Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Gurun Hadarac

Lalu dia mencoba menggerakkan tangannya dan menyadari bahwa tangannya tidak bisa bergerak. Tali tambang yang kasar melingkari pergelangan tangannya dan kakinya, cukup kencang untuk memotong sirkulasi jika ia terlalu banyak bergerak.

Ia berada di dalam kereta yang berguncang, bergerak ke tempat yang tidak ia ketahui.

"Bagus, kamu sudah bangun." Suara serak itu terdengar dari sudut kereta.

Tiga pria berpakaian serba hitam duduk menghadapnya. Kali ini tanpa topeng, wajah-wajah keras yang tidak peduli apakah ia melihat mereka atau tidak, karena mereka tidak berencana membiarkan siapa pun yang sudah melihat wajah mereka pergi dengan membawa ingatan itu.

Rong Tian menghitung dalam kepala. Tiga orang di dalam. Satu kusir di luar, terdengar dari suara kendali kuda. Total empat. Tangannya terikat. Kakinya terikat. Kemungkinan melarikan diri dari kereta yang sedang bergerak dengan kondisi seperti ini mendekati nol.

"Aku ditawan," pikirnya, dan alih-alih panik, pikirannya justru bergerak ke pertanyaan berikutnya dengan kecepatan yang tidak biasanya ia sadari dimilikinya. "Oleh siapa? Dan untuk apa? Aku tidak punya kekayaan. Aku bukan anak bangsawan. Satu-satunya hal yang bisa mengakibatkan ini adalah Zhao Hua."

Ia menarik napas pelan dan memilih kata-kata berikutnya dengan hati-hati.

"Tuan, aku tidak mengerti mengapa aku di sini," katanya, suaranya keluar lebih tenang dari yang keempat orang itu tampaknya harapkan. "Aku hanya anak kusir yang gagal ujian negara. Tidak ada yang bisa kalian dapatkan dari menawanku. Tolong lepaskan aku, dan aku tidak akan bercerita kepada siapa pun."

Pria dengan bekas luka panjang di wajahnya menoleh ke arahnya. Di matanya tidak ada respons, hanya gerakan refleks dari seseorang yang sudah muak mendengar hal yang sama dari terlalu banyak mulut yang berbeda.

Ia bangkit dan menampar Rong Tian keras.

Kepala Rong Tian terlempar ke sisi. Rasa panas menyebar di pipinya, diikuti aroma amis yang naik dari dalam mulut. Giginya terasa goyah.

"Bocah tak tahu diri!" Si bekas luka meludah ke arahnya. "Sudah untung kami tidak diperintah membunuhmu di tempat. Masih saja buka mulut."

Rong Tian menahan diri untuk tidak merespons secara fisik. Tangannya terikat dan ini bukan waktu yang tepat untuk kehilangan kendali. Tetapi matanya tidak turun.

"Kamu memukulku karena tidak bisa menjawab pertanyaanku," kata Rong Tian, suaranya keluar lebih datar dari seharusnya untuk seseorang yang baru saja ditampar. "Kalau ada jawaban yang masuk akal, kamu tidak perlu memukul."

Pukulan kedua datang lebih keras.

Kepala Rong Tian kembali terlempar ke sisi yang berlawanan, kali ini ada suara yang tidak menyenangkan dari bagian dalam telinganya. Dunia berputar sebentar sebelum kembali stabil.

"Masih berani bicara?" Si bekas luka mencengkeram kerah Rong Tian dengan satu tangan, menariknya ke depan sampai jarak antara wajah mereka hanya sejengkal. Napasnya berbau arak dan sesuatu yang lebih tidak menyenangkan dari arak. "Kamu pikir ini perdebatan sastra? Ini bukan ruang ujian, bocah!"

"Bukan," jawab Rong Tian, dan meski matanya sudah mulai bengkak, tatapannya tidak mundur. "Tapi bahkan dalam interogasi paling kasar sekalipun, biasanya orang yang bertanya punya tujuan. Kamu memukul tanpa tujuan. Itu artinya kamu hanya menjalankan perintah dan tidak tahu lebih banyak dari yang perlu kamu tahu."

Wajah si bekas luka memerah.

"Keparat kecil ini..." Ia menarik belati dari pinggangnya, bilahnya berkilat ditimpa cahaya matahari yang masuk dari celah kereta.

Pemimpin kelompok itu menyentuh lengannya dari sisi, gerakan kecil yang tidak memerlukan kata-kata.

Si bekas luka menurunkan belatinya, tetapi matanya tidak bergerak dari Rong Tian.

"Simpan itu," kata pemimpin kelompok itu, suaranya datar dengan cara seseorang yang menyelesaikan pekerjaan sesuai instruksi dan tidak lebih. "Biarkan Gurun Hadarac yang menyelesaikannya."

"Jadi aku akan dibuang ke Gurun Hadarac." Rong Tian mengucapkan itu bukan sebagai pertanyaan melainkan sebagai konfirmasi dari kesimpulan yang sudah terbentuk di kepalanya sejak beberapa menit lalu. Ia menatap pemimpin kelompok itu langsung. "Siapa yang memerintahkan ini?"

Pemimpin kelompok itu menoleh ke arahnya untuk pertama kalinya sejak perjalanan ini dimulai. Matanya tidak mengandung kekejaman seperti si bekas luka. Matanya hanya mengandung ketidakpedulian yang jauh lebih menakutkan dari kekejaman.

"Orang yang merasa terganggu oleh keberadaanmu," jawabnya singkat.

"Tuan Kota Biratama," kata Rong Tian.

Tidak ada yang menjawab. Tetapi tidak ada yang menyangkal juga.

"Jadi karena Zhao Hua." Rong Tian menundukkan kepalanya sedikit, bukan karena menyerah melainkan karena ia sedang menyimpan sesuatu di tempat yang tidak akan bisa diambil oleh siapa pun di kereta ini. "Baik. Aku akan mengingat ini."

Si bekas luka tertawa pendek, kasar, suaranya tidak mengandung kesenangan nyata.

"Mengingat? Kamu akan mengingat apa? Pasir gurun?"

Pemimpin kelompok itu mendengus, matanya beralih ke Rong Tian dengan cara seseorang yang sedang melihat sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya. "Kenapa terkejut? Orang miskin sepertimu berani berhubungan dengan gadis bangsawan. Gurun Hadarac adalah tempat yang pantas untuk rakyat jelata yang tidak tahu batas."

Rong Tian tidak menjawab. Ia menggigit bagian dalam pipinya, menahan rasa sakit dari tamparannya yang masih berdenyut, dan memilih untuk menyimpan kata-kata berikutnya di tempat yang lebih aman dari mulutnya sendiri.

Perjalanan menuju Gurun Hadarac memakan waktu lebih dari satu minggu, dan selama waktu itu Rong Tian belajar bahwa ada hal yang lebih menyiksa dari lapar dan haus, yaitu mendengar orang-orang yang membawamu ke kematian tertawa dan bercanda seolah ini adalah pekerjaan yang menyenangkan.

Setiap kali ia mencoba berbicara, bukan hanya tamparan yang diterimanya.

Akibatnya, wajah Rong Tian bengkak di tiga tempat. Matanya yang kiri hampir tidak bisa dibuka penuh. Seluruh tubuhnya memar dengan warna yang berpindah dari merah ke ungu ke hitam seiring hari berganti.

Tetapi setiap malam, ketika semua orang di dalam kereta tertidur dan hanya suara derap kaki kuda yang menemaninya, Rong Tian tidak tidur. Ia menghitung. Mengingat. Menyusun.

Wajah si bekas luka. Cara pemimpin kelompok itu bergerak. Suara kusir yang tertawa dari luar. Setiap detail yang ia simpan dengan cara yang tidak membutuhkan pena dan kertas.

"Tuan, aku lapar." Rong Tian akhirnya mengucapkan kalimat yang sesingkat mungkin, suaranya parau karena tenggorokan yang sudah lama tidak mendapat air yang cukup.

Si bekas luka tertawa, suaranya membentur dinding kayu kereta.

"Lapar? Anjing hina sepertimu tidak pantas makan makanan yang layak."

Ia melempar sepotong roti kukus yang sudah mengeras ke arah Rong Tian, dan tawa di antara kawan-kawannya meledak saat melihat Rong Tian harus membungkuk dan menggigit roti itu langsung dari lantai kereta karena tangannya terikat ke belakang.

Roti hampir basi, kering, dan harus ditelan tanpa air. Setiap gigitan terasa seperti menelan pasir kasar.

Tetapi Rong Tian mengunyahnya sampai habis, pelan, dengan mata yang tidak berpindah dari dinding kereta di depannya. Setiap kunyahan adalah cara tubuhnya mengatakan bahwa ia masih hidup dan berniat untuk tetap begitu.

Bersambung

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel