Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 6. Bukan Cinderella

"Hah …." Qiran menghela nafas berat. Saat ini ia tengah berdiri di depan cermin dengan pakaiannya yang telah terganti. Seperti perintah Keinand, kini ia telah memakai baju yang diberikannya sebagai seragam pembantu di apartemennya. "Kau harus bisa, Qi. Bagaimanapun dan sesulit apapun hidupmu kau tetap harus menjalaninya," ucapnya pada dirinya sendiri.

"Kau tak akan bisa berubah menjadi Cinderella meski berdiri di depan cermin selamanya."

Qiran terjingkat kaget saat mendengar suara Keinand. Seketika ia berbalik dengan menunduk tak berani menatap Keinand.

Keinand melangkah menghampiri Qiran tanpa melepas pandangan darinya yang mana setiap derap langkahnya seolah bagai dentingan kematian bagi Qiran. Tubuhnya sedikit gemetar mengingat ucapan sarkas dan dingin yang Keinand lontarkan sebelumnya.

Keinand berjalan memutari Qiran seakan mengamati penampilan Qiran dari ujung kaki sampai ujung kepala. Baju yang ia berikan sangat cocok dan melekat sempurna di tubuh Qiran yang sedikit berisi namun memiliki lekuk tubuh yang indah. Rambutnya terikat tinggi memperlihatkan leher jenjangnya yang putih. Tak ada make up atau gincu bahkan lipglos yang menghiasi wajah dan bibir namun Qiran masih terlihat cantik. Sangat sempurna, batinnya.

Keinand menghentikan langkahnya dan kini berdiri tepat di hadapan Qiran. "Sepertinya kau memang sangat cocok dengan status barumu," ucapnya yang kemudian setengah menunduk dan berbisik di telinga Qiran. "Dan aku sudah tak sabar lagi merobeknya untuk menikmati apa yang ada di baliknya."

Mata Qiran melebar terlebih saat merasakan embusan nafas hangat Keinand di telinga. Ia menelan ludah susah payah dan tak berani bersuara.

Keinand mengambil jarak dengan menarik tubuhnya dan menatap Qiran dimana raut wajahnya terlihat datar. "Sekarang lakukan tugasmu," perintahnya kemudian segera berbalik dan melangkah menuju pintu. Langkahnya terhenti selangkah sebelum mencapai pintu dan setengah menoleh pada Qiran. "Tunggu apa lagi?!"

Qiran tersentak kaget namun ia segera mengangguk dan melangkahkan kakinya keluar ruangan menuju dapur untuk memasak sarapan. Sementara Keinand melangkah menuju ruang santai dengan ponsel di tangan. Entah apa yang ia kerjakan, namun atensinya tak lepas dari layar ponselnya barang sejenak. Pagi ini adalah hari libur dan ia akan menghabiskan waktunya seharian di rumah. Dan sepertinya hari liburnya tak akan lagi membosankan karena ia telah memiliki mainan baru.

Beberapa saat kemudian, di dapur Qiran terlihat tengah mengupas bawang dengan cekatan. Mengenai kemampuan memasaknya tak perlu diragukan lagi karena sejak kedua orang tuanya meninggal ia sudah mandiri. Selain itu selama tinggal di rumah Reina ia juga yang bertugas membantu memasak.

Bunyi pisau yang beradu dengan tatakan terdengar memenuhi dapur yang terasa hening. Qiran memotong-motong tomat dan akan mengaplikasikannya dengan nasi goreng. Ia tidak tahu harus memasak apa dan hanya menemukan tomat dalam kulkas. Alhasil ia memilih memasak nasi goreng ekstra tomat untuk mengawali hari pertamanya.

Kepulan asap transparan terlihat dari penggorengan saat Qian memasukkan bumbu pada minyak yang telah panas. Tanganya dengan lihai mengorak-arik bumbu kemudian memasukkan telur dan kembali mengorak-ariknya disusul dengan memasukkan nasi. Spatula di tangannya bergerak lincah seolah ia sudah terbiasa melakukannya. Bagaimana tak terbiasa? Nasi goreng adalah makanan andalan saat dulu ia tak mampu membeli lauk. Setidaknya masih ada rasa gurih dari minyak dan campuran sebutir bawang putih dan garam. Selanjutnya ia memasukkan sedikit garam dan kembali menggoreng sampai nasi goreng matang. Setelah hampir matang ia memasukkan irisan tomat yang sebelumnya telah ia potong-potong kemudian mematikan kompor dan menyajikan nasi goreng ke atas piring.

Keinand yang mencium aroma harum seketika mengalihkan atensinya dari layar ponselnya kemudian meletakkannya ke atas meja dan mencari sumber aroma lezat yang berasal dari dapur. Ia seolah lupa bahwa mulai saat ini akan ada yang memasakkannya setiap hari juga membersihkan apartemennya. Dan yang lebih penting, bisa menjadi mainannya juga menjadi pion yang tengah ia persiapkan. Saat telah mencapai dapur ia berdiri dan bersandar pintu melihat Qiran yang saat ini tengah menyeduh kopi hitam yang pasti untuknya. Tentu saja, sudah sangat jelas. Diperhatikannya Qiran dari belakang terutama mengarah pandangannya pada area leher jenjang Qiran yang tampak menggoda. Merasa puas memandangi lekuk tubuh Qian, Keinand melangkah menghampiri saat Qiran telah meletakkan secangkir kopinya ke atas meja kemudian mencuci tangannya di wastafel cuci piring.

"Gyah!" Qiran terjingkat kaget karena saat ia berbaik telah mendapati Keinand sudah berdiri di belakangnya. Ia segera menunduk tak berani menatap Keinand yang saat ini menatapnya dengan raut wajahnya yang datar dimana ia bersedekap dada. "A—aku sudah selesai membuat sarapan untuk anda. Kalau begitu aku akan segera bersih-bersih," cicitnya.

Keinand hanya diam tanpa mengalihkan pandangan di mana perlahan ia menunduk hingga wajahnya tepat berada di depan wajah Qiran yang tak berani menatapnya. "Suapi aku," perintahnya.

"Ta– tapi … aku harus bersih-bersih."

"Kau menolak perintah majikanmu?!" kata Keinand dengan baritonnya yang terdengar dingin menusuk membuat tubuh Qiran seketika meremang.

Qiran menatap tepat pada kedua jelaga Keinand yang tak melepas sedikitpun tatapan tajam darinya. Hingga dengan pasrah ia menunduk dan mengangguk mengerti.

Perlahan Keinand menarik diri kemudian duduk ke kursi diikuti Qiran yang berdiri di sebelahnya. Mengambil sarapan Keinand, Qiran mulai menyuapinya.

"Apa ini?" Alis Keinand mengernyit tajam saat melihat sesendok nasi goreng telah berada di depan mulutnya.

"Ini … nasi goreng ekstra tomat. Karena dalam kulkas aku hanya menemukan banyak tomat jadi aku memutuskan untuk memasakan ini," jawab Qiran dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.

Keinand menatap sarapannya dalam diam selama beberapa saat kemudian membuka mulut. Ia memang menyukai tomat, tapi bagaimana rasanya jika diaplikasikan dengan nasi goreng?

Keinand mulai mengunyah dengan hati-hati saat sesuap nasi goreng telah masuk ke dalam mulut merasakan setiap rasa yang tercipta dalam mulutnya saat menikmati makanan sederhana itu. Tampilannya terlihat seperti nasi goreng pinggir jalan dengan tambahan tomat, namun menurutnya rasanya begitu pas di lidah. Rasa gurihnya menyatu dengan sedikit rasa asam manis dari buah tomat kesukaannya. Itulah kenapa ia memiliki banyak buah tomat dalam kulkas. Bahkan kadang ia menikmati tomat-tomat itu seperti memakan sebuah apel.

Keinand menelan kunyahan nasi goreng pertamanya dan kembali membuka mulutnya. Terus-menerus hingga tak terasa piringnya telah kosong bahkan bersih dari sebutir nasi. Dan bunyi piring yang mencium meja menjadi akhir dari sarapannya yang lezat. Ia tak mengira perpaduan tomat dan nasi goreng sangat cocok di lidahnya. Mungkin ia bisa menjadikan ini menu sarapannya setiap pagi.

"Tu—tuan, maaf," cicit Qiran dimana tangannya kini menggenggam selembar tisu dan mencoba mengambil sebutir nasi yang berada di sudut bibir Keinand. Namun sebelum itu terjadi, Keinand segera menahan tangannya. "Dengan mulutmu," perintahnya tanpa menunjukkan ekspresi berarti.

Dahi Qiran sedikit berkerut tak mengerti.

"Ambil dengan mulutmu," ucap Keinand kembali sarat akan nada perintah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel