Bab 3 Susi Pergi Dari Kos
Suara ayam berkokok saling bersahutan, pertanda pagi sudah tiba.
Susi bangun pagi, dan terlihat mempersipkan sesuatu dalam tasnya.
Ifa yang baru bangun pada pukul lima pagi itu sedikit heran dengan penampilan Susi yang sudah rapi seperti hendak pergi.
“Lu mau kemana Sus?” tanya Ira sambil mengusap matanya dan mengamati Susi.
“Mau ngampus, ada yang mau disiapin pagi ini.” Jawab Susi dengan wajah tampak tergesa-gesa.
Ifa mulai menginat-ingat apa yang terlewat dengannya, apa mungkin ada tugas kuliah atau projek yang terlupakan darinya sampai dia tidak tau kesibukan Susi.
“Apa mungkin Susi lebih dahulu dapat lokasi penelitian atau projek kampus lainnya yang gua ngak tau ya?” gumam Ifa dalam hati.
“Susi berangkat dulu ya say.” Susi berpamitan sambil mengecxxp kening Ifa.
Ifa masih bengong dengan kelakuan susi pagi ini.
“Kok malah bengong, udah sana mandi, asem tau.” Sindir Susi.
Ifa masih merasa ada yang tidak biasa dari Susi. Hal yang tidak biasa dilakukan Susi ketika akan pergi ke kampus, pagi ini Susi lakukan yaitu mengecxxp kening Ifa.
Susi tidak pernah mengecxxp kening atau cipika cipiki kepada Ifa jika akan pergi ke kampus. Kebiasaan mereka untuk cipika cipiki atau mengecxxp kening hanya dilakukan jika mereka akan pergi jauh atau akan pulang kampung karna mereka pasti terpisah untuk beberapa waktu lamanya.
Ifa segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengejar Susi keluar.
“Susi, Susi! Tunggu.” Teriak Ifa.
Susi berhenti dan meletakkan tas semi ranselnya.
“Ada apa Fa?” tanya Susi dengan senyum manisnya.
“Susi beneran ke kampus kan?” tanya Ifa dengan wajah ragu-ragu.
“Kenapa? OOOooo so Sweet banget sahabatku ini selalu peduli dan menghawatirkanku.” Ucap Susi sembari memeluk Ifa.
“Emmmm kan, bau asem. Disuruh mandi kok ngak mandi-mandi sih. Udah sana masuk rumah dan mandi, malu-maluin aja keluar rumah masih berantakan begini.” Hardik Susi sembari bercanda pada Ifa.
Muka Ifa manyun di ceramahi Susi.
Berlahan Ifa kembali masuk kerumah diikuti dengan kepergian Susi.
“Ada apa Fa?” tanya Ita.
“Susi cabut.” Jawab Ifa masih memandang ke arah Susi.
“Susi cabut! Kemana?” tanaya Ita penasaran.
“Katanya sih ke kampus.” Jawab Ifa dengan perasaan sedih.
“Ya elah Fa, kan ke kampus. Biasanya juga pergi ke kampus, trus bedanya apa dengan pagi ini? Terlalu pagi gitu? Kan bisa aja. Susi mah anaknya rajin ngak kayak lu, jam segini masih kunyel.” Sahut Ita.
“Ta, gua merasakan sesuatu yang ngak biasa ni. Ada perasaan seolah-olah gua bakal kehilangan susi, perassaan gua tu sedih banget liat Susi pagi ini.” Ifa menceritakan perasaan yang dirasakannya.
“Lu ngak usah aneh-aneh ya. Tak tabok juga tar lu.” Ita marah mendengar ungkapan Ifa kepadanya.
“Kok lu yang marah sih, gua kan nyampaikan apa yang gua rasakan.” Ifa merajuk dan meninggalkan Ita.
Susi berjalan menuju pasar yang sudah dapat dipastikan jalan tersebut justru menjauh dari arah kampus.
Susi mempercepat langkahnya untuk menghindari pertemuan dengan teman-teman kampusnya.
Sesampainya di pasar Susi langsung mencari bus menuju kota tertentu.
Susi masuk kedalam bus dan duduk di bangku tengah.
Susi berangkat dengan bus menuju kota dimana Riyan tinggal.
Butuh waktu sekitar tiga jam perjalanan menuju ke kota tersebut dari kota tempat Susi kuliah.
Susi secara diam-diam pergi ke kota tempat tinggal Riyan untuk memastikan kegiatan Riyan dan memastikan apakah benar Riyan saat ini masih sendiri atau sudah memiliki keluarga secara langsung.
Meskipun Susi belum pernah menanyakan status Riyan dan Riyan pun tidak pernah menceritakan bagaimana keluarganya, namun komunikasi Susi dan Riyan yang semakin inten membuat Susi menjadi penasaran.
Semakin hari, komunikasi Susi dan Riyan semakin sering dan Susi merasa kembali pada masa-masa indah dimana Susi dan Riyan masih bersama-sama melalui masa-masa indah bersama waktu masih di kampung halaman Susi ketika SMA.
Sekitar pukul sembilan pagi Susi sampai di kota dimana Riyan tinggal.
Susi mencari penginapan di dekat alamat Riyan yang Susi ketahui dari kartu nama yang Riyan berikan pada saat mengisi acara di kampus Susi beberapa waktu lalu.
Susi menginap di Hotel bintang tiga Gatot Kaca.
Susi sempat bertanya dengan reseptionis mengenai alamat Riyan.
“Permisi mbak, mbak boleh tanya.” Sapa Susi di resepsionis.
“Ya bu, apa yang bisa saya bantu?” tanya mbak penjaga di reseptionis.
“Mbak tau alamat ini?” tanya Susi sambil memperlihatkan kartu nama Riyan kepada reseptionis.
“Oh pak Riyan. Kalau pak Riyan saya ngak cuman tau alamatnya bu, saya kenal dengan pak Riyan.” Jawab reseptionis tersebut.
Susi sedikit gugup mendengar jawaban dari reseptionis hotel tersebut yang ternyata reseptionis tersebut mengenal Riyan.
“Mbak kenal dari mana? Masih saudara pak Riyan?” tanya Susi kepada reseptionis tersebut.
“Saya tetangga pak Riyan bu. Kebetulan saya tinggal di depan rumah pak Riyan.” Jawab reseptionis tersebut.
“Perkenalkan saya Susi dari kota Suka Damai. Saya teman pak Riyan mbak.” Susi memperkenalkan diri.
“Saya Agnes bu. Senang berkenalan dengan bu Susi.” Sahut Agnes memperkenalkan diri pada Susi.
“Panggil Susi saja mbak.” Jawab Susi merasa masih seumuran.
“Maaf bu, prosedur perhotelan.” Jawab Agnes secara profesional.
“Kenapa ngak langsung kerumah beliau saja bu? Maaf jangan di kaitkan dengan hotel ya, hanya bertanya saja karna rumah pak Riyan tidak jauh dari hotel ini.” Jelas Agnes.
“Ya saya ngak pernah kesini mbak, masak saya datang-datang langsung cari alamat pak Riyan. Tar ada yang salah paham dengan saya.” Jelas Susi.
“Oooo, jadi bu Susi baru pertama kali ke Kota Suka Jaya ini ya.” Tanya Agnes.
“Iya betul mbak.” Jawab Susi merasa senang bisa bertemu dengan Agnes.
“Wah kebetulan sekali ya saya bertemu mbak Agnes yang tinggal di dekat sini dan kenal dengan pak Riyan pula.” Sambung Susi.
“Mbak mau nginap berapa lama, atau mau pindah kerumah saya? He he he.” tanya Agnes mulai nyaman dengan Susi.
“Mbak percaya dengan saya, mbak ngak kenal saya lo. Lagian sudah disini, biar saya nikmati tinggal di hotel bagus seperti ini.” Sahut Susi.
“Ya kalau memang ada keperluan dengan pak Riyan saya sih percaya pasti mbak orang baik.” Jawab Agnes sangat meyakinkan.
“Wah jadi asik ngobrolnya, ini boleh lanjut ngobrolnya ngak sih mbak, saya takut kalau mbak di tegur dengan managernya.” Susi merasa ia perlu ngobrol dengan Agnes.
“Saya pulang jam tiga sore mbak, mbak bisa hubungi saya jika ada perlu atau mau jalan-jalan dan pak Riyan masih sibuk bisa hubungi saya saja. Ini no saya bu.” Agnes memberikan kartu namanya.
“Oke mbak, nanti saya hubungi ya.” Sambut Susi.
“Oh ya mbak, tolong jangan kasih tau pak Riyan kalau saya disini ya.” Pinta Susi.
“Lo kenapa?” tanya Agnes penasaran.
“Nanti saya jelaskan ya mbak.” Jawab Susi sambil tersenyum dengan tulus.
“Bu, ibu menginap di kamar 412 ya?” tanya Agnes.
“Iya mbak.” Jawab Susi.
“Dari jendela ibu, jika ibu melihat keluar akan ada simpang tiga disana ada alamat rumah pak Riyan. Artinya bu Susi bisa melihat rumah pak Riyan dari kamar bu Susi.” Jelas Agnes.
“Emmm... kalau gitu, mbak keberatan ngak. Pulang kerja nanti mbak ke kamar saya.” Tanya Susi semakin penasaran.
“Boleh bu. Sepertinya ada sesuatu yang serius ni kalau saya lihat-lihat dari cara bu Susi bicara. Saya siap datang ke kamar bu Susi setelah selesai kerja, nanti sepulang kerja saya langsung ke kamar ibu.” Sahut Agnes sambil tersenyum manis kepada Susi.
“Baik mbak, saya ke kamar dulu.” Pamit Susi.
“Baik bu, silahkan.” Jawab Agnes.
