Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Chapter 2. Anak Kucing?

"Ha—Halo,” ucap Qiran terbata bahkan suaranya terdengar bergetar.

"Jika kau tak segera bicara, aku tak akan sudi menerima panggilan kedua."

Qiran kembali menelan ludah kasar. Suara pria itu terdengar begitu dingin dan menusuk padahal mereka hanya berbicara lewat sambungan telepon. "Ma—maaf. A—Aku Qirania Mahreen, yang merusak mobil anda."

"A … gadis gila yang merusak mobilku? Kau sudah punya uang untuk mengganti rugi? Bagus sekali."

"Ma—maaf. Se—sebenarnya aku menghubungi anda untuk mengatakan jika aku tak bisa membayar ganti rugi sebanyak itu. Bi—bisakah tuan memberiku sedikit keringanan?"

"Keringanan? Untuk seorang gadis gila rasanya mustahil. Kau tidak akan tahu namanya tanggung jawab."

"Ta—tapi, aku tidak memiliki uang sebanyak itu."

"Oh, bukankah kalau begitu sangat mudah? Besok polisi akan menjemputmu."

Qiran memejamkan mata sejenak kemudian menjawab dengan suaranya yang tegar. "Ba—baiklah."

"Sungguh?"

"I—iya. Ta—tapi, bisakah jangan menangkapku di rumah? Aku tidak ingin keluargaku melihatnya."

"Kau pikir siapa berani menyuruhku?!"

"Ma—maaf. Ta—tapi, aku benar-benar tak ingin keluargaku melihatnya. Ka—kalau begitu, aku yang akan ke kantor polisi untuk menyerahkan diri." Meski terbata namun suaranya menunjukkan kesungguhan dan keseriusan. "Tu—Tuan, namaku Qirania Mahreen, besok anda bisa menemuiku di kantor polisi. Tapi tolong jang--" ucapan Qiran terhenti saat mendengar tanda panggilan diakhiri.

Tut … tut … tut ….

Qiran segera melihat layar ponselnya saat panggilan terputus. Sepertinya orang itu sengaja memutuskan sambungan panggilan, batinnya. Ia menghela nafas berat kemudian menoleh menatap Reina yang telah tertidur lelap. Ia akan menggantikan Reina dengan ia yang mengaku sebagai pelaku. Dan ia tak akan membiarkan Reina tahu karena ia pasti tak akan membiarkannya.

Sementara di tempat lain, seorang pria tak berhenti menatap sebuah kartu tanda pelajar di tangan. Sebuah kartu yang menjadikan petunjuk siapa yang telah berani merusak mobil kesayangannya.

"Qirania Mahreen," gumam pria itu. Matanya terpejam sesaat kemudian kembali pada aktivitasnya sebelumnya, yakni menatap foto Qiran yang terpampang pada kartu pelajar dalam genggaman.

***

"Yo, Kei!"

Suara cempreng seorang pria yang baru memasuki sebuah ruangan membuyarkan konsentrasi pria yang kini tengah duduk di kursi kebesarannya. Satu tangannya memangku rahang dan satu tangannya memegang beberapa lembar kertas. Arah pandang yang sebelumnya tak lepas dari lembaran kertas di tangan kini mengarah pada seorang pria berambut pirang yang berjalan ke arahnya.

"Kudengar seseorang merusak mobilmu, apa yang terjadi? Apa dia salah satu wanitamu yang kau buang dan balas dendam, hm?"

Pria berambut pirang itu berdiri di depan meja sang CEO Keinand Harris Atmadja, pemilik KeyShop yang merupakan salah satu marketplace sukses saat ini. Siapa yang tak mengenal Keynand? Pria tampan pemilik wajah bak dewa yunani dengan tinggi 180 cm dan bentuk tubuh proporsional, rahang tegas, hidung mancung juga sorot mata tajam yang seakan mampu membuat kaum hawa meleleh.

Keinand membanting lembaran kertas di tangan ke atas meja kemudian bangkit dari duduknya. Memasukkan kedua tangan masuk saku celana, ia berbalik dan menatap luasnya ibu kota dari balik jendela kaca besar di belakang kursi singgasananya.

Pria berambut pirang mengernyitkan alis, dahinya sedikit berkerut melihat sahabat sekaligus rivalnya saat SMA justru membuang muka darinya dan mengabaikannya. Ia mengambil langkah kemudian menghentikan langkahnya di sebelah Kei, menyandarkan bahunya pada dinding kaca kemudian kembali bertanya, "Jadi, seperti apa wanita itu? Aku sangat penasaran siapa yang berani merusak mobil kesayangan bos besar kita."

Keinand masih diam dan hanya melirik pria berambut pirang itu sekilas. Kemudian ia berbalik dan setengah menyandarkan tubuhnya pada dinding kaca di belakangnya dimana kedua tangannya kini bersedekap. Tiba-tiba seringai bengis terukir di bibirnya dan membuat pria berambut pirang kembali mengernyitkan alis. "Hanya seekor anak kucing."

Faro namanya, pria berambut pirang yang kini mengikuti Keinand dengan setengah menyandarkan tubuhnya dan menatapnya penuh tanya. "Anak kucing? Sejak kapan seekor kucing bisa menghancurkan spion mobil?" tanyanya dengan wajah polos.

Keinand merogoh saku celana mengambil smartphone-nya dan memberikannya pada Faro.

Faro menerima smartphone di tangannya kemudian melihat sebuah rekaman yang telah Keinand putar sebelumnya. Dalam video itu memperlihatkan dua orang gadis yang masih memakai seragam SMA menghentikan motor mereka tak jauh dari mobil Keinand di tepi jalan kemudian salah satu di antaranya terlihat seperti mencari sesuatu. Selang beberapa saat gadis itu kembali dengan sebongkah batu sebesar dua kepalan tangan dan sengaja merusak spion mobil Keinand mengabaikan alarm mobil yang berbunyi. Dan saat gadis itu hendak melakukannya lagi pada spion yang satunya, rekan gadis itu mencegah dan menyeretnya untuk segera pergi. Gadis yang melakukan perusakan itu tampak menolak namun akhirnya mengurungkan niatnya kembali merusak spion mobil Keinand kemudian lari dari sana.

"Wow, aku tak mengira sekarang kau bermain dengan dua ekor anak kucing. Kau tak berubah menjadi pedo kan?" sindir Faro sarkas. Ia masih mengira apa yang dilakukan gadis itu sebagai bentuk balas dendam karena Keinand yang telah mempermainkan salah satu dari mereka.

Seketika mata Keinand memnicing melirik Faro. Namun ia memilih diam dan merampas kembali smartphone dari tangannya.

Kemarin Keinand memarkirkan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi dan ia harus gigit jari karena saat ia kembali telah mendapati satu spion mobilnya telah hancur. Tentu kemarahannya mencapai ubun-ubun melihat salah satu koleksi mobilnya mengalami kerusakan. Tanpa menunggu ia segera menghubungi seseorang dan memintanya menemukan siapa yang berani melakukannya. Tak sampai satu jam, orang suruhannya telah menemukan sebuah bukti rekaman cctv di sekitar tempat kejadian. Dan bukti nyata yang ia temukan di TKP adalah sebuah kartu tanda pelajar yang tergeletak di depan mobilnya. Sebuah kartu tanda pelajar bernamakan Qirania Mahreen.

Setelah melihat rekaman cctv yang anak buahnya kirimkan juga bukti sebuah kartu nama, Keinand memerintahkan beberapa anak buahnya datang ke rumah tersangka. Tak tanggung-tanggung ia meminta ganti rugi sebanyak 500 juta. Dan sebuah kemenangan telak bahwa mereka hanyalah anak-anak dari kalangan menengah dan tidak mungkin membayar ganti rugi sebanyak itu bahkan meski telah menurunkan nilai ganti rugi menjadi 100 juta sekalipun.

"Jadi, kau apakan mobilmu?"

Keinand sedikit tersentak dan tersadar dari lamunan kala mendengar pertanyaan Faro. "Mungkin akan kubuang," jawabnya dengan mengedikkan bahu kemudian melangkah dengan kedua tangan masuk saku celana.

"Tsk, sombong sekali." Faro mencebik. Tak pernah berubah, sombong, batinnya. Dan saat melihat Keinand terus melangkah dan hendak mencapai pintu, suara cemprengnya kembali mengudara. "Hei! Mau kemana kau?!" Lalu segera mengikuti si pemilik ruangan dengan berjalan di belakangnya.

"Ingin melihat sesuatu yang menarik," jawab Keinand tanpa menoleh. Seringai tipis kembali terukir di bibir membuat wajahnya yang tampan namun dingin kian terlihat menakutkan.

Sementara Faro yang kini telah menyamakan langkah hanya melihatnya dengan raut penuh tanya. Ini berbeda, ia seolah menemukan Keinand yang berbeda dari Keinand yang biasanya. "Hah … terserah kau sajalah. Kuharap bukan sesuatu yang akan membuat kak Gavin mencekikmu," ujarnya memberi peringatan seraya mengedikkan bahu.

Seketika Keinand menghentikan langkah dan menatap Faro dengan tatapan setajam elang. Ia paling tidak suka diancam menggunakan nama sang kakak.

Faro bergidik ngeri melihat tatapan tajam Keinand padanya. "Hehehe, iya, iya, aku hanya mengingatkanmu, tahu," kelakarnya yang kemudian segera mengambil langkah seribu.

Keinand tak berhenti menatap punggung Faro sampai getar ponsel dalam saku celana membuatnya segera mengangkat panggilan. "Halo. Hm?" Alisnya sedikit mengernyit mendengar apa yang dikatakan orang yang menghubunginya. Dan saat mematikan panggilan, seringainya kembali terukir jelas dengan bibir yang terlihat bergerak kala mulutnya mengucap sebuah nama.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel