkata, “ini manusia koq bodoh amat sich? Bisa-bisanya dia ceroboh dan memalukan dirinya sendiri”. Lalu melihat Fransisco yang terjatuh di samping kakinya, dan sempat terdiam sejenak … Michele berfikir cepat, mungkin Fransisco sedang melihat kearah celana dalam Michele. Dengan spontan Michele memundurkan kakinya dan dengan reflek cepat menendang wajah dari Fransisco yang berada dibawah dekat kakinya….
BUUUKS… BUUKS!!!
Darah kembali mengucur, kali ini tepat di hidung mancungnya pria ganteng ini. Fransiscopun dengan spontan berteriak keras dan memulul lantai lift sambil berkata…. “Sial !!! apes banget sich gue hari ini … Michele yang tersadar Fransisco yang sedang mengamuk sambil memukul lantai, dan tangan satunya memegang menutupi hidung yang berdarah … berkata, “maaf … maaf” saya spontan refleks menendang kamu Frans kata Michele yang ketakutan … sambil berjongkok ketakuan, Michele memegang pundak Fransisco, dan Fransisco tersadar sejenak, bahwa dia hampir tidak percaya, melihat pemandangan yang tidak ia duga-duga sebelumnya. Bahwa Michele, bossnya baru saja menunjukkan paha putih mulusnya dan terlihat celana dalam berwana putih juga, tanpa ia sadari tepat di hadapan Fransisco. Fransisco langsung dengan cepat memalingkan wajahnya ke kiri bahwa ia tidak ingin Bossnya menambah luka di muka atau tubuh atletisnya itu. Maksud Michele adalah ingin membantu berdiri Fransisco, tapi malah memberi pemandangan indah dan gratis kepada bawahannnya itu. Michelepun langsung merapatkan pahanya dan langsung berdiri.
Ting !!! … pintu lift terbuka, tanda lantai dimana ruangan Michele berada di lantai 9.
