POV Robi 3
Miskin Setelah Bercerai
Part 7
Pov Robi
“Ibu tenang, jangan emosi. Tenang, Bu,” ucapku berusaha menenangkan Ibu yang sedang kalut. Tidak lama setelah itu Ibu kembali pingsan. Tapi tidak ada gurat khawatir sedikit pun yang ditujukan oleh Nia. Dia tetap duduk dengan santai, bahkan dia menyungging senyum sinis meremehkan. Ini namanya membuang berlian demi batu kerikil dijalanan.
Semenjak kejadian kemarin hidupku semakin tidak jelas kemana arahnya, harusnya sekarang aku bisa dengan santai mau bangun jam berapa mau tidur lagi jam berapa. Harusnya juga sekarang aku bisa dengan bebas memakai uangku buat apa saja yang aku inginkan. Aku sangat menyesal telah mengambil keputusan yang salah dengan menikahi Nia simpanan om-om dengan mengkhianati Talita yang menemaniku dari nol.
Aku sudah ke sana kemari mencari Talita, tapi nihil, jejaknya tidak aku temui. Bahkan nomornya sudah dia ganti, aku juga sudah ke rumah Ibunya tapi kata tetangga rumahnya sudah dijual. Semua aset yang kami mulai dari nol pun sudah dia jual, beberapa restoran yang kami kelola bersama dulu juga dia jual kepada saingan bisnis kami dulu. Jujur aku sangat kecewa dengan sikapnya, bukankah dia ingin hidup denganku sampai JannahNya. Tapi kenapa dia meninggalkan aku, Ibu hanya menginginkan seorang cucu. Salahkah itu?
Saat ini kami tinggal dikontrakkan sempit dengan dua kamar tidur, satu dapur dan kamar mandi. Sungguh tempat ini mengingatkan aku dengan Talita yang dengan sabar menerima uang bulanan yang sangat sedikit. Belum lagi Ibu selalu minta dikirimkan uang, caciannya kepada Talita pun tak luput saat dia datang berkunjung. Berbeda dengan Nia sekarang, dia sangat pembangkang. Bahkan dia berani menerima telepon dari om-om langganannya di depanku.
“Robi, mau sampai kapan kamu terus terpuruk begini,” tanya Ibu yang tiba-tiba datang saat aku sedang duduk di teras rumah. Aku malas menanggapinya, karena aku menganggap semua ini juga karena Ibu yang terus merongrongku agar menikah lagi.
“Ibu itu udah capek gini terus, mana rumahnya sempit, panas lagi. Belum lagi Nia istrimu yang nyuruh ini itu,” keluh Ibu. Ini bukan kali pertama Ibu mengeluh, aku sudah terbiasa mendengarnya. Bukannya aku tidak ingin mencari kerja, tapi semangatku sudah tidak ada lagi. Aku bingung harus memulainya dari mana.
Sebenarnya jika aku melamar pekerjaan lagi sebagai koki di restoran biasa. Mungkin aku akan diterima, apalagi aku mempunyai beberapa teman yang memiliki restoran juga. Tapi aku terlanjur malu dan gengsi. Apalagi seluruh karyawanku dulu juga mengetahui penyebab aku miskin lagi.
“Jadi aku harus apa, Bu? Bukankah Nia wanita pilihan, Ibu!” jawabku kesal.
“Itu dulu sebelum Ibu tau sifat aslinya, dia itu nggak jauh beda sama si Talita yang rakus itu,” gerutu Ibu sambil mencebikkan mulutnya. Penampilan Ibu sangat berubah drastis. Jika dulu dia memakai baju-baju mewah. Sekarang penampilan Ibu kembali lagi seperti sebelum aku menikah dengan Talita.
“Ibu jangan samakan Nia dengan Talita. Mereka sangat jauh berbeda. Lihat penampilan Ibu sekarang, baju lusuh tidak terurus. Jika Talita yang masih menjadi menantu, Ibu. Pasti tidak akan begini jadinya,” belaku. Entah mengapa tiba-tiba aku sangat marah jika Ibu menyamakan Nia dengan Talita. Karena aku tahu Talita itu perempuan cerdas juga terhormat. Bukan seperti Nia yang tubuhnya sudah dicicipi semua laki-laki.
“Bela saja terus wanita rakus itu. Kalau bukan karena dia yang mengambil semua harta kita. Hidup kita nggak akan sekarat seperti sekarang,” sungut Ibu kesal.
“Ini juga salah, Ibu dan Kak Mira. Seandainya Ibu nggak maksa aku buat nikah. Pasti aku masih jadi orang kaya sampe sekarang,” balasku tidak mau kalah.
“Ibu itu Cuma butuh cucu. Kamu aja yang jadi suami lembek. Semua harta diserahkan sama istri. Andai kamu tegas kan nggak gini jadinya,” bentak Ibu lagi.
Lebih baik memang aku diam saja, percuma berdebat dengan Ibu. Aku tidak akan menang. Aku sangat tau sifat Ibu, dia tidak akan mau kalah jika berdebat dengan orang lain. Walaupun yang salah adalah dia sendiri.
“Buk, bajuku udah disetrika belum.” Teriak Nia dari dalam kamar. Yang membuat aku dan Ibu berhenti bertengkar.
“Heran hobinya kok teriak-teriak,” cebik Ibu yang segera bangun untuk menyetrika baju Nia. Pasti dia mau kelayapan lagi sama om-om langganannya.
“Aku dengar ya semua yang kalian omongin tadi, awas aja nggak aku kasih makan baru tau.” Teriak Nia lagi, aku memang sudah tidak berguna jadi suami. Makan saja dikasih istri, andai uangku masih ada. Aku rindu jadi orang kaya lagi, batinku menjerit.
“Bisa nggak sih nyetrikanya yang bener, bisa rusak semua baju aku kalau Ibu nggak becus ngerjainnya,” bentak Nia. Ah aku sudah tidak tahan melihat sikap dia yang semena-mena dengan Ibu. Mentang-mentang dia yang mencari uang sekarang, dia malah memperlakukan Ibu seperti pembantu. Aku segera bangkit dari duduk, berjalan menuju kamar tempat Nia dan Ibu berada.
“Cukup, kamu jangan semena-mena ya dengan Ibuk. Walau gimanapun dia mertua kamu, dan aku suami yang harus kamu hormati,” bentakku kesal. Dia sama sekali tidak menghormati Ibu. Semenjak tau jika aku tidak lagi kaya dan memiliki harta. Nia semakin menjadi-jadi, apalagi sekarang dia yang mencari uang untuk makan kami semua. Entah apa yang dia lakukan untuk mendapatkan uang. Yang jelas aku dan Ibu tidak lapar.
“Menghormati katamu, Mas? Coba katakan dari segi mana aku harus menghormati kamu,” tanya Nia dengan senyuman meremehkan. Aku yang kalut dan terbawa emosi dengan sigap menampar pipinya.
Plak.
Nia terkejut tidak menyangka aku akan menamparnya, dia memegang pipi dengan tangan sambil menahan amarah. Ibu yang dari tadi diam juga sangat terkejut karena tamparan itu. Mungkin Ibu juga tidak menyangka jika aku bisa setega itu pada Nia. Kesabaranku sudah hilang melihat Nia selalu membentak Ibu. Lagian dia sangat sering meremehkan aku.
Memang selama ini aku tidak lagi bekerja, itu juga karena dia. Seandainya dia tidak mau dijodohkan denganku. Pasti saat ini aku masih bahagia dengan Talita.
“Berani kamu, Mas nampar aku.amu mau tau rasanya sakit ditampar,” teriak Nia.
Plak.
Aku yang berpikir dia akan menampar pipiku segera menghindar, tetapi sayang tamparannya bukan ditujukan kepadaku, melainkan pada Ibu yang tengah berdiri di antara kami. Ibu yang tidak menyangka, langsung tersungkur ke lantai akibat tamparan Nia.
“Ibuk,” panggilku, sudut bibir Ibu mengeluarkan darah. Kurang ajar kamu Nia, akan kubun*h kamu. Aku yang tidak bisa lagi mengontrol emosi dengan cepat menarik rambut Nia, dan kubenturkan kepalanya didinding. Aku kalap sampai tidak menyadari jika Nia telah pingsan dengan lumuran darah di kepalanya.
“Sudah Robi, kamu mau masuk penjara,” cegah Ibu kemudian. Aku baru sadar jika aku tidak mau menghabiskan waktu di penjara. Aku segera memopong tubuh Nia ke kamar, Ibu juga segera mengobati luka di kepalanya.
“Gimana, Buk?” tanyaku saat melihat Ibu membersihkan luka Nia. Dia masih pingsan dan tidak sadarkan diri. Kepalanya yang tadi masih berdarah, sekarang sudah bersih. Hanya tinggal sisanya sedikit lagi.
“Sepertinya bisa diobati dirumah aja, kita tunggu dia siuman aja,” jawab Ibu lesu. Syukurlah jika Nia tidak apa-apa, aku juga tidak punya uang untuk membawa dia ke rumah sakit. Lagian salah sendiri, siapa suruh dia menampar Ibu. Seumur menjadi menantu, jangankan menampar Ibu. Talita bahkan tidak pernah membantah perkataan Ibu.
Semoga ini bisa menjadi pelajaran untuk Nia ke depannya. Aku tidak ingin dia melakukan apapun seenaknya sendiri. Karena di sini aku masih menjadi suaminya, dia harus menghormatiku. Walaupun aku tidak bisa memberikannya nafkah yang cukup.
“Aku mau keluar dulu ya, Buk,” pamitku pada Ibu yang masih mengelap luka di kepala Nia.
“Kamu mau ke mana?” tanya Ibu sambil menoleh kearahku.
“Aku mau cari kerja, Bu. Doain aku ya,” jawabku sambil melangkah keluar dari kamar.
Aku ingin mencari pekerjaan, terserah itu apa yang penting kami bisa makan dulu. Di dekat sini ada restoran baru yang tempatnya sangat strategis jadi pelanggannya rame, aku akan ke sana. Siapa tau mereka butuh koki baru untuk masakan mereka.
Jika aku kembali bekerja di kantoran seperti dulu awal menikah dengan Talita. Rasanya tidak mungkin, karena sekarang semua kebutuhan sedang naik. Uang satu juta tidak berarti apalagi sekarang. Saat sudah sampai di depan restoran. Aku berhenti sebentar.
Melihat banyak sekali pengunjung di cafe ini. Aku jadi teringat dengan restoran milikku. Cafe ini memiliki nuansa pedesaan namun masih cocok dengan style anak muda sekarang.
Mataku menyapu tiap detil dari keseluruhan cafe ini. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk bertanya terlebih dahulu.
“Permisi, Mbak. Di sini butuh karyawan baru nggak?” tanyaku ketika bertemu dengan salah satu pelayan yang ada di sini. Mereka terlihat cukup sibuk, karena banyak sekali pengunjung yang datang. Cafe ini terbilang ramai untuk cafe yang baru buka. Tempat di sini pun terbilang sangat nyaman. Makanya banyak pengunjung yang datang.
Sebenarnya aku sangat malu jika harus bertanya-tanya seperti ini. Dunia cepat sekali berputar. Dulu aku yang ditanyai begitu oleh orang-orang. Mereka datang untuk meminta pekerjaan dariku. Tapi sekarang lihatlah, aku yang berada di posisi mereka. Nasibku setelah Talita pergi sangat buruk.
“Kayaknya nggak deh, Mas. Tapi untuk jelasnya lebih baik langsung nanya ke atasan kami, itu yang baju biru orangnya,” jelas wanita itu dengan menunjukkan seseorang yang sedang memainkan ponselnya di meja sudut ruangan.
“Makasih ya, Mbak,” aku segera menuju ke meja yang katanya atasan tadi.
“Permisi Pak, maaf sebelumnya restoran ini butuh karyawan nggak ya?” tanyaku hati-hati, takut ditolak.
Dia memperhatikanku dari atas sampai bawah, akupun risih karena memang saat ini baju yang kukenakan agak lusuh. Ini karena saat pindah ke kontrakan, aku tidak memiliki lemari untuk menyimpan baju dan celana. Makanya Nia selalu menyuruhku Ibu menyetrika bajunya ketika akan pergi.
“Emangnya kamu bisa apa?” tanyanya, kemudian kembali sibuk dengan gawai yang sedang dipegangnya. Begikah rasanya meminta pekerjaan pada orang lain. Selama ini aku juga sering mengabaikan beberapa orang yang meminta pekerjaan dariku. Aku malah kadang tidak memperdulikan apa yang mereka katakan. Karena dalam pikiranku apa yang mereka bilang itu tidak penting dan tidak berguna.
“Saya bisa memasak, Pak. Saya yakin masakan saya pas di lidah pengunjung disini,” ucapku yakin. Karena dulu ketika masih mengelola restoran bersama dengan Talita aku memang menjadi koki di restoran sendiri. Aku harus bisa meyakinkan dia jika aku memang pantas diterima kerja di sini.
Sebenarnya aku sangat ingin sekali memperkenalkan diri pada dia. Jika dulunya aku adalah pemilik restoran ternama juga. Hanya saja urung aku lakukan. Karena mengingat alasan kenapa aku sekarang sangat miskin seperti ini. Tidak mungkin aku mengatakan jika aku menikah lagi dan semua harta kami dibawa oleh Istri pertama. Yang ada malah aku membuka aib sendiri.
“Oke baik, kebetulan kami memang butuh koki tambahan. Tapi kamu harus ikut training dulu selama seminggu, gimana?” tawarnya. Lebih baik aku terima saja dulu, daripada jadi pengangguran. Mending ini training seminggu, daripada sebulan.
“Siap, Pak. Jadi kapan saya boleh bekerja,” tanyaku lagi. Aku sangat senang karena bisa diterima kerja di sini. Semoga dengan bekerja di sini, kehidupanku dan Ibu berubah menjadi lebih baik dari kemarin.
“Kamu bisa memulainya hari ini, sekarang kamu bisa ganti baju diruang ganti karyawan,” perintah Pak Ali yang namanya kuketahui dari pelayan lain.
Menjadi koki di restoran orang sungguh sangat melelahkan, tenagaku terkuras habis hari ini. Jam menunjukkan pukul dua belas malam, sebaiknya aku membeli sedikit makanan untuk Ibu dan Nia di rumah. Lumayan kerja dari pagi sampai tengah malam dapat gaji tiga ratus ribu.
Walaupun Pak Ali tadi mengatakan jika aku harus menjalani masa training. Tapi untuk gaji harian, aku tetap bisa menerimanya. Syukur, aku senang sekali karena ternyata Pak Ali sangat menyukai masakanku.
Setelah membeli makanan aku langsung pulang ke rumah, aku juga membeli obat merah untuk luka di kepala Nia. Semoga dia juga baik-baik saja. Supaya kami bisa mencari uang sama-sama. Jadi uangku bisa ditabung. Sedangkan uang Nia untuk kebutuhan sehari-hari.
“Assalamualaikum, Bu.” Aku memberi salam tapi tidak ada jawaban dari dalam.
Pintu rumah juga tidak dikunci, ke mana Ibu dan Nia.
“Buk, Nia….” Teriakku lagi. Beberapa kali sudah aku ketuk pintu, tapi tidak ada jawaban apapun dari dalam.
Kemana mereka, bukankah sekarang Nia sedang sakit. Aku memutuskan langsung masuk ke dalam rumah. Karena kebetulan rumahnya tidak dikunci. Apa Ibu dan Nia sudah tidur ya.
Samar aku mendengar suara Ibu yang sedang menangis dikamar, aku segera ke kamar Ibu.
“Ibuk, kok nangis,” tanyaku ketika sudah di depan kamar Ibu. Aku berdiri di ambang pintu, melihat Ibu yang sedang menangis sesenggukan. Bahunya sampai terguncang karena menangis. Hatiku patah melihat pemandangan ini.
“Ibu udah nggak tahan, Ibu nggak tahan hidup menderita kayak gini. Ibu pengen shoping, ibu juga pengen ke salon kayak dulu. Belum lagi Rina minta dikirimkan uang, mau dapat dari mana kita uang untuk kuliah dia. Makan aja susah,” Ibu menangis tergugu dengan memegang dadanya. Ternyata bukan hanya aku yang merasakan penderitaan ini. Karena kesalahan yang kecil, membuat seluruh anggota keluargaku menderita.
Terutama Ibu, dia harus memikirkan bagaimana caranya agar Rina bisa kuliah sampai tamat. Sedangkan Kak Mira, dia sudah pindah dengan suaminya ke kontrakan. Tidak jauh dari sini memang, tapi lebih baik begitu. Pisah rumah, karena aku juga tidak bisa lagi menanggung biaya hidup mereka semua.
Saatnya Kak Mira dan suaminya belajar bekerja keras. Karena selama ini Talita selalu memberikan mereka uang yang banyak. Ah, sial. Padahal aku menikah lagi ingin rasa bahagiaku lengkap. Memilik uang banyak, istri cantik dan baik dan juga anak-anak yang banyak. Ternyata semuanya zonk. Tidak ada satu pun yang bisa aku dapatkan sekarang.
“Aku udah dapat kerjaan sekarang, Bu. Ya walaupun gajinya nggak besar tapi cukup kok untuk kita makan,” ucapku berusaha menghibur Ibu yang sedang pilu. Walaupun sebenarnya hatiku jauh lebih hancur dari Ibu. Tapi aku harus tetap terlihat kuat dan tangguh di depan Ibu. Padahal tengah malam aku selalu terjaga, memikirkan liku kehidupan yang keras. Hidupku betul-betul linglung tanpa Talita, sungguh aku sangat merindukan sosoknya meskipun diselimuti oleh kebencian.
Dulu, dia selalu mensupport apapun usaha yang aku lakukan. Dia tidak pernah mengeluh dengan semua kekuranganku. Dan saat kami sudah bangkit pun, dia tidak pernah membangkang. Dia tetap menjadi istri yang penurut dan baik hati. Makanya aku sama sekali tidak menyangka jika dia bisa berbuat sekejam ini. Aku seperti tidak mengenal lagi sosoknya yang sekarang.
“Kamu pikir dengan gaji yang nggak seberapa itu cukup buat Ibu senang-senang? Belum lagi istrimu itu katanya akan mengusir kita dari rumah ini,”sungut Ibu kesal. Aku hanya bisa terdiam saat Ibu membentakku seperti ini. Tanggis Ibu semakin menjadi. Kenapa susah sekali hidup bahagia setelah berpisah dari Talita.
“Aku udah beli makanan, sekarang kita makan yuk,” ajakku agar Ibu makan, dia pasti belum makan dari pagi. Aku sengaja mengalihkan pembicaraan kami. Agar Ibu tidak terlalu larut dalam kesedihan yang mendalam. Padahal Ibu sudah tua, sudah patut dia bahagia. Tapi aku menghadirkan semuanya dalam sekejap.
“Oh ya, Bu. Mana Nia?” tanyaku lagi. Melihat Ibu yang tidak menjawab apa-apa. Aku jadi semakin gelisah. Apalagi dari tadi aku tidak melihat Nia. Apa dia sudah sadar atau belum.
“Udah pergi, katanya kalau dia pulang kita masih di sini, dia mengancam akan melaporkan kita ke polisi,” sahut Ibu dengan suara bergetar. Belum juga habis masalah satu, timbul masalah lain lagi.
“Yaudah kita makan dulu, nanti biar aku ngomong dan minta maaf sama dia,” jawabku yang berusaha kembali membujuk Ibu agar mau makan. Aku tau Ibu belum makan nasi dari tadi.
Ibu menganggukkan kepalanya tanda setuju. Kemudian berjalan ke dapur untuk mengambil piring kosong dan sendok, juga air. Aku membelikan dua bungkus nasi goreng. Rencananya untuk Ibu dan Nia. Tapi karena dia Nia pergi, sebaiknya aku makan sendiri saja. Apalagi saat ini aku sangat lapar. Capek bekerja seharian tanpa istirahat. Karena pelanggannya sangat banyak.
“Memangnya kamu kerja apa?” tanya Ibu padaku saat kami sedang makan.
“Jadi koki, Bu. Di Cafe gitu, tapi cafenya besar. Kayak restoran. Tapi dengan konsep cafe anak muda gitu,” jawabku menjelaskan. Aku lega karena Ibu masih mau makan dan sudah sedikit tenang daripada tadi.
“Gajinya berapa?” tanya Ibu lagi.
“Aku belum tau pastinya, tapi banyak kayaknya. Karena uang harian lembur kayakn gini aja tiga ratus ribu,” jawabku lagi.
“Seandainya kamu nggak bodoh dan lembek, pasti kita masih kaya sekarang,” sindir Ibu lagi yang membuatku jengah.
“Udahlah, Bu. Jangan diungkit terus, kita lagi makan. Jangan sampai selera makan Robi hilang,” timpalku kesal. Padahal yang dikatakan oleh Ibu semuanya benar. Hanya saja aku malas menanggapinya lagi. Apalagi setiap mengingat kejadian itu, suasana hatiku kembali redup.
“Tapi Ibu masih sakit hati. Di dalam harta itu kan ada hak kamu juga. Kamu cari itu si Talita,” cerocos Ibu lagi. Dia terus saja merepet dari tadi, padahal mulutnya penuh dengan nasi.
“Mau cari ke mana lagi, Bu. Dari kemarin aku cari, tapi jejaknya hilang,” jawabku lesu. Ibu selalu merongrongku untuk menuruti semua kemauannya.
“Kamu udah cari ke rumah orangtuanya?” tanya Ibu lagi.
“Udah. Aku bahkan udah cari ke semua hotel di sini. Ngecek satu-satu. Tapi hasilnya tetap nihil,” balasku. Aku menyudahi acara makan tengah malam. Mengambil air yang berisi penuh di dalam gelas dan meminumnya hingga tandas.
Aku lihat Ibu juga sudah selesai dengan ritual makannya. Dia melakukan hal yang sama sepertiku. Setelah itu, Ibu membereskan semuanya, kemudian langsung masuk ke dalam kamarnya.
“Huuffttt….” aku membuang nafas dengan kasar. Berharap semua masalah juga ikut terbuang bersamanya.
Batin dan fisikku benar-benar lelah, kesalahan kecil yang kubuat mengharuskan aku memulai semuanya dari nol. Sudah tengah malam Nia belum juga pulang, aku memutuskan untuk tidur agar besok pagi tidak terlambat untuk bekerja. Kata manajer tadi, besok akan datang pemilik dari restoran jadi aku tidak boleh terlambat. Siapa tau dengan melihat bakat dan pengalamanku sebelumnya dia mau menaikkan jabatanku. Setidaknya gajiku juga lebih tinggi dari sekarang.
*
Pagi jam 7 aku sudah berangkat bekerja, jangankan menyiapkan sarapan pagi untukku, Nia bahkan tidak pulang semalam.
Aku harus berangkat jalan kaki karena mobil sudah kujual untuk mencukupi kebutuhan Nia dan Ibu yang boros. Aku juga memberikan sedikit uang pada Kak Mira agar bisa mengontrak rumah sendiri, Nia tidak mau satu rumah dengan Kak Mira.
Padahal aku sudah bilang pada Ibu dan Nia. Jika uang penjualan mobil mau aku jadikan sebagai modal usaha. Setidaknya aku bisa membuka kedai makan dan menyewa ruko kecil. Tapi karena kebiasaan hidup mewah. Ibu dan Nia menghabiskan uang itu untuk membeli hal-hal yang tidak penting.
Ibu juga tidak memikirkan bagaimana nasib kami kedepannya. Dia masih berpikir jika aku memiliki uang seperti dulu. Seandainya uang itu tidak di minta simpan oleh Ibu. Pasti sekarang aku bisa mempunyai modal untuk membuka usaha sendiri.
Karena aku tau, Talita pasti menyuruhku untuk berjuang kembali dari nol. Seandainya dia mau, mungkin mobil itu bisa dia ambil dan dijual seperti aset kami lainnya. Nasi sudah menjadi bubur, apa pun yang aku lakukan sekarang. Tidak akan mengubah semuanya kembali seperti semula.
Setelah sampai di tempat kerja, aku langsung melakukan pekerjaan. Pengunjung hari ini sangat ramai, aku jadi teringat dengan beberapa restoranku dulu.
Dalam hatiku terus saja membatin seandainya, seandainya dan seandainya.
“Woi melamun aja, big bos udah datang tuh, semua karyawan disuruh kesana untuk menyambut,” ucap Sandi yang terburu-buru keluar.
Aku pun segera bersiap-siap untuk keluar, sampai di luar aku melihat semua karyawan sudah berbaris menyambut pemilik restoran ini. Dari yang kudengar dari Sandi, pemilik restoran ini tidak pernah kesini sebelumnya. Karena dia memiliki banyak restoran lainnya di kota sebelah. Restoran tempatku bekerja hanyalah anak cabang.
“Yang mana pemiliknya, San?” tanyaku pada Sandi saat aku sudah di barisan.
“Itu yang baju biru,” Sandi menunjuk dengan dagunya yang diikuti dengan pandangan mataku. Dadaku bergemuruh hebat, detak jantungku tidak karuan. Nafasku memburu, dia di sana. Sangat elegan dan… cantik. Talita, sejak kapan dia menekuni bisnis ini. Dia sangat sukses sekarang, bahkan lebih sukses dari dulu saat bersamaku. Sekarang dia juga sudah mengenakan hijab, sangat cantik. Aku terpana dengan kecantikannya sampai-sampai aku tidak mendengarkan apa yang sampaikan Sandi. Jadi sekarang, aku malah bekerja untuk Talita, yang benar saja.
