Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Penemuan Warisan

Rong Tian terjatuh ke atas gundukan tebal pasir yang terhampar di dasar jurang, Abyss of Suffering. Tubuhnya menghantam permukaan itu dengan kecepatan penuh, dan pasir yang lembut menyerap benturan dengan cara yang tidak pernah ia rencanakan tetapi tidak bisa ia tolak.

Kejadian ini merupakan sebuah keberuntungan yang tak terduga, karena tumpukan pasir itu berhasil menyelamatkannya dari maut, atau setidaknya dari patah tulang yang fatal. Kalau saja itu batu, atau tanah keras, ceritanya sudah selesai di sini.

Namun, rasa sakit yang tajam di perutnya segera mengingatkannya bahwa ia masih terperangkap dalam penderitaan yang tiada henti. Luka dari inti mutiara yang dihancurkan paksa berdenyut seperti ada sesuatu yang terus memukul dari dalam.

Dengan tubuh yang dipenuhi luka, ia merangkak lemah, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya. Setiap gerakan memeras energi yang hampir tidak ada, tetapi diam berarti mati lebih cepat.

Di sekelilingnya, puluhan pasang mata berkilauan memantulkan sinar yang tidak wajar, mengelilinginya seperti bayang-bayang yang tak terhindarkan, siap menerkam. Jarak antara ia dan lingkaran mata-mata itu tidak lebih dari sepuluh langkah, dan lingkaran itu semakin mengecil.

"Serigala," desahnya pelan dalam hati, perasaan putus asa mulai menyelimuti pikirannya. "Riwayatku habis sudah."

Dalam keputusasaan yang mencekam, Rong Tian meraih sesuatu yang ada di dekatnya. Namun, yang ia sentuh hanyalah pasir, kasar dan tak berarti, mengalir di antara jari-jarinya seperti waktu yang tidak bisa dipegang.

Ia merasakan kekosongan yang mendalam, kehampaan yang membuatnya semakin terperosok dalam keputusasaan yang menyakitkan. Qi-nya sudah tidak ada, inti mutiaranya hancur, tidak ada yang bisa ia kerahkan bahkan untuk pelindung paling dasar.

"Pergi! Pergi!" desisnya, suaranya nyaris tak terdengar, teredam oleh keheningan malam yang menakutkan. Suara itu terdengar lemah bahkan di telinganya sendiri.

Tanpa disadari, di antara jari-jari tangannya yang tergeletak di pasir, ada sebuah kalung yang terjuntai, seuntai kalung dengan bandul giok hitam yang tampak aneh, namun memancarkan aura yang tak dapat dijelaskan. Permukaannya halus dan dingin meski sudah terkubur di pasir yang hangat.

Tiba-tiba, di tengah keheningan yang menyeramkan, suara geraman serigala berhenti. Bukan mereda, tapi berhenti sepenuhnya dalam satu detik, seperti seseorang mematikan suara di ruangan yang tadinya penuh kebisingan.

Mata-mata yang berkilau itu, yang sebelumnya tampak penuh dengan kelaparan dan keserakahan, terhenti. Mereka menatap kalung yang ada di tangan Rong Tian dengan rasa takut yang tidak bisa disembunyikan, tubuh-tubuh besar mereka membeku seperti patung yang tiba-tiba lupa cara bergerak.

"Maju kalau berani," kata Rong Tian, suaranya hampir menggema, penuh percaya diri, meskipun ia tidak menyadari bahwa keberanian itu bukan datang dari dirinya, melainkan dari aura mengerikan yang terpancar dari bandul giok hitam itu. Aura itu tidak panas, tidak dingin, tapi berat seperti tekanan langit yang dipaksa turun.

Seketika, dengan suara lolongan yang semakin menjauh, satu per satu mata-mata itu lenyap dalam gelapnya malam. Keheningan pun merayap kembali, menyisakan Rong Tian sendirian di atas gundukan pasir yang tebal.

"Langit masih menolongku. Aku belum mati hari ini," bisiknya, dengan suara lemah namun penuh keheranan, seakan berbicara kepada diri sendiri, bahkan ketika tubuhnya jatuh kembali ke pasir yang lembut. Napasnya keluar panjang dan tidak teratur, napas seseorang yang baru saja melewati sesuatu yang tidak seharusnya bisa ia lewati.

Namun, rasa sakit di perutnya kembali menyusul, membuatnya mengangkat tangan dan tanpa sengaja memukul area luka di tubuhnya, akibat perusakan paksa inti mutiara energinya oleh kelompok berbaju hitam. Denyutannya tajam dan dalam, mengingatkan bahwa tubuh ini masih menanggung harga dari malam itu.

"Benda apa ini?" pikir Rong Tian, matanya terfokus pada kalung yang masih tergenggam di tangannya. Bandul giok hitam itu terasa semakin berat, seolah menyembunyikan sesuatu yang tak terduga di balik permukaannya yang polos.

"Kalung giok hitam?" gumamnya, tatapannya terpesona. Ia terdiam sejenak, seolah melupakan rasa sakitnya. Sesuatu tentang bandul ini menarik perhatian, seperti ada sesuatu yang memanggilnya dari dalam batu itu.

"Apakah serigala-serigala itu lari karena melihat kalung ini?" pikirnya dalam kebingungan. Setelah merenung sejenak, ia mulai menyadari bahwa benda ini mungkin memiliki kekuatan yang tak terduga, kekuatan yang tidak butuh qi dari pemakainya untuk bekerja.

Dengan hati-hati, Rong Tian memeriksa lebih seksama kalung giok hitam itu. Di bawah sinar rembulan yang redup, ia bisa melihat dengan jelas ukiran lima kelelawar yang mengelilingi bandul itu.

Setiap detail pada ukiran itu dibuat dengan sempurna, hingga lima kelelawar itu tampak seperti terbang mengitari awan yang terbentuk di sekitar bandul. Sosok-sosok itu tampak hidup, bergerak dengan kehidupan yang tak kasatmata, sayap-sayap kecilnya terentang dalam posisi yang berbeda satu sama lain.

"Aku menemukannya di antara tumpukan pasir ini. Apa mungkin ada harta lain yang tersembunyi di bawah sini?" pikir Rong Tian, matanya berbinar. Di tempat seperti ini, di dasar jurang yang disebut neraka dunia, seseorang pernah menyembunyikan sesuatu.

Meskipun ia merasa lemah, ada secercah harapan yang muncul di dalam dirinya, harapan akan harta spiritual yang dapat membawanya kembali ke jalur abadi. Bukan harapan yang besar, hanya cukup untuk membuat tangannya mau bergerak lagi.

Jika benar, dan benda ini memiliki kekuatan luar biasa, ia akan membalas dendam. Dalam bayangannya, keempat pria berbaju hitam itu harus merasakan penderitaan yang jauh lebih buruk daripada yang telah mereka berikan.

"Mereka harus tahu betapa sakitnya saat mutiara energi yang dihancurkan di tubuh ini kembali dengan kekuatan yang lebih besar!" pikir Rong Tian sambil mengertakkan gigi. Wajah si bekas luka yang tertawa puas terbayang jelas di benaknya, dan bayangan itu menyalakan sesuatu yang lebih tahan lama dari amarah sesaat.

Beruntung, Rong Tian masih menyimpan kantong penyimpanan tersembunyi di balik baju sastrawannya yang besar dan longgar. Kantong itu, meski sederhana, cukup mampu menyimpan berbagai barang yang diperlukan termasuk makanan.

Di dalamnya, tersembunyi beberapa ubi rebus yang disiapkan oleh ayahnya. Keras karena sudah berhari-hari, tapi masih bisa dimakan.

Sebagai anak kusir kereta yang hidup dalam keterbatasan, ia tidak dibekali uang saat mengikuti ujian negara untuk menjadi pejabat. Semua yang dimilikinya adalah apa yang ayahnya siapkan, tidak lebih dari itu.

"Bawalah ubi rebus ini, cukup untuk mengenyangkan perutmu selama ujian negara, dari pagi hingga malam!" kata ayahnya, dengan nada penuh perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah tahu cara mengungkapkan dirinya selain lewat hal-hal kecil seperti ini.

Saat itu, Rong Tian hanya bisa menerima dengan penuh rasa terima kasih, meskipun tahu bahwa hidup mereka jauh dari cukup. Ia ingat wajah ayahnya yang menunduk sambil menghitung sisa beras di dapur setiap malam.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel