Bab 10. Apakah Ada Yang Salah
Bagun dipagi hari ini rasanya akan terasa beda untuk Michele, mengingat banyak kejadian baru yang tak terduga telah terjadi kemarin. Setelah selesai merias diri dan siap untuk aktivitas kesehariannya, Michele keluar dari kamarnya untuk sarapan.
Ya, hari ini kecerian pada wajah Michele terlihat berseri- seri, beda dengan hari kemarin yang menurutnya monoton, itu-itu saja aktivitasnya. Karena dihari ini dia akan bertemu seorang pria yang telah mengantarnya pulang semalam. Serta, pria ini juga yang sudah membuka mata dan hatinya untuk menerima kembali kehadiran sosok seseorang yang bisa ia rindukan dihari-harinya.
Papa mama Michele yang melihat perubahan pada anak semata wayangnya berjalan menuruni anak tangga dengan sedikit bersenandung dengan ceria, bertanya- tanya.
Selamat pagi semua, Michele menyapa ke dua orang tuanya yang sedang duduk di meja makan menghadap ke arahnya serta bu Jum yang sedang meletakkan sarapan untuk Michele juga terlihat tersenyum ke arahnya.
Aduh anak mama, ada apa nich pagi-pagi ceria sekali tanya mamanya Michele. Papanya juga tidak mau kalah, menyambung pembicaraan... “Pasti karena semalam tadi malam nich”. Ya, semalam papanya ternyata melihat Michele pulang diantar oleh seorang pria bermotor di depan pagar rumah mereka.
Michele yang mendengar langsung sontak terdiam. Wah, ternyata papa tahu juga. Kok papa tahu? Tanya Michele heran. Papanya menjelaskan, bahwa ia terbangu di malam hari dan mendengar suara motor di depan pagar dan akhirnya melihat kamu baru pulang.
Dengan siapa kamu pulang Michele, tanya mamanya ingin tahu.
Oh... i..ituuu karyawan Michele di kantor ma. Akhirnya Michele menceritakan kejadian dari sepulang dari kantor hingga malam itu. Michele tidak dapat menceritakan kejadian hari paginya kemarin, karena dia pasti akan malu dan ditertawakan orang tuanya.
Bu Jum yang mendengar pembicaraan mereka, spontan berkata, “pacar baru ya non”.
“Mbeuuurrh .... “ Michele kaget dan hampir menyemburkan sarapan di depan orang tuanya. Mama Michele langsung paham, kenapa Michele pagi ini terlihat ceria. Hmm, ... akhirnya anak papa mama sudah berani untuk jatuh cinta lagi.
Flashback.
Michele dahulu memiliki seorang tunangan yang sangat ia cintai bernama Iwan. Setelah menyebar undangan dan seminggu akan melangsukan pernikahannya. Ternyata Iwan, kedapatan oleh mata kepala Michele sedang candle light dinner dengan seorang wanita di sebuah restoran ternama di Bandung. Kebetulan di hari itu, Michele sedang ada urusan pekerjaan mengunjungi hotelnya yang berada di Bandung. Suatu kebetulan di malam harinya ketika Michele keluar untuk makan malam, dilihatlah Iwan sedang berpegangan tangan dan makan malam dengan seorang wanita. Dan semenjak kejadian itu, ia tidak lagi mempercayai pria manapun, kecuali papanya.
Menurut Michele, kejadian itu sesuatu banget, yang sangat memalukan dan tidak dapat ia lupakan sepanjang hidupnya. Hal memalukan yang membuat Michele menutup pintu hatinya.
Kembali ke meja makan …
Lalu papanya berkata, “Kamu sudah dewasa dan kamu sudah dapat memilih apa yang menurut kamu jalan terbaik, papa dan mama sebagai orang tua mengikuti keinginan kamu dan selalu mengingatkan kamu saja”
Ich … papa apaan sich? Frans hanyalah karyawan kita di kantor dan dia hanyalah seorang bawahan saja, itu penekanan Michele kepada orang tuanya. Sejujurnya Michele ragu terhadap Frans, kalau Frans bisa menerima atau mencintai dia.
Sudah ya …, Papa mama, byeeeee … ??? Michele langsung bangun dari kursinya dan pergi meninggalkan ke dua orang tuanya di meja makan untuk berangkat ke kantornya.
Setiba di kantor …
Michele seperti biasa, melakukan aktivitas paginya dan sambil menunggu sekretarisnya, Mila tiba di kantor.
Setelah membuka notebooknya, Michele menatap layar hpnya, seperti sedang ada seseorang yang dia harapkan menelphonenya atau sekedar say hay melalu pesan singkat. Michele tidak tahu dengan apa yang harus dia lakukan agar dapat terhubung dengan Frans …. “Masa mesti aku sich yang menghubungin dia” dalam hati berkata. Malu dong, kalau harus dia yang memulai duluan. Michele mulai dengan kegundahannya dan mondar-mandir dari meja dan akhirnya melihat jendela luar, dan kembali berulang. Dan akhirnya dia melihat sosok pria yang ia kenalnya semalam ... “Dodi” sahabat Frans …
Dari jendela di ruangan Michele di lantai 9, Michele bisa melihat ke bawah lobby… secepat kilat Michele menghubungi receptionis di lobby melalui intercomnya.
Tu nu nu nu nut … tu nu nu nu nu nut …
Satpam di lobby yang mendengarkan panggilan intercom lalu mengangkatnya … dan dia melihat itu panggilan dari ruangan pimpinan. Dari balik telphone terdengar suara yang galak …
Pak tolong hentikan seorang pria bernama Dodi, yang memakai kemeja biru dan dasi berwarna merah. Cepaat sekarang panggil !!! dan suruh tunggu di lobby.
Satpam yang mendengar perintah atasannya, langsung menuju lift dan memanggil sebuah nama … pak Dodi , pak Dodi ... semua karyawan yang sedang menunggu di depan lift melihat ke arah satpam … dan pak satpam menghampiri Dodi yang berdasi merah dan bertanya,” Anda pak Dodi bukan?”
Dodi sahabat Frans, yang namanya di panggil menoleh dan merasa heran … ya ada apa ya pak ? Apakah dia melalukan kesalahan atau ada keperluan apa memanggilnya, Dodi berkata dalam hati.
Maaf pak Dodi, bisa ikut saya sebentar, pak satpam mengajak Dodi ke meja receptionis berada. Satpam itu menjelaskan, pak Dodi saya mendapat perintah dari pimpinan, ibu Michele,… meminta pak Dodi menunggu di sini. Dodi yang mendengar nama “Michele” bertanya dalam hati, apakah yang terjadi semalam, menyinggung perasaan ibu Michele? Mati dech gue…. Aduh Frans … elu semalam ngapain sich? Apa yang elu lakuin ke bu Michele … Dodi nampak gelisah. Dodi mengira Frans telah melakukan hal yang membuat ibu Michele kecewa.
Dan masuklah Silvia kedalam lobby dan melihat Dodi yang nampak gelisah, dan Silvia menuju ke arahnya. Weiiii …. Ada apa loe Dod disini. Dodi menjelaskan ke Silvia … dan Silviapun jadi ikutan gelisah. Selama ini, mereka berdua tidak pernah berurusan dengan pimpinan tertinggi mereka seperti Michele semalam itu.
Dari ruangannya Michele, menelphone Mila, karena Michele belum berada di mejanya. Setelah tersambung ke hp Mila …. Wah tumben pagi-pagi si ibu telphone ke hp … karena Michele jarang sekali menelphone ke hp Mila kalau tidak penting-penting banget.
“Halo Mila, kamu dimana?”
“Saya baru mendarat di lobby bu” jawab Mila sekenanya.
“Tolong saya, di receptionis ada pria berbaju biru dan berdasi merah muda, namanya Dodi, ajak dia ke atas temui saya sekarang …”
Siap bu !!!! laksanakan … lalu Mila ke meja receptionis dan melihat ada sesosok pria seperti yang dikatakan bossnya tadi. “pak Dodi ya?” sambil berbicara ke Dodi langsung…
“Iya ...” Dodi menjawab. Tolong ikut saya ke atas, ibu Michele meminta saya mengajak pak Dodi untuk ke ruangannya. Dan Dodi mengikuti Mila menuju lift khusus Direksi. Silvia yang melihat Dodi pergi meninggalkannya hatinya menjadi gundah dan bertanya-tanya, apakah semalam ada yang salah? Sambil mengurutkan cerita dari ibu Michele datang hingga pulang dari tempat karaoke itu. Hingga sampai ke ruangannya di lantai 7, Silvia terlihat pusing dibuatnya.
