Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Kejutan dari Carlos Martin

“Salah seorang klienmu kemarin menelepon ke kantor, Miranda. Dia komplain pada resepsionis. Katanya kamu tidak profesional dalam bekerja,” tegur Rosita, perempuan setengah baya yang merupakan pemilik kantor pemasaran properti tempat Miranda bekerja.

Gadis itu mengernyitkan dahi. Seumur-umur berprofesi sebagai broker properti, baru kali ini ada klien yang mengadukan kinerjanya di kantor.

“Maaf, Bu Rosita,” ucap Miranda sopan.

Gadis itu lalu duduk persis di depan bosnya tersebut. “Klien saya yang mana, ya? Kenapa dia tidak menelepon saya saja kalau mau komplain? Sampe repot-repot menelepon ke kantor,” komentarnya tenang.

Rosita menatap anak buahnya itu dengan sorot mata tidak suka. “Justru itu yang mau kutanyakan padamu, Mir. Kenapa kamu memblokir nomor HP orang itu sehingga dia kesulitan menghubungimu?”

Lawan bicaranya terbelalak. “Mem…memblokir?” cetus gadis itu kaget. Tiba-tiba ingatannya terbersit pada sosok pemuda tampan ala Korea yang merupakan pewaris tunggal perusahaan bakery terkemuka di kota ini. “Apakah klien saya yang bernama…ehm…Carlon Martin yang Ibu maksud?” tanya Miranda kemudian.

Si bos mengangguk mantap. “Syukurlah kamu masih ingat klienmu itu. Katanya kalian sudah bertemu satu kali di ruko kosong komplek CBD sekitar dua bulan yang lalu. Tapi terus kamu susah sekali dihubungi. Ditelepon tidak nyambung. Dikirimi pesan WA centang satu melulu. Akhirnya Pak Carlos mengambil kesimpulan bahwa kamu sengaja memblokir nomor HP-nya. Benarkah begitu, Miranda?”

Anak buahnya mendesah. Dia lalu mengutarakan alasannya. “Orang itu arogan sekali, Bu Rosita,” aku Miranda terus terang. “Tidak menghargai orang lain. Belum pernah saya bertemu klien seangkuh ini. Terus terang saya tidak tahan.”

Terdengar suara Rosita bertepuk tangan. Miranda terkejut sekali. Bosnya itu menyeringai sinis. Hati gadis itu menjadi tidak enak.

Aku bakalan diadili, keluhnya dalam hati. Gadis itu jadi agak menyesal kenapa dia sampai memblokir nomor telepon Carlos Martin.

“Hebat sekali kamu, Miranda Efraim,” sindir Rosita kemudian. “Berani-beraninya menolak klien berprospek besar seperti Carlos Martin. Memangnya kamu tidak tahu siapa dia?”

Si gadis menelan ludah. Dengan sikap canggung dia menjawab, “Saya tahu beliau adalah pewaris tunggal Martin Bakery….”

“Lalu kenapa kamu sampai begitu ceroboh melepaskannya?” sela Rosita kesal. “Dia itu serius lho, mau beli ruko listingan-mu!”

Miranda melongo. Jantungnya serasa berhenti berdetak. What? Apa aku nggak salah dengar? pikir gadis itu sangsi. Masa, sih? Kelihatannya pas ketemu dulu dia nggak terlalu berminat gitu.

“Ruko yang dua bulan lalu saya tunjukkan padanya itukah, Bu Rosita?” tanya gadis tersebut memastikan.

“Memangnya kamu menunjukkan berapa ruko pada orang itu, Mir?!” bentak si bos tak sabar.

“Satu, Bu. Ya ruko CBD itu.”

“Kalau begitu ya sudah. Buruan follow up orang itu. Daripada dia nanti berubah pikiran dan tidak jadi membeli ruko itu. Bukankah properti itu sudah lama nggak laku?”

Miranda mengangguk pelan. Dia masih agak linglung. Bagaikan mimpi. Klien sombong yang bersikap jual mahal itu akhirnya mau membeli properti yang sudah lama tidak laku terjual? So amazing!

“Bu Rosita,” ucap gadis itu kemudian. “Saya akan segera menghubungi Bapak Carlos Martin untuk menindaklanjuti keseriusannya membeli ruko itu. Terima kasih banyak atas informasinya. Saya mohon maaf atas kelalaian saya mengabaikan klien itu.”

Atasannya tersebut menatapnya dalam-dalam. Kali ini sorot mata wanita berperawakan tinggi besar itu tampak melembut. “Kita ini tenaga pemasaran, Mir. Klien adalah raja. Barangkali bagimu Carlos Martin itu orang yang menyebalkan. Tapi jusru klien unik seperti dia itu yang seringkali jadi pelanggan loyal kita dalam jual-beli properti. Orang semakin kaya nggak jarang semakin antik sikapnya. Kamu sudah bukan orang baru di bisnis ini. Mestinya tahu tentang hal itu!”

Miranda mengangguk pelan. Bu Rosita benar, aku gadis itu dalam hati. Aku tidak boleh bersikap kekanak-kanakan. Hanya gara-gara tersinggung oleh sikap klien, aku hampir saja kehilangan transaksi yang sudah lama kunanti-nantikan. Lagipula mungkin si Carlos itu sebenarnya tidak bermaksud menyinggung perasaanku. Barangkali memang sikapnya saja yang antik.

Sosok Carlos Martin yang tampan dan gagah ala artis Korea singgah dalam benak gadis itu. Ya, baiklah, batin Maria mengalah. Aku harus merendahkan hatiku untuk menelepon orang itu. Demi menunjukkan profesionalitas dalam bekerja. Dan juga demi menyenangkan hati si pemilik ruko. Akhirnya ada yang mengajukan penawaran serius terhadap properti itu. Mudah-mudahan si artis Korea tidak menawar terlalu rendah. Karena orang semakin kaya biasanya justru semakin perhitungan.

Kemudian Miranda berdoa dalam hati agar Tuhan menjamah hati kliennya yang arogan tersebut. Agar tidak terlalu rendah menawar harga ruko yang dimaksud.

***

“Halo?”

“Halo, Bapak Carlos. Saya Miranda, broker properti ruko komplek CBD.”

“Saya tahu. Apa kabar?”

“Baik, Pak Carlos. Mohon maaf karena saya tidak menghubungi Bapak lagi semenjak menunjukkan ruko itu. Saya….”

“Sudahlah. To the point saja. Berapa harga jual ruko itu sekarang?”

Miranda menelan ludah. Ingin ditutupnya telepon itu, kalau saja dia tidak ingat teguran Rosita tadi padanya.

“Masih sama seperti yang saya sebutkan dua bulan lalu, Pak Carlos. Yaitu….”

“Ok, deal! Berapa uang tanda jadi yang diminta penjual? Saya harus mentransfer ke rekeningnya langsung atau rekening kantor Anda?”

Jantung Miranda serasa hampir copot mendengar jawaban Carlos Martin. Oh, my God! Aku sedang bermimpi, cetus gadis itu dalam hati. Orang ini sama sekali nggak menawar harga!

“Halo? Halo, Miranda? Anda masih berada di sana?”

Orang ini sudah nggak lagi memanggilku dengan sebutan Bu Miranda, pikir si gadis merasa aneh. Ah, sudahlah. Biarin aja. Yang penting dia jadi membeli ruko yang sudah lama nggak laku itu. Meskipun nada suaranya di telepon masih terdengar pongah.

“Saya masih di sini, Pak Carlos,” sahut Miranda dengan suara yang dibuat seceria mungkin.

Lalu disebutkannya nominal uang tanda jadi yang harus ditransfer kliennya tersebut. “Uang tanda jadi itu bisa ditransfer ke rekening kantor saya, Pak. Setelah semua proses transaksi selesai, kami akan memberikannya pada pihak penjual. Sebentar lagi saya WA Bapak nomor rekening kantor saya.”

“Baiklah kalau begitu, Miranda. Setelah saya menerima nomor rekening kantormu, akan langsung saya transfer uang tanda jadinya. Terus saya kirim screenshoot bukti transfernya ke nomor WA-mu,” ujar Carlos terstruktur.

Si broker properti geleng-geleng kepala. Orang ini memang susah diduga, cetusnya dalam hati. Kelihatannya dulu nggak begitu tertarik sama ruko itu, eh…sekarang malah langsung beli tanpa menawar! Ccck…ccck…ccck…. Mudah-mudahan dia juga sekooperatif ini selama proses transaksi.

Miranda tersenyum senang. Ya Tuhan, terima kasih atas anugerahMu ini, batin gadis itu penuh rasa syukur. Entah kenapa rasanya akhir-akhir ini Engkau menunjukkan perhatian yang luar biasa padaku. Mulai dari mempertemukanku dengan Lukas kembali, menjadikannya partner-ku dalam mengasuh Joy, dan kini memberiku rezeki yang lumayan dengan menjual ruko pada Carlos Martin semudah membalikkan telapak tangan!

“Miranda? Miranda? Kamu masih berada di sana?”

Gadis itu tersentak. Ya ampun, aku melamun lagi! serunya dalam hati. Dia sampai tertawa geli.

“Saya masih berada di sini, Pak Carlos,” sahut Miranda riang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel