kembali miskin
Miskin Setelah Bercerai
Part 4
Pasti mereka akan sangat terpukul dengan semua kejadian yang menimpaku sekarang. Sebaiknya aku segera ke rumah sakit, untuk memastikan keadaan Ibunya Mas Robi. Setelah mengganti baju, aku kembali merapikan riasan wajah seadanya. Kemudian bergegas keluar dari salon setelah membayar semuanya pada kasir.
****
Aku bergegas ke rumah sakit tempat Ibunya Mas Robi dirawat, kata Mang Asep Ibu sudah siuman.
Aku melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Tidak lupa aku memakai masker agar kulit wajahku yang masih merah ini tidak terpapar sinar matahari langsung.
Ketika sampai di tempat parkiran, aku melihat Mas Robi dan Kak Mira sedang berjalan ke dalam. Pasti ibyu sudah menelepon mereka dan menceritakan yang bukan-bukan, tapi kemana menantu kesayangannya itu, apa mungkin dia sudah kabur karena tau Mas Robi bakalan jatuh miskin.
Ketika sampai di depan ruangan Ibu dirawat aku mendengar Kak Mira bicara. Segera aku mengehentikan langkah, agar bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.
“Kamu lihat sendiri kan Robi, ini ulah istri kamu yang mandul itu. Udah bagus nggak dicerai, masih aja buat ulah. Emang ngapain sih Ibuk kesana?” tanya Kak Mira ke Ibu. Aku sengaja tidak masuk dulu, aku ingin mendengar semuanya.
Ternyata Kak Mira sangat sering mengatai aku mandul. Ada rasa sakit yang tidak bisa aku jelaskan di dalam sini ketika kata mandul itu disematkan padaku. Perempuan mana yang tidak ingin hamil dan punya anak. Hanya saja rejeki itu belum diberikan oleh Tuhan padaku.
“Ibu itu kesana mau melabrak Talita, enak saja dia ingin menikmati hartanya sendirian. Sedangkan Robi tidak dapat apa-apa,” sahut ibu. Ternyata ini tujuan Ibu datang ke rumah. Untung saja aku tidak di rumah, kalau tidak aku akan sangat kesusahan menghadapi mulut Ibu yang pedas.
Belum lagi jika dia datang sambil marah-marah tapi meminta uang padaku. Alasannya untuk kuliah Rina, tentu saja otakku masih waras.
“Kan Robi udah bilang, biar semua ini aku yang urus. Ini rumah tanggaku, Bu. Sekarang lebih baik kita pulang saja ya. Ibu nggak usah dirawat, Robi nggak ada uang pegangan lagi,” ujar Mas Robi lesu. Aku tersenyum mendengar percakapan mereka. Belum apa-apa Mas sudah tidak punya uang lagi.
Seandainya saja dia bisa lebih sabar, aku yakin dia tidak akan kehilangan semua ini. Siapa yang tidak menginginkan anak, semua orang yang sudah menikah juga memiliki keinginan seperti itu. Hanya saja kita perlu bersabar.
“Kamu lihat kan adikmu ini, dia terlalu bodoh. Bisa-bisanya dia membuat surat perjanjian sebelum menikah, mana isinya merugikan kamu kan sekarang,” maki Ibu. Berarti Mas Robi sudah cerita semuanya ke Ibu, baguslah.
“Dan satu lagi yang ingin Ibu tanyakan Robi, apa benar kamu membuat perjanjian dengan Talita bahwa kamu tidak akan memberikan Ibu uang lagi?” tanya Ibu penuh penekanan. Mati kamu Mas, sungguh indah hari ini. Perjanjian yang aku tawarkan ketika bertemu Mas Robi dan Nia di restoran hotel. Tapi setelah itu, tidak ada kabar apapun dari mereka.
“Ya nggak lah Bu, Robi hanya mengiyakan saja dulu apa mau Talita, agar dia mau menandatangani surat ijin menikahi Nia. Setelah itu semua akan kembali seperti biasa, Ibu tenang aja semua sudah Robi atur,” jelas Mas Robi. Jadi begitu Mas, kamu hanya ingin mempermainkan aku saja. Baiklah, mari kita bermain-main Mas.
“Talita juga bilang kalau rumah Ibu akan dijual lagi karena dia butuh tambahan modal, kamu tau kan Ibu nggak mau lagi kembali kerumah kontrakan kumuh. Mau beli rumah lagi pun udah nggak mungkin, uang simpanan Ibu habis buat acara resepsi kamu dan Nia kemarin,” ujar Ibu sedih.
Ternyata aku tidak selambat yang dibayangkan. Uangnya masih aman di rekening. Mereka juga tidak punya cukup uang lagi untuk hidil mewah seperti dulu.
“Apa Bu, jadi Talita benar-benar mau merebut semua harta bersama. Dan kamu Robi masih diam aja?” tanya Kak Mira penuh dengan amarah. Suka sekali dia ikut campur urusan rumah tanggaku, entah sudah benar saja rumah tangganya sendiri.
“Ibu nggak mau tau ya Robi, pokoknya kamu harus mendapatkan bagian kamu. Kalau perlu semuanya harus jatuh ke tangan kamu, biar perempuan itu miskin lagi,” tegas Ibu mertua. Mungkin dia lupa siapa yang sudah memberikan modal agar anaknya bisa seperti sekarang.
Tidak ingin berlama-lama lagi mendengar ocehan mereka. Aku memilih berlalu pergi dari sana. Jika terlalu lama aku mendengar obrolan mereka, yang ada darah tinggiku kumat. Tega sekali kamu, Mas. Demi menikahi perempuan itu kamu rela menyakitiku sejauh ini.
Apa kamu tidak ingat bagaimana perjuangan kita duku saat masih di bawah. Aku bahkan rela memakai beberapa baju yang sudah robek di beberapa bagian. Demi masa depan yang indah, tapi nyatanya kekayaan membuatku kamu salah langkah.
*
“Jadi sudah sampai mana rencananya kamu jalankan?” tanya Rama ketika kami bertemu di cafe dekat dengan hotel yang kutempati. Sengaja mengajak dia bertemu, aku ingin memastikan apakah berkas yang kuminta sudah siap.
“Aman pokoknya, sebenarnya aku penasaran kenapa kamu malah memihakku. Padahal kamu adalah sahabatnya Mas Robi,” tanyaku penasaran. Karena mereka sudah bersahabat sejak sebelum aku mengenal Mas Robi, bahkan sebulan sebelumnya mereka berencana akan membuat bisnis baru.
“Biarlah ini menjadi urusanku dan Robi, kamu nggak harus tau urusan lelaki,” jawabnya santai. Jujur sebenarnya aku penasaran, tapi jika itu masalah pribadi yasudah aku tidak akan ikut campur.
“Oh iya ini berkas yang kamu suruh, sekarang semua asetnya sudah berbalik jadi nama kamu,” sambung Rama. Dia memang teman sekaligus pengacara yang bisa diandalkan. Tapi aku tetap tidak boleh percaya sepenuhnya, karena bagaimanapun mereka bersahabat sejak dulu. Rama pasti punya rencananya sendiri, tidak mungkin dia mau membantuku cuma-cuma.
Hati orang siapa yang tau, Mas Robi yang sudah aku kenal bertahun-tahun saja bisa berubah. Dia bahkan menyakiti hatiku lebih dari sakit apapun.
“Makasih untuk semuanya, aku nggak tau gimana jadinya kalau kamu nggak ngasih tau aku Mas Robi nikah lagi,” ucapku tulus.
“Sama-sama Ta, kemarin Robi sempat nelpon aku tapi nggak aku angkat. Terus dia kirim pesan kalau dia lagi butuh uang buat bayar rumah sakit Ibunya.” Sebegitu miskinkah mereka sekarang, kemana uang yang dulu sering ku transfer untuk Ibu. Padahal jika diingat-ingat, aku malah banyak memenuhi kebutuhan Ibunya Mas Robi daripada Ibuku sendiri.
Mungkin selama ini mereka sangat boros, karena mereka berpikir ada ATM berjalan setiap hari. Aku kembali merutuki kebodohan selama ini. Bagaimana bisa aku tertipu dengan tampang polos Mas Robi.
“Masak sih, padahal kan baru beberapa hari aku blokir ATM nya?” tanyaku lagi memastikan.
“Iya, beneran. Aku pikir dia nelpon buat marah-marah karena aku sudah memberitahu kamu kalau dia menikah lagi,” jawab Rama sambil sedikit tertawa.
Dengan bertemu Rama, kegundahan hatiku sedikit terobati. Selama ini banyak sekali beban yang aku tanggung sendiri. Tidak ada tempat berbagi, membuatku menjadi sedikit stress dan sakit kepala.
“Kalau gitu aku balik dulu Ram, aku ada kerjaan soalnya,” pamitku. Padahal tidak ada rencana apapun, aku hanya ingin pulang dan beristirahat. Sebenarnya bukan tubuhku yang terasa lelah. Tapi pikiranku yang terasa sangat berat. Aku butuh istirahat dan waktu untuk sendiri.
“Perlu aku antar,” tawar Rama yang juga ikut bangkit dari duduknya.
“Nggak usah, dekat kok.” Aku menolak halus tawaran Rama untuk mengantarkan aku pulang. Bagaimanapun aku masih menjadi istri sahnya Mas Robi. Aku tidak ingin jika nanti malah Mas Robi yang menuduhku berselingkuh di belakangnya.
Saat sampai di Lobi hotel, aku melihat Mas Robi sepertinya sedang menungguku. Padahal aku ingin sekali bisa istirahat dengan tenang tanpa gangguan dari mereka semua.
“Darimana saja kamu,” cecar Mas Robi saat melihatku berjalan masuk hotel tanpa menegurnya.
“Aku ada urusan, kenapa kesini?” tanyaku balik. Setiap kali melihat wajahnya, ingin rasanya aku kembali menangis. Sangat sakit sekali rasanya diduakan dengan alasan apapun. Apalagi aku di duakan karena alasan ingin punya anak.
“Ingat Talita, aku ini masih suami kamu. Kamu nggak dong pergi seenaknya tanpa pamit. Kunci rumah juga kamu ganti, kamu nggak bisa seenaknya begini,” bentak Mas Robi emosi. Dia memegang kedua bahuku dengan kasar, seakan-akan disini akulah tersangkanya.
“Yang seenaknya itu sebenarnya siapa sih Mas, aku atau kamu? Aku udah cukup bertahan dalam pernikahan kita walaupun Ibu kamu tidak suka sama aku, tapi aku tidak bisa bertahan kalau kamu nikah lagi,” tukasku sambil melepaskan pegangan kedua tangannya. Tidak sudi rasanya aku disentuh dengan tangan kotor seperti dia. Tangan itu pasti sudah mejamah setiap inci tubuh wanita itu.
“Oke aku terima syarat kemarin yang kamu tawarkan, tapi aku mau kamu sekarang pulang kerumah,” ucapnya kemudian. Aku tersenyum mendengar penuturannya barusan. Andai saja aku tidak ke rumah sakit tadi. Aku akan percaya begitu saja jika Mas Robi sudah menerima tawaranku kemarin. Padahal nyatanya dia hanya ingin menuruti permintaanku sebentar saja. Demi tanda tangan agar aku mengijinkan dia menikah lagi.
“Tanpa kamu suruh pun aku akan pulang.” Akupun berlalu pergi ke kamar hotel tanpa memperdulikan ocehan dia lagi. Hari ini memang rencananya aku akan kembali kerumah, sudah cukup aku mengurung diri.
*
Saat tiba di depan rumah aku sudah melihat Mas Robi dan wanita itu di depan pagar, aku juga melihat dua buah koper besar yang berarti mereka akan tinggal disini bersamaku. Tanpa memperdulikan mereka aku langsung masuk kedalam garasi untuk memarkirkan mobil, lalu aku membuka bagasi untuk mengambil beberapa tas.
Aku tidak bicara sepatah katapun dengan mereka, membuka pintu rumah dan membawa beberapa tas pakaian.
“Kamu udah pulang, Sayang. Sini biar Mas saja yang bawa tasnya ke dalam,” ucap Mas Robi menawarkan diri untuk membantuku. Dia mengambil beberapa tas pakaianku, dan membawanya ke dalam kamar.
“Kok pulang sih, Mbak?” tanya Nia sambil menatapku sinis. Apa dia tanya barusan, tidak sadar jika pertanyaan dia bisa membuat mereka kembali terusir dari rumah ini.
“Memangnya kenapa kalau saya pulang?” tanyaku balik.
“Ya seharusnya kan nggak usah pulang sekalian. Biar Mas Robi dan aku bisa hidup bahagia tanpa gangguan,” jawabnya sambil tersenyum sinis.
“Oh ya? Kamu mau hidup tanpa gangguan?” tanyaku sambil berjalan pelan ke arahnya yang sedang berdiri di samping sofa.
“Mau apa, Mbak? Jangan macam-macam, nanti aku lapor sama Mas Robi,” tanyanya gagap. Belum juga aku bungkam mulutnya yang lemas itu. Dia sudah takut sendiri melihatku.
“Teriak aja. Coba teriak, kamu ini modal daging satu ons aja belagu,” ejekku yang semakin membuat dia marah.
“Jaga mulut, Mbak ya. Aku itu nikah sama Mas Robi atas dasar cinta,” sungutnya sambil melangkah mundur ke belakang.
“Oh ya? Baguslah. Karena setelah ini Mas Robi akan jatuh miskin lagi,” ucapku santai. Jarakku dengannya hanya tinggal beberapa senti lagi. Bahkan kini aku bisa melihat dengan jelas bagaimana wajah perempuan yang sudah merebut suamiku.
“Mas, tolongin aku, Mas!” teriak Nia ketakutan. Aku tertawa melihat tingkahnya yang sok manja pada Mas Robi.
“Kenapa, Sayang. Kenapa?” tanya Mas Robi sambil keluar tergopoh-gopoh dari kamar. Miris sekali, dia sangat perhatian dengan wanita yang sudah menjadi istri keduanya ini.
“Ini, Mas. Mbak Talita mau nyekek aku,” adunya sambil menangis. Lihatlah betapa pintar akting mereka. Padahal aku sama sekali tidak melakukan tindakan apapun. Beginikah cara dia untuk mendapatkan hati Mas Robi. Licik.
“Talita, kamu kenapa sih? Jangan begitu sama, Nia. Bagaimanapun sekarang istri, Mas,” bela Mas Robi menatapku. Nia tersenyum puas melihat Mas Robi memarahiku. Hatiku, tentu saja sangat sakit. Sakit sekali.
“Bilang sama gundikmu ini. Jika ingin tinggal di sini. Tolong hargai aku, dia hanya numpang di sini,” ucapku pada Mas Robi. Setelah itu aku langsung berlalu pergi meninggalkan dua manusia yang sudah memporak-porandakan hatiku.
Aku memilih untuk berganti pakaian dengan baju tidur. Sengaja pintu kamar aku kunci, biar Mas Robi tidak masuk dan mengganggu tidurku. Saat akan terlelap aku mendengar suara dikamar sebelah, apakah Mas Robi mau menempatkan wanita itu dikamar sebelah. Benar-benar s*tan kamu Mas, apa dia mau membuat aku marah dengan mendengar des*han mereka tiap malam.
Aku pun langsung melangkah keluar ingin memastikan, benar saja kini kulihat Mas Robi sedang membantu gundiknya membereskan pakaian.
“Kalian akan menempati kamar ini?” tanyaku seraya masuk kedalam kamar. Terlihat Mas Robi sedang berdiri di depan lemari pakaian. Sedangkan wanita itu memberikan pakaiannya pada Mas Robi.
“Iya, Cuma kamar ini yang ada AC nya,” sahut Mas Robi tanpa menoleh ke arahku.
“Nggak bisa, kamar ini nanti akan ditempati Ibu jika sewaktu-waktu kesini,” aku langsung masuk dan melemparkan koper wanita itu keluar kamar.
Plak
Pipiku rasanya perih, tanpa kusadari air mataku jatuh, Mas Robi menampar wajahku. Tiga tahun menikah baru hari ini Mas Robi tega menamparku, rasanya aku sudah tidak mengenal lagi laki-laki di depanku ini. Dadaku bergemuruh hebat, dimana rasa sayang dan cintanya yang dulu hanya untukku. Kenapa sekarang dengan mudahnya Mas Robi mematahkan hatiku berulang kali.
“Nia ini juga istriku Talita, jadi dia berhak menempati kamar mana saja dirumah ini,” bentak Mas Robi. Nia tersenyum puas saat melihat Mas Robi menamparku demi membelanya.
“Kalau begitu, sekarang juga kalian keluar dari rumahku. Karena semenjak kamu memilih untuk menikah lagi, sejak itu pula semuanya jatuh ke tanganku,” tegasku. Tidak ada wanita yang sanggup duduk dalam satu rumah dengan madunya sendiri. Aku tidak sekuat itu.
“Nggak ada yang akan keluar dari rumah ini, ini rumahku. Jika kamu ingin aku keluar dari sini, maka kamu bermimpi,” seringai Mas Robi. Dia begitu arogan, dia tidak tau jika aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku akan menjual rumah ini, karena sertifikat rumah ini memang atas namaku. Tunggu saja, Mas.
“Kamu tidak bisa mengusirku dari sini Talita, aku sudah cukup menuruti perintah kamu selama ini. Menjadi suami yang patuh, benar kata Ibuku selain mandul kamu juga keras kepala,” geram Mas Robi. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat, aku tidak menyangka kata-kata itu keluar dari mulutnya.
Aku lihat wanita itu tersenyum mengejek, dia pikir telah menang seutuhnya dariku. Baiklah ayo kita bermain.
“Baik Mas, aku yang pergi.” Aku langsung ke kamar mengambil kunci mobil dan tas. Untunglah semua berkas penting sudah aku simpan di tempat yang aman.
Saat didalam mobil aku langsung mengambil ponsel dari dalam tas dan menghubungi seseorang.
“Halo Pak Hasan, saya mau mengabarkan jika saya jadi menjual dua unit rumah.” Pak Hasan adalah manajer perusahaan properti, dia juga yang akan membeli rumahku ini dan rumah Ibunya Mas Robi.
Silahkan kalian tidur dijalan Mas.
