Kesempatan Buat Lukas
“Joy sudah memaafkanmu, Kas,” ucap Miranda tenang. “Mulai sekarang kalau kamu ingin bertemu dengannya, silakan menghubungiku terlebih dahulu. Nanti akan kuatur jadwal yang tidak mengganggu kegiatan Joy maupun pekerjaanku. Percayalah. Aku takkan menghalang-halangi upayamu mendekatkan diri dengan anak kandungmu.”
“Terima kasih banyak, Mira,” sahut Lukas seraya melepaskan pelukannya terhadap Joy. Dihapusnya air matanya dengan tisu yang disodorkan oleh gadis itu.
“Sudahlah, biar bagaimanapun juga kita kan masih keluarga. Kamu suami almarhumah Astrid. Jadi merupakan adik iparku,” cetus Miranda seolah-olah mengingatkan mantan kekasihnya itu agar kelak tidak menyimpan harapan terhadap dirinya.
Gadis itu melakukannya demi kebaikan mereka bersama. Dia dulu telah merelakan pria ini untuk menjadi pendamping hidup adiknya tercinta. Dan hal itu akan tetap dipertahankannya sampai kapanpun. Meskipun Astrid sendiri telah tiada.
Lukas mengangguk mengiyakan. Dirangkulnya bahu Joy dengan penuh kasih sayang. “Sekarang aku ajak Joy main dulu ya, Mira,” kata pria itu meminta izin. “Atau kamu mau ikutan juga?”
Sang kakak ipar menggeleng pelan. Bibirnya tersenyum kecil. “Nggak usah,” tolak gadis itu halus. “Aku menunggu kalian di sini aja. Enak duduk di sofa empuk begini sambil minum jus dan ngemil popcorn. Hehehe….”
“Oh, kamu mau makan, ya? Biar kupesankan…,” kata Lukas menawarkan diri.
“Nggak usah, Kas,” tolak Miranda lagi. “Santai aja. Aku bisa pesan sendiri. Kamu temani aja Joy main. Kalau dia udah cape dan selesai main, kamu bisa traktir kami berdua makan berat di luar. Gimana?”
Gadis itu berkata dengan santai sambil mengerlingkan mata. Lukas tersenyum lebar. Dia mengangguk setuju.
Apapun yang kamu inginkan, Mira, batin pria itu pasrah. Yang penting aku bisa terus bertemu dengan anak kandungku. Demi menebus dosaku pada Astrid. Juga untuk menunjukkan pada Joy bahwa aku bisa menjadi ayah yang baik baginya….
***
Hari-hari selanjutnya dilalui Lukas dengan hati penuh sukacita. Miranda menepati janjinya. Dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk mengantar Joy bertemu ayah kandungnya itu kapanpun Lukas menginginkannya. Bahkan akhirnya gadis itu memperkenalkan pria itu dengan guru-guru di daycare sehingga mereka tak keberatan jika laki-laki itu sesekali datang untuk menjemput Joy pulang.
“Tapi sebelumnya tentu saja saya akan mengabari Miss dulu bahwa Joy akan dijemput pulang oleh Pak Lukas ini. Jadi kalau belum ada pemberitahuan dari saya, mohon Joy tidak dibiarkan pulang ya, Miss. Hehehe….”
Guru Joy maupun Lukas yang mendengar gurauan gadis itu tertawa keras. Hati Miranda terasa lega. Dia senang kini mempunyai partner untuk berbagi tugas mengantar-jemput Joy. Jadi keponakannya itu tak lagi sering dijemput terlambat olehnya kalau kebetulan sedang ada pertemuan penting dengan klien.
“Terima kasih atas kepercayaanmu padaku, Mira,” ucap Lukas tulus. “Aku benar-benar menghargainya.”
Miranda menatap pria itu serius. “Kamu adalah ayah kandung Joy. Sungguh berdosa aku kalau menghalang-halangimu berhubungan dengannya. Astrid juga tak pernah memberi amanah padaku untuk menjauhkan dirimu dari anak kalian.”
Lukas manggut-manggut mendengar penuturan kakak iparnya. Kemudian dengan hati-hati pria itu berkata, “Sebelumnya maafkan kata-kataku ini, Mira. Kuharap kamu nggak tersinggung….”
Si gadis mengerutkan dahi. Tatapannya menunjukkan betapa dia tak mengerti maksud perkataan sang adik ipar.
Pria itu lalu menjelaskan, “Begini, Mira,” ucap Lukas sungguh-sungguh. “Aku merasa selama ini belum menunjukkan tanggung jawabku sebagai ayah Joy. Biaya hidup anakku sepenuhnya ditanggung olehmu. Bagaimana kalau…ehm…mulai sekarang aku turut berperan dalam menanggung biaya Joy? Bisakah aku minta nomor rekening bankmu, Mira? Akan kutransfer sejumlah uang setiap bulannya sesuai dengan kemampuanku. Kalau ternyata kurang, kamu bisa memberitahuku kapan saja. Aku akan berusaha untuk mencari kekurangannya.”
Miranda tersenyum simpul. Lukas belum berubah, pikir gadis itu. Dalam hal materi, dia selalu tahu diri mana bagian yang harus ditanggung olehnya dan mana yang tidak. Bahkan barusan dia tidak bertanya tentang perincian biaya yang kukeluarkan untuk Joy setiap bulannya. Bisa-bisa aku ditransfer lebih….
Benar saja. Malamnya sebelum tidur, Miranda menerima pesan WA dari adik iparnya itu.
[Aku barusan mentransfer ke rekeningmu, Mira. Terima kasih. Selamat malam.]
Kemudian pria itu mengrim screenshoot bukti transfer yang dimaksud. Miranda melongo. Wow! Ini sih, melebihi biaya yang kukeluarkan buat Joy setiap bulannya, batin gadis itu kaget. Tapi ya sudahlah, biar kuterima saja. Kelebihannya bisa kutabung buat biaya kuliah Joy saat dia sudah dewasa.
Jari-jari tangan gadis itu lalu menari-nari dengan lincahnya untuk mengirimkan pesan WA balasan buat Lukas.
[Sudah kuterima, Kas. Terima kasih. Jumlahnya terlalu banyak sebenarnya. Kutabung buat biaya kuliah Joy kelak, ya]
Lukas nyengir membaca pesan WA tersebut. Dia memang sengaja mentransfer uang melebihi perkiraannya tentang biaya hidup sang putra. Mengingat semenjak Joy lahir, sama sekali tak ada sumbangsihnya sebagai ayah kandung anak itu. Mulai sekarang pelan-pelan Lukas ingin menebus kesalahannya itu.
[Atur aja gimana enaknya menurutmu, Mira. Kamu yang paling tahu kebutuhan Joy. Nanti setiap bulan aku transfer nominal yang sama. Kalau ada rezeki lebih, aku akan mentransfer lebih banyak.]
Miranda geleng-geleng kepala membaca pesan WA tersebut. “Orang ini lagi kebanyakan uang rupanya,” katanya pada dirinya sendiri. “Maklum. Dia sekarang sudah jadi bos gara-gara dapet warisan uang asuransi yang besar dari orang tuanya. Hehehe….”
Kemudian dia mengirim pesan WA balasan.
[Thanks a lot, Lukas. Astrid pasti bangga kamu melakukan ini. Selamat malam.]
Lukas tersenyum bahagia. Semoga saja begitu, Mira, batinnya penuh harap. Aku sudah berdosa besar pada adikmu itu. Satu-satunya jalan untuk menebus dosaku adalah dengan melakukan yang terbaik buat anak kami. Ah, sayang sekali jasadmu dulu dikremasi, Trid. Kalau tidak, akan kukunjungi makammu setiap minggu. Akan kuceritakan semua hal yang kulalui bersama Joy. Kamu pasti senang mendengarnya….
Mata pria itu berkaca-kaca. Meskipun pada mulanya dia menikah dengan adik Miranda itu karena kasihan, namun lama-kelamaan hatinya tersentuh juga melihat perlakuan Astrid yang baik sekali padanya. Rasa sayangnya terhadap istrinya itu perlahan-lahan tumbuh.
“Kelak aku akan mengajak Joy dan Miranda untuk menabur bunga di laut sebagai tanda penghormatan buatmu, Astrid. Juga melayangkan doa-doa buat kedamaianmu di surga. Amin,” ucap Lukas berjanji pada almarhumah istrinya.
Terdengar suara pria itu mendesah lega. Beban di hatinya terlepas sudah.
“Sungguh aku berterima kasih padamu, Tuhan Yang Maha Kuasa,” ucapnya penuh rasa syukur. “Kau masih memberiku kesempatan kedua untuk hidup baru dan bahkan menemukan putra kandungku. Aku berjanji takkan menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. Akan kunikmati betul hari-hari bersama Joy. Demi menunjukkan padanya bahwa ayahnya ini orang yang baik dan bertanggung jawab. Amin.”
Kemudian pria itu memejamkan matanya. Hatinya benar-benar plong. Kini dia bisa tidur dengan lelap dan tanpa beban lagi.
***
