Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Gurun Hadarac - Kedua

Si bekas luka menyandarkan tubuhnya, matanya berkilat nakal.

"Kasihan gadis itu," katanya kepada rekannya dengan nada yang sengaja cukup keras untuk didengar. "Nona Zhao Hua tidak tahu tunangannya sudah tidak ada. Mungkin besok lusa dia sudah dijodohkan dengan orang lain yang lebih layak."

Rong Tian tidak bergerak. Tetapi rahangnya mengeras dengan cara yang terlihat jelas oleh semua orang di dalam kereta.

"Diam," kata Rong Tian, dan satu kata itu keluar lebih rendah dari bisikan tetapi mengandung sesuatu yang membuat si bekas luka berhenti tertawa setengah detik sebelum memulainya lagi.

"Oh, menyentuh rupanya," si bekas luka tertawa lebih keras, matanya menikmati setiap perubahan kecil di wajah Rong Tian. "Berarti aku tidak salah sasaran."

Pemimpin kelompok itu tidak menghentikan si bekas luka kali ini. Ia hanya menatap keluar jendela kecil kereta dengan ekspresi seseorang yang sudah tidak peduli dengan detail.

Kusir di luar tertawa, suaranya menembus dinding tipis kereta. "Aku tidak sabar melihat anak ini jadi santapan serigala!"

Rong Tian tidak menjawab. Ia menundukkan kepala, membiarkan mereka mengira bahwa tidak ada apa pun yang sedang terjadi di balik wajah bengkaknya itu.

Di dalam, nama Zhao Hua ia simpan di tempat yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun di kereta ini. Bukan untuk dilupakan. Untuk diingat dengan cara yang berbeda nanti.

Beberapa hari kemudian, angin yang masuk dari celah kereta mulai membawa suhu yang berbeda. Lebih kering. Lebih dingin dengan cara yang berbeda dari dingin malam biasa, lebih dalam, seperti dingin yang tidak peduli apakah kamu bergerak atau diam, akan menyentuhmu dengan cara yang sama.

Suara lolongan serigala terdengar dari kejauhan.

Mereka sudah masuk ke Gurun Hadarac.

Si bekas luka menangkap ekspresi di wajah Rong Tian dan merasa itu adalah kesempatan yang terlalu sayang untuk dilewatkan.

"Bocah miskin, jangan kira kamu akan dilepas di pinggiran gurun." Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding kereta dengan gerakan orang yang sangat nyaman dengan situasinya. "Ini bukan tamasya."

Tawa meledak lagi. Kusir di luar ikut tertawa.

Kereta berhenti.

"Kita sudah tiba di Kunan Shenyuan!" teriak kusir dari depan. Jurang Kesengsaraan.

Rong Tian mengenal nama itu. Tidak ada catatan resmi tentang seseorang yang pernah kembali dari sana, dan ketiadaan catatan itu bukan karena tidak ada yang mencoba, melainkan karena tidak ada yang berhasil.

Si bekas luka menyeretnya keluar dari kereta dengan satu tarikan yang membuat bahu Rong Tian meradang.

"Jangan!" Rong Tian merontah, kakinya berusaha menemukan pijakan. "Aku dan kalian tidak punya masalah. Kita bahkan tidak saling kenal sebelum ini. Bicaralah dengan Tuan Kota. Aku bisa pergi jauh dan tidak akan kembali. Tidak ada yang perlu mati hari ini."

"Baru sekarang minta tolong?" Si bekas luka menampar pipinya lagi, keras, dari sisi yang berbeda sehingga kepala Rong Tian terlempar ke arah berlawanan dari tamparan sebelumnya. "Terlambat sepuluh hari, bocah."

Mereka membawanya ke tepi jurang.

Angin yang naik dari bawah jurang itu membawa suara yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan oleh angin biasa, suara yang ada di antara erangan dan bisikan, dari tempat yang terlalu dalam untuk cahaya mencapainya.

Rong Tian berdiri di tepi itu dengan kaki yang dipegang dari dua sisi. Di bawahnya, kegelapan yang tidak punya dasar yang bisa dilihat.

Tidak ada air mata yang menetes dari matanya.

Si bekas luka memperhatikan hal itu, dan sesuatu dalam ekspresinya berubah dari puas menjadi tidak nyaman.

"Pemimpin," katanya, suaranya naik sedikit, "izinkan aku menghancurkan inti mutiaranya dulu. Dari perjalanan ini aku lihat sorot matanya. Dia tidak menyerah. Kalau-kalau dia beruntung dan selamat, lebih baik kita pastikan dia tidak bisa berkultivasi."

Pemimpin kelompok itu berdiri di tepi pandangan Rong Tian, angin malam membuat rambutnya berkibar. Ia menatap Rong Tian sebentar, dengan cara seseorang yang sedang menilai apakah sebuah peringatan memang diperlukan atau hanya membuang waktu.

Kemudian ia mengangguk singkat.

"Lakukan. Dia tetap akan mati. Tapi tidak ada salahnya berjaga-jaga."

Rong Tian mendengar keputusan itu, dan untuk satu detik ia memejamkan matanya.

Bukan karena takut. Melainkan karena ia ingin menyimpan satu gambar terakhir di dalam kepalanya sebelum rasa sakit yang akan datang, gambar tentang Zhao Hua yang tertawa di bawah pohon osmanthus di taman belakang kediaman wakil menteri, pada sore hari ketika dunia belum punya alasan untuk menjadi seburuk ini.

Gambar itu tersimpan. Mata terbuka kembali.

Si bekas luka menghimpun Qi di telapak tangannya, energinya berputar dengan cara yang Rong Tian bisa rasakan bahkan tanpa pelatihan kultivasi yang tinggi, tekanan yang hangat dan tidak menyenangkan yang bergerak ke arahnya.

"Ini akan terasa seperti seluruh tubuhmu terbakar dari dalam," kata si bekas luka, dan di suaranya ada sesuatu yang mengandung kepuasan yang paling murni yang pernah ia rasakan malam ini. "Tapi tidak akan langsung mati. Aku terlalu berpengalaman untuk melakukan kesalahan seperti itu."

Rong Tian tidak menjawab.

Telapak tangan itu mendarat di titik pusaran tempat inti mutiara berada.

Yang terjadi berikutnya bukan sesuatu yang bisa digambarkan dengan kata-kata biasa. Bukan sakit. Bukan panas. Sesuatu yang lebih fundamental dari keduanya, seperti seseorang mencabut sesuatu dari dalam dirinya yang tidak pernah ia sadari ada sampai saat sesuatu itu tidak ada lagi.

Rong Tian tidak berteriak.

Bukan karena rasa sakitnya tidak ada. Melainkan karena rasa sakitnya lebih besar dari semua kata yang bisa menggambarkannya, dan ia memilih untuk tidak memberi kepuasan terakhir itu kepada orang-orang ini.

Ia menggigit bibirnya sampai darah mengalir, dan matanya tetap terbuka, menatap langit malam di atas Gurun Hadarac yang tidak punya satu pun bintang malam itu.

"Buang dia."

Dorongan dari tiga sisi sekaligus, dan tubuh Rong Tian jatuh ke dalam kegelapan di bawah Jurang Kesengsaraan.

Angin dari bawah menerima tubuhnya seperti sesuatu yang sudah lama menunggu.

Dalam waktu yang tidak punya hitungan lagi di dalam kepalanya, satu pikiran terakhir melintas sebelum semuanya gelap.

"Aku tidak mati di sini. Aku tidak akan mati di sini."

Bukan harapan. Bukan doa.

Keputusan.

Lima tarikan napas berlalu. Suara di bawah menjadi riuh dengan cara yang membuat orang-orang di atas tidak perlu bertanya apa yang sedang terjadi.

"Pergi." Pemimpin kelompok itu sudah berbalik sebelum kata itu selesai diucapkan.

Kereta bergerak, roda-rodanya tersapu pasir yang terbawa angin, menghapus setiap jejak yang pernah membawa mereka ke sini malam ini.

Di bawah langit Gurun Hadarac yang tidak punya bintang, Jurang Kesengsaraan menyimpan rahasianya seperti yang selalu dilakukannya.

Hanya malam ini, ada sesuatu di dalam jurang itu yang masih bernapas dan belum selesai.

Bersambung.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel