Bab 6 Makan Malam Bersama
“Malam semakin larut, makin tidak enak kalau perut masih kosong. Lagian makanan yang dihidangkan mulai dingin, gimana kalau kita makan dulu.” Ajak Agnes memejahkan situasi yang ada.
Agnes dapat merasakan ada momen kebersamaan mereka berdua, meskipun Riyan dan Susi tidak menyampaikannya pada Agnes. Terlebih Susi, Susi terlihat sangat shock dengan kedatangan Riyan di acara makan malam kali ini.
“Ayok, sayang kalau makanan seenak ini di biarkan dingin.” Sahut Riyan.
Susi hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun kepada Riyan dan Agnes.
Mereka menikmati makan malam bersama-sama.
Tidak ada hal istimewa yang terjadi karena Susi lebih banyak diam di saat mereka makan malam, sampai Riyan mulai memberikan perhatiannya kepada Susi.
“Coba yang ini deh Susi.” Riyan mengambil tumisan yang berisi jagung muda dan beberapa jenis jamur dan seritan daging ayam.
“Enggak usah mas.” refleks Susi memanggil Riyan dengan panggilan mas.
Namun Riyan tetap meletakkan tumisan itu ke dalam piring Susi.
“Ngak papa, dicobain dulu. Pasti Susi suka dengan tumisan ini, ini rasanya sama dengan masakan Cina yang ada di simpang tugu itu.” Sahut Riyan mengingatkan sebuat tumisan yang dulu menjadi favorit Susi ketika masih sama-sama di kampung halaman Susi.
Agnes mulai memperhatikan mereka dengan perasaan senang.
“Agnes yakin kalian memiliki hubungan, tidak mungkin Susi datang kesini mencari kak Riyan jika mereka tidak ada apa-apa. Panggilan Susi ke kak Riyan juga panggilan mas bukan panggilan pak seperti waktu siang tadi Susi bercerita denganku.” Gumam Agnes mulai yakin dengan adanya hubungan diantara Susi dan Riyan.
“Sementara dalam pembicaraan mereka, kak Riyan mengingatkan Susi pada makanan yang sepertinya sangat mereka kenal dan menjadi salah satu makanan favorit.” Lanjut Agnes dalam hati.
“Ayo dong di cicipi.” Riyan mengambilkan sendok dan menyuapi Susi.
Susi memakannya dengan memandangi wajah Riyan.
“Sepertinya mas Riyan tidak berubah, ia tetap perhatian padaku.” Gumam Susi dalam hati.
“Gimana enak?” tanya Riyan.
“Iya enak mas.” jawab Susi dengan malu-malu.
“Kalian cocok lo kalau jadi pasangan.” Sahut Agnes membubarkan fokus mereka berdua.
Susi hanya tersenyum-senyum malu.
“Amin.” Jawab Riyan.
“Tu, gitu lo Susi. Di aminan kayak kak Riyan.” Sahut Agnes.
“Jangan di paksa-paksa dong Nes, Susi tu masih muda. Lebih muda dari Agnes. Masak mau Agnes jodohkan dengan kakak yang sudah tua begini,” timpal Riyan.
“Ya tua kan umurnya kak, toh wajahnya masih muda dan masih tampan. Ya kan Sus?” Agnes melemparkan ucapannya kepada Susi.
“Iya.” Jawab Susi spontan.
“Tu, Susi aja ngakuin kalau kakak tu masih ganteng. Artinya Susi ngak keberatan lo jadi jodoh kakak.” Lanjut Agnes.
“Eh kok trus bahas itu mbak?” tanya Susi semakin membuat suaranya gemetar karna masih terbawa emosionalnya setelah bertemu Riyan.
Jantung Susi masih berdetak lebih kencang dan badannya sedikit bergetar. Ia masih belum bisa menguasai diri karna pertemuannya dengan Riyan.
Beberapa saat kemudian, Agnes berpamitan untuk pulang lebih dahulu dengan alasan ada saudara yang sudah menunggu di rumah.
Agnes tau Susi dan Riyan butuh waktu bersama.
“Susi, kak Riyan. Agnes duluan ya. Ada saudara udah nungguin di rumah ni, ngak enak kalo kelamaan.” Agnes berpamitan.
“Lo kok udahan sih, ngak boleh ikut ya.” Sahut Susi.
“Engak papa lah Sus, kan ada kak Riyan yang bisa temani Susi bersantai. Lagian yang dirumah saudara Agnes, pasti lagi ada hal yang penting untuk di bicarakan. Masak Agnes bawa Susi ke rumah sih. Ngak papa ya Agnes tinggal.” Agnes memberikan alasan kepada Susi.
“Kak Riyan, titip Susi ya. Jagain, awas kalau di bawa kabur.” Canda Agnes.
“Enak aja bawa kabur, sekali teriak bisa-bisa dari hotel pindah ke rumah sakit. Jangan ngasal ah kalau ngomong.” Sahut Riyan.
“Becanda kak.” Sahut Agnes sambil bangkit dari duduknya.
“Susi, sampai lain waktu ya. Jangan sungkan hubungi Agnes dan mampir kerumah ya. Da da.” Agnes meninggalkan Susi dan Riyan berdua.
“Ngak papa kan, kita berdua aja?” tanya Riyan berbasa basi.
“Ngak papa sih mas, tapi apa mas yakin mau temenin Susi disini?” tanya Susi.
“YA yakin lah, kecuali kalau Susi keberatan. Nah sekarang pertanyaannya Susi keberatan apa ngak?” tanya Riyan
“Ngak sih mas, cuman rada takut aja mas.” jawab Susi.
“Takut, takut kenapa?” Anto memastikan apa yang di takuti Susi.
“Ya Susi kan cuman main ke sini, takutnya Susi jadi orang yang ngerusak rumah tangga orang.” Jawab Susi dengan perasaan dan harapan bahwa Riyan akan berkata jujur tentang statusnya.
“Maksudmu? Mas?” tanya Riyan.
“Aduh Susi, Susi. Jadi Susi ngak percaya kalau mas hingga saat ini masih sendiri.” Sahut Riyan sambil tersenyum dan mengeleng-gelengkan kepalanya.
“Ya ngak tau mas, masak sih. Mas yang sekarang sudah sukses masih tetap sendiri, apa sulitnya cari pasangan hidup kan.” Susi memberikan gambaran yang mudah dan sangat mungkin terjadi pada Riyan untuk hal pasangan hidup.
“Sejujuenya, mas sudah pernah menikah Susi. Cuman karna mas masih berharap jika Susi adalah pasangan hidup mas yang paling tepat, makanya mas ngak tetap menunggu Susi hingga hari ini.” Ujar Riyan.
Susi semakin gemetar mendengar ucapan Riyan.
“Dulu mas merantau kesini pasca di usir warga karna hubungan kita yang tidak di restui waktu itu. Disini mas bertemu orang tua Agnes. Mas bekerja dengan beliau hingga mas bisa memiliki usaha sendiri, tentunya dengan modal pinjaman dari orang tua Agnes waktu itu.” Riyan bercerita tentang awal ia berada disini.
“Hingga akhirnya ajal menjemput ayah Agnes. Sayangnya ayah Agnes, sebelum menghembuskan nafas terakhirnya meminta mas dan kakaknya Agnes untuk menikah sebagai permohonan terakhirnya. Akhirnya kami menikah, meskipun istri mas tau kalau mas tidak dekat dengan wanita karna ada seseorang yang masih mas nanti-nanti. Mas juga tau jika istri mas tersebut masih punya hubungan dengan kekasihnya. Namun untuk menepati janji dengan orang tuanya kami tetap menikah, meski hanya dua bulan dan kami memutuskan untuk berpisah.” Ceria Riayan bersama Elis kakaknya Agnes.
“Susi kan ngak tau mas, maaf ya udah mengingatkan mas pada masa yang kurang menyenangkan. Bukan maksud Susi untuk membuat mas sedih.” Sahut Susi.
“Oh enggak kok Sus, mas senang malah. Susi mau terbuka dan sudah meluangkan waktu sampai kesini. Mas jadi lega karna Susi masih mau mencari tau tentang mas.” sahut Riyan.
“Eh kok gitu, Susi cuman main lo mas kesini. Bukan mau nyelidiki mas Riyan.” Elak Susi.
“Ya Sus, seorang mahasiswi datang ke daerah dengan minus potensi pariwisata datang untuk berkunjung. Hanya berkunjung saja, terlalu masuk akal jika mas percaya begitu saja. Tapi apapun itu alasan Susi, mas tetap senang. Mas lihat Susi di sini saja mas sudah senang kok.” Pungkas Ryan.
Susi kebingungan mencari alasan apa lagi, semua yang diucapkan Riyan sangat masuk akal.
Hanya tersenyum yang bisa ia lakukan untuk menanggapi semua yang diucapkan Riyan kepadanya.
