POV Robi 2
Miskin Setelah Bercerai
Part 6
Pov Robi
Otakku langsung mendidih mendengar berita mengejutkan ini. Berkali-kali aku menelpon Talita tapi nomornya sudah tidak bisa dihubungi.
Setelah menerima telpon dari Ibu aku langsung bersiap-siap kesana, tidak kupedulikan lagi Nia yang terus bertanya kenapa. Dalam pikiran ku saat ini adalah Ibu, bagaimana jika Ibu sampai terkena serangan jantung. Saat dalam perjalanan tiba-tiba mobil mogok, ternyata ketika aku cek bensin mobil habis. Aku lupa mengisinya kemarin, darimana aku akan mendapatkan uang untuk mengisi bensin.
Tiba-tiba aku melihat Rama sedang keluar dari cafe bersama teman-temannya, sepertinya kali ini aku harus menahan malu. Aku akan meminta bantuan Rama, dan sekalian menanyakan kenapa dia sampai menghianati aku sahabatnya.
“Rama, aku ingin ngomong bisa,” tanyaku ketika dia akan menaiki mobilnya. Ada raut terkejut dari wajahnya. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku bisa sampai berada di sini.
“Ada apa ya?” tanyanya ketus. Seandainya saja aku tidak butuh uang, aku tidak akan mau bicara lagi dengannya. Apalagi semua kekacauan yang terjadi saat ini adalah karena ulahnya.
“Jangan disini, sebaiknya kita bicara didalam mobil kamu aja,” saranku. Aku tidak ingin dilihat orang jika nanti seandainya kami bertengkar.
“Oke, masuklah.” Lalu aku pun masuk ke dalam mobilnya.
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” tanya Rama lagi. Aku mencoba menarik nafas dan membuangnya perlahan. Aku harus bisa sabar.
“Kenapa kamu memberitahu Talita jika aku selingkuh, kamu malah ke acara resepsi dengan mengajak dia,” tanyaku kesal.
“Kamu beneran pengen tau?” tanyanya balik. Bukannya menjawab pertanyaanku Rama malah bertanya balik. Tapi aku harus sabar jika ingin mendapatkan jawabannya, siapa tau aku bisa memperbaiki semuanya.
“Iya, kamu tau kan kalau aku menikah lagi karena ingin punya keturunan,” jawabku lesu.
“Kamu ingat wanita yang pernah kuceritakan dulu?” tanya Rama lagi, dia berbelit sekali.
“Yang mana, aku lupa,” jawabku acuh. Aku tidak punya banyak waktu, Ibu dan Kak Mira membutuhkan aku sekarang.
“Wanita yang pernah pergi meninggalkan aku ketika akan melakukan ijab kabul,” jawab Rama. Iya aku ingat, dulu Rama pernah bercerita kalau dia akan menikah dengan wanita yang dia cintai. Dia juga mengundangku dan Talita, hanya saja kami tidak bisa hadir karena harus ke Singapura untuk merawat Ibunya Talita yang sakit. Pulang dari sana aku baru mengetahui jika Rama gagal menikah karena mempelai wanitanya lari dengan suami orang, sampai Ibunya Rama meninggal karena stres memikirkan pernikahan Rama yang gagal.
“Iya aku ingat, jadi apa hubungannya dengan aku menikah lagi,” jawabku kesal.
“Wanita itu adalah istri kamu yang sekarang,” jawabnya. Apalagi ini, kenapa masalah datang bertubi-tubi. Tidak mungkin Nia istriku adalah wanita penghianat itu.
“Kamu sedang tidak bercanda kan Rama,” tanyaku gagap. Bibir ini kelu, badanku pun kaku seperti tidak bisa digerakkan lagi. Bagaimana mungkin wanita yang kunikahi dengan harapan akan memberikan keturunan ternyata simpanan om-om.
“Kalau kamu nggak percaya ya sudah, tapi kamu bisa lihat bagaimana ekspresi dia ketika bertemu denganku di acara resepsi kalian,” jawab Rama santai. Aku tidak terlalu memperhatikan Nia ketika kejadian itu terjadi, karena aku sibuk dengan Talita juga Ibu yang sedang berdebat.
“Aku tidak percaya Rama, Nia itu wanita baik-baik. Dia juga wanita lembut dan sopan, tidak ada celah yang membuktikan bahwa dia adalah simpanan om-om,” kilahku pada Rama. Meskipun dalam hati meyakini ucapan Rama, karena aku kenal dia, Rama tidak pernah berbohong.
“Tapi kenyataannya seperti itu. Dialah wanita yang sudah membuat Ibuku meninggal,” kilah Rama lagi yang membuatku semakin dilema.
“Kenapa kamu nggak bilang dari awal jika dia wanita itu?” tanyaku balik.
“Terlambat. Aku juga baru mengetahuinya setelah kamu mengirimkan undangan,” jawab Rama sambil merebahkan tubuhnya di kursi kemudi.
“Tapi, dia sama sekali tidak terlihat seperti itu,” sangkalku lagi. Aku sungguh tidak menyangka jika wanita yang telah menyakiti Rama adalah Nia istriku sekarang.
“Karena dia memang pandai bersandiwara. Karena sudah terlanjur, sebaiknya kamu jalani saja sama dia. Siapa tau dia sudah berubah,” ucap Rama dengan nada meremehkan. Aku menggaruk kepala yang terasa berat. Aku tidak tau harus berbuat apalagi sekarang.
Semuanya ini seperti badai yang datang secara tiba-tiba. Aku belum siap kehilangan semuanya. Apalagi jika harus kehilangan Talita.
Saat sedang berdebat dengan Rama, telponku kembali berdering. Kak Mira….
“Halo Kak ada apa?” tanyaku pada Kak Mira.
“Kamu dimana sih dari tadi nggak sampe-sampe, Ibu udah berkali-kali pingsan manggilin kamu terus,” cerocos Kak Mira di seberang. Ya ampun aku sampai lupa jika tadi aku ingin kerumah Ibu.
“Rama, bisa aku minta tolong antarkan aku kerumah Ibu. Mobilku kehabisan bensin, dan… aku tidak memegang uang cash,” jelasku. Sebenarnya aku sangat malu, tapi aku harus menahannya karena tidak memiliki uang sedikitpun.
Rama mencebik mulutnya tanda dia keberatan, tapi mungkin karena tidak enak dia memberikanku uang satu juta untuk pegangan katanya. Setelah aku mengisi bensin mobil, aku pun langsung menuju kerumah Ibu. Berkali-kali Nia menelpon tapi tak aku hiraukan, biarkan saja dulu saat ini aku harus fokus ke Ibu.
“Dimana Ibu?” tanyaku pada Kak Mira yang sedang menangis didepan rumah. Mungkin Kak Mira tidak menyangka jika ini terjadi begitu cepat, aku juga tidak mengira jika Talita begitu tega pada kami.
“Di kamar,” jawab Kak Mira.
Aku langsung ke kemar Ibu, aku melihat Ibu menangis di tempat tidur. Bahunya bergetar hebat, tanda dia menahan sesak di dada.
“Ibu nggak papa?” tanyaku sambil menarik kursi untuk duduk disebelah tempat tidur. Melihatku datang, tangis Ibu semakin menjadi-jadi. Dia bahkan memukul dadanya yang mungkin terasa sesak. Sungguh aku tidak bisa melihat pemandangan ini. Hatiku sakit.
“Nggak papa gimana, kamu jadi anak sama sekali tidak bisa diandalkan. Cuma kamu anak laki-laki Ibu satu-satunya, seharusnya kamu bisa membahagiakan Ibu,” teriak Ibu histeris. Tangis Ibu pecah, dia terus menyalahkan aku karena terlalu lembek jadi suami.
“Maafkan Robi,Buk. Aku juga tidak menyangka jika Talita semarah itu,” jawabku menunduk menyesali semua yang sudah terjadi. Sungguh aku tidak menyangka jika Talita sekejam ini. Dia sangat egois, kenapa tega sekali melakukan semua ini pada kami.
Padahal aku menikah hanya ingin mendapatkan keturunan. Dia sangat nekat menjual semua aset dan rumah kami.
“Dimana hati Talita, tega dia menjual rumah Ibu. Ini rumah Ibu, dia tidak berhak menjualnya. Kemana Ibu harus pergi sekarang,” racau Ibu. Aku tidak tau harus berbuat apa sekarang. Pikiranku masih tidak menyangka semua ini terjadi begitu cepat. Sejak kapan Talita merencanakan semuanya, kenapa aku tidak tau jika dia sudah mengubah semua nama bersama atas nama dia.
“Lebih baik kita berkemas aja Bu, kita pindah saja kerumah Robi. Rumahnya kan besar, kamarnya juga banyak,” usul Kak Mira tiba-tiba. Bagaimana ini, bagaimana jika Ibu tau kalau rumahku pun sudah dijual sama Talita. Brengs*k kamu Talita, aku harus menemukan kamu untuk memberikan pelajaran.
“Yaudah kalau gitu kamu siap-siap Mira, kamu bawa semua barang kita yang berharga. Guci antik kesayangan Ibu jangan lupa kamu ambil,” jawab Ibu lesu.
Aku takut mengatakan yang sebenarnya, bagaimana jika Ibu jantungan.
“Robi, kamu jangan diam aja. Cepat bantuin Mbak mu,” ketus Ibu. Terpaksa aku harus membantu Kak Mira untuk mengemas barang.
“I-iya Bu,” aku pun segera berkemas, tidak lupa guci antik kesayangan Ibu. Mungkin aku bisa mengambil sebagian untuk dijual, karena harga dari guci-guci ini sangat mahal. Saat sedang memasuki guci kedalam kardus besar, seseorang memegang tanganku.
“Mohon maaf, Pak. Semua barang di rumah ini tidak boleh di ambil lagi. Karena Ibu Talita menjual rumah ini beserta isinya. Jadi tolong ambil pakaian kalian saja.” Apa-apaan ini, bagaimana bisa Talita begitu kejam terhadap kami. Bagaimanapun aku masih suaminya dan Ibu masih mertuanya.
“Mana surat bukti bahwa rumah ini sudah dijual beserta isinya,” tanyaku marah saat apapun yang aku dan Kak Mira ambil tidak diperbolehkan oleh mereka.
“Ini silahkan Bapak baca dengan baik, rumah beserta isinya sudah dijual oleh Ibu Talita kepada perusahaan kami,” terang lelaki itu. Benar memang, disurat itu tertulis jika semua sudah dijual dan yang membuat aku syok adalah angka yang tertera di atas kertas. Benar-benar rakus kamu Talita, ternyata salah besar aku sudah menjadikan kamu istri.
Ibu histeris saat meninggalkan rumahnya, apalagi guci-guci itu tidak bisa dibawa pergi. Kasihan sekali Ibu, punya menantu yang tidak tau diri. Tidak bisakah dia sedikit saja menyayangi kami, memang wanita jahat kamu Talita, rutukku.
“Ibu sudah tidur?” tanyaku pada Kak Mira saat didalam mobil. Karena tidak lagi terdengar suara tangisan Ibu.
“Sudah, mungkin Ibu kelelahan karena kebanyakan menangis. Wanita itu benar-benar jahan*am Robi, sudah ma*dul jahat lagi,” maki Kak Mira. Wajar Kak Mira emosi, aku juga sangat marah ketika
“Sebenarnya rumah yang kami tempati juga udah dijual Kak,” jawabku lesu. Sungguh aku tidak menyangka jika Talita sangat tega padaku.
“Apa kamu bilang, dijual juga sama dia. Terus kita mau tinggal dimana sekarang,” tanya Kak Mira emosi. Sebenarnya aku juga sangat bingung sekarang. Kemana aku harus membawa keluargaku ini. Apalagi aku baru saja menikah dengan Nia.
“Kakak jangan memperkeruh suasana, bantu aku menjelaskannya pada Ibu. Kalau nanti kita nyewa rumah lagi mbak bantu setengah ya dananya. Lagian anak-anak sama suami mbak tinggal juga disitu,”ketusku. Lama-lama aku emosi juga sama Kak Mira.
“Kok jadi Mbak yang bayar setengah sih, harusnya kamu dong sebagai anak laki-laki yang bertanggung jawab,” cebik Kak Mira.
“Jadi suami Mbak gunanya apa? Sekarang aja dia entah dimana saat kita butuh. Untung anak-anak ke sekolah, kalau tidak nggak muat ini mobil.” Malas sekali aku berdebat, sudah punya suami tapi masih aja menyusahkan.
“Kok kamu jadi ngungkit kebaikan kamu sih. Seharusnya itu kamu bisa lebih pintar dari Talita. Bukannya jadi suami lembek kayak gini,” maki Kak Mira lagi yang membuatku semakin emosi.
“Kalau Kak Mira dan Ibu nggak maksa aku untuk nikah lagi juga nggak bakalan gini jadinya. Pasti sekarang aku masih kaya raya, nggak melarat kayak sekarang,” balasku kesal. Jika saja aku tidak menuruti permintaan Ibu dan Kak Mira untukku menikah lagi. Pasti kejadian ini tidak akan terjadi. Pasti sekarang aku masih bahagia bersama Talita.
Rasa penyesalanku semakin menjadi-jadi setelag mengetahui jika Nia bukan wanita baik-baik. Apalagi dia adalah wanita yang sudah menyakiti hati Rama. Seandainya aku tau di mana Talita sekarang. Aku akan menemuinya dan memperbaiki semuanya.
Saat tiba dirumah Nia sudah menunggu diluar, dari raut wajah sepertinya dia tengah memikirkan sesuatu.
Ingin sekali rasanya aku menanyakan perihal Rama. Hanya saja sepertinya ini bukan waktu yang tepat. Apalagi saat ini kondisi Ibu masih sangat lemas. Dia hampir saja pingsan saat tadi keluar dari rumah.
Entah mengapa rasanya aku sangat tidak suka melihat wajah Nia lagi. Setiap melihat wajahnya aku selalu teringat perkataan Rama tadi. Aku masih tidak menyangka, jika ternyata wanita yang aku nikahi adalah mantannya Rama. Rasanya dunia ini sempit sekali.
“Mas, kenapa susah sekali ditelpon. Tadi ada orang nyariin kamu, terus kasih ini,” tanya Nia dengan nada khawatir. Nia memberiku satu amplop coklat, lebih baik aku membukanya didalam saja.
“Yaudah kita masuk dulu ya, nanti didalam kita buka sama-sama,” ajakku. Kami pun masuk kedalam rumah dan duduk diruang tamu. Ibu sudah agak tenang, dia menyandarkan punggungnya di sofa.
“Kok Ibu kesini bawa-bawa koper?” tanya Nia, namun Ibu dan Kak Mira bergeming tidak menjawab. Aku tau Ibu dan Kak Mira saat ini masih sangat syok dengan kejadian ini. Talita bergerak sangat cepat dari perkiraanku.
“Rumah Ibu sudah dijual sama Talita, jadi Ibu pindah kesini,” jawabku sambil membuka amplop tadi. Ada beberapa surat di dalamnya, tapi aku hanya membaca satu poin penting yang membuat tubuhku terasa hampa.
“Tapi tadi ada orang yang datang kemari saat kamu nggak ada. Pas aku tanya ada perlu apa mereka malah bilang ini rumah mereka yang dibeli sama perusahaan properti,” cerita Nia. Ibu yang mendengar itu langsung berdiri dengan memegang dada, aku rasa jantung Ibu kumat.
“I-bu, lebih baik Ibu istirahat dikamar ya. Biar urusan ini Robi yang selesaikan,” terangku menenangkan Ibu. Aku memegang kedua tangan Ibu agar dia kembali duduk di tempat semula. Yang aku takutkan adalah jika Ibu sakit aku tidak mempunyai uang untuk membayar biaya rumah sakit.
“Kamu nggak usah sok bijak, Robi. Kamu lihat kan sekarang. Istri kamu itu sudah menguasai semuanya, dia bahkan berani menjual semua harta kita,” teriak Ibu histeris. Tidak ada yang bisa aku lakukan kecuali menenangkan Ibu. Kak Mira hanya melihatku sinis, dia sama sekali tidak berniat membantuku untuk menenangkan Ibu.
“Sekarang juga kamu hubungi istri kamu itu biar Ibu yang ngomong,” titah Ibu dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.
“Nomor Talita tidak bisa dihubungi lagi, Bu. Sepertinya Talita udah ganti nomor. Aku telpon ke Bapak dan Ibunya juga nggak bisa, kayaknya nomorku udah diblokir,” jelasku lesu. Baru kali ini pikiranku buntu, aku bahkan tidak tau harus mencari Talita kemana. Apa dia pulang kerumah orangtuanya ya, tidak mungkin aku menyusul karena aku tidak memiliki uang lagi. Lagian yang aku tahu, Ibu dan Ayah Talita saat ini masih di Singapura. Menjalani pengobatan untuk Ibu Talita.
“Dasar anak bod*h, makanya dari dulu Ibu nggak ngerestuin kamu dengan dia,” maki Ibu kesal. Aku memang salah menikahi kamu Ta, aku benar-benar tidak mengenal kamu lagi sekarang. Kamu sangat egois, jika memang kita harus pisah. Setidaknya kita bisa bagi harta ini bersama.
“Mas, kata orang tadi besok rumah ini sudah harus kosong. Jadi kita akan tinggal dimana sekarang,” tanya Nia, aku sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan dia. Karena aku sedang tidak memegang uang samasekali.
“Kamu kan ada uang simpanan Nia, kenapa nggak kamu aja yang cari rumah kontrakan biar kita ada tempat tinggal,” tanya Kak Mira. Betul, Nia pasti ada uang tabungan. Secara sebulan sebelum menikah aku rutin memberikan dia uang dalam jumlah banyak. Apalagi kemarin itu aku memberinya mahar emas. Dan beberapa uang tunai, tidak mungkin dia tidak memilik uang sedikitpun sekarang.
“Ada sih, Mbak. Tapi ga mungkin aku menghabiskan uang tabunganku untuk kalian. Belum seminggu nikah udah susah begini,” cebik Nia.
“Apalagi kalau aku sampai ngejual emas dan uang mahar. Itu kan milikku. Kalian nggak berhak memintanya balik,” lanjut Nia dengan wajah kesal.
Aku terkejut melihat sikap Nia, dia yang biasanya lemah lembut sekarang sudah berani melawan Kak Mira. Padahal setahuku Kak Mira dan Nia berteman cukup akrab. Maka dari itu Kak Mira memilih Nia untuk menjadi istri keduaku.
Aku pikir Nia tidak akan berani menentang Kak Mira. Apalagi sekarang Kak Mira sudah menjadi Kakak’ iparnya. Ibu juga tidak kalah terkejutnya denganku, dia sampai mengurut dada mendengar penolakan dari Nia.
Benar kata Rama tadi. Nia mau menikah denganku dan jadi istri kedua karena ingin menguasai hartaku. Dia memang benar-benar wanita yang licik. Padahal selama ini, Talita selalu memberikan uang cuma-cuma pada Ibu dan Kak Mira.
Dia tidak pernah perhitungan pada Ibu dan keluargaku. Andai saja aku bisa meminta satu permintaan. Maka aku akan meminta agar waktu bisa diputar kembali. Aku akan memilih tidak perlu mempunyai anak, asalkan memiliki Istri yang baik seperti Talita.
Percuma punya anak jika aku tidak bisa mengatur Istriku sendiri. Sekarang semuanya hanya tinggal penyesalan. Penyesalan tiada akhir, mungkin aku akan menyesali semua ini sampai aku mati. Karena aku yakin, Talita akan segera mengirimi aku surat dari pengadilan agama.
“Apa kamu bilang, kamu kok perhitungan sekali sama kita. Kita ini keluarga kami sekarang, jadi uang kamu uang kami juga,” sahut Ibu kesal. Aku hanya bisa menyesali semua kesalahan yang telah kulakukan.
“Buk, aku bukan Talita ya yang bisa Ibu porotin uangnya. Dulu aku memenuhi hidupku dengan uangku sendiri, sekarang aku harus menghidupi kalia. Yang benar saja?” balas Nia dengan suara lantang.
“Aku itu menikah karena ingin hidup mewah dan bahagia. Jadi nyonya, bukan jadi babu. Jadi stop bersikap seperti ini,” bentak Nia lagi.
Berani sekali dia menjawab Ibu begitu, belum genap seminggu dia menjadi istri tapi sudah berani membentak Ibuku.
“Berani sekali kamu Nia membentak Ibuku, bagaimanapun dia juga Ibu mertua kamu,” bentakku pada Nia. Aku mengepalkan kedua tangan dengan kuat. Rasanya emosiku sudah mencapai ubun-ubun. Padahal kami sekarang sedang di dalam masa sulit, seharusnya Nia bisa mengerti.
“Mikir dong, Mas. Aku nikah sama kamu pengen hidup bahagia. Ada yang nafkahin, bukannya malah nafkahin balik,” sela Nia marah-marah. Aku benar-benar tidak menyangka sifat asli Nia seperti ini. Aku baru teringat ucapan Rama tadi, sepertinya dia memang tidak berbohong, aku memang sudah salah pilih istri. Talita, kemana kamu, aku rindu.
“Lihat, Bu. Pilihan Istri dari kalian. Belum seminggu aku menjadikan dia istri. Tapi sikapnya sudah begini. Bagaimana jika sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun,” ucapku pada Ibu dan Kak Mira. Tidak ada jawaban dari mulut mereka. Entah apa yang mereka pikirkan, yang jelas aku yakin mereka berdua sangat menyesal karena sudah menyuruhku menikahi Nia.
“Ibu nggak nyangka jika sikap kamu seperti ini, Nia,” lirih Ini menangis. Mungkin Ibu mereasa sangat menyesali semuanya. Tapi ini sudah terjadi, umpamanya ibarat nasi sudah menjadi bubur. Mau ditambahi kerupuk atau ayam sekalipun. Rasanya tetap tidak enak.
“Seharusnya aku yang menyesal karena sudah menikah dengan orang yang salah. Bahagia nggak susah iya,” gerutu Nia lagi yang semakin menjadi-jadi.
“Aku yang kena sial karena sudah menikah dengan kamu. Gara-gara kamu Talita pergi dari hidupku,” balasku sambil berkacak pinggang.
“Kena sial katamu, Mas? Kamu pikir aku wanita apaan?” marah Nia membalas ucapanku.
“Kamu pikir aku nggak tau kamu wanita apaan?” tanyaku menantang.
“Apa?”
“Kamu itu nggak lebih dari wanita murahan yang aku naikkan derajatnya. Kamu bukan hanya wanita murahan, tapi juga pembunuh,” makiku dengan suara bergetar. Andai aku tau jika dia adalah wanita yang sudah membuat Ibunya Rama meninggal. Tidak sudi rasanya aku menyentuhnya.
“Pembunuh? Maksud kamu apa, Robi?” tanya Ibu terkejut. Bukan hanya Ibu, wajah Nia juga ikut menegang.
“Iya, Bu. Wanita pilihan Ibu ini tidak lebih dari wanita murahan dan pembunuh,” jawabku. Ibu dan Kak Mira menutup mulutnya dengan tangan.
“Jangan asal tuduh kamu, Mas. Ini namanya pencemaran nama baik. Aku bisa saja melaporkan kamu ke kantor polisi,” ancam Nia yang membuatku tertawa kencang.
“Lapor polisi katamu? Silahkan. Aku nggak takut. Sok-sok pencemaran nama baik. Nama kamu itu udah kotor tau, nggak!” sahutku mengejek Nia. Nama baik dari Hongkong. Mana ada wanita baik-baik yang diobral murah ke Om-om.
“Diam kamu, Mas. Kalau memang kamu mau cerain aku sekarang. Aku juga rela,” cebik Nia yang membuatku semakin emosi. Setelah dia datang dan merusak hidupku dengan Talita dengan mudah. Seenaknya saja dia mau pergi dari hidup kami, tidak semudah itu.
“Cerai? Nggak, aku nggak bakalan ngelepasin kamu gitu aja. Kalau kamu mau bebas seperti dulu, kembalikan dulu mahar yang sudah aku kasih,” balasku sambil melipat kedua tangan di depan dada.
“Dasar nggak tau malu kamu, Mas. Enak aja minta mahar balik. Mahar ini tuh milikku,” tolak Nia.
“Dasar wanita murahan,” makiku kesal.
“Atas dasar apa kamu ngehina aku kayak gitu, Mas. Ucapan kamu itu buat aku sakit hati tau nggak!” bentak Nia dengan mata berkaca-kaca. Matanya yang tadi menatap dengan nyalang. Sekarang berubah menjadi mendung. Mungkin dia tidak menyangka jika aku akan tau semua masa lalunya.
“Nggak ada wanita baik-baik yang lari dengan laki-laki lain di hari pernikahannya,” sindirku yang membuat Nia terperanjat kaget.
“Maksud kamu apa, Mas?” tanya Nia.
“Iya, maksud kamu apa, Robi?” tanya Ibu lagi yang menunggu jawaban dariku.
“Dia adalah wanita yang meninggalkan Rama dulu, Bu. Waktu Rama mau menikah,” jelasku pada Ibu dan Kak Mira. Mata mereka membulat saat mengetahui kebenarannya. Tapi semuanya percuma, Talita sudah pergi dan tidak akan kembali lagi padaku.
“Jadi benar kamu wanita itu? Wanita yang dikabarkan lari dengan om-om yang lebih kaya,” gumam Ibu pelan namun masih bisa terdengar. Kejadian ini membuat mataku seolah terbuka. Jika aku sudah salah mengambil langkah untuk menikahi Nia. Padahal Talita jauh lebih berharga dibandingkan wanita ini.
“Baguslah kalau kamu sudah tau, Mas. Itu berarti aku tidak harus menceritakan semuanya pada kalian,” jawab Nia santai. Dia malah memilih duduk di sofa dengan menyandarkan punggungnya. Lama-lama aku jengah menghadapi sikapnya. Tapi aku tidak akan semudah itu menceraikannya. Setidaknya aku punya tempat untuk melampiaskan nafsuku.
“Kurang ajar kamu, Nia. Selama ini sikap lembut dan baik itu cuma akting,” bentak Ibu sambil memegang dada dengan kedua tangannya. Nia hanya tersenyum mendengar amarah Ibu.
“Ibu tenang, jangan emosi. Tenang, Bu,” ucapku berusaha menenangkan Ibu yang sedang kalut. Tidak lama setelah itu Ibu kembali pingsan. Tapi tidak ada gurat khawatir sedikit pun yang ditujukan oleh Nia. Dia tetap duduk dengan santai, bahkan dia menyungging senyum sinis meremehkan. Ini namanya membuang berlian demi batu kerikil dijalanan.
