Bab 14. Apakah ini jatuh cinta?
Setiba di ruangan mawar yang ternyata adalah salah satu VVIPnya rumah sakit itu. Ruangan ini besar sekali Michele. Ya, ... ini yang dapat aku lakukan terbaik buat kamu Frans. Wah, gue mesti bayar berapa nich... dalam hati Frans berkata, sambil melihat-lihat interior dan seisi ruangan itu yang sangat mewah.
Mami Frans belum kembali dari medical check upnya. Kamu tidak perlu kembali ke kantor ya Frans, urus saja mami kamu hari ini. Besok saja kamu masuk dan temui saya yach. Koq temuin kamu, tanya Frans bingung. Jadi kamu gak mau temuin saya besok? Tanya Michele kesal. Ya sudah... Saya pamit ... bye !!!!!
Michele segera membalikkan badannya... baru selangkah, Frans langsung menarik tangan Michele. Dan seketika Michelepun berbalik arah dan sekarang wajahnya sudah berada tepat di depan Frans. Tubuh mereka sudah tidak ada jarak lagi, seperti lem yang saling merekat. Bunyi jantung keduanya sudah saling berlomba, siapa yang jadi pemenangnya.
Mereka saling bertatapan dan tanpa suara, wajah mereka sudah sama-sama dekat. Frans spontan karena terbawa perasaan, dia mulai mendekatkan bibirnya pelan-pelan ke arah bibir Michele. Seketika Michele memejamkan matanya... dan menerima ciuman pertamanya dengan Frans. Bibir mereka saling bertautan saling membelah dan membalas. Michele menjatuhkan tasnya dan merangkul leher belakang kepala Frans. Sudah cukup 3 menit kira-kira. Tiba-tiba Frans melepaskan ciumannya dari Michele. Dan Michele melihat Frans antara ketakutan dan bingung.
Maafkan saya Michele, Frans berkata sambil menundukkan kepala. Mestinya ini tidak boleh terjadi. Maaf saya tidak tahu diri. Hai ... Hai, Frans ... kenapa? Kenapa tidak boleh? Bukannya kamu juga mengingannya, dan saya juga mau menerimanya. Tidak ada yang salah kan? Jelas Michele.
Tapi kamu .... kamu pimpinan saya Micheleeee..., tidak semestinya saya lakukan itu. Kalau saya mau bagaimana? Tanya Michele. Langkah Michele sudah mendekati Frans dan memegang tangan Frans agar tidak lari menjauh darinya.
Sambil berbisik ditelinga Frans... “Saya mau koq, menjadi wanita yang special buat kamu”
Dan temui saya kalau kamu sudah mengetahui jawabannya. Michele lalu berbalik arah meninggalkan Frans sendiri di sana.
Di perjalanan kembali ke kantor, Michele tersenyum membayangkan kejadian tadi, dan sekaligus bahagia kebersamaannya bersama Frans. Michele merasakan kembali kebahagian yang dulu sempat hilang.
Apakah ini yang dirasakan kalau jatuh cinta?
Sesampai di kantor, Michele langsung mengerjakan semua pekerjaan yang tertunda sebelumnya. Meeting mendadak dan bertemu beberapa klien di luar kantor dilalui dengan semangat yang di siramkan dari Frans kepadanya.
Tiba waktunya pulang. Ke 4 sahabat Dodi ternyata sudah janjian akan berkunjung ke rumah sakit.
Guys, yuk ah kita cap cus ke rumah sakit. Frans mau dibawakan makan apa ya kira-kira? Ujar Silvia. Telphone saja mahluknya, ucap Fauzi asal. Mahluk yang dimaksud ialah Frans, bahasa gaul mereka saja.
Guys, yang sakit maminya, kenapa Frans yang kita pikirkan sich? Mampir beli buahlah nanti, ucap Iren. Dan mereka berempat segera menuruni lift. Setiba lift dibawah dan terbuka, mereka langsung menuju parkiran.
Di rumah sakit, Frans yang sedang menunggu maminya, sedang membuka notebooknya sambil mengerjakan beberapa tugas yang harus dia laporkan besok ke ibu Yayuk.
Terdengar suara dari pintu, “Permisi” mendengar suara itu mami Frans berkata, “Frans coba liat itu siapa?” Ketika Frans ingin berdiri, Michele sudah masuk dan menyapa maminya Frans. “Malam mami... “ Bagaimana hasil pemeriksaan tadi, apakah ada kendala? Tanya Michele.
Mami yang mendengar Michele memanggil dengan kata “Mami” sangat terkejut dan tersenyum mendengar itu. Franspun ikut-ikutan terkejut dan tersenyum sambil mengatakan, sejak kapan kamu jadi anaknya mami?
Sebentar lagi,... Michele menjawab tanpa melihat Frans. Tapi tidak apa-apakan tante saya memanggil mami? Kan tante maminya Frans, jadi boleh dong saya panggil mami.
Mami tersenyum kepada Michele, sambil membelai pipi Michele. “Boleh sayang... “ Naluri dan hati keibuan Mami keluar dengan sendirinya melihat Michele dan berharap bisa jadi anak menantu seutuhnya. Wajah mami menatap dalam sambil berkaca-kaca matanya. Mami senang koq kamu mau memamnggil mami itu. Michele pun terbawa suasana dan memegang tangan mami yang menyentuh pipinya. Sambil berkata, “terima kasih ya mami”
Mami, saya bawa makanan Jepang nich. Tadi saya mampir ke hokaben dulu sebelum ke sini. Takut mami dan Frans belum makan. Kita makan sama-sama ya, ucap Michele. Michelepun mengambil meja dorong yang biasa disediakan untuk pasien makan, dan sambil membukakan kotak makanan itu. Lalu Michele mulai menyuapi mami perlahan. Ini untuk kamu Frans... kata Michele.
Koq saya gak di bukakan kotaknya... lah mami disuapin, saya juga mau dong. Kamu apa-apaan sich Frans, jangan seperti anak kecil ah, malu sama Michele.
Frans mengambil kotak makanan dan menuju meja makan besar... sambil mengumpat katanya, “ Yang baru dapat mami baru, bedaaa yach” Sambil membuka kotaknya dengan kesal. Mami yang melihat Frans cemberut... tersenyum, mami tahu Frans hanya bercanda saja dengan ucapannya. Dia memahami perasaan anaknya itu.
Michele, mami makan sendiri saja yach? Lagi pula mami kan bisa makan sendiri. Kamu makan saja sama Frans.... sana, mami sambil melihat Frans yang makan sendiri sambil mengerjakan tugas laporannya.
Michele yang diminta mami untuk makan, tidak berani membantah permintaan mami tersebut. Dia menuju ke meja makan dan duduk di samping kiri Frans. Michele membuka kotaknya dan membuka pembungkus kertas sumpitnya, lalu mengambil satu makanan dan menyuapi Frans.
Kamu mau ini, Michele memberikan langsung kearah mulut Frans. Frans yang sedang sibuk, hanya membuka mulutnya dan memakannya. Michelepun ikut memakannya dengan sumpit yang sama digunakan untuk Frans. Dan terus sampai makanan Jepang itu tinggal sedikit.
Dari tadi kamu menyuapi saya, kamu kapan makannya, jatah kamu habis buat saya semua tuch. Franspun melakukan hal yang sama seperti yang Michele lakukan untuknya. Dia menyuapi Michele sambil menatap ke arah mulut Michele. Aaaak... seperti anak kecil Frans menyuapi Michele, dan Michele hanya melihat Frans yang memperlakukannya dengan manja sambil tersenyum.
Kamu kerja apa sich Frans, Michele menggeserkan kursinya mendekat ke Frans.... Ini buat laporan bulanan saja, Cuma, hitungan saya masih kurang untuk bulan ini. Coba saya lihat, Michele melihat kearah layar, tanpa menggeser nobebook Frans, dan posisi pipinya sudah berada dekat disamping wajah Frans. Tanpa bergerak dan menggeser posisi duduknya, jantung Frans mulai bergejolak melihat pipi mulus Michele dan bibirnya komat-kamit membaca laporan Frans.
Semestinya... Michele membalikkan kepalanya tanpa sadar wajah Frans memang sudah disampingnya dari tadi. Alhasil muka ketemu muka, mereka saling berhadapan dekat dan tidak sampai sekepalan tangan Wajah mereka.
Tiba-tiba ...
Hai semua, ke 4 sahabat Frans melihat kejadian yang luaaaar biasa... melihat keduanya hampir melakukan kissing...
Sudahlah Frans... cium ajah, pakai mikir kelamaan, ucap Dodi. Ia Frans... loe kurang peka sambung Silvia tertawa lebar. Michele dan Frans mendengar itu langsung sama-sama memundurkan kepala.
Kalian... Michele kaget seperti anak sd yang ketahuan menyontek. Bisa tidak, kalau masuk ketuk pintu dulu, permisi dulu kek.
Maaf bu Michele, ucap Dodi. Kalau saya ketuk pintu dulu, kita kan gak akan lihat kejadian tadi bu.
Hai mami ... hallo mami, sahabat Frans langsung menyapa maminya Frans. Koq mereka ... sambil melihat Frans. Frans yang mengetahui maksud dari Michele, berkata santai... “Kamu telat” mereka sudah sejak lama memanggil mami. Kan kamu baru hari ini... Frans sambil mencubit pipi Michele, spontan. Sakiiiit.... tahu, Michele berteriak sambil memegang pipinya.
Semua yang ada disana langsung melihat Michele yang memegang pipinya. Mami...! Frans tuch mi...
Sahabat Frans kompak terdiam, dan melihat mami Frans... setelah melihat Michele memanggil mami. Mami yang melihat sahabat Frans menatapnya tersenyum ...
Dan mereka meledek maminya Frans... cieeeee... cieeeee.... mami baru dapat mantu baru ya. Kali ini wajah mami memerah, bertanda malu dengan candaan semua sahabat Frans. Beluuum... mereka hanya teman koq.
Fauzi langsung teriak, Frans... mami loe minta cucu nich. Haiiiiz... apaan sich kalian. Datang malah mengganggu orang saja ucap Frans ke Sahabatnya itu. Frans... Sambung Iren, loe nolak permintaan mami Frans, jahat loe sama orang tua loe sendiri.
Siapa bilang gue nolak permintaan mami... gue kan tinggal jalanin ajah, tinggal yang 1 ini ajah nich, sambil melihat Michele. Cubitan kilatpun langsung mendarat di pinggang Frans.
Jadi hari apa kita makan-makan bersama bu Michele, ucap Silvia dan Iren. “Coming soon”, kata Michele menjawab asal. Sudah seperti film ajah nich. Kita tunggu ya...
Mamipun tertawa melihat tingkah sahabat anak-anaknya itu. Dan suasana di ruangan itu sangat hangat seperti keluarga besar berkumpul.
