Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Warisan yang Memilih Pemiliknya

Kini, di tengah situasi yang jauh lebih mengerikan, ubi rebus itu kembali menyelamatkannya. Setelah beristirahat sejenak, ia menyantap ubi tersebut, merasakan kehangatan yang sedikit mengalir ke dalam tubuhnya yang lelah, seperti tangan kecil yang mendorong dari dalam.

Setelah perutnya kenyang, perlahan rasa sakit yang menggerogoti tubuhnya mulai memudar. Bukan hilang, hanya cukup mundur untuk memberi ruang bagi pikirannya bekerja.

"Aku masih bisa bertahan. Aku bisa menggali pasir ini. Semoga dugaanku tidak salah," pikirnya dalam hati, sebuah harapan yang kembali menyala meski di tengah keputusasaan. Kalau kalung ini ada di sini, ada kemungkinan bukan hanya kalung yang ditinggalkan di tempat ini.

Sebagai seorang pelajar yang mendalami sastra, budaya, dan seni, Rong Tian tahu sedikit tentang dunia kultivasi. Pengetahuannya tentang energi dalam tubuh sangat terbatas, namun ia memahami satu hal dengan jelas: untuk berkultivasi, dibutuhkan inti mutiara yang dapat menghimpun energi di dalam dantian.

Inti mutiara miliknya telah dihancurkan, dan seharusnya itu berarti ia tak akan bisa melanjutkan jalan kultivasinya. Jalur yang bahkan belum sempat ia masuki dengan benar sudah ditutup paksa oleh tangan orang lain.

Namun, meski diselimuti rasa sakit dan keraguan, pikiran itu tak mampu memadamkan semangatnya. Rong Tian teringat tentang kultivator tingkat tinggi yang memiliki teknik rahasia untuk memulihkan inti mutiara yang rusak.

"Jika mereka bisa melakukannya, mungkin aku juga bisa," pikirnya, semangatnya terbangun kembali. Bukan keyakinan penuh, tapi cukup untuk membuat tangannya menancap ke pasir lagi.

"Aku tak akan menyerah begitu saja!" tekadnya, terus menggali dengan tangan. Setiap kerukan pasir adalah jawaban kecil untuk semua yang sudah mereka lakukan padanya.

Matahari mulai muncul di cakrawala timur, menyinari gurun dengan cahaya kemerahan yang menyapu dasar jurang dari atas. Rong Tian telah menggali pasir semalaman, tangannya terasa kebas dan jari-jarinya penuh darah yang sudah mengering dan membuka lagi bergantian.

Namun, ia tidak berhenti. Setiap kerukan tanah adalah kesempatan terakhir untuk kembali ke dunia atas dan membalas dendam pada mereka yang telah merusaknya.

Akhirnya, setelah sekian lama menggali, tangannya menyentuh sebuah benda keras di kedalaman dua meter. Bunyi saat jarinya menyentuh permukaan itu berbeda dari bunyi pasir yang tergeser, lebih padat, lebih tua.

"Peti kayu? Kayu harum?" pikirnya, kebingungannya terbalut rasa lelah yang luar biasa. "Apakah aku begitu beruntung, menemukan warisan dari pemilik kalung giok berukir lima kelelawar hitam?"

Di tengah rasa sakit yang mendera tubuhnya, ia berhasil menarik peti kayu itu ke permukaan dengan tangan-tangan yang hampir tidak mau bekerja lagi. Di bawah sinar matahari pagi yang semakin terang, Rong Tian menatap peti itu.

Ukurannya sekitar satu meter, berbau harum yang samar-samar tercium meski terbungkus pasir dan debu tebal. Aura misterius dan menakutkan memancar dari permukaannya, membuat Rong Tian terdiam sejenak seperti seseorang yang berdiri di depan pintu yang tidak tahu apa yang ada di baliknya.

Tangan yang gemetar dan penuh darah itu menyapu permukaan peti, merasakan keanehan dan kekuatan yang tersembunyi di baliknya. Dengan hati-hati, ia bersiap untuk membuka peti itu, berdoa dalam hati agar harapannya tidak sia-sia.

++++

Ternyata, untuk membuka peti kecil itu, Rong Tian tidak memerlukan tenaga besar atau keterampilan khusus. Ada panel kecil di sisi kanannya yang terasa berbeda dari permukaan kayu di sekitarnya.

"Semoga ini berhasil," gumamnya pelan, menekan tombol panel di peti dengan hati-hati. Bunyi klik terdengar seiring dengan pergerakan mekanisme di dalamnya, menandakan bahwa peti itu siap terbuka.

Saat tutup peti terangkat, aura kuno yang pekat, ditambah dengan bau lembap yang sangat tua, langsung tercium. Bau itu bukan bau busuk, melainkan bau sesuatu yang sudah lama menyimpan dirinya dan baru saja diizinkan untuk keluar.

Rong Tian menarik napas dalam-dalam, merasakan betapa tuanya benda ini. Ia mengangkat penutupnya dengan gerakan cekatan, seolah khawatir jika gerakan yang salah akan merusak benda berharga di dalamnya.

Cahaya temaram menyinari isi peti, menampakkan sebuah busana yang sudah lama namun tidak rusak tersembunyi di bagian paling atas. Kainnya tidak bernoda, tidak kusut, seolah baru saja dilipat oleh tangan yang tidak terburu-buru.

Rong Tian mengangkat benda itu dengan hati-hati. Sebuah jubah hitam dengan motif rumit berwarna emas di tiap sisi, setiap detail dipahat bukan dicetak, terlalu halus untuk cara pembuatan apa pun selain tangan yang sangat sabar.

Jubah panjang dan lembut itu terasa lentur di tangannya, seakan mengundang untuk segera dikenakan. Beratnya pas, tidak terlalu ringan untuk terasa seperti kain biasa, tidak terlalu berat untuk terasa seperti beban.

"Busana ini terlihat penuh misteri, tapi juga sangat megah," pikirnya, terpesona oleh keindahan dan keanggunannya. Untuk seorang pemuda yang seluruh hidupnya dihabiskan memakai baju katun murah, menyentuh kain seperti ini terasa seperti menyentuh dunia yang berbeda.

Tanpa ragu, ia mengenakan busana itu, meski rasa sakit di tubuhnya akibat luka yang ditinggalkan setelah dibuang ke tempat terkutuk masih terasa. Jubah itu jatuh ke posisi yang tepat seolah sudah tahu ukurannya sejak lama.

Setelah mengenakan busana hitam itu, Rong Tian menyampirkan jubah panjangnya yang berayun di angin, dan seketika angin dingin yang tajam berhembus kencang. Jubah itu berkibar di belakangnya dengan cara yang berbeda dari kain biasa, lebih terkendali, seperti ia bergerak sesuai keinginan pemakainya.

Di bawah sinar matahari pagi, jubah itu berkibar dengan elegan. Rong Tian merasa ada sesuatu yang asing merayapi benaknya, sesuatu yang bukan miliknya tetapi juga tidak terasa seperti milik orang lain.

“Apakah semua benda dalam peti ini berasal dari satu tangan yang sama? Siapa pun yang meninggalkannya di sini, ia pasti bukan orang yang sederhana." pikirnya, bingung namun penasaran.

Pertanyaan itu tidak punya jawaban yang bisa ia susun dengan logika, tapi tubuhnya sudah memiliki jawabannya sendiri.

Pada saat yang sama, ia merasakan sesuatu yang mengejutkan.

Ketika melihat luka di perutnya, meski masih ada bekas sayatan, sobekan yang disebabkan oleh serangan tangan kosong itu kini sudah menyatu. Luka yang tadinya menganga kini tampak hampir sembuh sepenuhnya, hanya tersisa bekas merah dalam bentuk tidak teratur.

"Ajaib!" Rong Tian terdiam. Tangannya menyentuh bekas luka itu perlahan, merasakan kulit yang sudah menutup di tempat yang tadi masih terbuka.

Ia menyentuh luka itu dengan hati-hati, merasakan keajaiban yang baru saja terjadi. Bukan penyembuhan biasa yang butuh hari atau minggu, ini terjadi dalam waktu yang tidak cukup untuk disebut cepat.

"Apakah busana dan jubah ini sebuah artefak kuno? Peninggalan seorang grandmaster bela diri mungkin?" pikirnya, penuh kekaguman dan rasa ingin tahu yang mulai mengalahkan rasa sakitnya. Artefak yang menyembuhkan luka pemakainya adalah sesuatu yang hanya ada dalam cerita-cerita yang ia baca di perpustakaan Wakil Menteri.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel