Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4 - Ini Lucu Sekali!

Pintu kamar Sophia tertutup dengan perlahan, mengasingkannya dari hiruk-pikuk dan bisik-bisik beracun di balai istana. Sophia bersandar di baliknya, seolah-olah kekuatannya habis terkuras. Ruangan yang mewah tiba-tiba terasa pengap, seperti sangkar yang dilapisi beludru.

Dia menatap langit-langit kamar yang diukir dengan motif bintang-bintang. Sebuah lelucon semesta yang kejam atas nasibnya. Kemenangan kecilnya di balai tadi terasa hampa dan jauh.

Menjadi permaisuri sebenarnya bukan tujuan utamanya. Itu hanyalah jalan terpaksa, sebuah pengorbanan untuk keluarga dan kerajaannya yang sekarat. Namun, jika takdirnya benar-benar terpilih sebagai permaisuri, apa yang harus dia lakukan? Apa yang bisa dia lakukan?

Pikirannya secara tidak menyenangkan mengulang pelajaran-pelajaran yang pernah dia terima dari para mentor tentang tugas seorang permaisuri. Melahirkan keturunan bagi Kaisar. Itu adalah kewajiban utama, alasan dari seluruh seleksi absurd yang diikutinya. Dan itu berarti dia akan menjadi teman tidur bagi Kaisar.

“Ah!” Sophia mendesah kesal, mengusir bayangan menyeramkan itu dari benaknya. Dia berjalan menjauh dari pintu, meremas-remas tangan di samping tubuhnya. Bayangan untuk disentuh, untuk dipelajari oleh seorang pria asing saja sudah membuatnya bergidik ngeri.

Terlebih lagi jika pria itu adalah Kaisar sendiri, yang usianya lebih pantas menjadi kakeknya, dengan sorot mata dingin yang memandang segala sesuatu termasuk dirinya—seperti benda yang harus dinilai kegunaannya.

Sophia mendekati jendela, membukanya lebar-lebar, dan menghirup udara malam yang dingin. Langit di luar dipenuhi bintang-bintang, bersinar dengan indah dan acuh, sama seperti setiap malam di kerajaannya sendiri. Lyra, sang pemusik, bersinar terang di sana.

Biasanya, pemandangan indah itu akan menenangkannya. Namun malam itu, bintang-bintang itu terasa seperti penonton yang diam, menyaksikan perangkapnya perlahan mengencang.

‘Astaga!’ Sophia menepuk jendela dengan frustrasi. ‘Pikirkan cara lain, Sophia! Kau bisa menolaknya. Kau bisa lari!’

Namun, kenyataan segera mencekik imajinasinya yang liar. Menolak perintah Kaisar? Itu bukan hanya sebuah penolakan. Itu adalah penghinaan terhadap mahkota, pengkhianatan terhadap kesepakatan yang bisa menghancurkan kerajaan orangtuanya. Itu sama saja dengan menjatuhkan hukuman mati tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk seluruh keluarganya. Ayahnya yang sudah lemah, ibunya, Lysa yang masih polos ... semuanya akan binasa karena egonya.

“Tapi, bukannya menolak perintah Kaisar sama dengan mati?” bisiknya pada bayangannya sendiri di kaca jendela. “Dan menerimanya, apakah itu berarti aku hanya menunda kematianku?”

Rumor tentang para permaisuri sebelumnya berputar-putar di kepalanya. Kematian mereka yang misterius. Apakah itu benar-benar bunuh diri? Atau ada tangan lain yang bermain? Apakah Kaisar sendiri yang ….

Sophia menggigil, tidak berani menyelesaikan pikirannya. Istana ini bukan hanya sangkar. Melainkan labirin yang penuh dengan bahaya yang tidak terlihat, di mana satu langkah salah bisa berakibat fatal.

Dia memandang liontin Lyra di tangannya, yang berkilau lemah dalam cahaya bulan. Impiannya untuk menjadi seorang astronom tiba-tiba terasa seperti kenangan masa kecil yang naif. Di sini, di tengah-tengah permainan kekuasaan yang mematikan, bertahan hidup adalah ilmu yang paling penting untuk dikuasai.

Mungkin, pikirnya dengan getir, tujuan barunya bukan lagi untuk menjadi permaisuri, tetapi untuk selamat dari proses menjadi permaisuri. Dia harus cukup menarik untuk menjaga keluarganya aman, tetapi tidak terlalu menonjol sehingga menarik perhatian.

Dia harus pintar, tetapi tidak terlihat mengancam. Dia harus patuh, tetapi tidak begitu lemah sehingga menjadi sasaran empuk.

Namun apa pilihannya? Melarikan diri bukanlah sebuah pilihan. Menyerah berarti kematian.

Sophia menarik napas dalam-dalam, menatap bintang-bintang untuk terakhir kalinya malam ini sebelum menutup jendela dengan pasti. Pertunjukan hari ini telah usai. Besok, permainan yang sesungguhnya akan dimulai. Dan dia, Sophia dari Kerajaan Aurelian bersimbol bulan sabit itu harus belajar bermain dengan cepat, atau dia akan menjadi sekadar tambahan dalam daftar panjang permaisuri Kaisar Valerium yang berumur pendek.

Balai istana yang kemarin dipenuhi dengan kecemasan yang tertahan, hari ini berubah menjadi lautan bisik-bisik prasangka. Puluhan calon permaisuri berdiri dalam formasi rapi, bagai kembang-kembang indah yang diatur untuk dinilai sekali lagi sebelum dipetik atau dibuang. Setiap helaan napas, setiap kerutan di gaun sutra, setiap senyuman palsu yang dipaksakan—semuanya berbaur menjadi aroma harum yang membuat Sophia pusing.

Sophia berdiri di barisan belakang, berusaha menyembunyikan diri di balik bahu gadis-gadis yang lebih tinggi. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena harapan, tetapi karena ketakutan. Dia berdoa dalam hati, memohon pada bintang-bintang yang selama ini menjadi temannya, agar namanya tidak disebut. Biarlah dia pulang dengan kegagalan yang terhormat. Biarlah dia kembali ke perpustakaannya yang sunyi, menerima nasib sebagai putri yang gagal, asal tidak terjerat dalam jaring laba-laba istana ini.

Empat nama. Hanya empat dari lautan wajah cantik itu.

Seorang prajurit berpakaian zirah perak berdiri tegak di depan mereka, menggenggam selembar perkamen yang terlihat berat. Suaranya, yang dilatih untuk menggema di medan perang, memotong semua bisikan hingga sirna.

“Perhatian, semuanya. Kaisar sudah mengumumkan empat orang yang terpilih menjadi calon permaisuri.”

Hening yang menusuk menyelimuti ruangan. Sophia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, berdebar kencang seperti genderang perang.

“Dengarkan baik-baik, bagi setiap nama yang dipanggil.”

Satu per satu nama itu diumumkan, masing-masing diikuti oleh desahan lega, erangan kecil kekecewaan, atau langkah gemulai maju ke depan dari pemiliknya.

“Alessa!” Seorang gadis berambut pirang seperti emas melangkah dengan percaya diri, senyum kemenangan terpancar di bibirnya.

“Amethyst!” Gadis dengan mata ungu yang eksotis itu maju dengan anggun, tatapannya dingin dan penuh perhitungan.

“Brielle!” Seorang gadis dengan postur tinggi tegap, mungkin keturunan bangsawan militer, melangkah dengan gagah.

Lalu ...

“Sophia!”

Nama itu menggema di telinganya seperti letusan petir. Dadanya sesak, kakinya terasa bagaikan akar yang tertanam kuat di lantai marmer.

‘Tidak. Mengapa? Mengapa namaku terpilih?’ Dalam hatinya, protes keras bergema.

Apakah karena presentasi astronominya yang tidak biasa itu? Apakah itu justru membuatnya mencolok, membuatnya terlihat berbeda di mata Kaisar? Atau ... apakah ada alasan lain yang lebih gelap? Apakah dia dipilih justru karena latar belakang kerajaannya yang lemah, membuatnya mudah untuk dikendalikan atau untuk dibuang?

“Semua calon permaisuri berdiri di depan!” perintah prajurit itu, memecah lamunannya yang kacau.

Dengan kaki yang terasa seperti terbuat dari kapas, Sophia memaksakan dirinya untuk melangkah maju. Dia merasakan ratusan pasang mata menatapnya—ada yang iri, ada yang heran, ada yang penuh kebencian. Dia bergabung dengan tiga gadis lainnya di depan, ketiganya berdiri dengan bangga dan penuh keyakinan. Sementara dia, Sophia, merasa seperti seorang penipu yang baru saja diekspos.

Dia berdiri di sana, di bawah sorotan lampu kristal dan tatapan para bangsawan yang penuh penilaian.

Dan di istana di mana kematian para permaisuri sebelumnya masih menjadi hantu yang menghantui, menjadi seorang kandidat terpilih terasa seperti menerima vonis mati yang tertunda.

Dia mengepalkan tangannya di balik lipatan gaun, merasakan logam dingin liontin Lyra-nya. Bintang-bintang, yang selama ini menjadi pelariannya, kini seakan-akan mengejeknya. Dia telah berhasil menarik perhatian Sang Penguasa, dan sekarang, dia harus menghadapi konsekuensinya. Permainan telah berubah. Dari sekadar bertahan, kini dia harus berjuang untuk hidup.

‘Semoga aku tidak mati cepat,’ batin Sophia.

***

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel