Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

3 - Oh, Dia Akan Mati Muda!

“Ya. Lakukan saja,” kata Kaisar. Suaranya datar, tanpa ekspresi, bagai batu yang dilemparkan ke kolam yang sudah membeku. Tidak ada dukungan, tidak juga penolakan, hanya sebuah izin yang membuat ruangan menjadi semakin senyap.

Sophia membungkuk sopan ke arahnya, gerakan yang kini terasa lebih seperti perlindungan daripada penghormatan. Saat dia berdiri tegak, dia tidak menatap wajah Kaisar—dia takut jika melihat wajahnya yang sebenarnya, sisa keberaniannya akan luntur. Sebaliknya, dia memusatkan perhatian pada ruangan itu.

Sophia berjalan beberapa langkah ke samping, mendekati tirai beludru tebal yang berwarna ungu tua, menghiasi jendela-jendela tinggi yang membingkai pemandangan kota. Dengan napas dalam-dalam, dia meraih tali penarik tirai dan menariknya dengan mantap.

Krrk ….

Tirai berat itu bergeser, menyingkir dengan suara berdebum. Sinar matahari sore yang keemasan tiba-tiba membanjiri ruangan, mengejutkan semua orang yang ada di dalamnya. Para calon permaisuri memekik, ada yang menyembunyikan mata mereka yang sudah terbiasa dengan cahaya redup istana. Para pelayan dan penjaga hampir-hampir melakukan evakuasi segera, tetapi mereka membeku di tempat, bingung.

Sophia tidak peduli. Dia mengulurkan tangannya, jari-jarinya yang ramai menunjuk ke langit-langit ruangan balai yang megah, dihiasi dengan lukisan fresco para dewa dan pahlawan kuno.

“Yang Mulia, dan para bangsawan yang terhormat,” suaranya, meski awalnya bergetar, kini semakin jelas dan penuh percaya diri. “Fresco di langit-langit ini menggambarkan kisah heroik, tetapi kisah itu terkurung dalam bingkai emas. Izinkan saya menunjukkan kepada Anda kisah yang sesungguhnya tak terbatas.”

Sophia kemudian berbalik, menghadap ke arah Kaisar, meski matanya masih menghindari kontak langsung. Dia mengangkat buku catatannya yang kecil.

“Di dalam buku sederhana ini, saya mencatat pergerakan bintang-bintang. Saya mempelajari bahasa langit. Setiap malam, saat yang lain tidur, ada peta raksasa yang berputar di atas kepala kita. Rasi bintang Lyra,” ucapnya, sambil tanpa sadar menyentuh liontin di balik gaunnya, dia meneruskan, “… adalah sang pemusik, yang kecapinya konon bisa mengalunkan melodi alam semesta. Dan di sebelahnya, sang Angsa, Cygnus, terbang mengarungi Bima Sakti, sungai cahaya yang merupakan jalan bagi arwah para leluhur.”

Sophia melanjutkan, menjelaskan bagaimana para pelaut menggunakan bintang Kutub untuk menentukan arah, bagaimana para petani menanam dan menuai berdasarkan posisi rasi bintang tertentu. Dia berbicara tentang planet-planet sebagai ‘pengembara’ di antara bintang-bintang yang tetap, dan tentang komet sebagai penabur dari jauh yang membawa unsur-unsur kehidupan.

Sophia tidak menyanyikan lagu cinta atau menari dengan gerakan yang menggoda. Dia tidak memainkan alat musik. Dia hanya bercerita.

Sophia membuka sebuah dunia yang luas, misterius, dan penuh dengan logika matematika yang elegan di hadapan mereka. Suaranya, yang awalnya tegang, menjadi semakin lancar dan penuh semangat, matanya berbinar saat dia berbicara tentang hal yang paling dia cintai.

Ruangan itu sunyi. Tidak ada yang pernah menyaksikan ‘pertunjukan’ seperti itu. Beberapa wanita terlihat bingung, bahkan sedikit meremehkan. Yang lain, bagaimanapun, mendengarkan dengan terpana, mulutnya sedikit terbuka, mata mereka mengikuti arah tangan Sophia yang menunjuk ke langit-langit seolah-olah bisa menembus atap dan melihat langsung ke bintang-bintang.

Saat dia akhirnya berhenti, mengakhiri penjelasannya dengan sedikit membungkuk, keheningan kembali terasa. Sophia akhirnya memberanikan diri untuk menatap langsung ke arah singgasana.

Kaisar Valerium duduk tegak, tangannya bertumpu pada pegangan singgasana yang diukir seperti cakar naga. Wajahnya yang tegas, dengan rambut perak dan mata yang tajam, sama sekali tidak menunjukkan seorang kakek tua yang renta. Yang ada adalah seorang penguasa yang telah melihat segalanya. Dan sekarang, mata tajam itu tertuju padanya.

Kaisar tidak tersenyum. Tidak juga berkerut. Ekspresinya tidak terbaca.

Lalu, dengan sangat perlahan, dia mengangkat satu tangannya dan bertepuk tangan. Satu kali. Dua kali. Tepukan itu bergema di ruangan yang sunyi, bagai petir di siang hari.

Dan itu lebih dari cukup untuk membuat semua orang, termasuk Sophia, menahan napas. Tindakannya yang nekat, presentasinya yang tidak monoton, telah berhasil menarik perhatian Sang Naga di balik singgasananya. Dan sekarang, dia tidak tahu apakah dia telah membuka pintu menuju kebebasan, atau justru mengunci dirinya dalam sangkar yang lebih mewah.

“Terima kasih banyak, Yang Mulia,” ucap Sophia sambil membungkuk sekali lagi, suaranya lebih stabil sekarang.

Di balik kerendahan hatinya, ada gelombang kelegaan yang hangat mengalir dalam dadanya. Dia berhasil. Dia tidak mempermalukan diri sendiri atau kerajaannya. Bahkan, dia telah melakukan sesuatu yang benar-benar berbeda.

Saat dia berbalik untuk meninggalkan podium, pikirannya mulai melayang, dipenuhi oleh bayangan yang tiba-tiba terasa sangat memungkinkan. Jika dia benar-benar terpilih sebagai permaisuri—jika dia harus tinggal di istana megah itu selamanya—mungkin dia bisa mengajukan pembangunan sebuah observatorium.

Sebuah ruang dengan kubah besar yang terbuka, dipenuhi dengan teleskop dan alat-alat untuk mengamati langit. Bayangkan saja, memiliki akses tak terbatas untuk mempelajari bintang-bintang, didanai oleh kekayaan Kekaisaran.

‘Itu tidak buruk,’ pikirnya, hampir tergoda oleh imajinasi itu. Namun kemudian realitas yang lebih keras menghantamnya. ‘Tapi, bagaimana aku bisa memenangkan hatinya? Astaga. Masak sih aku harus berebut posisi untuk menjadi istri kakek tua?’

Pikiran itu terasa janggal dan memuakkan. Dia melirik sekilas ke arah singgasana. Kaisar Valerium masih duduk di sana, wajahnya seperti topeng batu. Tak terbaca. Tidak ada tanda-tanda ketertarikan, tidak juga penolakan. Hanya pengamatan yang dingin dan mendalam.

Saat dia melangkah turun dan berjalan melewati barisan calon permaisuri lainnya, dia menangkap bisikan-bisikan yang seperti desis ular di antara bebatuan.

“Apa dia berhasil mendapatkan hati kaisar? Oh, dia akan mati muda!”

“Bodoh sekali memamerkan ilmu yang tidak berguna seperti itu. Mungkin dia ingin cepat mati.”

“Dia tidak tahu takdir buruk apa yang menunggunya.”

Sophia berusaha untuk tidak bereaksi, menjaga wajahnya tetap netral. Namun bisikan-bisikan itu menusuknya seperti belati.

Sophia mengetahuinya.

Semua orang di Kekaisaran ini tahu tentang rumor itu, meskipun tidak ada yang berani mengatakannya dengan lantang.

Tujuh permaisuri pertama Kaisar Valerium. Semuanya meninggal tak lama setelah melahirkan putra mahkota, dan yang lebih mengerikan, setiap bayi laki-laki yang dilahirkan itu juga menyusul ibunya ke liang kubur tak lama kemudian.

Kematian mereka selalu diumumkan sebagai komplikasi persalinan atau penyakit yang tiba-tiba menyerang. Sebuah kemalangan yang tragis dan berulang.

Setelah itu, pola berubah. Permaisuri-permaisuri berikutnya—yang kedelapan, kesembilan, dan seterusnya—tidak pernah sampai mengandung. Mereka rata-rata hanya bertahan enam bulan sebelum kematian mereka diumumkan. Dan rumor resmi yang beredar adalah bunuh diri.

Konon, tekanan menjadi permaisuri Kaisar, dinginnya kehidupan istana, dan mungkin sifat Kaisar yang kejam, membuat mereka tidak tahan dan memilih mengakhiri hidup sendiri.

Namun bisikan di lorong-lorong gelap bercerita lain. Bisikan tentang racun yang tak terdeteksi, tentang kamar tidur yang terkunci, tentang teriakan di malam hari yang kemudian diredam oleh kesetiaan para penjaga pribadi Kaisar.

Sophia tiba-tiba bergidik ngeri, meski ruangan itu hangat. Kelegaan yang dirasakannya tadi menguap, digantikan oleh rasa ngeri yang merayap.

Presentasinya yang unik tadi, yang awalnya dia pikir sebagai bentuk pemberontakan halus, tiba-tiba terasa seperti sebuah kesalahan yang fatal. Apakah dia justru menarik perhatian yang tidak diinginkan? Apakah dia telah menandai dirinya sendiri?

Sophia kembali ke tempat duduknya, meski rasanya berbeda. Kursi yang empuk terasa seperti bangku kayu yang keras. Setiap tantangan dari wanita lain terasa seperti pemeriksaan dari calon korban berikutnya. Dia menyembunyikan tangannya yang gemetar di balik lipatan gaunnya, meraih liontin Lyra-nya sekali lagi.

Membangun observatorium? Impian itu tiba-tiba terasa naif dan berbahaya. Di istana ini, di bawah bayangan Kaisar yang misterius dan penuh teka-teki, satu-satunya langit yang perlu dia pelajari mungkin adalah langit politik yang gelap dan berdarah.

“Aku harus bisa bertahan hidup lebih dari enam bulan,” katanya pada diri sendiri.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel