Bab 15. Tidak Mungkin Menelantarkan Saya
Kita pamit yach mi, ucap sahabat-sahabat Frans, selamat istirahat mi. Yuk Frans... bu Michele, kita pamit ya, selamat menempuh hidup baru... Canda Fauzi kepada mereka berdua. Sambil mereka berjalan keluar ruangan. Kalian ...!!! awas yach ucap Michele.
Michele, kamu sebaiknya pulang yach … nanti orang tua kamu mencarimu. Saya gak mau jadi tersangka di tuduh menculik anak orang. Ich kamu Frans … ! Frans … ucap Michele manja memohon, mau gak kamu antar saya pulang?
“Baiklah tuan putriku”
Lalu, bagaimana dengan pak Soleh tanya Frans. Michele tersenyum, pak Soleh sudah aku suuh pulang dulu tadi, sambil memelankan suaranya di depan wajah Frans. Gemes juga liat kelakuan mereka yang saling menggoda dan saling mesra. Oalah … kamu itu, ucap Frans, kalau saya gak mau antar kamu bagaimana? Gak mungkin kamu menelantarkan saya kan Frans.
Yuk pamit dulu ke mami. Mereka berdua berdiiri dan merapikan meja makan tadi. Dan pamit pulang ke mami. Mi, Frans pulang dulu yach, nanti Frans balik lagi,…. Mau antar Michele pulang dan ambil baju ganti di rumah.
Ya … Frans. Hati-hati di jalan ya kalian berdua, ucap mami. Iya mi, Michele mencium pipi mami Frans. Mami sangatlah bahagia sekali, terlihat dari senyumannya melihat Michele. Mami tidur langsung saja yach, tidak usah menunggu Frans datang… Iya bawel, mami meledek Frans yang sangat khawatir akan dirinya.
Mereka berlalu keluar ruangan mawar … Michele berjalan sambil meranggkul tangan Frans di samping dadanya. Frans yang merasakan itu, hanya tertawa dan memegang tangan Michele yang merangkul tangannya.
Frans … boleh kita ke rumah kamu dulu ambil keperluan kamu dan mami, lalu baru antar aku pulang, ucap Michele berharap. Baiklah … kalau itu yang kamu mau. Tapi jangan salahkan saya kalau terjadi hal-hal yang di ingingkan, jawab Frans menggoda. Michele langsung mencubit tangan Frans. Emang kamu berani sama saya … sambil melihat Frans yang tersenyum malu.
Ting …. !! pintu lift terbuka dan mereka sudah di lantai lobby rumah sakit itu. Tampak rumah sakit itu sudah terlihat sepi. Karena memang ini sudah malam, pukul 22.35 wib.
Motorpun melaju meninggalkan rumah sakit. Dan tanpa terasa sudah sampai di rumah Frans …
Michele yang melihat rumah Frans sempat terdiam dan melihat ke sekitar rumah itu dan hampir tidak percaya. Dan Michelepun tertawa kecil. Kenapa kamu seperti itu, tanya Frans. Rumah Frans ternyata cukup besar dengan model minimalis dan ada taman yang besar pula di halaman rumahnya. Tapi tidak sebesar rumah Michele yang dua kalinya rumah Frans.
Kamu itu yach, sambil mencubit Frans. Kamu tidak bilang ke saya kalau rumah kamu dekat dengan saya. Pak Soleh kalau antar saya ke kantor kadang melewati depan rumah kamu ini ucap Michele. Keanapa saya gak tau yach punya karyawan yang rumahnya berdekatan dengan saya. Yang jelas nich, tidak mungkin boss besar seperti kamu, mengecek satu-satu rumah karyawannya, ucap Frans sambil tertawa. Oh yach … jawab Frans singkat. Berarti saya bisa ikut kamu dong yach …! Ingat, bukan kamu yang ikut Saya. … tapi kamu yang harus jemput saya, ucap Michele membalas.
Setelah membuka pintu rumahnya dan masuk ke ruang tamu Frans yang cukup luas, Frans menyalakan lampu dan mempersilahkan Michele untuk menunggunya di sana. Kamu tunggu di sini ya say … saya mau mandi dan menyiapkan baju buat di rumah sakit nanti. Baiklah, ucap Michele. Frans … aku liat kamar kamu boleh, tanya Michele, mau tahu ajah kamar cowok jomblo itu seperti apa sich?
Weiii … udah mau masuk kamar cowok nich, jangan salahkan saya kalau saya gak bisa menahan diri. Hmm jawab Michele, kamu tidak akan menyakiti saya kan … kalau berani, besok kamu sudah saya pecat tau ….
Sini hayuk … Michele menaruh tasnya di sofa di ruang tamu dan mengikuti Frans menaiki tangga rumahnya. Kamar Frans terletak di lantai 2, dan ada 2 kamar tamu, dan 1 kamar kosong. Frans hanya tinggal berdua dengan maminya. Asisten rumah tangga bernama bu Siti, sedang pulang kampung karena anak perempuannya melahirkan. Rumah Frans adalah peninggalan papi Frans yang sudah almarhum. Dan Frans memiliki adik yang berumur 20 tahun tetapi, sudah meninggal dunia, akibat kecelakaan mobil.
Setelah Frans menyalakan lampu kamarnya, Frans mempersilahkan Michele duduk di mana dia suka. Kamar Frans ternyata sungguh rapi, hampir tidak ada debu yang menempel di meja atau lemari pakaiannya. Lemari pakaian fran sukup besar yang memanjang dengan 8 pintu, 2 diantaranya pintu cermin.
Michele melihat seisi kamar Frans, yang terdapat beberapa foto Frans, foto keluarganya, dan foto bersama adiknya. Oh ya, adik Frans adalah perempuan, dengan rambut sebahu dengan penampilan yang tomboynya.
Saya mandi dulu yach… dilarang ikut, kecuali sudah siap. Frans asal menjawab seenaknya. Michele hanya duduk sambil membaca majalah otomotif yang berada di meja kerja Frans.
Suara air pancuran mulai terdengar ketika Frans berada di dalam kamar mandinya. Kamar mandi Frans ternyata ada kacanya yang bisa terlihat dari luar dengan di tutupi tirai hordeng, tapi ternyata ada yang tidak rapat.
Pikiran nakal Michelepun mulai keluar, dia berjalan santai, sambil melihat-lihat foto dan pajangan yang ada. Sambil matanya sekali-kali melihat di sela-sela tirai yang terbuka sedikit. Dan tidak terasa melihat ada bagian tirai yang terlihat jelas ke dalam kamar mandi.
Jantung Michelepun berdetak cepat sekali, dan nafasnyapun mulai dihembuskannya perlahan demi perlahan. Dia mulai melihat apa yang tidak pernah dia lihat sebelumnya. Tubuh Frans sudah terlihat jelas, dari atas sampai bawah kakinya, dan lekuk tubuh kekarnya yang atletis, dan kulitnya yang putih memancarkan gairah Michele yang melihatnya. Hanya saja, posisi Frans di shower menghadap ke tembok, jadi tampak tubuh bagian belakang saja. Tiba-tiba, Frans berbalik untuk menyudahi mandi malamnya. Spontan Michele berbalik badan, sambil menutup wajahnya.
Frans tersadar kalau ternyata tirainya tidak tertutup rapat, dan ada punggung Michele terlihat disana, menjauh dari kaca itu. Frans hanya tertawa. Dalam hatinya, kenapa dia lihat …salah sendiri. Setelah selesai handukan, frans keluar dengan telanjang dada dan hanya memakai handuk di pinggangnya.
Whattt …. Michele langsung menutup matanya dengan majalah yang di pegangnya. Frans, kamu jangan porno ya, jangan kurang ajar sama saya, ucap Michele. Lagian nich yach, yang minta masuk ke kamar kan kamu, kalau kamu merasa sungkan atau tidak mau melihat, tutupi muka kamu sama badcover itu, sambil menunjuk ke aras ranjang. Kalau kamu mau melihat ya silahkan saja... toh saya tidak akan menyentuh kamu.
Michele terdiam mendengar ucapan Frans... iya yach kan saya yang minta … lagian ini kamar dan rumah dia,
Pokoknya kamu jangan macam-macam dengan saya, titik ! tegas Michele ke Frans. Baiklah tuan putri …. Saya mau buka handuk yach, tolong tutupi wajah kamu … kamu gak ke badcover ajah, kata Frans. Sudah cepat … kamu bawel ya Frans. Frans dengan cueknya membuka handuknya, hanya memakai celana dalam boxernya.
Lagi-lagi ketika Michele menutup mukanya dengan majalah, dia melihat kearah kaca yang berada di kamar mandi, ternyata ada pantulan Frans yang hanya memakai CD boxernya, dan kemudian sambil berpakaian, Michele melihatnya dari awal hingga Frans selesai mengancingkan celana jeansnya. Michele hanya bisa tertawa dalam hati. Tiba –tiba Frans berdiri tepat di depan Michele. “Sudah selesai tuan purtiku”. Michele yang memang sudah mengetahui itu, menurunkan majalah yang menutupi mukanya dan langsung melempar ke arah Frans.
Buuuks … majalah itu mendarat kasar di muka Frans. Ternyata setelah Frans berdiri di depan Michele tak lama Frans langsung berjongkok. Michele yang melihat kaki Frans, tanpa melihat jelas melemparkan majalah itu. Frans hanya memejamkan matanya sambil menahan sakit. Majalah itu mengenai pelipis di atas mata kirinya. Michele yang tersadar majalah itu mendarat di muka Frans, langsung kaget dan meminta maaf sambil memegang muka Frans …
Aduuh, maaf ya Frans … maaf banget, saya kelewatan bercandanya ke kamu, sambil mengelus-elus muka Frans yang sakit. Matanya mulai berkaca-kaca karena merasa bersalah dan sangat menyakitkan Frans, lelaki yang iya suka dan sayangin. Michele dengan reflekpun memeluk Frans yang sudah duduk dilantai, sambil memegang pelipis kirinya yang memerah. Frans, kamu mau kan memaafkan saya. Iya sudah… sudah tidak apa-apa koq. Michele merenggangkan pelukannya dan Frans menahannya, hingga terlihat wajah cantik Michele yang telah basah karena air matanya, dia menghapus dengan jarinya.
Sudah Michele, kamu jangan menangis lagi ya … saya beneran tidak apa-apa. Lain kali hati-hati, Untung cuma saya, coba kalau orang lain yang kena. Kamu bisa dituntut loh. Muka mereka saling berhadapan dan saling menatap penuh pengharapan. Frans mecium lembut bibir seksi Michele sambil menyentuhkan lidahnya ke bibir Michele,. Michele yang terbawa suasana romantis disana,seketika memejamkan matanya dan mengikuti arahan dalam Kissing Game itu.
Tangan Michele sudah meranggul di belakang leher Frans, dan Franspun berusaha mensejajarkan posisi duduknya, dan memandu agar Michele bisa duduk di panggkuannya. Desahan terasa ketika Frans mulai mencium bagian telinga dan turun ke leher tanpa sejengkalpun terlewati. Michele merasakan darahnya sudah mulai mendidih menjalar ke seluruh tubuhnya. Frans berusaha mengangkat tubuh Michele untuk berdiri.
Seakan tak ingin lepas, Michelepun mencium leher Frans dan terium aroma sabunnya yang masih melekat, Fran mencoba dengan perlahan membuka kancing baju Michele dengan tangan kanannya satu persatu. Michele yang mengetahu tangan kanan Frans membuka kancing bajunya, membiarkan Frans melakukan itu. Karena mereka sudah di bawah alam sadar melakukan itu perlahan demi perlahan.
Seketika Michelepun sudah setengah telanjang hanya menggunakan bra saja. Michele yang merasa tangan Fran sudah menyentuh belakang pungungnya sambil melepaskan kait branya. Dan Michele mulai mengangkat ke atas kaos yang di gunakan Frans. Hingga dilemparnya ke samping mereka.
Merasa tali pengait bra terlepas Michele melepaskannya dengan bantuan tangan Frans. Kini Michele mendekatkan tubuhnya ke dada Frans dan mencium puting Frans satu satu. Tangan Franspun sudah mulai memegang rambut Michele yang panjang sepundak.
Michele mulai mengarahkan agar Frans mencium lehernya dan turun mendekati gundukan dua buah dada dan membenamkan mukanya diantara buah dada Michele. Dan mecium serta menjilatnya... celana jeans yang Frans gunakan dan rok span Michelepun sudah mendarat di lantai. Kini merek hanya memakai cd yang masih menempel pada tempatnya.
Seketika Frans mengangkat Michele dan menggendongnya dari depan. Michele merasakan ada yang sudah tegang dan mengeras di balik Cd Frans. Dan Frans langsung merebahkan Michele dengan hati-hati ke atas ranjangnya.
Pergelutan mereka di ranjang sangat romantis dan memanas setiap detiknya. Mereka saling terbuai dengan apa yang mereka sudah mulai.
