Bab 12. Kenapa Kamu Tidak Memintanya
Setelah Dodi keluar ruangannya, sekarang tinggal Michele yang kebingungan sendiri. Sebaiknya aku datang ke sana atau gak ya? Kalau gak dateng, tadi sudah tanya ke Dodi, gak enak kalau gak datang… Kalau datang nanti Frans ke Gr an … Kenapa aku yang jadi gelisah yach ?
Michele menekan interkom di ruangannya yang tersambung ke meja Mila, “Mila jadwal saya hari ini apa yach?” Oh … hari ini ibu hanya ada kunjungan pak Surya, jam 15.00 nanti, membicarakan soal kontrak dengan PT. Perkasa Jaya Abadi, lalu pak Andi dari HRD, mau ketemu ibu jam 13.00 ini, sorry kelewat bu.
Ok … Batalkan yang Pak Andi ganti besok ajah. Saya mau pergi dulu … minta tolong pak Soleh, jemput saya ke lobby, thanks. Baik bu.. ucap Mila dari meja kerjanya.
Lalu Michcele mengambil tasnya dan pergi meninggalkan ruangannya, …. Satpam yang melihat bossnya mau pergi, segera menekan tombol lift untuk turun. Pagi bu Michele jawab satpam itu.
Setelah sampai di lantai lobby, pintu lift terbuka dan Michele langsung brjalan cepat ke arah mobilnya. Kebetulan pak Soleh sudah menunggu di pelataran parkir biasa ia menjemput non Michele. Tampak seorang satpam berdiri tegak di samping mobil untuk bersiap membukakan pintu setiba bossnya mendekat ke arah mobil. Setelah Michele duduk barulah satpam menutupkan pintu.
Ke rumah sakit Graha Kasih pak Soleh. Baik non, jawab pak Soleh singkat. Mobil melaju dengan cepat, membelah kemacetan jalan di ibu kota.
Di rumah sakit.
Frans bisa tolong, belikan makanan untuk mami, pinta maminya kepada Frans. Baik mi, mau makan apa? Hmm, belikan mami nasi goreng saja dech. Beli di kantin saja yang dekat jadi kamu tidak usah jauh-jauh. Baiklah… Frans pergi beli dulu yach, pamit Frans.
Setiba di rumah sakit, Michele bingung, harus mencari di mana Frans. Sebenarnya dia ingin memberikan kejutan kepada Frans. Tapi jikalau ia menelphone Frans, kejutan itu jadi hilang. Michelepun menyadari, kenapa dia bisa pergi ke rumah sakit ini, padahal dia tidak memiliki keperluan apa-apa di sini. Hati kecilnya menginginkan bertemu Frans, karena rasa rindu dan ingin melihat Frans, itu saja sich bicaranya dalam hati.
Ya karena sudah sampai di sini, mau tidak mau, dia harus menelphone Frans, karena tujuannya ke rumah sakit akan jadi sia-sia. Setelah mencari nama Frans di hpnya, Michele menghubungi Frans …
Nah … nasi goreng sudah jadi mami, Frans berkata dalam hati sambil tersenyum dan mengangkat bungkusan plastik nasi goreng … tiba-tiba hpnya berbunyi, Wow .. my boss yang cantik menghubungi gue nich, ada apa gerangan … ucap Frans dalam hati lagi. Gak ada yang salah kan, dengan semalam…?
Frans mengangkat telphone dari Michele sambil berjalan menuju kamar di mana maminya berada.Dari balik telphone suara Michele menyapa.
“Hallo … Frans” apa kabar kamu,
Semalam tidur nyenyak kan, kepala kamu apakah masih pusing? Tanya Michele.
Frans menjawab
Hai Michele,… baik koq kabar saya,
Semalam kebetulan tidur nyenyak koq, sambil mimpikan kamu, canda Frans.
Seketika Frans melihat sosok yang ia sangat kenal … dari bentuk tubuhnya yang seksi, tinggi, dengan rambut panjang yang tergerai serta pakaian yang di kenakan mirip sekali dengan Michele… dia menaruh kaca mata hitamnya disangkutkan di kepala serasa menambah ke seksiannya. Sayangnya Michele terus membelakangi Frans berdiri, setiap kali Michele berputar, Frans ikut bergeser kiri kanan agar tidak terlihat Michele.
- Kamu lagi apa Michele, tanya Frans
Michele yang bingung mau menjawab apa, karena dia tidak sedang bekerja juga di kantor …,
- Hmmm , kebetulan saya di luar kantor mau ketemu klien nich.
Oh begitu, Koq suara kamu berisik … kamu dimana
- Aku di Mall Metropolitan, Michele menyadari sesuatu juga, Lah kamu juga rame suaranya …. Kamu gak di kantor ya?
Saya … memang tidak di kantor, tapi “sayah ada dihati kamu” sambil berbisik di sebelah kuping kiri Michele. Dengan adanya suara di kuping, Michele langsung reflek memiringkan kepalanya ke kanan dan berbalik melihat siapa orang itu.
Ich kamu Frans, Michele mencubit-cubit pinggang dan perut Frans... karena Michele tidak dapat menyembunyikan rasa malu dan terlebih lagi mukanya memerah. Karena kedapatan Frans berbohong. Frans yang kegelian meloncat loncat ke kiri dan pindah ke kanan. Wah ibu sudah berani menyentuh saya sekarang nich... Fans membalas menggoda Michele dengan cubitan balasan.
Sudah.... sudah ... sudddah !!! pinta Frans. Akhirnya Michele menghentikan menggoda Frans. Dan bertanya kepada Frans, kamu sedang apa di sini Frans? Sambil berjalan menuju lift. Frans menjawab.” Saya mengantar mami saya ber obat. Tadi pagi mami jatuh dari tangga, dan sepertinya kaki mami terkilir. Tapi kamu sudah minta pemeriksaan menyeluruh di tubuh mami kamu kan? Sudah, hanya saja mami harus dirawat 1 atau 2 hari, karena maagnya kambuh, tadi mami sempat mengeluh sakit. Jadi dokter mau cek lagi.
Ini makanan buat siapa? Kamu ??? Bukan, jawab Frans. Mami tadi minta di belikan. Oooh ... ucap Michele singkat.
Ting .... pintu lift meuju lantai 3 telah sampai dan terbuka. Mereka melangkah ke luar bersama menuju ruangan tempat mami Frans berada.
Mami, ada tamu nich...
Siapa Frans, cantik sekali ich... goda maminya sambil melihat ke arah Michele berdiri dan menatap Frans penuh tanya.
Hallo tante apa kabar, sapa Michele. Apa kata dokter tante soal sakitnya.
Mami Frans menjelaskan dengan senang, karena Frans juga mulai membuka hatinya dan mengenalkannya seorang teman kepadanya.
Frans, sini ... maminya memanggil Frans yang berdiri menghadap keluar jendela, sambil melamun. Maminya meminta Frans mendekatkan kepala Frans ke arah mulut maminya. Tetapi maminya langsung menjewer kuping Frans sambil berbisik... “pacar kamu yach...” kok gak kasih tahu mami, tapi karena Michele masih berdiri di samping kanan maminya dan Frans di kiri ranjang, suara itu terdengar oleh Michele... dan Michelepun tersipu malu... dan tersenyum melihat Frans masih di jewer oleh maminya.
Frans langsung menjawab, bukan mi... dia pimpinan Frans di kantornya, dan dia yang memiliki perusahaan itu.
Mami Frans melihat Michele dan menunduk sambil tersenyum.... dan berkata, “ maafkan ketidaktahuan saya ya Bu ... ” saya tadi hanya bercanda koq. Frans yang melihat tingkah maminya ikut tersenyum begitu juga Michele.
Silahkan duduk Bu... mami Frans mempersilahkan Michele duduk. Tante, panggil Michele saja... tidak usah formal ya.
Sebentar ya ... tante dan Frans, Michele menghubungi seseorang di telphonenya. Michele menghubungi Dokter Handoko, direktur rumah sakit Graha Kasih tsb. Selamat pagi dok, sibuk tidak? Ucap Michele. Dari balik telphone, dokter Handoko menjawab, “tidak, tidak bu Michele... “ Ada yang bisa saya bantu bu...
Kalau tidak sibuk, bisa datang ke kamar 308, saya kebetulan di sini, ucap Michele. Dokter Handoko yang mengetahui Michele ada di rumah sakit tersebut, langsung bergegas memanggil beberapa rekan sesama direktur rumah sakit tersebut.
Selang beberapa 5 menit, dokter Handoko dan 4 orang direktur lainnya sudah hadir menghadap Michele. Selamat pagi bu Michele... Michele lalu berdiri.
Frans dan maminya tampak kaget tak percaya. Bahwa dokter-dokter tersebut datang khusus setelah mendapat panggilan dari Michele.
Jadi sebenernya, di rumah sakit Graha Kasih ... Michele adalah salah 1 pemegang saham terbesar 70 persen, ya secara tidak langsung Michele mempunyai kepemilikan rumah sakit tersebut.
Dokter Handoko bertanya, apakah ada yang bisa kami bantu bu Michele.
Bisa tolong saya, adakan sekarang Medical Check up untuk mami teman saya ini. Dan tolong siapkan juga ruang mawar. Setelah Medical check up, pindahkan mami teman saya disana.
Mami dan Frans di buat terkejut dengan apa yang di katakan Michele.
Maaf Michele, ucap mami Frans, bukan tante dan Frans menolak kebaikkan kamu, tapi rasanya.. penyakit tante tidak terlalu serius koq, dan diruangan ini tante sudah cukup sekali.
Tante...., mumpung (pas) tante lagi di sini, sebaikknya kita check menyeluruh kesehatan kita, tidak ada salahnya koq. Semuanya nanti akan di atur oleh Dokter Handoko dan rekan-rekannya. Tante tinggal ikuti saja anjuran para dokter-dokter ini. Bukan begitu dokter Handoko, ucap Michele yang menatap penuh arti, sehingga dokter Handoko sudah paham sekali apa yang di inginkan Michele.
Dokter Handoko menjawab sopan ... “Baiklah bu Michele, saya dan rekan pasti memberikan yang terbaik untuk mami teman ibu Michele”. Untuk ibu ini, dokter Handoko menghadap Mami, tidak perlu khawatir menjalani pemeriksaan ini, jalani saja dengan relax.
Oke kalau begitu, jika sudah tidak ada lagi, saya akan persiapkan semuanya bu dan saya mohon undur diri. Terima kasih atas kunjungan ibu ke rumah sakit ini. Dokter Handoko dan rekan-rekan menundukkan kepala semua, dan meninggalkan ruangan tersebut.
Mami sebentar ya, ucap Frans. Lalu Frans mendekat ke arah Michele dan memegang tangan Michele dan mengajaknya keluar ruangan. Michele sedikit kaget, dengan apa yang Frans lakukan menarik tangannya seperti itu. Karena sudah lama tidak ada pria manapun yang berani melakukan itu kepadanya.
Mau kemana kita Frans ... Fran tidak menjawab, tetapi Michele sudah mengetahui raut muka Frans ada kekecewaan, mungkin atas apa yang dia bicarakan tadi dengan dokter Handoko. Kita ke taman belakang... ucap Frans. Walau Michele melihat raut muka Frans yang tidak menyenangkan, Michele tetap tersenyum... Masalahnya, di dalam lift hingga keluar menuju taman, tangan kanan Frans tetap memegang tangan kiri Michele, seperti orang tua mengajak anaknya untuk pergi membeli sesuatu.
Sesampainya di taman belakang, ketika Frans ingin berbicara, Michele langsung menutup mulut Frans dengan 1 telunjuk menempel pada bibir Frans. Menandakan diam, jangan bersuara.
Lalu Michele memegang ke dua tangan Frans dan menatapnya dalam. “Saya tahu apa yang akan kamu bicara sekarang ini” tapi..., penekanan kata yang Michele ucapkan sangat dalam. “ Apa yang saya lakukan ke kamu Frans hanya ingin membuat kamu merasa nyaman dan saya ingin berbuat sesuatu yang lebih berarti buat kamu, dan mami kamu”.
Aku tahu kamu kecewa kepada saya, karena saya tidak membicarakan ini ke kamu terlebih dahulu. Dan kamu pasti menolaknya. Ucap Michele sambil menundukkan kepalanya dan menggoyangkan tangan yang dipegangnya.
Mendengar penjelasan itu, Frans yang tidak dapat berkata-kata kepada boss cantiknya ini, sambil menatap Michele... dan mulai iseng dengan ucapannya... “Tidak kecewa koq” Michele langsung melihat wajah Frans yang sedang tersenyum kepadanya. Malah aku mau ucapin terima kasih ke kamu Michele, sambil melepaskan tangan 1 nya dari pegangan Michele.
Tapi kenapa harus kamu lakukan lebih ke saya Michele? Kamu saudara saya bukan...! adik atau kakak saya bukan! Pacar saya juga bukan! Kamu itu terlalu berlebihan.
Mendengarkan kata “pacar” Michele melemparkan senyuman paling manisnya ke arah Frans... lalu, kenapa kamu tidak memintanya kepada saya Frans? Ucap Michele berharap.
Meminta? Tanya Frans memotong ucapan Michele. Mana berani saya meminta ke kamu yang atasan saya, bagaimanapun saya menghormati kamu sebagai orang yang saya hormati di kantor dan sekarang ini. Saya sekarang bingung bagaimana saya harus membalas kebaikkan kamu ucap Frans.
Kamu buka hati kamu saja, dan kamu pikirkan sendiri apa balasan yang cocok buat saya, ucap Michele menggoda.
Waduuuh... sulit yach, secara kamu sudah banyak memiliki sesuatu, dan apa yang kamu mau, kamu bisa membelinya dan tinggal tunjuk saja ucap Frans dengan sekenanya.
Ada koq yang tidak bisa saya dapatkan dan tidak bisa saya beli dengan uang, Michele memotong pembicaraan Frans.
“Apa itu?” Frans ingin tahu.
Kamu pikirkan saja sendiri nanti di rumah, pinta Michele kepada Frans.
Kamu sudah makan Frans? Tanya Michele. Kita ke coffee shop di sebalah yuk... Michele langsung menggandeng tangan Frans dan mengajaknya jalan.
Lagi-lagi Frans di buat bingung, kenapa Michele dengannya seperti merasa cuek yach... tidak malu menarik tanganku, apalagi tadi aku pegang tangan dia, Michele pun tidak menolaknya. Jantung Frans langsung berdetak cepat sambil berloncat-loncatan, antara senang dan galau.
Michele, kamu tidak ke kantor, tanya Frans. Sambil berjalan dan melirik ke arah Frans, Michele menjawab, saya ingin temani kamu di sini.
Gleeek !!! Frans menelan ludah di tenggorokkannya. Apa...? Frans hampir tidak percaya apa yang dikatakan boss cantiknya ini. Dan akhirnya, sampai tiba di coffee shop yang di maksud.
