Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 7. Ciuman

"A—apa?" batin Qiran dimana matanya terlihat sedikit melebar. Sebutir nasi itu berada tepat di sudut bibir Keinand, jika ia mengambil dengan mulutnya, itu artinya bibir mereka akan bersentuhan.

"Tunggu apa lagi? Ini perintah majikanmu."

Qiran menelan ludah susah payah. Haruskah? Rasanya terlalu berlebihan. Tapi ia tak punya pilihan lain. Perlahan ia menunduk mendekatkan wajahnya dengan wajah Keinand di mana jantungnya seolah dipompa dengan cepat. Ia tetap membuka mata melihat di mana jejak nasi itu berada. Namun dengan itu ia dapat melihat dengan jelas bahwa Keinand menatapnya tiada henti dengan raut wajah datar dan dingin tanpa ekspresi. Mungkin Keinand sudah terbiasa berciuman dengan wanita membuatnya tak memiliki ekspresi apapun saat bibir Qiran hendak menyentuh bibirnya.

Sedikit lagi, hanya tinggal sedikit lagi bibir Qiran sampai dan melakukan tugasnya. Hanya tinggal satu inchi lagi dan ia segera memejamkan mata setelah mengunci letak nasi itu berada. Sementara Keinand tetap membuka matanya dan melihat bagaimana Qiran melakukan tugasnya.

Mata Keinand melebar saat merasakan bibir lembut Qiran menyentuh sudut bibirnya. Hanya sesaat kemudian Qiran segera menarik kepala saat dirasa telah berhasil mengambil targetnya. Namun belum sempat Qiran mengambil jarak, tangan Keinand meraih belakang kepalanya dan menariknya kemudian menempelkan kembali bibir mereka. Bukan sekedar menempel sekilas seperti sebelumnya saat Qiran mengambil sebutir nasi di sudut bibirnya melainkan menempel layaknya tengah berciuman.

Mata Qiran melebar sempurna saat merasakan lidah Keinand berusaha menerobos bibirnya yang tertutup rapat mengapit sebutir nasi yang berhasil ia ambil sebelumnya. Tangannya mencengkram kuat baju Keinand saat lidah Keinand semakin melesak ke dalam mulut setelah sebelumnya mengambil sebutir nasi yang menjadi penyebab ciuman ini.

Tangan Keinand masih menahan kepala Qiran meski Qiran semakin kuat mencengkram bajunya dan berusaha menarik diri sekaligus mendorong tubuhnya. Namun hal itu sama sekali tak membuatnya bergeming. Bahkan saat bunyi kecipak dari kegiatanya diiringi tetesan saliva yang menetes tak membuat Keinand puas dan menarik diri. Keinand tetap membuka kedua matanya melihat dengan jelas Qiran memejamkan matanya kuat-kuat. Lidah Qiran sama sekali tak melakukan perlawan seolah tak mengerti apa yang harus ia lakukan. Sampai akhirnya ia merasakan Qiran mendorong tubuhnya sekuat tenaga dengan lidahnya yang juga berusaha mendorong keluar lidahnya yang menjelajahi setiap rongga mulutnya, ia tahu Qiran mulai kehabisan nafas.

Dengan sedikit terpaksa Keinand melepas tangannya yang menahan kepala Qiran dan melepas ciuman mereka hingga membuat Qiran jatuh dengan bokongnya mencium lantai.

Qiran terbatuk dan berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya dengan punggung tangan mengusap jejak lelehan saliva yang membasahi area mulutnya. Keinand pun melakukan hal serupa, mengusap jejak saliva di sudut bibirnya dan menatap Qiran dengan pandangan tak terbaca. Ia bangkit dari duduknya kemudian setengah berjongkok di depan Qiran dan menarik dagu Qiran menghadapkan wajahnya padanya. "Tak ada seorangpun yang bisa mengambil milikku bahkan meski aku tak menginginkannya sekalipun," ucapnya tanpa menunjukkan ekspresi yang berarti.

Mata Qiran berkaca-kaca bahkan setetes air matanya mulai jatuh melihat bagaimana Keinand menatapnya. Rasanya ia masih tak percaya akan kehilangan ciuman pertamanya dengan cara menyakitkan. Keinand benar-benar menganggapnya seperti mainan yang tiada harga dirinya. Ia selalu membayangkan melakukan ciuman pertama dengan laki-laki yang dicintainya, sangat kekanak-kanakan memang, tapi baginya itu sangat berharga.

Keinand melepas cengkraman lemah tangannya di dagu Qiran kemudian kembali duduk ke kursi dan menyesap kopi hitamnya. Mengabaikan Qiran yang masih terduduk di lantai dengan tubuh gemetar. Bunyi cangkir yang bertemu lepek terdengar diikuti bariton tegas Keinand yang mengudara. "Sampai mati pun pekerjaanmu tak akan pernah selesai jika hanya berdiam diri."

Qiran mengusap air matanya dan perlahan berusaha bangkit berdiri dengan kedua kaki yang masih gemetar. Tidak apa-apa, hanya ciuman pertama, ia harus kuat. Ini lebih baik daripada melihat Reina yang mengalaminya atau melihatnya terkurung dalam penjara.

Qiran mengambil piring kotor bekas sarapan Keinand dan mencucinya di mana isakan yang coba ia tahan samar-samar terdengar oleh telinga Keinand.

Keinand melirik Qiran yang berdiri membelakanginya. Menelan ludah susah payah, ingatan ciuman mereka terasa berputar dalam otak. Tujuan awalnya memang memanfaatkan Qiran, tapi sepertinya bukan sekedar memanfaatkan kepolosan dan kebaikannya, tapi mungkin ia juga bisa memanfaatkan tubuhnya yang ia yakin belum pernah terjamah.

Sementara di tempat lain terlihat Reina yang tampak gusar menatap layar ponselnya. "Ya, Tuhan, Qi. Di mana kau?" gumamnya dengan kecemasan dan kekhawatiran tercetak jelas di wajah. Ia sudah mencari Qiran kemanapun dan menanyakan keberadaannya pada semua teman-temanya tapi nihil, tak ada yang tahu mengenai keberadaan Qiran. Sampai akhirnya ia teringat sesuatu yang membuatnya segera bangkit dari duduknya dan pergi ke suatu tempat.

***

Keinand duduk dengan lutut saling bertumpu. Punggungnya bersandar pada punggung sofa dengan sebuah buku berada di tangan. Sayangnya, buku di tangannya hanya menjadi hiasan karena atensinya kini tertuju pada Qiran yang tengah mengepel lantai. Setelah apa yang terjadi sebelumnya di ruang makan, ia memerintahkan Qiran melanjutkan pekerjaanya dengan bersih-bersih. Ibu jarinya mengusap bibir seolah masih merasakan kenyal dan manisnya bibir Qiran di sana. Bahkan seolah tanpa sadar lidahnya menjilat bibir bawahnya menyaksikan pemandangan indah di depan mata.

Qiran membungkuk dengan kedua tangan yang memegang gagang pel. Mendorong kain pel maju mundur hingga bawah meja dan membuat roknya terangkat memperlihatkan pahanya yang putih nana mulus. Ia sama sekali tak menyadari jika sedari tadi menjadi korban mata dari sang tuan muda Keinand Harris Atmadja. Ia memilih fokus pada pekerjaannya berusaha melupakan kejadian di ruang makan.

Tak!

Keinand meletakkan bukunya ke atas meja kemudian bangkit dari duduknya setelah sebelumnya melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sebelumnya ia sama sekali tak memiliki rencana apapun untuk keluar rumah. Tapi tiba-tiba saja ia berubah pikiran saat melihat bagaimana Qiran menyelesaikan pekerjaannya. Ia meraih kunci mobilnya di atas nakas kemudian berjalan melewati Qiran. Berdiri tepat di hadapan Qiran dengan satu tangannya yang tersembunyi di saku celana, ia berkata, "Aku keluar. Dan saat aku kembali aku ingin semua telah bersih."

"Ba—baik." Hanya satu kata itu yang dapat Qiran katakan sebagai jawaban. Ia menatap punggung Keinand saat pria itu berjalan menuju pintu kemudian hilang di baliknya saat pintu kembali tertutup.

Keinand mengunci pintu dari luar. Ia tak ingin mengambil resiko Qiran kabur nantiya. Memasukkan kunci apartemenya ke saku celana sembari mengambil ponsel yang juga tersembunyi di dalamnya, setelahnya ia terlihat menghubungi seseorang. "Hn. Bagaimana?"

"Aku sudah mengurus semuanya. Kau tinggal membawanya datang."

"Baiklah."

"Kau menghubungiku hanya untuk mengatakan tiga kata?"

Keinand melirik sinis ponselnya yang menempel di telinga seolah lirikannya dapat tersampaikan pada pria yang saat ini terdengar tertawa. Tanpa menunggu ia memilih segera mematikan sambungan telepon dan melanjutkan langkahnya memasuki lift.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel