Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Victoria Martin

Terdengar desahan lega lawan bicaranya. Gadis itu jadi merasa geli sendiri. Baru kali ini ada klien yang panik karena brokernya tak terdengar lagi suaranya di telepon.

“Well, kalau begitu saya tutup teleponnya sekarang, Miranda,” ucap Carlos selanjutnya. “Supaya kamu bisa segera mengirim nomor rekening kantormu pada saya melalui WA.”

“Siap, Pak Carlos. Terima kasih,” jawab si broker lugas.

Pembicaraan mereka berdua itu pun berakhir. Miranda menghela napas lega. Lumayan, komisi dari penjualan ruko ini cukup besar. Bisa menopang hidupku hingga empat-lima bulan ke depan. Karena biaya Joy sekarang sudah ditanggung oleh papanya. Aku sekarang jadi bisa lebih santai menikmati hidup atau….

Tiba-tiba mata gadis itu menjadi berbinar-binar. Hei! Inilah saatnya aku mulai menabung buat membeli properti! serunya girang dalam hati. Selama ini aku bekerja mati-matian setiap hari. Joy bahkan tak jarang kuajak menemaniku open house ataupun pameran properti di mal saat weekend. Tapi penghasilanku dari properti selalu habis untuk membiayai kebutuhan hidup kami berdua. Uang sekolah, daycare, mainan, baju, dan tetek-bengek Joy nggak ada habis-habisnya. Belum lagi uang asuransi, bensin, kuota internet, makan, listrik, air, dan berbagai keperluan rumah tangga lainnya. Uangku setiap bulan selalu habis tak tersisa. Bagaikan air keran yang mancur terus-menerus!

Terkadang gadis itu merasa miris melihat rekan-rekannya di kantor bisa mengangsur properti dari komisi mereka sebagai broker. Entah itu hanya sekadar mencicil apartemen kecil untuk kelak disewa-sewakan atau bahkan ruko yang belum dibangun sehingga harganya masih belum terlalu tinggi. Sindiran-sindiran Rosita juga terkadang membuatnya minder kenapa dirinya sudah enam tahun melanglang buana di bisnis ini tapi masih belum juga sanggup mengangsur satu properti pun!

Sekaranglah waktunya membuktikan bahwa aku pun mampu melakukan investasi properti sebagaimana rekan-rekan sesama broker! tekad Miranda dalam hati.

Senyuman lebar menghiasi wajahnya. Kemudian gadis itu mulai sibuk dengan tablet yang selalu dipakainya untuk bekerja. Diperiksanya brosur-brosur properti terkini yang tengah dipasarkan developer. Miranda antusias sekali. Sampai tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring.

“Halo?” sahut gadis itu mengangkat HP-nya tanpa melihat dulu siapa yang menelepon.

“Miranda,” kata suara seorang laki-laki di seberang sana. “Kenapa saya masih belum menerima nomor rekening bank milik kantor Anda? Apakah Anda berubah pikiran? Tidak jadi menjual ruko itu?”

Miranda tersentak. Oh, my God! seru gadis itu dalam hati. Aku lupa mengirimkannya melalui pesan WA pada Pak Carlos!

***

Dua minggu kemudian terjadi pertemuan antara pihak penjual, pembeli, bank kreditur, dan Miranda di kantor notaris. Sebagai perantara, Miranda wajib menyaksikan proses penandatanganan akta jual-beli properti antara penjual dan pembeli. Demikian pula perwakilan dari bank tempat Carlos Martin mengajukan kredit, datang untuk memastikan bahwa memang terjadi transaksi pembelian ruko oleh debiturnya tersebut. Setelah proses tanda tangan akta jual-beli itu selesai, wakil dari bank tersebut akan segera memproses pembayaran ke rekening pribadi pihak penjual.

Proses penandatanganan akta jual-beli tersebut berjalan lancar sesuai harapan Miranda. Gadis itu juga bersyukur selama dua minggu mempersiapkan transaksi tersebut, pihak penjual maupun pembeli sangat kooperatif dalam mempersiapkan berkas-berkas yang diminta. Tak ada kendala yang berarti. Benar-benar transaksi ideal yang diimpikan para broker properti. Berkas-berkas pihak penjual, pembeli, maupun objek transaksi tersebut benar-benar bersih di mata hukum negara sehingga penandatanganan akta jual-beli bisa dilakukan.

“Terima kasih, banyak, Bapak dan Ibu,” kata Miranda sembari menyalami pasangan suami-istri penjual ruko tersebut.

Kedua kliennya itu menerima uluran tangan si broker sambil tersenyum puas. Mereka merasa senang properti yang sudah lama tidak laku akhirnya terjual dengan harga sesuai yang diminta. Tanpa penawaran sedikitpun. Jadi termasuk sedikit lebih tinggi dari harga pasar. Ternyata memang benar, berinvestasi pada properti itu membutuhkan kesabaran yang lebih dibanding pada produk keuangan. Makin sabar menunggu, makin besar pula hasil yang diperoleh.

“Terima kasih juga atas bantuanmu selama ini, Mir,” balas si bapak ceria. “Saya tunggu informasi properti terbaru darimu. Rencananya saya mau berinvestasi lagi.”

“Siap, Pak. Terima kasih,” jawab Miranda sopan.

Dia lalu beralih menyalami Carlos Martin. Pria itu langsung menerima uluran tangan si gadis sambil tersenyum dingin.

“Terima kasih banyak atas kerja samanya, Pak Carlos.”

“Sama-sama, Miranda.”

Kemudian gadis itu menyalami wanita setengah baya yang berdiri di samping pria itu. “Terima kasih, Bu Victoria,” ujarnya tetap ceria.

Wanita yang dimaksud tersenyum angkuh sambil menjawab singkat, “Sama-sama.”

Dia sepertinya terpaksa menerima uluran tanganku, komentar Miranda dalam hati. Tangannya seperti menjaga jarak dengan tanganku. Begitu cepat melepaskan diri. Seolah-olah tanganku ini membawa kuman yang mematikan!

Victoria Martin adalah ibu kandung dari Carlos Martin. Wanita itu merupakan menantu tunggal dari keluarga Martin. Beberapa kali fotonya diliput oleh media massa dan media sosial setiap kali ada acara pembukaan cabang baru Martin Bakery, baik itu di dalam kota maupun luar kota. Itu saja. Sama sekali tak pernah terdengar kabar mengenai kehidupan sosial wanita itu. Asal-usulnya dari mana sehingga berhasil menjadi bagian anggota keluarga Martin yang ternama di kota ini. Keluarga kaya-raya yang toko rotinya menjadi kebanggaan warga kota Surabaya, namun tak pernah terdengar berita apapun tentang keluarga tersebut selain keberhasilannya melakukan ekspansi perusahaan rotinya hingga ke kota-kota besar negeri ini.

Mukanya halus dan kencang sekali, puji Miranda dalam hati. Sama sekali nggak kelihatan dia sudah punya anak seusia Carlos Martin. Rambut Bu Victoria juga kelihatan sangat sehat dan terawat. Dicat warna coklat tua dengan highlite coklat terang yang keren, tapi nggak norak. Membuatnya kelihatan elegan dan modern. Rambutnya dibiarkan panjang melewati bahu dengan bagian ujung-ujungnya dibuat ikal bagai artis Korea. Jangan-jangan ibu dan anak ini sama-sama penggemar drakor! Penampilan keduanya ini nggak jauh-jauh dari artis-artis negeri itu. Hehehe….

“Maaf, apa yang Anda tertawakan?” tanya Victoria tajam. “Apakah ada yang lucu?”

Miranda terkesiap. Ya Tuhan! jerit gadis itu dalam hati. Tanpa sadar aku sudah menertawakan ibu dan anak ini!

“Sudahlah, Mama,” ujar Carlos menengahi. “Miranda memang ekspresif orangnya. Kurang bisa menyembunyikan pikiran dan perasaannya. Biar sajalah dia begitu. Lebih genuine, kan? Daripada orang yang bersikap manis di depan kita, tapi di belakang malah menjelek-jelekkan. Orang seperti itu malah jauh lebih mengerikan, Ma.”

Ekspresi wajah Victoria berubah kesal. Kelihatan sekali perempuan menawan itu tidak suka mendengar perkataan putra kandungnya tesebut. Tapi dia berusaha menahan perasaannya. Tak enak rasanya berkonfrontasi dengan anaknya sendiri di depan Miranda, yang notabene adalah orang luar.

Sementara itu Miranda sendiri menatap Carlos dengan sorot mata terima kasih. Tak diduganya pemuda angkuh berinisiatif membela dirinya.

Padahal siapakah aku ini? cetus gadis itu dalam hati. Hanya broker perantara transaksi jual-beli properti yang dilakukan Carlos Martin.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel