Chapter 1. Bertanggung Jawab Demi Teman
Di sebuah kamar sederhana salah satu rumah yang bertempat di pinggiran kota Jakarta, terlihat dua orang gadis yang duduk bersila di atas ranjang dan tak berhenti menangis sejak hampir satu jam yang lalu.
"Bagaimana ini? Aku benar-benar bodoh," racau gadis berambut hitam lurus yang terikat asal dimana ia tak berhenti mengusap air mata.
"Tenang saja Rei, semua akan baik-baik saja," ujar Qiran, gadis cantik yang kedua matanya sama sembabnya dengan mata sang sahabat, Reina. Ia mengusap air mata yang terus membasahi pipi sang sahabat seraya berusaha mencari solusi dalam otak. Masalah yang dihadapi sahabatnya benar-benar di luar dugaan. Semua berawal tadi pagi saat Qiran dan Reina berangkat sekolah. Keduanya merupakan siswi SMA dan kini tinggal menunggu pengumuman kelulusan.
Sebuah mobil yang melaju kencang menyerempet motor yang Reina dan Qiran kendarai dan membuat keduanya jatuh. Meski tak mendapat luka serius, namun hal itu membuat Reina geram, pasalnya tak ada itikad baik dari pengemudi mobil yang entah sadar atau tidak hampir mencelakai orang lain. Dan entah sebuah kebetulan atau kesialan, ketika pulang sekolah mereka menemukan mobil itu terparkir di tepi jalan yang cukup sepi. Reina yang hafal rupa dan nomor plat mobil itu pun segera mengambil tindakan ceroboh sebagai bentuk balas dendam. Gadis itu mengambil sebuah batu dan merusak kaca spion mobil seharga milyaran itu. Qiran sudah mencegahnya namun Reina tetap melakukan aksinya dengan maksud memberi pelajaran. Dan dari sanalah tangisan keduanya tercipta. Meski ia merupakan korban sebelumnya, namun tetap saja apa yang dilakukannya adalah tindakan kriminal dan membuatnya kini menjadi tersangka.
Dua jam yang lalu rumah Reina didatangi beberapa orang dan memintanya bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi pada mobil itu. Tak tanggung-tanggung, pemilik mobil meminta ganti rugi sebanyak 500 juta. Tentu Reina tak dapat memberi ganti rugi sebanyak itu. Jangankan 500 juta, sepuluh persen dari uang itu pun ia tak memilikinya. Ia hanya anak tunggal dari seorang karyawan biasa di sebuah perusahaan swasta. Bahkan gaji ayahnya setahun pun tak akan cukup membayar ganti rugi sebanyak itu.
"Lalu apa yang harus aku lakukan Qi? Aku benar-benar menyesal. Bagaimana jika dia memenjarakanku?" racau Reina kembali. Rasanya ia ingin memutar waktu dan tidak akan terbawa emosi lagi dengan merusak mobil itu. Baginya hari ini adalah hari tersial sepanjang sejarah hidupnya.
Qiran hanya bisa memeluk Reina dengan tak berhenti memberi punggungnya usapan lembut. Berharap apa yang ia lakukan sedikit mampu membuat sahabatnya itu lebih tenang meski rasanya sangat mustahil. Jika ia berada di posisi Reina, ia juga pasti tak sanggup lagi berpikir. Qiran terdiam menahan isakan, ia tak akan membiarkan Reina masuk penjara. Reina dan keluarganya sudah banyak membantu dan menolongnya selama ini, dan ia akan melakukan apapun untuk menebus semua kebaikan keluarga Reina meski harus mengorbanan diri sendiri.
Qirania Mahreen, gadis berusia 19 tahun yang sebentar lagi akan mendapat gelar sebagai lulusan terbaik di salah satu SMA Jakarta, harus mengubur cita-citanya menjadi seorang dokter. Karena ia memutuskan bahwa ia yang akan menggantikan sahabatnya, Reina Yunis sebagai bentuk ganti rugi. Ia siap masuk bui asal sahabatnya bisa bebas dan melanjutkan cita-citanya menjadi seorang model sekaligus designer terkenal. Tiga tahun mereka bersahabat dan dua tahun tinggal bersama setelah kematian ibunya, baru kali ini ia melihat Reina seperti kehilangan cahaya. Ia yang selalu melihat keceriaan Reina dan semangatnya meraih cita-cita bertekad akan melindungi harapannya meski harus mengorbankan dirinya sendiri.
Qiran hanyalah seorang anak dari keluarga yang sederhana. Ayahnya bekerja sebagai pekerja bangunan sementara ibunya hanya menjadi ibu rumah tangga tanpa pekerjaan. Bukan tanpa alasan, ibunya memang memiliki fisik yang cukup lemah dan mudah sakit. Meski begitu Qiran tetap menyayangi kedua orang tuanya dan hidup bahagia dengan kesederhanaan. Namun kebahagiaan kecil Qiran menghilang saat ayahnya meninggal. Ayahnya mengalami kecelakaan kerja dan meninggal dunia saat Qiran lulus SMP. Meninggalnya sang ayah membuat kehidupan Qiran memburuk. Ibunya sering sakit sementara tak ada uang untuk berobat. Qiran pun sempat berniat berhenti sekolah namun sang ibu melarangnya. Ingin tetap memenuhi keinginan ibunya, Qiran mengikuti program beasiswa. Sementara untuk menyambung hidupnya Qiran bekerja paruh waktu sebagai buruh cuci piring. Pesan sang ibu yang memintanya tetap bersekolah dan meraih cita-cita sampai menjadi orang sukses menjadi penyemangat untuknya membuatnya bertekad menjadi seorang dokter kelak. Dan ia berjanji akan mewujudkannya agar bisa mengobati ibunya tanpa terbebani biaya.
Sayangnya keinginan dan janji Qiran tak dapat terwujud karena ibunya meninggal menyusul sang ayah satu tahun setahun setelah kematiannya. Sejak hari itu Qiran seolah kehilangan tujuan hidup. Alasannya bertahan demi sang ibu, dan saat ibunya telah tiada ia seolah tak memiliki harapan melanjutkan hidupnya. Namun di saat itu Reina datang dan merangkulnya, membawanya pada keluraganya dan mengajaknya tinggal bersama. Reina tak berhenti memberinya semangat dan menjadi keluarga baru untuknya. Begitu juga dengan kedua orang tua Reina, mereka memperlakukan Qiran layaknya seorang anak. Mulai hari itu Qiran berjanji akan membalas kebaikan keluarga Reina dan menjadikan keluarga mereka tujuan hidup selanjutnya.
"Kau tenang saja Rei, serahkan semua padaku," ucap Qiran dalam hati. Tanganya masih mengusap lembut punggung Reina yang sebelumnya bergetar diiringi suara sesenggukan. Matanya yang sembab menatap wajah Reina yang kusut dengan jejak air mata yang masih membasahi wajah. Reina kini telah terlelap dengan sisa sesenggukan yang sesekali terdengar. Terlalu lelah menangis dan memikirkan nasibnya membuatnya perlahan terjatuh ke alam mimpi. Dengan hati-hati Qiran merebahkan kepala Reina pada bantal memberinya posisi tidur ternyaman. Dengan sangat hati-hati pula ia turun dari atas ranjang dan mengambil ponselnya di atas nakas samping tempat tidur. Mengambil sebuah kartu nama di atas meja belajar, ia mengetikkan beberapa angka pada layar.
Tut … tut ….
Qiran menelan ludah susah payah dengan tangannya yang sedikit gemetar. Ia tengah berusaha menghubungi si pemilik mobil hendak melakukan penawaran. Dan nyaris saja jantungnya seolah melompat keluar saat sebuah suara terdengar.
"Halo."
Kekuatan yang berusaha Qiran kumpulkan sebelumnya seperti hilang dalam sekejap mendengar baritone yang terdengar digin dan padat. Hanya mendengar suara saja berhasil membuatnya seperti berhadapan dengan sesuatu yang besar diselimuti aura kehitaman pekat nan menakutkan, bagaimana jika mereka bertatap muka secara langsung? Membayangkannya saja sudah membuat bulu kuduknya berdiri.
“Halo.”
Lagi, suara padat itu kembali terdengar di telinga Qiran membat tubuhnya kian menegang. Menggenggam kuat ponsel dalam genggaman, suara kecilnya perlahan terdengar.
