Chapter 8. Dimandikan
Saat ini Qiran berusaha melakukan tugasnya sebaik mungkin. Setelah membersihkan lantai bawah, ia segera membersihkan lantai atas. Ia tak mengerti, semua ruangan dan setiap sudut rumah sudah bersih semetara Keinand tinggal sendiri, jadi siapa yang membersihkan semuanya? Rasanya sangat tidak mungkin jika pria itu sendiri yang membersihkan semua. Atau apa ia mempunyai pembantu sebelumnya? Ya, itu bisa saja. Mungkin Keinand memecat pembantunya itu setelah mempekerjakannya. Dengan begitu akan menghemat pengeluaran gaji yang biasanya ia keluarkan setiap bulannya.
Qiran menggeleng cepat saat semua pemikiran itu menggelayuti pikiran. Rasanya itu tak terlalu penting. Karena bagaimanapun juga sekarang ia yang bertugas membersihkan rumah ini. Entah sudah bersih atau belum, setidaknya ia melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh.
Brugh!
Qiran terkejut saat sebuah kotak jatuh kala ia membersihkan atas lemari. Ia yang menggunakan kursi sebagai pijakan segera turun dan mengambil kotak tersebut. Rasa penasarannya muncul saat kotak berbentuk persegi panjang sekitar 20 x 30 cm itu sedikit terbuka. Namun ia mencoba mengenyahkan rasa penasaran itu dan kembali membenahi kotak tersebut lalu mengembalikannya ke atas lemari.
Tap!
Kedua kakinya menapak lantai saat turun dari kursi setelah mengembalikan kotak tersebut ke tempat sebelumnya. Kemudian ia mengangkat kursi itu dan mengembalikannya ke tempat ia mengambilnya. Setelahnya ia mengambil sapu, menyapu lantai yang bersih tanpa sedikitpun debu hingga kolong tempat tidur dan bawah meja. Setelah acara menyapunya selesai, tugas selanjutnya adalah membersihkan kamar mandi.
Bunyi sikat yang beradu dengan lantai kala Qiran menggosok lantai kamar mandi seolah menjadi musik di telinga. Qiran menggosok lantai hingga ke sudut tanpa terkecuali. Ia benar-benar seorang pekerja keras dan bertanggung jawab dengan pekerjaannya. Padahal jika ia mau ia bisa mengabaikannya karena kamar mandi sudah bersih. Tapi ia tak mau berbuat demikian, ia tetap menyikat lantai, dinding juga berniat membersihkan bath up. Setelah lantai bersih, kini giliran membersihkan bath up. Kedua lututnya bertumpu lantai dengan punggungnya yang sedikit membungkuk membersihkan dasar bath up. Sesekali ia berhenti dan mengusap keringat yang terasa membasahi pelipis. Meski kelihatannya mudah, namun pekerjaan ini cukup menguras tenaga.
Hela nafas panjang Qiran terdengar saat ia telah selesai membersihkan bathup. Setelahnya ia segera bangkit berdiri dan hendak meraih shower untuk membilas. Sayangnya tanpa sengaja ia terpeleset saat baru saja berbalik. "Kyah!" jeritnya.
Tubuh Qiran jatuh tepat ke dalam bath up. Untung saja bath up itu tak terlalu dalam jadi mengurangi frekuensi rasa sakit pantatnya yang jatuh terlebih dahulu.
"Sssh." Qiran mendesis mengusap pantatnya dengan mata terpejam menikmati rasa sakit. Dan tepat di saat itu saat ia membuka mata dan menatap ke depan, ia telah melihat sepasang kaki berdiri di depannya. Perlahan pandangannya merambat naik hingga kedua matanya bersibobok dengan kedua jelaga Keinand yang menatapnya datar. Seketika matanya pun sedikit melebar dan segera menunduk mengalihkan pandangan.
Keinand tetap diam kemudian meraih shower dan tanpa mengatakan apapun mengguyur tubuh Qiran.
Qiran memejamkan matanya rapat-rapat menghalangi lelehan air memasuki mata. Ia sampai nyaris menjerit saat secara tiba-tiba merasakan air dingin dari shower mengguyur tubuhnya. Tangannya tak tinggal diam dengan menyapu air yang mengalir deras membasahi wajahnya.
Keinand menatap Qiran dalam diam dengan raut wajahnya yang tetap datar. Seolah tak ada belas kasih meski melihat Qiran kedinginan dan gelagapan karena air yang ia arahkan tepat di wajahnya.
Perlahan air alam bath up bertambah membuat Qiran semakin kesulitan untuk bangkit keluar dari bathup. Ditambah Keinand yang tak menyingkirkan shower dari depan wajahnya membuatnya sulit bernafas dengan wajah yang terasa perih. "To—tolong …." pintanya gelagapan.
"Apa? Bukankah kau ingin mandi?" ujar Keinand dengan suaranya yang dingin.
Qiran menggeleng, satu tangannya menahan tubuhnya dengan bertumpu dasar bath up dan satu tangannya terus menyapu wajah. Keinand mematikan shower dan tetap berdiri angkuh menatap Qiran yang masih gelagapan berusaha meraup oksigen dengan serakah hingga membuatnya sesekali terbatuk. Perlahan tangannya terulur tepat di depan wajah Qiran yang memerah. Namun karena kedua mata Qiran yang pedas karena kemasukan air membuatnya tak segera menerima uluran tangannya.
Plak!
Keinand memberi tamparan ringan di pipi Qiran yang seketika membuatnya membuka mata. Kedua matanya terlihat memerah, bukan sekedar karena guyuran air sebelumnya tapi juga karena air mata. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak mengira Keinand akan membunuhnya dengan cara seperti itu.
Keinand kembali mengulurkan tangannya, membantu Qiran untuk keluar dari dalam bathup. Namun karena rasa takutnya Qiran tak berani menerima uluran tangan Keinand. Bukannya menarik tanganya, Keinand semakin mengulurkan tangannya hingga berada tepat di depan wajah Qiran. Akhirnya dengan terpaksa tangan Qiran terangkat hendak menerima uluran tangan Keinand di mana tangannya terlihat gemetar. Sayangnya, saat tinggal sedikit lagi tangannya menyentuh tangan Keinand, ia justru menarik tangannya dan menyembunyikannya ke dalam saku celana.
Mata Qiran melebar dengan hati seolah diiris. Ia seperti tengah dipermainkan seakan ia hanyalah sebuah mainan. Bibirnya yang pucat karena kedinginan terlihat bergetar di mana kedua matanya terlihat berkaca-kaca saat menatap tangannya yang masih menggantung di udara. Perlahan pandangannya merambat naik hingga bertemu dengan kedua jelaga Keinand yang tak melunturkan sorot mata datar nan dingin ke arahnya. Bukannya segera mengalihkan pandangan, namun Qiran menunjukkan tatapan nanar seolah menyampaikan ia begitu terluka karena tindakan kecil yang Keinand lakukan.
Keinand hanya diam, entah apa yang tengah ia pikirkan dalam kepala. Bahkan meski melihat tatapan Qiran padanya sekarang sarat akan meminta belas kasih, hal itu sama sekali tak membuatnya melunturkan tatapan matanya yang dingin.
Sebelumnya, Keinand yang telah berada di basement memutuskan kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal. Namun saat memasuki rumah, ia tak menemukan Qiran di lantai bawah yang sebelumnya bersih-bersih. Akhirnya ia segera mencarinya ke lantai atas dan saat memasuki kamarnya, ia mendengar suara Qiran yang tengah membersihkan kamar mandi. Tanpa Qiran ketahui ia berjalan setengah mengendap dan melihatnya dari celah pintu yang sedikit terbuka. Dan saat melihat Qiran menjerit karena terpeleset, ia segera masuk dan berdiri di hadapannya yang terduduk dalam bathup. Dan mengenai apa tujuan mengguyur Qiran, ia sendiri tidak tahu kenapa, ia hanya ingin melakukannya saja. Keterlaluan memang, namun seperti itulah sifatnya. Ia akan melakukan apa yang ia inginkan, terlebih merasa memiliki wewenang pada Qiran. Dijelajahinya dengan pandangan tubuh Qiran yang basah kuyup dan tampak menggoda hingga tanpa ia rasa membuatnya menelan ludah susah payah. Umpatan dalam hatinya pun terucap saat merasakan sesuatu di bawah sana telah mengeras.
