Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 3. Menyerahkan Diri

Saat ini Qiran tengah duduk di hadapan dua orang polisi. Sesuai apa yang dikatakannya pada Keinand semalam, ia benar-benar datang ke kantor polisi dan menyerahkan diri tanpa sepengetahuan Reina dan kedua orang tuanya yang kebetulan sejak kemarin tidak di rumah.

"Baiklah, silahkan ikut kami," perintah salah satu polisi itu setelah sebelumnya terlihat menghubungi seseorang.

Qiran hanya bisa pasrah, ia sudah menyiapkan diri dan akan menerima ini seikhlas mungkin. Meski ia tak mengira jika akan dimasukkan ke dalam bui secepat ini setelah ia membuat pengakuan dan setelah polisi menghubungi pemilik mobil.

Dua orang polisi itu membawa Qiran ke dalam sel khusus yang masih kosong dan menyuruhnya masuk lalu mengatakan jika ia harus berada di sana sampai waktu yang tak bisa ditentukan.

Qiran memasuki sel perlahan dengan tubuhnya yang gemetar. Kedua kakinya yang memijak lantai tahanan serasa akan meleleh merasakan dinginnya lantai. Setelahnya ia duduk di sudut sel dengan memeluk lutut. Senyum getir pun terukir di bibir menerima kenyataan seperti ini. "Tidak apa Qi, kau melakukan sesuatu yang benar," ucapnya dalam hati.

Waktu terus berjalan dan saat ini hari mulai petang. Qiran masih berada dalam sel tahanan sejak tadi pagi dan yang ia lakukan hanyalah berdiam diri dengan duduk memeluk tubuhnya sendiri di sudut sel. Sementara pikirannya selalu menekankan pada diri bahwa semua akan baik-baik saja. Ia hanya akan berada dalam penjara dalam beberapa tahun paling lama, kemudian akan keluar dan ia akan memulai kehidupan barunya. Tapi, kapankah hari itu? Ia bahkan baru memulainya sehari tapi rasanya sudah sangat lama seolah jam tak mau bergerak.

"Kau boleh keluar."

Qiran tersentak dari lamunan saat suara tegas seorang polisi yang kini membuka pintu sel terdengar jelas. Qiran hanya menatap polisi itu penuh tanya tanpa berani bangkit dan berdiri tegak.

"Keluarlah, pemilik mobil yang kau rusak ingin menemuimu," terang polisi itu dan meminta Qiran segera keluar.

Qiran menelan ludah susah payah dengan jantung yang terasa dipompa cepat. Rasanya ia ingin tetap tinggal dalam sel tanpa harus menemui pemilik mobil itu. Jujur saja ia takut. Namun dengan terpaksa ia menuruti perintah polisi itu dengan mengikuti di belakangnya. Langkah kakinya sedikit bergetar namun ia tetap harus menghadapi kenyataan. Tiba-tiba saja Qiran merasa ada yang aneh saat polisi itu membawanya keluar dan menuju sebuah mobil yang terparkir di depan pintu utama kantor. Dan ia semakin dibuat tak mengerti saat muncul seseorang yang membuka pintu mobil kemudian mempersilahkan masuk.

"Silahkan, Nona."

Qiran hanya diam dan tetap berdiri di tempat. Ia menatap polisi yang membawanya dan bertanya, "Maaf, Pak, apa aku akan dipindahkan ke tahanan lain?"

"Tidak, kau bebas," jawab polisi itu dengan raut wajah tak terbaca.

"Ta-- tapi, Pak?"

"Sebaiknya anda segera masuk, Nona. Tuan tidak suka menunggu," ujar pria yang sebelumnya membuka pintu mobil.

Qiran makin gusar, ia tidak tahu siapa yang kini berada dalam mobil dan memintanya segera masuk. Tapi melihat tatapan dari dua orang yang seolah menyuruhnya segera masuk mobil, tak ada pilihan lain baginya.

****

Jbles ….

Pintu tertutup keras sesaat setelah Qiran masuk ke dalam mobil

"Lambat."

Sebuah suara membuat Qiran memberanikan diri melihat siapa yang kini duduk di sebelahnya. Saat memasuki mobil ia tak berani melihat bahkan hanya melirik sekilas pun tidak pada siapa yang telah duduk di dalam. Degup jantungnya seolah dipompa dengan keras saat tatapannya bersibobok dengan iris mata kelam milik pria yang kini duduk di sampingnya. Dan yang menjadi pertanyaannya sekarang adalah, dia siapa?

Tubuh Qiran masih gemetar hebat mengingat setiap kata yang terucap dari pria yang saat ini berdiri di hadapannya dan tak melepas sedikitpun pandangan darinya.

"Jadi, apa jawabanmu?"

Qiran menelan ludah kasar mendengar pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya. Bagaimana bisa ia menjawab jika pertanyaan yang lebih tepatnya perintah pria itu demikian?

Sekitar setengah jam yang lalu mobil yang membawa Qiran keluar dari kantor polisi memasuki area salah satu apartemen mewah di Jakarta. Selama di perjalanan pria yang duduk di sebelahnya yang tak lain adalah Keinand, pemilik mobil yang Reina rusak kemarin sama sekali tak mengucap sepatah katapun. Namun berbeda saat pria itu telah membawanya memasuki sebuah kamar apartemen, Keinand seketika mengajukan sebuah penawaran yang lebih tepat disebut perintah.

"Aku sudah membebaskanmu, dan sebagai imbalan mulai sekarang kau adalah pembantuku."

Qiran seolah jatuh ke dalam jurang tak berdasar mendengar bariton tegas itu berucap demikian. Dan semakin terasa dipendam ke dalam lautan saat pria itu memberi pilihan kedua.

"Jika kau menolak, maka temanmu itu yang akan menggantikanmu membusuk di penjara."

Kenapa? batin Qiran menangis. Jika ia dipenjara, ia masih memiliki kesempatan memulai kehidupan baru setelahnya setelah bebas. Tapi jika menjadi pembantu, sampai kapan?

"Bo—bolehkah aku kembali ke penjara saja sebagai bentuk pertanggungjawaban?" cicit Qiran tanpa berani menatap mata kelam sekelam malam milik Keinand yang tak berhenti menatapnya dimana tatapan itu seolah mampu menelanjanginya.

Sret!

Ibu jari dan tekukan jari telunjuk Keinand bekerja sama menarik dagu Qiran dan menghadapkan wajah ayu itu padanya. Diamatinya wajah Qiran yang menunjukkan ketakutan namun tetap berusaha menahan air matanya yang hampir menggenang. Sorot matanya yang tajam mengarah pada kedua kelopak mata Qiran yang lebar dengan iris hitam kecoklatan jernih kemudian turun pada hidung yang kecil dan sedikit mancung. Lalu kembali merambat turun pada bibir kissable Qiran yang berwarna peach alami. Satu tangannya membelai lembut pipi Qiran yang sedikit memerah karena rasa takut. Halus, sangat halus hingga ia ingin menyentuhnya lagi. Perlahan ia setengah menunduk dan mendekatkan wajahnya kemudian berbisik di telinga Qiran. "Menjadi pembantuku, atau temanmu membusuk di penjara."

Mata Qiran melebar kala bisikan itu terdengar amat jelas di telinga. Dan sudah dipastikan pilihannya hanya dua, mengorbankan dirinya sendiri atau mengorbankan Reina.

Keinand menarik kepala dan melepas tangan dari dagu Qiran. "Aku tak punya waktu untuk mendengar jawabanmu. Jika tidak, aku akan melakukan keduanya."

Jantung Qiran seolah meloncat keluar mendengar ancaman demikian. Dan entah kenapa ia yakin jika apa yang Keinand katakan bukan sekedar ancaman. Wajah Keinand seakan menunjukkan seperti apa ia yang sebenarnya, dingin dan tak bisa diganggu gugat jika memiliki keinginan. Qiran menelan ludah kasar kemudian membulatkan tekad menjawab, "Ba—baiklah. A—Aku …." Menggigit bibir bawahnya kuat-kuat dengan kedua tangannya yang terkepal kuat, Qiran melanjutkan ucapannya. "Aku … akan menjadi pembantumu," jawabnya dengan berat. Apapun yang terjadi ia akan melindungi Reina untuk membalas kebaikan keluarganya. "Ta—tapi, kumohon, jangan libatkan Reina atau keluarganya," pintanya memelas di akhir kalimat.

Keinand terdiam melihat bagaimana raut yang Qiran tunjukkan sekarang. Ia memejamkan mata sejenak kemudian sebuah seringai terukir di bibirnya. Detik berikutnya tanpa mengatakan apapun ia segera menarik tangan Qiran dan mendorongnya hingga terduduk di sofa empuk ruang tamu apartemennya.

Kedua tangan Keinand bertumpu menekan atas sofa mengukung Qiran yang terlihat cemas. Menarik satu tangannya untuk melonggarkan dasi, seringainya pun kian terukir.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel