2 - Apa Dia Benar-benar Kaisar?
Ketenangan di Paviliun Calon Permaisuri tiba-tiba terganggu oleh langkah tegas para pengawal berbaju zirah itu. Sophia yang sedang asyik mengamati pola rasi bintang di langit-langit kamar melalui jendela, nyaris menjatuhkan liontin Lyra-nya.
“Kaisar memasuki paviliun!”
Seruan pengawal itu bergema di sepanjang koridor, diikuti oleh gemerincing senjata. Jantung Sophia berdebar kencang, sebuah reaksi naluriah yang tak bisa ditahannya. Dengan latihan bertahun-tahun yang terpateri, tubuhnya bergerak otomatis.
Sophia buru-buru melangkah ke tengah kamar, merapikan lipatan gaun biru tuanya secepat kilat sebelum membungkuk dalam-dalam, memberi hormat yang sempurna sebagaimana diajarkan sejak kecil. Kepalanya tertunduk rendah, matanya menatap lantai marmer yang berkilau.
Dari balik kerumunan rok dan desir sutra calon-calon permaisuri lainnya yang juga membungkuk, Sophia hanya bisa mendengar suara langkah kaki. Bukan langkah tertatih-tatih atau diseret seperti yang dia bayangkan dari seorang pria berusia enam puluh lima tahun. Langkah itu terdengar tegap, penuh wibawa, dan berirama—setiap hentakan sepatunya di lantai bagai menegaskan kekuasaan mutlak.
Rasa penasaran menggerogotinya. Dengan sangat hati-hati, sembari tetap mempertahankan posisi membungkuknya, Sophia menaikkan pandangannya sedikit.
Sayangnya, nasib belum berpihak padanya. Dari posisinya, yang terlihat hanyalah sosok yang mengenakan jubah kerajaan berwarna ungu tua, disulam benang emas rumit yang menggambarkan naga dan matahari. Sosok itu lebih tinggi dari perkiraannya, dengan bahu yang lebar dan punggung yang belum bungkuk, tegak seperti seorang panglima perang. Rambutnya yang terikat rapi di belakang terlihat masih lebat, berwarna perak yang cemerlang di bawah cahaya lampu kristal, bukan putih tipis dan rapuh.
‘Apa dia benar-benar Kaisar?’ pikir Sophia, bingung. ‘Tapi ... punggungnya masih tegap. Aku kira jalannya sudah bungkuk dan memakai tongkat.’
Sang Kaisar terus berjalan, tidak melirik ke kiri atau kanan, seolah-olah para wanita yang membungkuk di hadapannya hanyalah bagian dari dekorasi. Dia berhenti sejenak di ujung koridor, suaranya terdengar, dalam dan beresonansi, memerintahkan sesuatu kepada Kepala Pelayan. Suara itu tidak parau atau lemah, melainkan jelas dan penuh otoritas, memenuhi seluruh ruangan.
Kemudian, tanpa kata-kata lagi, sang Kaisar berpaling dan berjalan pergi, meninggalkan paviliun dengan langkah sama cepatnya saat dia datang. Para pengawal mengikutinya, dan ketegangan di udara pun perlahan mencair.
Para calon permaisuri mulai berdiri, diikuti dengan bisik-bisik penuh spekulasi dan desahan lega. Sophia tetap diam di tempatnya, masih memandangi pintu tempat sosok itu menghilang.
Bayangan yang ditinggalkan sama sekali berbeda dari gambaran pria tua renta yang selama ini menghantui pikirannya. Kaisar Valerium ternyata masih memancarkan aura kekuatan fisik yang tangguh. Kenyataan itu justru membuat Sophia lebih gelisah. Seandainya dia benar seorang lelaki tua yang lemah, mungkin akan lebih mudah baginya untuk mengatur jarak, untuk tetap menjaga jiwanya yang merindukan kebebasan.
Namun seorang penguasa yang masih terlihat perkasa? Itu adalah jenis bahaya yang sama sekali berbeda. Itu berarti, Kaisar masih memiliki keinginan, ambisi, dan tenaga untuk mengendalikan segalanya—dan semua orang di sekitarnya.
Sophia mengepalkan tangannya, merasakan logam dingin liontin Lyra di telapak tangannya. Pertemuan singkat yang bahkan bukan sebuah pertemuan itu telah mengacaukan semua asumsinya. Permainannya di istana ini tiba-tiba menjadi jauh lebih rumit, dan taruhannya terasa lebih tinggi dari yang pernah dia bayangkan.
***
Suara kasim itu bergema di balai istana, memenuhi ruang yang dipenuhi wangi parfum dan kecemasan. “Semua calon permaisuri akan menampilkan bakat dan kemampuannya untuk menarik hati Kaisar. Bersiaplah, kalian akan dipanggil sesuai urutan mendaftar.”
Sophia, yang duduk di bangku paling belakang, hampir tak bisa menahan sebuah desahan panjang. Suasana yang tegang, digabung dengan hawa ruangan yang hangat dan suara kasim yang monoton, justru membuat rasa kantuk yang tak tertahankan menyerangnya. Dia menyembunyikan sebuah buku catatan kecil tentang pergerakan planet di balik lipatan gaunnya, jarinya menelusuri garis-garis orbit yang digambarnya.
‘Astaga. Aku harus menunggu berapa lama?’ keluhnya dalam hati, melirik puluhan wanita yang antre di depannya. Beberapa sedang berlatih melantunkan puisi dengan suara merdu, yang lain memainkan jari-jari mereka di atas harpa dalam ingatan mereka. Sophia merasa seperti ikan yang terlempar ke daratan.
Rasa bosan dan keinginan untuk menyegarkan pikiran mengambil alih. Dengan hati-hati, dia berdiri dan mendekati dua penjaga yang berdiri kaku di pintu masuk balai.
“Permisi,” bisiknya, berusaha terdengar setenang mungkin. “Bolehkah saya izin untuk ke kamar kecil sebentar? Sebelum giliran saya tiba.”
Salah satu penjaga mengangguk singkat, memberi isyarat padanya untuk cepat pergi. Lega, Sophia berbalik, berencana untuk menemukan sudut sepi dan menghirup udara segar, atau setidaknya membaca catatannya dalam ketenangan.
Namun langkahnya belum juga melampaui ambang pintu ketika sebuah suara—suara yang dalam, berwibawa, dan tak asing lagi—menggema, memotong semua bisik-bisik dan latihan.
“Kau yang di sana!”
Suara itu seolah-olah mencengkeram seluruh ruangan, membekukan setiap gerakan. Sophia membeku di tempatnya, darahnya serasa berhenti mengalir.
“Dengan gaun biru itu,” lanjut suara Kaisar Valerium, datang dari singgasana di ujung ruangan. “Berbalik. Tunjukkan kemampuanmu padaku. Sekarang!”
Seluruh kepala di ruangan itu berbalik menatapnya. Sophia bisa merasakan pandangan ratusan mata—penuh kejutan, iri, dan sedikit senang melihat orang lain mendapat kesulitan—menusuknya. Perlahan, sangat perlahan, dia menegakkan punggungnya, berusaha menenangkan gemetar di lututnya.
Sophia menunjuk dada sendiri dengan jari yang hampir gemetar, matanya membelalak dalam pertanyaan bisu.
‘Aku?’
Penjaga pintu di sampingnya membungkuk sedikit dan berkata dengan suara rendah, “Nona, sepertinya Anda akan menjadi peserta pertama yang tampil. Lakukanlah yang terbaik!”
Peserta pertama. Kata-kata itu bergema di kepalanya. Bukan hanya tampil, tetapi tampil pertama, tanpa persiapan, tanpa ritual menenangkan diri, langsung di bawah sorotan mata sang Kaisar sendiri.
Sophia menarik napas dalam-dalam, memaksakan udara masuk ke paru-parunya yang terasa sempit. Melarikan diri bukanlah pilihan. Menolak adalah penghinaan.
Pikirannya berputar cepat, menyisir semua bakat yang dia punya. Menari? Dia payah. Menyanyi? Suaranya biasa saja. Memainkan alat musik? Dia tidak membawa apa-apa.
Lalu, matanya jatuh pada buku catatan kecil yang masih tergenggam di tangannya. Sebuah ide gila, nekat, dan mungkin sangat bodoh muncul di benaknya.
Dengan langkah yang sebisa mungkin terlihat percaya diri, Sophia berbalik dan berjalan menuju tengah ruangan. Dia tidak menunduk, tidak membungkuk. Dia berjalan lurus ke arah singgasana, mengangkat kepalanya, dan menatap langsung ke arah sumber suara itu untuk pertama kalinya.
Sophia membungkuk dengan hormat, tetapi tatapannya tidak goyah. Saat dia berdiri tegak lagi, suaranya, meski sedikit bergetar, terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
“Yang Mulia,” ucapnya, mengangkat buku catatannya yang sederhana. “Bolehkah saya membagikan sesuatu yang lebih berharga daripada lagu atau tarian? Sesuatu yang telah memandu para pelaut, petani, dan pemimpi sejak zaman dahulu? Bolehkah saya membagikan langit malam untuk Anda?”
***
