Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13. Suka koq

Kamu mau apa Frans? tanya Michele

Aku mau hot coffee late saja, singkat Frans.

Saya mau americano dan chess cake ucap Michele ke kasirnya. Setelah mengulang pesanan, kasir menyebutkan total yang harus dibayarkan Michele.

Frans mengeluarkan dompet dan langsung membayarnya. Kali ini biarkan saya membayar yach... Ucap Frans ke Michele.

Baiklah, wah mestinya saya pilih yang banyak nich... canda Michele menggoda.

"Silahkan kalau kamu mau lagi ... asal kamu kuat saja makan minumnya, tapi habiskan di tempat, gak boleh bawa pulang yach? canda Frans.

Kamu cari tempat duduk saja ya, biar aku yang ambil pesanannya.

Michele mencari tempat duduk dan memilik di pojok dekat kaca yang bisa benghadap taman kecil yang ada air mancurnya. Disana juga ada meja bundar dan kursi yang merupakan bagian dari coffee shop ini.

Setelah minuman di letakkan di meja, Frans yang duduk berseberangan dengan Michele, membuka pembicaraan di coffee itu sambil mengaduk-aduk Coffee Latenya.

Michele, boleh saya bertanya lagi ke kamu, tolong jawab saya dengan jujur yach... “Kenapa kamu lakukan semua ini ke saya” dan “kenapa harus saya”. Michele seorang wanita yang tegas dan tidak suka bertele-tele langsung menjawab,

“Saya nyaman sama kamu Frans dan maunya saya, kamu menjadi yang special buat saya”. Saya juga merasa tidak khawatir di dekat kamu, dan kamu juga care orangnya dan mau melindungin orang lain.

Gleek...!! Frans seperti di sambar petir di pagi ini. Dia tidak menyangka dengan kejadian pagi itu, juga terhadap ucapan yang keluar dari mulut Michele. Frans tidak dapat berkata-kata, dia tidak tau apa yang harus di katakan ke Michele.

Frans… Frans !! Michele memecah lamunan Frans yang sempet terdiam sambil melihat wanita di hadapannya.” Kenapa Frans”, suara Michele terdengar lembut bertanya. Hmm… Saya cuma gak percaya dengan apa yang saya dengar dari kamu tadi Michele. Cocoknya tuch, kamu bicara sama cowok yang bakal jadi pacar kamu nantinya.

Michele terdiam kesal karena Frans tidak tanggap dengan apa yang dia utarakan. Ini orang lola juga yach, loading lambat otaknya. Dalam hati Michele jengkel. Kok ada yach orang seperti ini di muka bumi.

Atau kalau kamu nyaman sama saya kenapa gak pacarin ajah sekalian… ucap Frans sekenanya, dan sambil tertawa. Biar tambah nyaman sekalian, trus bisa tinggal dech atau ngontrak seperti kos-kosan… memang dasar Frans yang kurang peka, semua yang di ucapkan Michele dianggapnya bercandaan.

Saking kesalnya, Michele menendang kaki Frans, waktu Frans ingin meminum kopinya. Alhasil kopi Frans tertumpah di meja dan bajunya. Maaf … maaf Frans kata Michele, maaf gak sengaja. Gak apa-apa koq kata Frans, teruskan ajah lagiiii…… Michele langsung mencubit tangan Frans.

Tanpa terasa pembicaraan mereka dan hubungan mereka sudah seperti teman lama, canda serta tawa menyelimuti obrolan mereka, tanpa terasa jarak antara pimpinan dan bawahan dilupakan untuk sejenak.

Fraaans... tanya Michele dengan lembut, jikalau saya butuh teman bicara , teman curhat, atauuuu.... teman jalan, kamu mau temani saya..... ? Boleh saja... jawab Frans dengan cepat, bahkan kalau kamu mau melarikan diri, saya juga siap temani kamu. Tapi telphone dulu ya, jadi saya bisa siapkan perbekalannya jawab Frans menggoda Michele.

Baiklah, saya akan culik kamu setelah itu ya, canda Michele dengan tersenyum, jangan lupa persiapkan rute jalan tercepatnya yach. hehehehehehe..... Michele tertawa geli.

Kita kembali ke rumah sakit yuk... Michele mengajak Frans, saya mau pamit dengan mami kamu Lagi pula saya harus kembali ke kantor. Sudah jam dua siang. Kenapa harus buru-buru sich ... lagian kamu kan boss ini, bebas kapan mau balik kantor atau tidaknya, ucap Frans dalam hati seprtinya dia tidak mau berpisah dari Michele.

Kita tidak terasa bicara sampai lama sampai lupa kerja nich, kapan-kapan lagi yach.

Setelah keluar dari coffee shop Michele yang berjalan disamping kiri Frans, melihat tangan kiri Frans ingin rasanya dia menggandeng dan merangkul tangan kiri Frans. Michele berusaha mendekatkan tangan kanannya agar tersentuh dengan tangan Frans.

Tapi memang Frans kurang peka dan cuek, dia berjalan tidak seperti dengan pacarnya, jadi ya santai melenggang.

Tiba-tiba terlihat sepeda berjalan dengan cepat dari depan mereka, sambil membunyikan belnya.

Krining.. krining... sepeda itu bukan mengambil jalan ke samping kanan Frans, tapi mengambil jalan ke samping kiri Michele dengan tiba-tiba.

Reflek Frans yang begitu cepat, menarik bahu kiri Michele dan menariknya ke hadapan Frans, sehingga Michele seperti bertatapan muka sangat dekat.

Buuuks…. !!!, Kemudi sepeda bagian kiri mengenai tangan kiri Frans yang sedang menghalagi penuh tubuh dari Michele.

Sepeda dan pengendaranya juga terjatuh, tetapi langsung bangun dan pergi. Ketika Michele berteriak kencang ke pengendara sepeda itu.

“ Haiiii kamuuu !! Kembali ... !!”

Tetapi, yang khawatir justru sebaliknya. Frans bertanya ke Michele... “Kamu gak apa-apa kan? Ada yang kena di kamu gak? Sambil memeriksa bagian tubuh mana yang kena dari tubuh Michele.

Michele melihat ke arah Frans dan dia sangat senang, melihat perhatian panik Frans ketika memeriksa tubuhnya, takut terkena tabrakan sepeda tadi. Tapi sayang, dia bukan siapa-siapa saya. Kapan kamu akan mengatakan cinta kepada saya Frans. Melihat Michele terdiam dan melihat ke arahnya.

Frans langsung mencubit pinggang Michele, spontan Michelepun berteriak. aduh!!...

Kamu ya... di tanya malah diam, bukannya jawab. Jangan keseringan liat saya sambil diam begitu. Nanti kamu bisa sayang ke saya. “Iya” jawab Michele... weiiii, masih melamun. Upss... Michele pura-pura merapikan bajunya dengan cepat, agar Frans tidak menanggapi ucapannya tadi.

Kamu gak apa-apa kan Frans? Sambil melihat tangan Frans yang terkena sepeda tadi.

Tidak apa-apa koq say... ini tidak seberapa sakit. Michele balik bertanya, kamu bilang apa barusan? Sambil jalan Frans meninggalkan Michele. Dan Michele mengejarnya untuk berjalan disampingnya Frans, tadi kamu bilang apa? Tanpa aba-aba dan skenario, Michele merangkul tangan kanan Frans, tepat di samping dadanya Michele.

Saya Cuma manggil say ajah koq... kenapa? Tidak suka... ya sudah lupakan. Hmm... sambil manja Michele menjawab”suka koq” terus ajah panggil itu yah. Michele mempergunakan moment itu agar Frans memanggilnya dengan kata “Sayang”.Nanti toh, lama-lama akan terbiasa pikirnya dalam hati.

Semenjak obrolan di coffee shop tadi, semua perbuatan dan sikap Michele memang berubah kepada Frans. Dia tidak merasa malu dan canggung terhadap apa yang dia lakukan atau Frans lakukan kepadanya. Perubahan itu berjalan dengan sendirinya. Tanpa skenario pastinya. Mereka berdua saling berharap dalam hatinya, tetapi tidak berani saling mengungkapkan. Hanya berputar-putar dan berandai-andai tanpa ada kejelasan.

Semua hanya di katakan dalam hati tanpa dilakukan. Yach itulah mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel