1 - Sophia, Kerajaan Ini Membutuhkanmu
Sophia berdiri di dekat jendela kamarnya, sinar matahari sore menyoroti lembaran perkamen halus di tangannya. Surat itu terasa berat, lebih berat dari bendanya. Tercium aroma parfum ibunya yang lembut, seolah ingin mempermudah kabar buruk yang dibawanya.
“Apa ini?” suara Sophia bergetar, matanya masih menatap tulisan resmi dengan stempel kerajaan di bagian bawah. “Aku tidak mau, Ibu!”
Ibunya, Ratu Elara, berdiri dengan anggun di tengah kamar yang dipenuhi buku-buku pelajaran dan peta astronomi putrinya. Wajahnya memancarkan keteguhan yang biasa dihadirkannya saat berurusan dengan urusan negara.
“Sophia,” ucapnya lembut namun penuh wibawa. “Kau sudah dua puluh tahun. Bukan lagi anak kecil yang bisa bersembunyi di balik rak buku.”
“Tapi aku masih ingin sekolah, Bu!” protes Sophia, melemparkan surat itu ke atas tempat tidur. “Aku baru saja diterima di Akademi Astronomi Eldoria! Ini impianku sejak kecil, Bu!”
Ratu Elara mendekati putri sulungnya, tangannya yang halus namun dingin meraih tangan Sophia. “Sudah cukup, Sophia. Adikmu juga ingin masuk Universitas. Dana kerajaan kita tidak cukup untuk dua orang putri mengejar pendidikan tinggi di luar negeri. Kau harus mengalah pada adikmu.”
“Apa-apaan itu?” Sophia menarik tangannya dengan kasar. “Bahkan Lysa belum genap lima belas tahun! Dia masih punya banyak waktu!”
“Dan kita tidak, Sophia!” Elara membalas, suaranya meninggi untuk pertama kalinya. “Dengarkan aku, Sophia. Ayahmu semakin tua. Kekaisaran membutuhkan aliansi yang kuat. Ini satu-satunya cara untuk memastikan stabilitas kerajaan kita.”
Sophia menatap ibunya dengan tatapan tak percaya. “Jadi aku hanya dijadikan alat politik? Diperdagangkan seperti sekarung gandum di pasar?”
“Jangan berkata seperti itu,” Elara memperingatkan, matanya berkilat. “Kaisar Kerajaan Valerium membutuhkan permaisuri baru. Seleksi ini diikuti oleh puluhan putri bangsawan. Kau berkesempatan menjadi Ratu Kekaisaran Terbesar di Benua!”
“Menjadi istri yang keseratus untuk seorang lelaki yang lebih tua dari ayahku?” Sophia menyeringai. “Kalau aku gagal, bagaimana?”
Ratu Elara menarik napas dalam. “Kau bisa kembali ke sini. Lagipula, itu tidak buruk ‘kan? Hidup di istana termegah, mengenakan gaun terbaik, dihormati oleh semua orang di seluruh negeri. Kau tahu kekuatan Kerajaan Valerium ‘kan?”
Sophia berbalik menghadap jendela, memandang taman istana di bawah tempat adiknya, Lysa, sedang berlatih menari dengan riang. Dadanya sesak.
“Menjadi pengantin kaisar tua itu? Huh!” Dia menggerutu, tangannya mengepal. “Apa tidak ada pekerjaan lain untukku daripada harus mengikuti seleksi pengantin kaisar? Aku bisa menjadi diplomat, atau penasihat sains di Kerajaan kita, Bu …”
“Sophia,” Elara memotong, suaranya kembali lembut namun penuh keputusasaan. “Kau tahu posisi kita. Ayahmu ... kondisinya semakin menurun. Musim dingin ini sangat keras baginya. Jika tidak ada dukungan dari Kekaisaran Valerium, kita tidak akan bertahan menghadapi pemberontakan di perbatasan utara.”
Sophia menutup matanya, mencoba menahan air mata yang mengancam jatuh. Dia tahu kebenaran dalam kata-kata ibunya. Dia telah melihat ayahnya batuk-batuk di ruang takhta, telah mendengar laporan tentang pemberontak yang semakin berani. Namun impiannya, impiannya untuk mempelajari bintang-bintang itu ….
“Baiklah, Ibu,” bisik Sophia akhirnya. “Aku akan pergi.”
Ratu Elara mengangguk, wajahnya terlihat lega. “Kau membuat keputusan yang tepat, Sayang. Persiapan akan dimulai besok.”
Saat ibunya pergi, Sophia mengambil kembali surat itu. Dia membacanya sekali lagi, kali ini memperhatikan setiap detail. Seleksi calon permaisuri Kaisar Valerium akan diadakan di Ibukota Kekaisaran, tiga bulan dari sekarang.
Sophia berjalan ke meja tulisnya, menyapu tumpukan bukunya tentang konstelasi dan teori orbit. Di bawahnya tersembunyi sebuah buku sketsa. Dia membukanya, menatap gambar-gambar teropong bintang dan observatorium yang telah dia gambar sejak kecil.
“Maafkan aku,” bisiknya pada impiannya yang pupus, menutup buku sketsa itu dengan lembut sebelum menyimpannya di laci terkunci.
Sophia akan pergi ke Kekaisaran, tetapi dia tidak dengan sukarela menyerah pada takdirnya. Jika dia harus memasuki kandang singa itu, dia akan melakukannya dengan caranya sendiri. Mungkin saja, di istana yang asing itu, dia masih bisa menemukan cara untuk meraih bintang-bintang.
***
Kereta yang membawa Sophia ke jantung Kekaisaran ternyata jauh dari gambaran mewah yang dibayangkan banyak orang. Sebuah kereta kayu sederhana dengan lambang bulan sabit keemasan keluarga kerajaan.
Sebuah tanda bahwa mereka memang masih keturunan bangsawan, namun jauh dari kekayaan sejati. Kuda-kuda yang menariknya pun terlihat biasa saja, bukan kuda perang gagah seperti yang dikisahkan dalam dongeng.
Sepanjang perjalanan selama empat belas hari, Sophia menghabiskan waktunya dengan membaca buku astronomi yang berhasil diselundupkannya, sambil sesekali melirik pemandangan di luar jendela. Desa-desa yang mereka lewati semakin makmur, jalanan semakin mulus, tanda bahwa mereka semakin mendekati pusat kekuasaan Kaisar Valerium.
“Putri Sophia, kita sudah tiba.” Suara pengawal yang mengantarnya memecah lamunannya.
Sophia menghela napas, menyembunyikan bukunya di antara lipatan gaunnya. Saat tirai kereta dibuka, napasnya nyaris tersangkut.
Gerbang Istana Kekaisaran menjulang setinggi langit, terbuat dari besi berukir yang disepuh emas. Di baliknya, terhampar taman-taman yang dirancang dengan presisi matematis dan air mancur yang memancarkan air berwarna-warni.
Para penjaga berdiri tegak dengan zirah perak yang berkilauan di bawah matahari. Kontras antara kendaraannya yang sederhana dan kemegahan itu begitu mencolok, mengingatkan Sophia pada posisi keluarganya yang sedang krisis.
Sophia diantar oleh pelayan berbaju ungu ke sebuah sayap istana yang disebut ‘Paviliun Calon Permaisuri’. Di sepanjang koridor, dia melihat sekilas para wanita muda lain, semuanya berpakaian indah, didampingi pelayan pribadi dan dikelilingi peti-peti berisi gaun. Mereka saling mengamati dengan senyum manis namun mata yang penuh perhitungan.
‘Astaga!’ Sophia memekik dalam hati saat seorang pelayan tua yang berwajah dingin menunjukkannya ke kamar yang sederhana. Semua itu seperti kamar hewan peliharaan yang dibungkus beludru.
Kamarnya memiliki balkon kecil yang menghadap ke taman dalam. Dari sanalah, dia mendengar celoteh dua gadis calon pesaingnya.
“ …. kudengar dia dari kerajaan Aurelian yang kecil di perbatasan Utara. Kerajaan itu hampir bangkrut, kata orang.”
“Lalu mengapa dia diundang untuk ikut seleksi calon permaisuri? Hanya karena keturunan bangsawan tua?”
“Jangan remehkan dia, Calysse. Darah mereka masih murni. Tapi kau lihat kereta mereka? Sangat … menyedihkan.”
Sophia mengatupkan giginya. Dia menutup daun jendela balkon dengan keras, memutuskan obrolan mereka. Sophia membaringkan diri di tempat tidur yang empuk, menatap langit-langit yang diukir dengan motif bintang, sebuah ironi yang menyakitkan.
‘Sebenarnya orang seperti apa Kaisar itu?’ Pikirannya melayang kepada gambar pria tua berjanggut putih dalam buku-buku sejarah.
‘Usianya saja enam puluh lima! Aku harus menjadi istri dari pria yang pantas menjadi kakekku? Yang benar saja!’
Bayangan ayahnya yang lemah namun penuh kasih muncul di pikirannya, diikuti wajah adiknya, Lysa, yang masih polos. Pengorbanan. Semuanya kembali kepada kata itu.
“Yang Mulia Putri Sophia,” suara seorang pelayan terdengar dari balik pintu. “Malam ini akan diadakan jamuan penyambutan untuk semua calon permaisuri. Persiapkan diri Anda.”
Sophia mendesah. Dia berjalan ke lemari dan menemukan sederet gaun yang telah disediakan untuknya. Dia memilih yang paling sederhana—warna biru tua, hampir seperti warna langit malam. Saat dia berdiri di depan cermin, seorang gadis dengan mata penuh tekanan menatap balik. Dia bukan lagi putri yang bisa bersembunyi di perpustakaan, tetapi juga belum menjadi pion yang rela menyerah.
“Demi keluarga,” bisiknya pada bayangannya sendiri, “Aku akan bertahan. Tapi aku tidak akan mudah dihilangkan begitu saja.”
Sophia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah liontin kecil berbentuk rasi bintang Lyra, hadiah dari guru astronominya. Dia mengenakannya, menyembunyikannya di balik kain gaun.
Saat dia berbalik untuk meninggalkan kamar, langkahnya lebih mantap. Istana Kekaisaran mungkin adalah kandang singa, tetapi dia yakin, bahkan singa betina paling lembut sekalipun, memiliki cakar dan taring untuk menaklukkan musuhnya.
***
