Malam Tak Berbintang
Beberapa waktu sebelum kejadian mengerikan...
Rong Tian melangkah mundur ke sudut kamarnya, punggungnya menyentuh dinding dingin yang tidak memberi jalan keluar. Napasnya tersengal, jantungnya berdegup keras di dadanya seperti genderang yang dimainkan oleh seseorang yang tidak peduli apakah pemainnya masih hidup atau tidak.
Empat sosok tinggi besar berdiri di depan pintu yang baru saja mereka buka tanpa permisi. Wajah mereka tertutup kain hitam, hanya mata yang terlihat, dan mata itu tidak mengandung sesuatu yang bisa disebut manusiawi.
Rong Tian tahu, malam ini mungkin malam terakhirnya.
++++
Kota Biratama perlahan tenggelam dalam keheningan malam. Jalanan yang ramai tadi siang kini sepi, hanya diterangi oleh lentera-lentera temaram yang bergoyang ditiup angin, cahayanya tidak cukup terang untuk menerangi sudut-sudut yang tidak ingin diterangi.
Suara langkah petugas penjaga malam berderap di kejauhan, teratur dan tidak peduli pada apa pun yang terjadi di balik pintu-pintu tertutup.
Teng, teng, teng. Suara kentongan bergema, menandakan awal malam yang panjang.
Di sebuah kamar sempit di belakang rumah megah Wakil Menteri Adat dan Budaya Kekaisaran Bai Feng, Rong Tian masih terjaga jauh sebelum empat sosok itu muncul. Kamar itu kecil, dindingnya tipis, dan satu-satunya jendela menghadap ke tembok belakang yang tidak punya celah.
Ia berbaring di atas tikar lusuh dengan mata terbuka, menatap langit-langit kayu yang sudah mulai dimakan rayap di sudut kanannya. Sudah tiga jam ia berbaring seperti itu. Tidak tidur. Tidak menangis. Hanya berpikir dengan cara yang tidak menghasilkan kesimpulan yang ingin ia terima.
Hari ini, pengumuman ujian negara telah keluar, dan nama Rong Tian tidak ada di dalamnya.
"Tiga tahun," pikirnya, kata itu bergema di dalam kepalanya tanpa suara. "Tiga tahun aku mempersiapkan ini. Guru Hui Yan bilang kemampuanku lebih dari cukup. Zhao Hua percaya. Aku sendiri percaya."
Ia menutup matanya sejenak.
"Tapi nama itu tidak ada di papan pengumuman. Dan aku sudah membacanya dua puluh kali."
Sebagai anak kusir kereta wakil menteri, kehidupan Rong Tian terbilang lebih beruntung dari kebanyakan anak seusianya di status yang sama. Sejak usia delapan tahun, ia mengikuti pelajaran sastra dan musik bersama Nona Zhao Hua, putri Wakil Menteri Zhao Ming, yang gurunya cukup baik untuk tidak mengusirnya dari ruangan belajar.
Hubungan mereka awalnya sekadar pertemanan anak-anak yang duduk di bangku yang sama. Seiring waktu, sesuatu tumbuh di antara mereka yang tidak punya nama resmi tetapi dirasakan oleh keduanya dengan jelas.
Rong Tian pernah berjanji kepada Zhao Hua bahwa ia akan lulus ujian negara, menjadi pejabat kekaisaran, dan melamarnya dengan cara yang tidak perlu membuat siapa pun malu.
"Dan sekarang janjinya tidak bisa ditepati," pikir Rong Tian, dan untuk pertama kalinya sejak siang tadi, sesuatu yang hangat dan tidak menyenangkan menyentuh bagian dalam matanya. "Bagaimana aku bisa menemuinya setelah ini? Bagaimana aku bisa menatap wajahnya?"
Di kejauhan, suara penjaga malam terdengar keras, memecah kesunyian.
"Kuncilah pintu rapat-rapat! Jangan beri peluang pada pencuri! Periksa lagi api di dapur!"
Rong Tian duduk di tepi tempat tidurnya, menatap lantai tanah yang dingin, ketika suara ketukan itu memecah keheningan.
Tok, tok, tok.
Jantungnya berdegup. "Zhao Hua?" pikirnya, dan ada harapan kecil yang menyala sebelum sempat ia padamkan sendiri.
Seharian setelah pengumuman kegagalannya, ia sengaja menghindari Zhao Hua. Tidak ada yang lebih menyiksa dari dipandang dengan mata iba oleh seseorang yang kamu cintai.
Pintu berderit saat dibuka.
Kata-kata Rong Tian mati di tenggorokan.
Empat pria bertubuh besar menghalangi seluruh pandangannya sekaligus. Pakaian mereka serba hitam, wajah tertutup, hanya sepasang mata di masing-masing wajah yang menatapnya dengan cara yang membuat kaki Rong Tian tidak mau bergerak ke depan.
Di antara empat sosok itu, yang berdiri paling depan memiliki postur yang lebih tegak dari yang lain, cara berdirinya seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan hal seperti ini untuk masih merasa perlu bersikap dramatis.
"Si, siapa kalian?" suaranya keluar lebih gemetar dari yang ia niatkan, meskipun ia berusaha keras agar tidak terdengar seperti seseorang yang sudah menyerah sebelum apa pun terjadi.
Ia mundur. Satu langkah. Dua langkah. Punggungnya menyentuh dinding.
Tidak ada jalan keluar.
"Kalian masuk ke kamar orang tanpa izin," lanjut Rong Tian, meski suaranya bergetar, matanya berusaha tetap fokus. "Ini pelanggaran. Penjaga malam sedang berpatroli sekarang. Kalian tidak takut dilaporkan?"
"Siapa kami?" suara serak salah satu dari mereka keluar dingin dan datar, mengabaikan semua pertanyaan Rong Tian seolah kata-kata itu tidak layak didengarkan. "Kamu akan tahu setelah dibawa pergi dari kediaman wakil menteri."
"Aku tidak mau pergi ke mana pun," kata Rong Tian, suaranya mengeras satu nada. "Kalau ada urusan, bicaralah baik-baik. Siapa yang mengutus kalian?"
Sosok yang berdiri paling depan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk sedikit ke arah kanan.
Sebelum Rong Tian sempat memproses gerakan kecil itu, sesuatu menghantam batang lehernya dari sudut yang tidak sempat ia lihat.
Gelap.
Keempat pria itu bergerak cepat dan terlatih, tidak ada yang bersuara, tidak ada yang membuang waktu. Mereka menyeret tubuh Rong Tian melewati lorong-lorong sempit kediaman wakil menteri dengan pengetahuan tentang tata letaknya yang terlalu rinci untuk seseorang yang baru pertama kali masuk ke sini.
Setiap sudut, setiap celah penjagaan, setiap area yang biasanya kosong dari mata penjaga, mereka tahu semuanya. Ini bukan pekerjaan dadakan. Ini sudah direncanakan.
Di bagian belakang kediaman, sebuah kereta kuda sudah menunggu, ditarik dua ekor kuda yang berdiri diam seperti sudah terlatih untuk tidak membuat suara pada malam-malam seperti ini. Tubuh Rong Tian dilemparkan ke dalam kereta dengan gerakan terukur.
Kereta bergerak ke arah barat, meninggalkan kediaman wakil menteri tanpa jejak.
Derap kaki kuda berirama membelah malam, membawa Rong Tian menjauh dari satu-satunya kehidupan yang pernah ia kenal.
Keesokan harinya, kediaman wakil menteri gempar. Rong Tian dinyatakan hilang, dan spekulasi mengalir dari mulut ke mulut.
"Pemuda itu pasti tidak tahan menanggung malu," kata seorang pelayan senior kepada rekannya di dapur, suaranya mengandung kepuasan tipis dari seseorang yang sudah lama tidak suka pada anak kusir yang terlalu pandai itu. "Gagal ujian dan masih bermimpi menikahi Nona Zhao Hua."
"Kasihan," jawab yang lain, tetapi nada suaranya tidak mengandung banyak kasihan. "Tapi memang begitulah jadinya kalau orang rendahan terlalu tinggi bermimpi."
Tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Beberapa saat kemudian...
Rong Tian terbangun dengan cahaya matahari memukul matanya dari celah dinding kereta yang bergerak.
"Kepalaku sakit." Ia memejamkan mata sebentar, mencoba menyusun kembali ingatan yang berceceran seperti koin yang jatuh di lantai batu dan menggelinding ke berbagai arah.
Bersambung
