Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

POV Robi

Miskin Setelah Bercerai

Part 5

“Halo Pak Hasan, saya mau mengabarkan jika saya jadi menjual dua unit rumah.” Pak Hasan adalah manajer perusahaan properti, dia juga yang akan membeli rumahku ini dan rumah Ibunya Mas Robi. Silahkan kalian tidur dijalan Mas.

****

Pov Robi

Hari ini aku kembali berbohong pada Talita, aku bilang jika akan ke rumah Ibu untuk menjenguk beliau yang sedang sakit. Tapi nyatanya aku akan menikah lagi dengan Nia wanita pilihan Ibu. Nia wanita yang cantik, walaupun Talita lebih cantik tapi aku tak pernah bosan melihat pesona Nia. Aku tidak bertujuan untuk menyakiti hati Talita, aku hanya ingin memiliki keturunan. Kata Ibu mungkin Talita lah yang bermasalah, makanya sampai pernikahan ke-tiga tahun kami belum punya anak.

Sebenarnya untuk menikah lagi juga terasa berat untukku. Karena bagaimanapun cintaku masih utuh untuk Talita. Hanya saja Ibu selalu menanyakan kapan aku akan memberikan beliau cucu. Aku juga sudah menginginkan mempunyai anak, hanya saja rasanya sedikit sulit. Karena Talita tidak kunjung hamil.

Semua persiapan pernikahan Ibulah yang mengurus, dimulai dari tempat resepsi, makanan termasuk biayanya. Untuk sementara biarlah dulu Ibu yang bayar, nanti setelah resepsi akan ku kembalikan semua uang Ibu yang habis. Karena untuk saat ini tidak mungkin aku mengambil uang tabunganku dan Talita, dia akan curiga karena semua keuangan dia yang pegang.

Jika aku mengambilnya setelah menikahi Nia. Maka Talita tidak akan bisa berbuat apa-apa. Toh aku sudah menikah lagi, dan aku yakin dia pasti akan menerimanya nanti. Aku hanya perlu menjelaskan kenapa aku sampai menikah lagi.

“Kamu udah siap, Robi. Lebih baik malam ini kita tidur di hotel saja. Karena Ibu takut kita terkena macet besok dijalan,” ucap Ibu saat aku sedang istirahat dikamar.

“Terserah Ibu saja, tapi Ibu yang bayar ya. Soalnya Robi nggak ada uang cash, kalau pakek ATM takutnya ketauan Talita karena ada pemberitahuan banking,” jawabku tanpa menoleh dari ponsel yang sedang kumainkan. Sebenarnya aku tidak terlalu ingin menikah lagi, tapi karena dorongan dari Ibu yang katanya aku harus memiliki keturunan makanya aku menerima tawaran Ibu menikah lagi.

“Kamu ini jadi suami kok bod*h banget, masak keuangan dipegang sama istri semua. Harusnya kamu yang pegang keuangan, istri kamu itu kamu kasih uang bulanan aja. Gitu aja kok harus dikasih tau,” sewot Ibu penuh emosi.

Benar kata Ibu, selama ini aku terlalu baik pada Talita. Aku menyerahkan semua keuangan kami pada dia. Padahal di sini, akulah kepala rumah tangga. Seharusnya dia aku kasih uang bulanan saja. Yang terpenting kan aku memberinya nafkah. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur.

“Bukan begitu, Bu. Aku kan nggak tau kedepannya bakalan kayak gini. Lagian walaupun uangnya Talita semua yang pegang, dia tidak pernah absen mengirimkan Ibu uang kan? Bukan Cuma untuk Ibu, tapi juga buat kuliahnya Rina,” jelasku. Aku tidak suka jika Ibu menilaiku tidak tegas, lagipula semua kebutuhan Ibu sudah kupenuhi hanya cucu yang belum kuberi.

“Iya Ibu tau, tapi setelah kamu nikah nanti gimana caranya kamu ngasih nafkah ke Nia jika uang aja nggak ada,” sindir Ibu sambil keluar dari kamarku. Betul kata Ibu, tidak mungkin aku menafkahi Nia nanti jika semua keuangan dipegang Talita. Ah aku akan mengurusnya nanti saja, sekarang lebih baik aku bersiap-siap untuk ke hotel dimana aku akan menikah besok.

Semoga saja besok acaranya berjalan lancar. Tidak ada yang aku undang dalam pernikahan ini. Hanya beberapa sahabat saja yang aku anggap bisa menjaga rahasia.

*

Pernikahan ini begitu mewah, Nia pun begitu cantik dan anggun dengan balutan baju pengantin bernuansa putih. Ini persis pernikahan impian Talita, tapi sayang sekarang yang disampingku bukan dia yang menemaniku dari nol. Melainkan wanita pilihan Ibu dan Kak Mira. Semoga saja setelah ini Nia bisa langsung hamil dan memberikan Ibu cucu.

Setelah melakukan ijab kabul, rasanya ada perasaan bersalah dengan Talita. Tapi ya sudah lah ini juga untuk kebaikan kami semua, mau dikemanakan harta itu nanti jika aku tidak memiliki keturunan. Masak aku harus menyumbangkan semua harta itu ke panti asuhan. Aku juga harus memiliki keturunan agar bisa meneruskan usaha. Aku yakin Talita akan berlapang dada menerima semua ini. Bukankah dia juga sangat menginginkan seorang bayi.

Saat sedang menerima tamu-tamu tiba-tiba Talita datang dan mengucapkan selamat kepadaku, jantungku seakan berhenti berdetak. Anehnya dia tidak marah-marah, dia malah selalu tersenyum. Apakah dia sudah tau dari awal tentang pernikahan ini, aku dilanda kebingungan.

Apa yang harus aku jelaskan nanti pada Talita, apalagi dia mengingatkan aku dengan perjanjian pra nikah kami dulu.

Perjanjian jika salah satu dari kami berkhianat atau berselingkuh. Maka orang itu akan keluar dari rumah kami tanpa membawa apapun. Dan aku tidak mau jika sampai itu terjadi. Aku tidak mau hidup miskin seperti dulu lagi.

Harta yang kami dapatkan sekarang juga tidak luput dari usaha dan kerja kerasku selama ini. Bagaimana bisa aku melepas semuanya begitu saja. Masak aku harus kembali bekerja sebagai pegawai kantoran biasa. Aku sudah terlanjur hidup mewah dan serba berkecukupan.

Aku juga yakin Ibu tidak akan rela jika harta itu semuanya dimiliki oleh Talita. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Jika Talita datang ke sini dengan sangat santai, apakah dia juga sudah menyiapkan semuanya untukku. Misalnya mengusirku dari rumah. Tidak, aku tidak mau miskin lagi.

Sungguh aku dilema saat ini, pikiranku kacau. Dari mana dia tau pernikahan ini, padahal semuanya kututup dengan sangat rapi. Tunggu, Rama ternyata sengaja mengajak Talita kesini. Br*ngsek Rama, berani-beraninya dia berkhianat. Seharusnya dia berada dipihakku yang notabene sahabat bukannya malah membela Talita.

*

Malam setelah resepsi aku langsung mengajak Talita bertemu, sengaja aku mengajak Nia agar mereka bisa bertemu. Karena aku pikir jika mereka saling mengenal maka mereka akan menerima satu sama lainnya, terutama Talita. Tapi perkiraanku salah, bukannya menerima Nia sebagai madunya Talita malah menakuti Nia resiko menjadi istri siri. Belum sehari punya istri dua kepalaku makin bertambah pusing tujuh keliling.

Talita benar-benar marah dan minta cerai, jika aku dan Talita bercerai bisa miskin beneran aku. Gara-gara perjanjian bodoh itu kini aku bagai memakan buah simalakama, jadi lebih baik aku terima saja tawaran dia untuk sementara. Walaupun Nia keberatan, tapi aku memberikan dia pengertian agar dia mau mengerti keadaanku saat ini.

Setelah kami sepakat dengan persyaratan yang diberikan oleh Talita. Dia segera berlalu pergi dari hadapan kami. Tapi karena teringat masalah ATM yang sudah diblokir olehnya. Aku segera mengejar Talita dari belakang.

“Kamu mau kemana, Mas?” tanya Nia padaku.

“Bentar ya. Aku ada perlu,” jawabku tergesa. Aku segera berjalan setengah berlari mengejar Talita yang mungkin sudah pergi jauh.

“Talita, tunggu,” aku mencegah tangannya pergi.

“Ada apalagi, Mas?” tanya Talita marah. Dia melepaskan cekalan tanganku darinya. Bahkan dia terlihat sangat malas berada di dekatku. Padahal aku hanya ingin meminta agar ATM bisa aku gunakan kembali. Tetapi dia bersikeras tidak mau aku menggunakan uang kami untuk menyenangkan hati Nia.

Belum sehari aku menikah lagi, aku sudah tidak bisa membayar makanan di restoran malam ini. Terpaksa aku harus menyuruh Nia untuk membayar semuanya. Walaupun dia terlihat tidak suka dan marah-marah. Tetapi dia tetap membayar semuanya.

Betul kata Ibu, aku terlalu bodoh mempercayakan keuangan sama Talita. Terpaksa malam ini aku harus menginap dirumah Ibu, aku tidak punya uang untuk sekedar tidur di hotel. Semua uangku dan Ibu sudah habis untuk resepsi pernikahan kemarin.

“Nia, malam ini kita nginap dirumah Ibu dulu ya,” aku harap Nia bisa mengerti keadaanku saat ini.

“Iya Mas, nggak papa. Tapi aku nggak mau ya Mas tinggal satu rumah sama istri kamu itu apalagi dijadikan babu,” tegas Nia saat kami sudah didalam mobil.

“Iya sayang, tidak mungkin Mas membiarkan itu terjadi. Nanti setelah kita sudah masuk kerumah, Mas akan bersikap lebih tegas sama Talita,” jelasku.

Aku harus bersabar agar Talita mau pulang, setelah aku berhasil masuk kerumah persetan dengan surat perjanjian itu. Aku memang harus lebih tegas lagi dengan dia, selama ini bukan cuma dia yang bekerja aku juga ikut andil dalam mencari uang.

Aku akan pulang kerumah dan mencari dimana Talita menyimpan surat itu. Jika sudah ketemu, maka aku akan menyobek dan membakarnya. Walaupun salinannya ada, tapi aku akan tetap menghilangkan surat itu.

Aku tidak menyangka jika Talita sudah menyiapkan semuanya untukku. Dia sungguh licik, padahal aku menikah lagi hanya untuk mendapatkan keturunan. Aku lelah terus menerus di ejek oleh beberapa rekanku karena belum memiliki keturunan. Padahal aku sangat ingin bermain dengan anak-anakku nantinya.

Tok tok tok

“Assalamualaikum Bu,” aku memberi salam saat sudah sampai kerumah Ibu. Mungkin Ibu sudah tidur, pasti Ibu tidak menyangka jika kami akan tidur disini. Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya Ibu keluar dengan baju tidur. Dia sedikit terkejut dan heran dengan kedatangan kami. Karena tadi rencananya kami akan menginap di hotel. Tetapi karena uangnya tidak ada, terpaksa aku harus pulang lagi ke rumah Ibu.

“Waalaikumsalam, eh Robi Nia kenapa kalian kesini udah tengah malam?” tanya Ibu heran. Belum sempat kami menjawab, Ibu kemudian menyuruh kami untuk masuk. Sebenarnya aku sangat malu pada Nia, baru sehari menikah tapi aku sudah membuatnya membayar makanan.

Padahal aku sudah terlanjur mengatakan jika dia akan hidup mewah setelah menikah denganku. Hidupnya akan terjamin jika sudah menjadi istriku. Tapi kenyataannya kini, jangankan memberinya kemewahan. Untuk diriku sendiri saja aku tidak punya uang lagi. Hanya mobil itu saja yang tersisa, itupun surat-suratnya ada di rumah.

“Malam ini kami menginap disini dulu ya Bu, soalnya Talita nggak ada dirumah,” jawabku ragu-ragu, Ibu pasti akan memarahiku jika tau aku tidak bisa masuk kerumahku sendiri.

“Ya bagus dong Robi, kalau dia ga ada dirumah itu artinya kamu sama Nia bisa bebas berduan dirumah,” sahut kak Mira tiba-tiba, dia menyuguhi kami air.

Ternyata Kak Mira juga belum tidur. Jika tau begini, aku akan terus memaksa Talita tadi agar mau memberikan aku sedikit uang.

“Gimana mau bebas, Kak. Wong Mas Robi aja ga bisa masuk kerumahnya. Semua kunci pintu dirumah udah di ganti sama si Talita itu,” jawab Nia kesal. Aduh, kenapa Nia jadi ember begini sih. Padahal aku sudah menjaga rahasia ini rapat-rapat. Aku tidak ingin Ibu dan Kak Mira kembali memarahiku dan meremehkan aku sebagai kepala keluarga.

“Benar yang dikatakan Nia Robi?” tanya Ibu mendelik kearahku. Bisa mati aku kali inii. Padahal tadi sudah kuperingatkan pada Nia agar dia tidak memberitahu Ibu.

“I-iya Bu, Talita marah karena aku menikah lagi. Jadi dia minta cerai,” jawabku membela diri.

“Yaudah kalau gitu kamu ceraikan saja wanita mandul itu, kamu sudah ada Nia sekarang,” jawab Ibu riang. Ibu tampak sangat senang ketika mendengar Talita minta cerai. Tapi seandainya dia tau jika setelah bercerai dari Talita aku tidak akan mendapatkan harta sama sekali. Pasti Ibu tidak akan sesumringah sekarang.

“Masalahnya sekarang jika aku langsung menceraikan dia, aku tidak akan mendapatkan apa-apa, Bu. Ibu kan tau masalah perjanjian pranikah kami,” jawabku lesu, aku tidak mengira akan begini jadinya.

“Kamu yang salah, jadi suami lembek banget. Udah, kamu balik aja dulu kerumah. Setelah itu kamu usir aja dia, biar kamu bisa geledah kamar untuk mencari surat perjanjian itu,” jelas Ibu penuh emosi. Mungkin Ibu kecewa karena aku sebagai anak lelaki satu-satunya tidak bisa diandalkan.

Benar kata Ibu, aku harus bisa masuk dulu ke rumah. Agar bisa mengusir Talita dari sana. Dan aku bisa dengan leluasa mencari dimana Talita menyimpan surat-surat penting.

“Iya, Bu, rencananya gitu juga. Tapi sekarang aku tidur disini dulu ya,” pintaku hati-hati. Rumah ini besar dan kamarnya juga banyak, tetapi aku kurang nyaman karena Kak Mira dan suami sama anak-anaknya juga tinggal disini. Rumah ini dibeli oleh Talita untuk Ibu, karena dia kasihan dengan Ibu dan Rina yang tinggal dikontrakkan.

Sebenarnya untuk menjadi seorang istri dan menantu, Talita sudah sangat sempurna. Hanya saja kekurangan dia tidak bisa hamil dan memberikan aku keturunan.

“Baiklah, sekalian Ibu mau jumpa sama istrimu itu. Rina tadi telpon minta dikirimi uang SPP kuliahnya.” Ibu terus mengomel sambil masuk kedalam kamar.

Aku segera mengajak Nia untuk masuk ke dalam kamar yang akan kami tempati. Kamar ini juga luas dan cukup nyaman. Ini kamar yang biasa ditempati oleh Rina jika dia pulang libur kuliah.

Aku segera mengganti pakaianku dengan baju tidur. Begitu juga Nia, dia pamit untuk pergi sebentar ke kamar mandi. Sembari menunggu Nia kembali, aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Pikiranku melayang menuju Talita, sedang apa dia sekarang.

Dia adalah cinta pertamaku, semoga kamu bisa berubah pikiran. Untuk menerima Nia sebagai adik madu. Aku juga sudah berjanji pada diri sendiri, jika Talita mau menerima semua ini. Maka aku akan tetap berlaku adil pada mereka berdua. Tidak ada yang berubah, cintaku tetap untuk Talita.

Klek!

Pintu kamar mandi terbuka, di sana terlihat Nia memakai baju tidur yang sangat transparan. Semua bentuk tubuhnya tercetak jelas. Berkali-kali aku harus menelan ludah melihat penampilan Nia yang sangat menggoda. Seketika aku melupakan tentang Talita.

“Sayang, kamu seksi,” pujiku pada Nia yang kini berdiri di sampingku.

“Aku akan melayani kamu sampai puas, Sayang. Biar semua beban yang ada dalam pikiran kamu hilang,” ucap Nia sambil mengelus wajahku. Kemudian tangan lembutnya dengan liar membuka kancing bajuku.

“Berikan aku pelayanan terbaik, Sayang,” desahku sambil merengkuh tubuh Nia ke dalam pelukan.

“Tentu, aku juga akan segera memberikan kamu keturunan. Anak yang banyak dan mereka akan meneruskan usaha kamu,” jawab Nia dengan desahannya.

**

Aku terkejut ketika suara ponsel diatas nakas berdering, ternyata Mang Asep. Dia adalah satpam dirumah, entah kenapa dia telpon pagi-pagi.

Kulirik jam di dinding, ternyata sudah menunjukkan pukul sembilan. Nia juga masih tertidur dengan tubuh polosnya yang begitu seksi. Mungkin dia masih lelah karena permainan panjang kami tadi malam.

“Halo Mang ada apa,” tanyaku ketika sambungan telepon terhubung.

“Ini Pak, Ibu pingsan,” jawab Mang Asep khawatir. Aku yang belum sepenuhnya sadar, masih bingung dengan laporan Mang Asep.

“Talita?” tanyaku memastikan.

“Bukan Pak, tapi Ibunya Bapak,” jawabnya ceoat. Jawaban Mang Asep membuatku khawatir sekaligus kaget, untuk apa Ibu kesana. Ah, sekarang aku baru ingat jika Ibu akan meminta uang pada Talita untuk kuliahnya Rina.

Apa yang sudah Talita lakukan pada Ibu. Sehingga Ibu bisa pingsan seperti itu. Padahal Talita tau jika Ibu juga mempunyai penyakit jantung. Seharusnya dia lebih berhati-hati lagi jika berbicara dengan Ibu.

“Halo Pak, saya kirim alamat rumah sakitnya ya,” sambung Mang Asep.

Aku yang panik tidak sempat membangunkan Nia yang masih tertidur pulas, aku langsung mandi dan memakai baju.

“Mau kemana kamu, Robi? Kok buru-buru, Nia mana?” tanya Kak Mira beruntun saat aku mau mengambil mobil.

“Ibu katanya pingsan dirumah aku, tadi Mang Asep nelpon. Tapi ini udah dirumah sakit, jadi aku mau kesana,” jelasku seraya melangkah keluar dari rumah. Aku sangat khawatir dengan kondisi Ibu. Jika sampai terjadi apa-apa dengan Ibu, aku tidak akan memaafkan Talita.

“Kakak ikut.” Kak Mira langsung masuk ke mobil dan kami segera kerumah sakit tempat Ibu dirawat.

Setelah sampai kerumah sakit, kami tergesa-gesa menuju ke ruangannya Ibu. Alhamdulillah Ibu sudah siuman, aku menyuruh Mang Asep langsung pulang kerumah.

“Talita akan menjual rumah yang Ibu tempati sekarang,” ucap Ibu ketika pertama kali kami sampai ke ruangan tempat Ibu dirawat.

“Ibu tenang dulu. Nggak akan ada yang bisa jual rumah itu tanpa keputusan dari Robi. Tenang ya,” ucapku menenangkan hati Ibu.

“Memangnya rumah yang Ibu tempati sekarang itu atas nama siapa?” tanya Kak Mira khawatir. Ah, aku baru ingat jika rumah yang sekarang kami tempati atas nama Talita. Karena waktu itu dialah yang mengatur semuanya. Dia juga yang mengusulkan untuk membelikan rumah untuk Ibu.

Aku juga baru ingat jika rumah kami juga atas nama Talita. Aku meremas rambut dengan kasar. Kenapa semuanya jadi seperti ini. Egois sekali kamu, Talita.

Ternyata Ibu kesana untuk bertemu dengan Talita, Ibu pasti jantungan karena ucapan Talita. Kurang ajar kamu Talita, cukup sudah aku bersabar. Aku akan membuatmu menyesal karena melakukan ini pada Ibu.

**

Sorenya aku langsung menemui Talita di lobi hotel, aku menyuruhnya untuk pulang kerumah. Entah darimana saja dia, dari penampilannya dia sedikit berbeda dari biasanya. Kali ini dia kelihatan lebih cantik dari biasanya, apakah dia habis bertemu dengan laki-laki lain. Setelah sedikit berdebat, akhirnya dia mau juga pulang kerumah. Aku pun pulang kerumah Ibu untuk menjemput Nia dan membantu dia berkemas.

“Udah semua?” tanyaku memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Kayaknya udah Mas,” jawab Nia lalu memeriksa kembali isi lemari dan beberapa sudut kamar. Agar tidak ada yang tertinggal. Karena aku dan Nia berencana akan tinggal bersama dengan Talita.

“Yaudah yuk, udah malam juga,” ajakku sambil menggandeng tangannya Nia lembut. Sementara tanganku satu lagi menarik koper untuk memasukkannya ke bagasi mobil. Ah aku rindu sekali tidur dirumah, aku tidak nyaman berlama-lama disini.

Anak-anaknya Kak Mira sangat ribut, aku bahkan tidak bisa tidur siang saat di rumah.

“Mas, nanti aku tidurnya dikamar mana?” tanya Nia saat kami sudah dimobil.

“Ya dikamar tamu dulu sayang, kamu tenang aja. Kamar tamu yang satu itu ada AC nya juga,” jawabku sambil mencium mesra tangannya. Nia memang wanita yang lembut, dulu Talita juga wanita yang lembut. Tapi akhir-akhir ini dia sudah berubah, dia juga sudah menjadi istri pembangkangan.

“Tapi aku nggak mau ya Mas jadi babunya istri kamu yang mandul itu, kita kan lagi program hamil. Jadi aku nggak boleh capek-capek,” rengek Nia manja. Dia memang sungguh menggoda, aku sudah tidak sabar sampai dirumah dan ingin menghabiskan malam dengannya lagi.

“Iya sayang, kamu tenang aja,”jawabku menenangkan. Aku tidak boleh membiarkan Nia dijadikan pembantu oleh Talita, bisa-bisa Nia susah hamil jika terlalu capek.

Setelah satu jam perjalanan akhirnya aku sampai dirumah, aku segera memarkirkan mobil dan menurunkan koper. Ternyata Talita belum sampai di rumah. Untungnya kunci rumah sudah dia titipkan terlebih dahulu pada Mang Maman. Sehingga aku dan Nia bisa masuk ke dalam rumah dan beristirahat. Baru sebentar kami menunggu akhirnya Talita pulang juga.

Aku menyambutnya dengan ramah, begitu juga Nia. Karena di dalam mobil tadi aku sudah mengatakan pada Nia agar bersikap lebih baik dan sopan pada Talita. Dia harus bisa mengambil hatinya, agar Talita tidak marah-marah lagi.

Aku yang melihat dia membawa barang-barang tas berat. Segera membantunya untuk membawanya ke dalam kamar. Baru saja aku ingin merapikan barang-barang yang dibawa oleh Talita. Aku mendengar suara Nia yang meminta tolong dan memanggilku.

Ternyata Talita juga ada di sana, aku rasa Talita sengaja memarahi Nia. Agar dia tidak betah tinggal di sini. Setelah aku tegur, dia melewatiku dan Nia tanpa bicara sepatah katapun, seakan-akan kami tidak terlihat. Aku tidak terlalu ambil pusing dan segera menyuruh Nia istirahat dikamar sebelah kamarnya Talita.

Saat sedang memasukkan pakaian kedalam lemari tiba-tiba Talita datang dan langsung menarik koper Nia dan dilempar keluar. Kami pun berdebat sampai aku menamparnya sekali, sebenarnya aku sangat menyesal telah menamparnya. Tapi aku harus membuat dia marah, agar dia pergi dulu sebentar dari rumah. Jadi aku dengan leluasa akan mengambil surat perjanjian itu dan beberapa perhiasan milik Talita di dalam lemari.

Ternyata rencanaku berhasil, Talita pergi dari rumah.

“Sayang, dia kan udah pergi. Gimana kalau kita tidurnya dikamar utama aja, kamarnya lebih nyaman, sekalian kita cari surat itu,” ajak Nia dengan menarik tanganku.

Aku pun mengiyakan ajakan Nia untuk segera memulai proses pencarian.

“Kamu periksa di lemari kaca itu,” perintahku pada Nia yang dibalas anggukan. Sedangkan aku memeriksa lemari baju, biasanya Talita menyimpan semua berkas penting di salah satu laci di lemari ini.

“Sayang, banyak banget tas branded di sini. Aku boleh ambil nggak?” tanya Nia padaku saat kami sedang di kamar. Tanpa melihat aku segera mengiyakan permintaan Nia.

“Di sini juga banyak banget kosmetiknya. Aku mau juga ya, Sayang,” rengek Nia lagi yang sedikit membuatku kesal.

“Iya, ambil apa saja yang kamu suka,” jawabku sedikit kesal. Bukannya membantuku untuk mencari berkas penting. Dia malah melihat barang lain, dasar perempuan.

Setelah menggeledah semua isi lemari aku tidak menemukan apapun. Sial, pasti surat itu sudah diamankan oleh Talita. Aku yang capek langsung istirahat, besok akan aku pikirkan lagi caranya.

**

“Pagi sayang, kamu masak apa wangi banget,” sapaku pada Nia yang sedang masak didapur. Karena capek menggeledah seluruh isi kamar semalam, membuatku bangun kesiangan.

Seharusnya hari ini aku ke Resto, karena jika ke sana mungkin aku bisa mengambil uang. Karena terlanjur meminta Karen–asistenku untuk menggantikan aku sementara waktu. Aku jadi malas ke sana, apalagi Ibu berpesan agar aku dan Nia harus sering menghabiskan waktu berdua. Agar Nia cepat hamil dan aku bisa segera memberikan Ibu cucu.

“Nasi goreng sama telur balado, Mas,” jawab Nia sambil mengambilkan piring untuk aku makan. Ibu memang tidak salah pilih. Ternyata Nia memang benar-benar pintar di dapur dan juga di kasur. Dia kembali membuatku merasa jatuh cinta lagi. Semoga dia bisa secepatnya hamil dan aku akan menikahinya secara resmi.

“Mas, kapan dong kamu nikahi aku secara resmi. Aku nggak mau nanti kalau aku hamil, dan anak kita lahir. Malah nggak ada nama kamu di akta kelahirannya,” rengek Nia sambil bergelayut manja padaku.

“Sabar, Sayang. Aku akan berusaha agar Talita mau menandatangani surat ijin menikah lagi,” jawabku sambil menyendokkan nasi goreng ke dalam mulut.

“Gimana kalau kita palsukan aja tandatangannya. Atau kamu paksa dia,” saran Nia yang aku balas dengan anggukan.

“Kalau memaksa nggak mungkin, deh. Kalau memalsukan tandatangannya juga nggak mungkin. Talita itu perempuan cerdas, dia akan bersikap lebih parah dari ini nanti,” jawabku lagi.

“Jadi kita harus gimana? Atau nanti kalau dia udah pulang. Kamu kasih dia obat tidur aja, Mas. Terus nanti kita ambil sidik jarinya aja,” usul Nia lagi dengan ide cemerlang.

“Benar, itu bisa kita lakukan nanti ketika dia sudah kembali. Setelah itu terjadi, kita bisa mendaftarkan pernikahan secara negara,” jawabku yang membuat Nia tersenyum lebar.

Tok tok tok

Siapa tamu pagi-pagi begini, apa Talita sudah balik lagi. Aku segera bangkit dari duduk, kemudian berjalan menuju pintu.

“Bentar, Sayang, biar Mas aja yang buka,” ucapku ketika Nia juga hampir bangkit dar duduknya.

“Selamat pagi Pak, saya dari pihak properti Jaya Mandiri ingin memberitahukan jika hari ini rumah ini harus dikosongkan karena akan ditempati oleh pemilik yang baru.” Jelas lelaki yang didepanku. Dari baju yang dia kenakan memang terlihat seperti pakaian karyawan yang bekerja di bagian properti.

“Maaf Mas, mungkin Anda salah rumah,” ucapku sambil sedikit tersenyum. Aku juga sedikit kecewa, karena yang datang ternyata bukan Talita. Sepertinya Talita kembali memutuskan untuk tidur di hotel.

“Benar, Pak. Ibu Talita sendiri yang sudah menjual rumah ini kepada kami,” jawabnya sambil menyerahkan beberapa dokumen pengalihan hak rumah. Aku memeriksanya dengan seksama. Ternyata benar, di sini tertulis jika rumah ini memang sudah dijual oleh Talita. Setelah melihat berkas itu membuatku panik. Bagaimana mungkin Talita tega menjual rumah ini tanpa meminta izin padaku.

“Sebentar, Mas, saya telpon istri saya dulu.”

Aku segera menjauh dari laki-laki tersebut, kemudian mengambil ponsel dan mencari nomor kontak Talita. Beberapa kali menelpon tapi nomornya tidak aktif. Aku juga sempat menelepon ke nomornya yang satu lagi, tapi tetap tidak bisa dihubungi.

“Mohon maaf Pak, saya permisi dulu,” pamit laki-laki tadi. Kemudian dia melangkah pergi dari rumah ini.

Aaaghr...teriakku frustasi. Bagaimana mungkin rumah yang aku beli dengan jerih payahku sendiri dijual oleh Talita.

“Kenapa Mas, ada apa,” tanya Nia khawatir melihat keadaanku.

Baru akan menjawab teleponku berdering, ternyata Ibu.

“Halo ada apa, Bu?” tanyaku pada Ibu yang tiba-tiba menelepon.

“Robi, tolong kamu kesini sekarang juga. Ada laki-laki datang kerumah katanya rumah ini udah dijual sama Talita. Dan Ibu di usir, tolong Robi Ibu nggak mau miskin lagi,” raung Ibu penuh iba.

“Tenang ya, Bu. Aku akan segera ke sana. Ibu jangan panik, semuanya pasti bisa kita atasi,” jawabku kembali mencoba menenangkan Ibu. Hanya itu yang bisa aku lakukan, walaupun sekarang hatiku juga sedang kacau. Tapi aku tidak boleh mengatakannya pada Ibu.

“Ada apa sih, Mas. Jawab jangan buat aku penasaran,” tanya Nia lagi meminta penjelasan dariku.

“Ada sedikit masalah, Nia. Dan sepertinya kita harus ke rumah Ibu sekarang. Kamu siap-siap ya,” jawabku yang hanya dibalas anggukan oleh Nia. Tanpa dikomando, Nia langsung bergegas ke kamar dan berganti pakaian.

Ketika sedang menunggu Nia, ternyata Kak Mira kembali menelpon. Dia mengatakan jika Ibu hampir pingsan. Karena mereka harus keluar saat ini juga dari rumah itu. Tanpa menunggu Nia lagi, aku langsung melenggang pergi dari rumah.

Otakku langsung mendidih mendengar berita mengejutkan ini. Berkali-kali aku menelpon Talita tapi nomornya sudah tidak bisa dihubungi.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel