Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7 Bukit Harapan

“Mau jalan-jalan ngak?” ajak Riyan.

“Kemana?” tanya Susi.

“Udah ikut aja deh, kapan lagi mau jalan-jalan kan. Mumpung sudah sampai disini masak mau di hotel aja.” Ajak Riyan sedikit mendesak.

Susi menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan ajakan Riyan.

Riyan segera bangkit dari duduknya dan menggandeng tangan Susi untuk di ajak ke luar dari hotel.

Susi pun mengikuti langkah Riyan, berjalan menuju lantai dasar. Namun baru saja Susi sampai di lobi lantai tiga dimana akan masuk lif. Susi meminta ijin kepada Riyan, karna ia ingin pergi ke kamar sebentar.

“Mas, mas tunggu dulu ya. Susi mau ke kamar terlebih dahulu. Sebentar aja mas.” pinta Susi.

“Boleh.” Jawab Riyan sembari mengaggukkan kepalanya.

“Bentar ya mas.” Ucap Susi sembari pergi menuju ke kamarnya.

Riyan mengikuti Susi dari kejauhan, untuk memastikan Susi dalam keadaan baik-baik saja.

Benar apa yang dikatakan Susi, ia hanya sebentar sepertinya Susi hanya meletakkan bunga pemberian dari Riyan kedalam kamarnya.

Riyan bergegas menuju ke lobi hotel lantai tiga agar Susi tidak merasa diikuti.

“Sudah?” tanya Riyan ketika Susi sampai ke lobi.

“Udah mas, ayok.” Ajak Susi langsung mengajak Riyan melanjutkan niatnya untuk pergi jalan-jalan.

Riyan mengajak Susi keluar dari hotel menuju keluar dari hiruk pikuk kota dimana mereka malan malam.

Semakin lama, perjalanan mereka semakin mengarah ke tempat yang sepi.

“Mas, kita mau kemana ya?” tanya Susi mulai penasaran kemana Riyan hendak pergi.

“Ikut aja, tar pasti Susi senang ketika sampai.” Jawab Riyan sambil tersenyum.

“Ya tapi kemana mas, ini Susi perhatikan kita makin jauh lo mas. Susi juga ngak pernah lewat sini.” Lanjut Susi.

“Ya ngak papa kan kalau kita pergi ke tempat dimana Susi belum pernah pergi kesana. Ngak salah kan?” Riyan balik bertanya.

“Ya ngak papa mas, tapi masak iya Susi ndak boleh tau. Atau, jangan-jangan bener yang di bilang Agnes kali ya. Mas mau culik Susi ya.” Mulai sedikit serius dan penasaran kemana Riyan hendak membawanya.

Ha ha ha ha .... jangan konyol dong Susi, mau mas culik kemana sih. Eh beneran mas mau ajak Susi ketempat yang indah dan asik untuk ngobrol.” Sahut Riyan berusaha menenangkkan Susi.

“Kemana? Pleas mas.” rengek Susi.

“Ke bukit harapan.” Jawab Riyan.

“Bukit harapan? Susi baru dengar ada bukit harapan.” Sahut Susi.

“Makanya kali ini mas ajak Susi pergi kesana.” Ujar Riyan.

“Udah deh, percaya aja sama mas tempatnya asik.” Sambung Riyan.

“Jadi mau ngapain Susi kesini?” Riyan kembali bertanya pada Susi berharap Susi mau terbuka dan jujur kali ini.

“Main aja mas.” jawab Susi dengan santai.

“jutuannya apa main ketemoat yang belum pernah Susi kunjungi.” Lanjut Riyan.

“Mau tau bagaimana mas sekarang.” Jawab Susi.

“Susi penasaran dengan mas Riyan yang tiba-tiba muncul di kehidupan Susi, orang yang sudah lama menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba muncul di kehidupan Susi. Di kampus dimana Susi kuliah saat ini. Aneh kan. Itu ada apa? Kebetulankah atau apa?” ujar Susi.

“Mungkin kebetulan tapi mungkin juga kalau itu pertanda kalau itu jodoh.” Sahut Riyan.

“Jodoh, gombal abis mas ni ya. Gampang aja mas jawab jodoh.” Protes Susi dengan wajah sedikit memerah.

“Siapa yang tau, mas udah lama sendiri dan Susi adalah orang yang selalu ada dalam do’a mas. kalau penantian dan do’a mas selama ini baru di jawab tuhan hari ini. Kenapa ngak gitu lo Sus. Bisa kan? Masuk akal ngak sih kalau ini ada suratan?” tanya Riyan.

“Bisa jadi sih.” Jawab Susi.

“Tapi kayaknya sih, mas terlalu berharap ya. Mas lihat dari tadi Susi tampak tertekan, pasti Susi sudah ngak berharap lagi untuk bertemu mas. apa lagi kembali seperti dulu lagi.” Sahut Riyan sembari memandang ke arah Susi.

Susi langsung teringat dengan Ari, kekasihnya yang mengisi hari-harinya meskipun tidak dapat di pungkiri bahwa Susi menerima cinta Ari karna Ari terlalu banyak berkorban sehingga Susi tidak tega dengan apa yang terus dilakukan Ari kepadanya. Hal itu yang membuat Susi menerima cinta dari Ari.

“Bener berarti ada beberapa faktor yang bisa mungkin membuuat susi diam. Yang pertama, karna Susi sudah melupakan mas dan tidak lagi berharap akan kembali bersama dengan mas. yang kedua, karna Susi sudah ada orang lain, sehingga tidak mungkin lagi Susi menerima mas lagi untuk dapat mengisi ruang hati Susi. Atau mungkin ada alasan lainnya yang memang tidak akan bisa menerima mas lagi.” Ujar Riyan memberikan beberapa anggapannya.

“Entah lah mas.” jawab Susi.

“Oke kita sampai, Susi ngak papa kan kalau mas ajak jalan. Mendaki bukit ini, sekitar satu jam sampai di atas.” Ajak Riyan.

“He eh. Ngak papa mas.” jawab Susi.

Riyan menggandeng Susi di sepanjang jalan, untuk memastikan Susi tetap dalam keadaan baik dan aman selama di perjalanan.

Selama perjalanan menuju puncak pun, Riyan menceritakan sejarah dan penyebab kenapa bukit ini dinamakan bukit harapan.

Susi mengikuti Riyan dan mendengarkan semua cerita yang disampaikan Riyan disepanjang jalan.

Hingga sampailah mereka disebuah kazebo di atas bukit.

“Nah akhirnya sudah sampai.” Jawab Riyan.

Riyan mengajak Susi duduk dan memberikan Susi air mineral agar dapat menghilangkan letih di perjalanan menuju ke puncak bukit harapan.

“Kayaknya mas salah deh. Kita berjalan ngak sampai satu jam.” Ujar Susi.

“O ya, berarti lebih cepat dari perkiraan.” Sahut Riyan.

“Konon katanya, jika seorang laki-laki mengajak seorang wanita mendaki bukit ini tanpa melepaskan genggaman tangan mereka. Dan mereka berharap cinta mereka dapat bersatu maka do’anya akan terkabul.” Lanjut Riyan sambil memandang wajah Susi.

‘Do’a mas, mas ingin kembali pada cinta sejati mas yang sempat terpisahkan. Mas ingin Susi adalah jawaban dari do’a mas yang sempat terpisahkan. Dan hanya Susi yang akan menjadi cinta sejati mas yang akan membawa mas pada sebuah keluarga bahagia bersama Susi.” Ucap Riyan.

“Amin.” Jawab Susi sembari memandang Riyan dengan wajah terharu atas ketulusan Riyan sembari matanya berkaca-kaca karna ia dipertemukan lagi oleh Riyan. Susi pasti berjuang untuk menemukan cinta itu mas.” sahut Susi.

“Susi, I love you.” Ucap Riyan.

“Mas, sebelum Susi menjawab. Ada hal yang perlu mas tau dari Susi, mas mau dengar?” tanya Susi.

“Ya, pasti mas dengar dengan senang hari.” Sahut Riyan.

“Mas, saat ini Susi sudah menjalin hubungan dengan seseorang. Kami berpacaran enam bulan yang lalu. Mas masih cinta dengan Susi?” tanya Susi.

“Cinta mas tidak terhalang dengan mereka yang juga mencintaimu Susi.” Jawab Riyan.

“Susi bahagia bersamanya?” tanya Riyan.

Susi hanya memandang Riyan tanpa menjawabnya.

“Susi benar-benar sayang dengan pria itu?” tanya Riyan.

Susi kembali tidak menjawab, Susi hanya menundukkan kepalanya.

Riyan mengerti dengan diamnya Susi.

“Susi, kembalilah pada mas. Mas akan perjuangkan cinta kita, mas tidak ingin melihat Susi menderita dan menerima cinta yang lain sedangkan hati Susi tertinggal disini.” Sahut Riyan.

“Mas tunggu sampai pada waktunya tiba, mas ngak akan menjalin hubungan sebelum Susi benar-benar menyelesaikan hubungan Susi, tapi tolong ijinkan mas untuk tetap bisa dekat dan bersama dengan Susi agar penderitaan dan siksa batin di hati mas bisa berkurang.” Pinta Riyan.

Susi menyandarkan kepalanya pada pundak Rian, Susi masih merenungi kenapa ia harus bertemu lagi setelah mereka dipisahkan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel