Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 Ada Apa Dengan Susi

Seminar kali ini memang benar-benar membuat Susi berubah, bukan hanya semangatnya saja, namun ada beberapa perubahan yang terjadi padanya.

Ifa yang juga satu kos dengannya mulai memperhatikan gerak gerik Susi yang tidak biasa. Susi sering kali melihat ke kaca diikuti dengan lamunan panjang menyertainya.

Ifa masih berfikir positif dan yakin, bahwa yang terjadi pada susi adalah hal biasa. Mungkin karna Susi sedang termotivasi dari hasil seminar hari ini atau ia sedang memikirkan langkah berikutnya untuk memulai sesuatu yang baru untuk mengantarkannya pada kesuksesan seperti tema seminar yang diikutinya.

Namun lama-kelamaan Ifa mulai merasa hal yang terjadi pada Susi memang tidak biasa. Susi sering sekali melihat tanda tangan pak Riyan narasumber di seminar bisnis tersebut. Bahkan sesekali Ifa memergoki Susi mencium dan memeluk baju yang ada tanda tangan dari nara sumber tersebut.

Hp nya pun yang selama ini lebih sering di tinggal, sekarang lebih banyak digunakan untuk berkomunikasi. Bahkan Susi beberapa kali mengangkat telpon lalu pergi menjauh dari Ifa, Ira dan Ita yang sama-sama satu kos di rumah bu Mirna.

“Siapa sih yang telponan dengan Susi, sering banget Susi telpon trus pergi?” tanya Ira.

Ifa menggelengkan kepala karna memang ngak tau siapa yang telpon Susi beberapa hari ini.

“Ta, Ra. Kalian ngerasa susi sedikit berubah ngak sih?” tanya Ifa.

“Nah lu yang sekamar dengan Susi.” Jawab Ira.

“Sitttttt ...., penal-pelan.” Ifa tidak mau Susi merasa Ifa mencurigai sesuatu ke Susi.

Mereka bertiga saling mendekat.

“Emangnya ada apa?” tanya Ita.

“Gua merasa, Susi mengalami perubahan akhir-akhir ini lo.” Ifa menyampaikan pandangannya terhadap Susi.

“Berubah gimana?” tanya Ita.

“Dia sering main hp, sering melamun dan senyum-senyum sendiri.” Jelas Ifa.

“Mungkin Ari mau ngelamar Susi kali.” Tebak Ira.

“Kayaknya ngak deh, kemarin sore gua lihat Susi dan Ari ngobrol biasa aja. Kalau memang mau di lamar atau bertunangan pasti kelihatan makin ceria ketika mereka sama-sama. Tapi ngak tu, kayak biasa aja.” Sahut Ita.

“Iya juga.” Sahut Ira.

“Menurut kalian, apa mungkin ada seseorang yang mendekati Susi?” tanya Ita.

“Ngak deh kayaknya, gua kan satu kelas dan satu angkatan dengan Susi. Kami juga selalu pergi bareng, masak sih gua ngak tau.” Ujar Ifa.

“Tapi, biasanya hal yang ngak biasa itu selalu berhubungan dengan lawan Jenis.” Sahut Ira.

“Ah udahlah tar juga bakal tau sendiri.” Timpal Ita.

Tak lama kemudian bu Mirna keluar masuk ke dalam rumah dan pergi ke kamarnya di lantai dua.

“Permisi ya anak-anak.” Sapa bu Mirna.

“Iya bu.” Jawab ita, ifa dan Ira.

“Eh itu Susi kenapa kok kelihatannya melamun di luar, coba di cek. Habis telpon tadi kayaknya.” Bu Mirna menyampaikan informasi tentang Susi yang tiba-tiba melamun di halaman.

Mereka bertiga kaget.

“Masak sih bu.” Sahut mereka bertiga.

“Coba gua cek deh.” Ifa langsung keluar menuju halaman dimana Susi berada.

“Kok ngalamun neng?” tanya Ifa khawatir Susi merasa ke ganggu.

“Eh Ifa.” Sapa Susi.

Terlihat wajah Susi memerah dan matanya berkaca-kaca.

“Susi kenapa?” tanya Ifa sembari mendekati Susi dan duduk di sampingnya.

“Ngak papa kok Fa.” Jawab Susi.

Namun sayangnya, ucapan Susi tidak dapat membuat Ifa percaya terlebih setelah air mata Susi jatuh.

“Lo Susi nangis? Ada apa Susi, cerita dong sama Ifa. Mana tau Ifa bisa bantu.” Ifa berusaha mencari tau apa yang terjadi pada Susi.

“Enggak kok Fa, ngak papa. Susi ngak papa.” Susi kekeh mengatakan ngak papa.

“Susi, suara Susi tu serah, matanya merah berkaca-kaca dan ada air mata Susi netes tadi. Sengak percaya itu Susi ke Ifa?” Ifa masih berusaha membuat Susi yakin dan mau bercerita dengan Ifa.

“Ngak gitu Fa, lain kali Susi cerita ya. Masuk yuk, Susi mau istirahat.” Ajak Susi.

“Eh udah di baik-baikin ngomongnya ngak pakek gue lu, masih aja ngak mau cerita.” Omel Ifa.

Susi terus berjalan menuju kedalam rumah dan langsung masuk ke kamarnya.

Ifa ikut masuk ke dalam rumah dan menceritakan apa yang ia lihat di halaman.

“Eh ngomongnya baik-baik jangan pakek lu gue kalo mau baikin Susi tu.” Ita menasihati Ifa.

“Udah dodol, gua tu sekamar. Ya tau lah gimana temen sekamar gua.” Sahut Ifa.

Susi masih mengenang masa-masa indah ketika ia dekat dengan pak Riyan semasa masih di kampung halamannya.

“Kenapa kita ketemu lagi sih pak, hati Susi sakit kalau harus ingat bagaimana bapak berjuang untuk hubungan kita.” Gumam Susi dalam hati.

Dalam lamunan Susi, Susi di sadarkan dengan panggilan telpon dari Ari kekasihnya.

“Ya kak.” Susi mengangkat telpon dari Ari.

“Kok serak, kenapa? Abis nangis ya?” tanya Ari.

“Ngak kok kak, cuman serak aja. Mungkin mau batuk dan pilek ni.” Susi memberikan Alasan.

“Sayang lagi sibuk ya? Jarang chat sekarang?” tanya Ari.

“Iya kak, lagi banyak tugas dan lagi banyak pikiran ni. Kak Ari lagi ngapain?” tanya Susi.

“Lagi kangen aja sama Susi sayang.” Goda Ari.

“He he he.” Susi tertawa ringan.

“Kok ngak di bales, Susi ngak kangen ya?” tanya Ari.

“Ah jangan lebay kak, udah pada gede juga. Lagian hampir tiap hari kita ketemu kak.” Jawab Susi.

“Susi ke ganggu ngak kakak call?” tanya Ari.

“Ngak papa sih, tar kalau Susi bilang ganggu kak Ari mikirnya kemana-mana lagi. Lagi Susi nyambil ya.” Susi ijin nyambil telpon dengan Ari sembari mempersiapkan kebutuhan kuliahnya.

Tak lama kemudian Ifa masuk ke dalam kamarnya.

“Suara apa tu say?” tanya Ari.

“Ini kak, Ifa masuk kamar. Kenapa kenceng ya suaranya?” tanya Susi.

“Iya lumayan kenceng, apa hp nya di loadspeaker sayang?” tanya Ari memastikan apakah ucapannya dapat di dengar orang lain selain Susi.

“Iya kak, kan Susi nyambil nyiapin tugas kuliah.” Jawab Susi.

Ifa terkejut dengan alasan Susi yang mengatakan ia sedang menyelesaikan tugas kuliah. Padahal Susi cuman duduk di meja sambil membaca chat masuk ke hp nya.

“Ya udah deh, sayang lanjut dulu ya. Ngak enak di dengerin orang.” Sahut Ari.

“Iya kak, maaf ya kak.” Ucap Susi.

“Iya ngak papa. Semangat ya, met malem sayang.” Pamit Ari.

“Malem kak.” Jawab Susi sambil mematikan hp nya.

Susi lanjut memainkan hpnya dan beberapa kali tersenyum dan sempat selfi, sepertinya ia selfi untuk di kirim ke seseorang yang sedang chat dengannya.

Ifa mulai curiga, karena ketika Ari menghubungi Susi di saluran telpon, Susi terlihat datar saja. Tapi aktifitas chat Susi makin aktif dan Susi sempat tertawa lirih sembari tersenyum gembira.

“Ada apa dengan lu Susi, kok gua mikirin hal negatif ke lu ya.” Guman Ifa.

“Susi, gua boleh pinjem hp lu ngak. Gua mau telpon nyokap, pulsa kandas ni.” Ifa mencoba reaksi Susi ketika di pinjami hp nya.

“Ku kirim pulsa aja ya, biar puas telponnya.” Sahut Susi.

“Eh ngak usah repot0repot.” Jawab Ifa.

Namun Sisu tetap mengrimkan pulsa kepada Ifa.

“Langsung isi pulsa gua, kenapa gua makin curiga ama lu ya Sus. Semoga lu baik-baik aja.” Ujar Ifa dalam hati.

Ifa begitu penasaran, hingga ia memberanikan diri untuk chat Ari.

“Assalamualaikum kak Ari, lagi dimana dan lagi ngapain?” tanya Ifa dalam Chat.

“Walaikumsalam. Lagi nongkrong ama temen-temen aja. Ada apa?” tanya Ar membalas chat Ifa.

“Jarang ngapel kayaknya kak Ari?” Ifa mengirim chat ke Ari lagi.

“Pasti nongkrong sambil chat dengan Susi kan.” Ifa berpura-pura menebak aktifitas Ari.

“Ngak kok, chat sama Ifa doang, tadi dah telponan sama Susi, tapi kayaknya lagi sibuk. Banyak tugas ya?” tanya Ari.

“Iya kak.” Jawab Ifa.

“Ya dah dilanjut kak, Ifa mau tidur dulu. Pusing.” Ifa mengakhiri chatnya dengan Ari.

“Lu chat sama siapa sih Sus, lu dua in Ari.” Gumam Ifa dalam hati.

“Terserah lu deh, pusing gua mikirnya.” Ifa membatin tentang Susi.

“Sus, gua tidur dulu ya. Jangan tidur malam-malam.” Ifa tidur duluan dari Susi, padahal biasanya Susi yang tidur duluan dari Ifa.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel