Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 4. Hanya Alat

Tubuh Qiran gemetar hebat, apa yang akan dilakukannya? batinnya. Kedua tangannya yang gemetar berusaha mendorong tubuh Keinand yang berada di atasnya dimana ia tak berani menatapnya. "Tu—Tuan, a—apa yang kau lakukan?"

Keinand kembali menegakkan punggungnya dan berdiri tegak di hadapan Qiran dimana kedua tangannya telah berada dalam cengkraman tangan Keinand yang kuat. "Bukankah sudah sangat jelas?" jawabnya yang kemudian kembali mendorong Qiran hingga ia terbaring di atas sofa.

"Ta—tapi, Tuan, bukankah aku hanya akan menjadi pembantu yang bertugas membersihkan rumah?" suara Qiran terdengar bergetar terlebih saat Keinand menaiki sofa dengan kedua lututnya yang bertumpu menahan berat tubuhnya.

"Tentu saja namun bukan hanya itu, kau juga harus membantuku menuntaskan hasratku," jawab Keinand yang kini mulai menindih Qiran dimana kedua tangannya berada di sisi kanan dan kiri kepala Qiran menekan kedua tangannya yang lemah.

"Ta—tapi—" ucapan Qiran terpotong saat Keinand kian merunduk dan menelusupkan wajahnya di antara ceruk lehernya. Wajah Qiran memerah sempurna merasakan embusan nafas panas Keinand yang menerpa kulit lehernya. Tapi ini tak bisa dibiarkan, ia tidak bisa. Ia berusaha memberontak melepaskan diri namun kukuhan tangan Keinand begitu kuat bahkan membuat tangannya sakit. "Kumohon, Tuan, jangan! Aku sedang-- aku sedang mendapat tamu bulanan!" jerit Qiran berharap Keinand berhenti karena pria itu semakin membuatnya ingin mati merasakan lidah basah yang membelai kulit.

Gerakan Keinand terhenti seketika, ia menatap Qiran dengan sorot matanya yang tajam. "Kau ingin membohongiku?!" geramnya.

Qiran menggeleng. "Tidak! Sungguh. Aku benar-benar tengah mendapat tamu bulananku sekarang!" jawabnya dengan mata yang telah sembab.

"Tsk." Keinand segera bangkit dari atas tubuh Qiran diiringi decakan marah. Ia turun dari sofa kemudian bangkit berdiri dan melangkah menuju tangga. Namun saat berada di depan tangga, ia menoleh menatap Qiran yang tengah membenahi pakaiannya. "Jika kau membohongiku, tak akan ada ampun bagimu," ucapnya dengan suara dingin menusuk.

Qiran hanya bisa menangis. Tangannya yang masih gemetar mengancingkan kembali kancing kemejanya yang sebelumnya telah terbuka sebagian. Air matanya mengalir deras saat Keinand tak lagi terlihat dan menghilang di ujung tangga. Padahal ia sudah berjanji pada ibunya bahwa ia tidak akan menangis, tapi untuk kali ini ia tak bisa. Rasanya terlalu sakit bahkan setelah air matanya tumpah pun rasa sakit itu masih tersisa.

Tiba-tiba bayangan Reina yang tersenyum menunjukkan sketsa rancangannya membuat Qiran mengusap air matanya kasar. Ia tak boleh lemah dan menangisi keadaan setelah apa yang telah berjalan meski tetap saja rasanya sakit. Rasa sakit itu bukan karena ia menyesal telah menggantikan Reina, melainkan sakit saat seorang pria hampir menjamah tubuhnya. Mungkin kali ini ia masih bisa selamat, tapi bagaimana dengan esok hari? Atau, apakah ia kabur saja?

Sementara kini Keinand tengah mengguyur tubuhnya dengan air dingin dari shower. Kedua tangannya menekan dinding dengan ia yang setengah menunduk. Sial, ia hampir kehilangan kendali. Memejamkan mata, ia setengah mendongak membiarkan setiap aliran air dingin membasahi wajah tampannya. Seumur hidupnya selama 26 tahun, baru kali ini ia nyaris kehilangan kontrol diri. Entah apa yang salah, ia yang biasanya bisa mengendalikan diri kini harus bersusah payah menidurkan sesuatu yang sebelumnya terbangun. "Tsk, sial," geramnya dengan kedua tangannya yang terkepal menopang tubuhnya dengan menekan dinding yang basah karena cipratan air yang mengguyur.

Merasa siksaannya tak akan segera berakhir, ia memilih mematikan shower dan memutuskan berendam air dingin.

Air dalam bathup itu mengombak dan tumpah saat Keinand menenggelamkan tubunya yang telenjang ke dalamnya. Kedua tangannya berpangku pada tepian bathup dengan kepala setengah mendongak dimana kedua matanya terpejam. Dan saat ia membuka mata hal pertama yang terlintas adalah bayangan Qiran. Sepertinya Qiran memanglah gadis yang tepat untuk memuluskan rencananya. Sayangnya, ia tak mengira jika reaksinya akan seperti ini. "Hah …." Kepulan uap transparan keluar dari mulutnya kala ia menghela nafas berat. Perlahan tubuhnya merosot hingga menenggelamkan kepalanya selama beberapa detik dalam air. Apapun yang terjadi Qiran sudah menjadi bagian dari misi yang telah ia rencanakan selama ini. Ia akan menjadikannya alat meraih tujuannya. Rencananya masih panjang namun semua telah tertata rapi dalam otak. Ia tak peduli apa yang terjadi pada Qiran nanti karena Qiran hanyalah alat. Apapun dan siapapun yang bisa ia jadikan alat meraih tujuannya, akan ia manfaatkan sebaik mungkin. Dan tak akan ia biarkan siapapun ikut campur dan mengganggu rencananya baik kakaknya sendiri atau wanita 'itu' sekalipun.

***

Keinand menuruni anak tangga dengan arah pandang ke arah Qiran yang terlihat meringkuk di sofa. Ia telah selesai membersihkan diri juga selesai menidurkan kembali apa yang sebelumnya terbangun. Ia melangkah perlahan mendekati Qiran yang sepertinya telah tertidur lelap, berdiri di depan sofa tanpa melepas pandangan sedikitpun dari pembantunya dimana kedua tangannya masuk saku celana training yang dipakainya. Ia tetap pada posisi seperti itu selama beberapa saat mengamati wajah ayu Qiran yang terlihat layu dengan jejak air mata. Merasa membuang waktu ia memutuskan berbalik kemudian melangkahkan kaki menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Keinand segera meneguk segelas air putih hingga tandas mengaliri tenggorakannya yang terasa kering.

Meletakkan kembali gelas ke atas pantry, tiba-tiba bayangan Qiran yang meringkuk kembali terlintas. Sebenarnya ada yang mengganjal pikirannya mengenai Qiran. Apa gadis itu terlalu bodoh atau terlalu baik? Hanya demi teman, ia rela berkorban. Namun itulah yang membuatnya memilihnya daripada memilih Reina yang merupakan tersangka sesungguhnya. Tentu saja karena ia membutuhkan wanita seperti Qiran untuk menjadi bagian dari rencana besarnya.

Sebelumnya Keinand telah menyuruh seseorang menyelidiki asal-usul Qiran. Meski ia sudah mendapat informasi bahwa Qiran hanyalah anak yatim piatu yang sekarang menumpang di rumah temannya, tetap saja apa yang Qiran lakukan terlalu berlebihan jika hanya untuk melindungi seorang teman.

"Tsk, siapa peduli." Keinand berdecak kemudian memutuskan segera beristirahat melihat waktu sebentar lagi menunjukkan tengah malam.

Tiba-tiba langkah Keinand terhenti sesaat saat ia melewati ruang tamu dan kembali melihat Qiran yang meringkuk. Memilih mengabaikannya, ia kembali melanjutkan langkah menaiki anak tangga menuju kamarnya. Namun saat ia tengah mencapai setengah dari anak tangga, ia menoleh ke arah Qiran dengan sorot mata tak terbaca. Tangannya yang berpegang pada teralis tangga menguat kemudian berbalik kembali menuruni anak tangga dan menghampiri Qiran.

Dahi Qiran terlihat sedikit berkerut dengan kedua tangan yang menguatkan pelukan pada tubuhnya sendiri. Keinand yang melihatnya akhirnya memutuskan membawa Qiran tidur ke kamar. Ia menunduk dan menelusupkan kedua tangan di bawah leher dan pantat Qiran kemudian mengangkat tubuh Qiran dalam satu kali angkat. Entah hanya perasaan saja atau tubuhnya memang begitu ringan? batinnya.

Sementara Qiran tetap terlelap seolah begitu lelah hingga membuatnya tak sadar bahwa ia tengah tidur dalam gendongan seseorang.

Kaki Keinand menaiki setiap anak tangga dengan hati-hati dimana sesekali ia mengamati wajah ayu Qiran yang tertidur pulas dengan dengkuran kecil halus terdengar.

Sesampainya di depan kamar, Keinand membuka pintu dengan hati-hati kemudian segera masuk dan merebahkan Qiran ke atas ranjang. Setelah berhasil merebahkan Qiran dengan hati-hati tanpa membuatnya terbangun, Keinand tetap berdiri di sana mengamati Qiran dalam diam. Entah apa yang ia pikirkan sekarang, namun setelahnya ia berbalik dan merogoh saku celana mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel