Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 5. Dalam Genggaman Keinand

"Halo, bagaimana? Hn, Baiklah." Mematikan sambungan telepon, Keinand melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan di lantai bawah. Sebuah ruangan khusus yang menjadi tempat pribadinya.

Jarum jam berputar sesuai tugasnya dan sekarang hari telah fajar. Kedua mata yang sebelumnya terpejam itu pun perlahan terbuka dan saat menyadari tempat yang asing baginya seketika kedua matanya terbuka lebar. Ia bangun menegakkan punggungnya dan mengarah pandangan ke penjuru ruangan. "Di mana ini?" gumamnya. Seingatnya ia tertidur di sofa, tapi bagaimana bisa ia berada di sana sekarang?

Tiba-tiba perut Qiran berbunyi karena rasa lapar. Sejak kemarin saat ia pergi ke kantor polisi ia memang belum makan apapun. Tiba-tiba saja ia teringat Reina. Ia hanya mengatakan pada Reina bahwa ia ingin membeli sesuatu dan sengaja meninggalkan ponselnya di rumah. Kira-kira apakah saat ini Reina tengah mencarinya? Jika benar, ia harus segera menghubunginya dan mengatakan ia baik-baik saja. Tapi, jika Reina tahu apakah ia akan tetap membiarkannya? Qiran menggeleng berusaha menyingkirkan harapan bahwa Reina akan melakukan sesuatu untuk menyelamatkannya. Itu sangat tidak mungkin dan ia tidak ingin itu terjadi. Ia sudah berniat menanggung masalah ini sendiri. "Besok, aku harus menghubunginya," ucapnya dalam hati.

Qiran menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang memijak lantai yang begitu terasa dingin. Arah pandangnya jatuh pada sebuah pintu kayu bercat coklat yang ia yakini sebagai pintu kamar mandi kemudian melangkah menuju pintu itu dan membukanya dengan hati-hati.

"Mau kemana?"

Tepat di saat itu sebuah suara membuat Qiran menghentikan gerak tangannya kala hendak memutar knop pintu. Dengan hati-hati Qiran menoleh dan mendapati Keinand berdiri di depan pintu kamar dan menatapnya. Dan saat matanya kembali bersisbobok dengan mata kelam Keinand, tubuhnya kembali gemetar mengingat apa yang akan pria itu lakukan semalam..

Keinand melangkah menghampiri Qiran yang terdiam kaku. Berdiri tegak dengan kedua tangan bersedekap, ditatapnya Qiran dengan raut wajahnya yang begitu datar.

"A—Aku … ingin ke kamar mandi," cicit Qiran dengan berusaha mengalihkan pandangan darinya.

Seketika tubuh Qiran menegang saat melihat tangan Keinand terulur ke arahnya. Matanya pun melebar dengan degupan jantung yang menggila mengira Keinand akan melakukan sesautu padanya. Namun tidak, ia salah. Tangan Keinand terulur memutar knop pintu di belakangnya.

Pintu di belakang Qiran terbuka saat Keinand memutar knop dan tanpa mengatakan apapun mendorong Qiran masuk ke dalam.

"Gyah!" Qiran nyaris saja jatuh sampai tangan kokoh Keinand menahan tubuhnya. Namun hanya beberapa saat, karena setelahnya Keinand melepas tangannya dari pinggang Qiran dan membuatnya benar-benar terjatuh dengan bokong mencium lantai keras. Qiran meringis memegangi bokongnya yang terasa tumpul. Sementara Keinand mengabaikannya kemudian berjalan melewatinya. Qiran mengedarkan pandangan dan ternyata pintu yang hendak ia buka bukanlah kamar mandi melainkan sebuah lemari yang berisi banyak pakaian dan sepatu juga koleksi barang-barang mewah lainnya seperti jam tangan yang pastinya milik Keinand.

"Pakai," perintah Keinand seraya memberikan sebuah pakaian untuk Qiran.

Qiran yang masih terduduk di lantai menatap pakaian itu dalam diam. Pakaian itu berwarna hitam dan terlihat berenda-renda seperti pakaian maid orang kaya.

Tak segera menerimanya, Keinand melepas genggaman tangannya membuat pakaian itu jatuh di atas wajah Qiran. Ditatapnya Qiran dalam diam kemudian mengambil langkah melewati Qiran untuk keluar dari ruangan. Namun saat mencapai pintu, ia menghentikan langkah dan mengatakan, "Jika kau lupa, kau di sini hanya pembantu. Jadi cepat kerjakan tugasmu dan aku tak ingin melihat sebutir debu pun di sudut rumah ini."

Qiran terkejut mendengar Keinand berkata demikian, itu artinya ia benar-benar dijadikan pembantu sungguhan, bukan pembantu dalam tanda kutip seperti yang Keinand katakan semalam. Ia segera bangkit berdiri dan memberanikan diri membuka suara sebelum Keinand pergi. "Tu—tunggu!"

Keinand menghentikan langkah tanpa menoleh mendengar Qiran menahannya.

"Bolehkah aku tahu sampai kapan akan menjadi pembantu anda?" tanya Qiran dengan hati-hati.

Keinand setengah menoleh dan senyum tipis sarat akan makna terukir di bibirnya. "Sampai aku bosan," jawabnya.

Mata Qiran membulat mendengar dan melihat senyum yang lebih terlihat sebagai seringai menghina terlempar ke arahnya. Entah kenapa jawaban Keinand membuatnya memiliki pikiran buruk kedepannya. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat kemudian kembali membuka suaranya yang terdengar bergetar. "Bisakah … bisakah aku mengajukan permintaan?"

Keinand berbalik menatap Qiran yang menunduk dimana alisnya terlihat mengernyit tajam namun ia tetap mendengarkan apa yang akan Qiran katakan.

"Bisakah aku bekerja paruh waktu di tempat lain? Setelah aku menyelesaikan tugasku di sini aku akan bekerja di tempat lain untuk mengumpulkan uang sebagai ganti rugi." Karena dengan begitu ia harap bisa mengurangi masa tahanannya menjadi pembantu Keinand.

Keinand terdiam. Apa gadis ini gila? batinnya.

"A-- aku ingin meneruskan kuliah. Jika anda menjadikanku pembantu selamanya aku tidak akan bisa mewujudkan cita-citaku. Jadi kumohon, izinkan dan berikan aku waktu melunasi ganti rugi yang anda minta. Entah itu membutuhkan berapa tahun setidaknya aku ingin melanjutkan kuliah walau terlambat." Qiran mengatakannya dengan kedua tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya. Ia menunduk menyembunyikan kedua matanya yang terpejam saat menguatkan tekad mengatakan permintaannya.

Keinand bersedekap dada dan menatap Qiran dengan wajah angkuhnya yang congkak. "Lima ratus juta. Kira-kira, berapa tahun kau bisa mengumpulkannya?"

Qiran terdiam dengan suaranya tercekat di tenggorokan. Bahkan sepuluh tahun pun tak akan bisa menyentuh separuh jika ia hanya bekerja paruh waktu.

Melihat reaksi Qiran, Keinand kembali melangkah menghampirinya. Berdiri tepat di depan Qiran, ia mengatakan, "Kau boleh tetap kuliah dan aku akan membayar semua biaya yang kau butuhkan. Tapi kau harus melakukan apapun yang kumau, tak terkecuali tubuhmu kapanpun aku ingin. Bukankah kau takut jika aku mengekangmu selamanya? Maka jika kau bisa memuaskan aku, maka semakin aku cepat bosan dan akan membuangmu."

Tubuh Qiran terdiam kaku mendengar setiap kata yang terlontar dari mulut Keinand. Karena jika ia mengiyakannya, sama artinya ia menjual harga dirinya. Tapi jika tidak ….

Keinand setengah menunduk dan berbisik di telinga Qiran. "Mulai sekarang aku yang mengatur hidupmu. Salahkan pada dirimu yang memilih menceburkan diri dalam genggamanku. Karena kau harus tahu, apa yang telah masuk dalam genggamanku tidak akan terlepas tanpa seizinku." Kemudian kembali menarik diri dan berbalik lalu melangkah meninggalkan Qiran yang terdiam kaku.

Qiran seolah tak sanggup bergerak terngiang apa yang baru saja Keinand katakan. Ia tak pernah mengira jika hidupnya akan berakhir sedemikian rupa seolah ini bukanlah akhir dari penderitaannya melainkan sebuah awal. Seperti apapun ia mencoba baik-baik saja, nyatanya ia tak bisa.

Di tempat lain terlihat seorang wanita yang tak berhenti menatap layar ponsel di tangan yang menunjukkan sebuah foto Keinand yang membawa seorang gadis ke dalam apartemennya. Raut wajah yang sebelumnya datar kini terlihat bengis dengan tangan yang menggenggam kuat ponsel di tangan seakan berniat meremukkannya. Perlahan genggaman tangannya mengendur kemudian ia terlihat menghubungi seseorang. "Ada tugas untukmu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel