Bab 1 Seminar Bisnis di Kampus
“Cepetan dong Sus, itu udah mulai tu acaranya.” Ifa menarik Susi yang tampak sedikit malas.
“Iya Fa, sebentar. Lagian seminar bisnis tu isinya cuman motivasi doang.” Gumam Susi.
“Lu kenapa sih, ngak biasanya lah seorang Susi ngak semangat dengan seminar bisnis begini. Nara sumbernya itu orang sukses dari pekerjaan yang tidak terlalu mencolok tapi ia tajir Sus. Ayo dong semangat.” Bujuk Ifa sambil berusaha menarik tangan Susi agar ia segera mempercepat langkah Susi menuju gedung seminar.
“Gimana kalau kita lari aja.” Susi mengajak Ifa berlari agar lekas sampai ke gedung seminar.
Ifa dan Susi berlari menuju gedung.
Sampai di gedung mereka langsung masuk menuju bangku yang sudah dipesannya.
Baris kedua dari depan setelah barisan para tokoh dan tamu kehormatan dan dosen atau keluarganya.
“Huh hampir putus nafas gua, sialan lu.” Umpat Ifa.
“Tapi mau buru-buru, diajak lari buar cepet masih aja ngak terima. Sialan lu.” Gerutu Susi.
“Udah tu fokus dengan acaranya.” Lanjut Susi.
Susi merapikan pakaiannya dan meminum air mineral yang ia simpan didalam tas.
Tanpa sengaja Susi melihat brosur acara seminar di bawah bangkunya.
Susi mengambilnya karna ada foto seseorang yang ia kenal.
“Ini seperti mas Riyan.”
Susi mengambilnya dan memastikan siapa nama nara sumbernya.
“Riyan Raharja.”
“Bener ini mas Riyan.” Susi memastikan orang yang ada didalam brosur tersebut.
“Fa kita ikut seminar ini yuk.” Susi memecahkan konsentrasinya.
Ifa menoleh dan memperhatikan brosur yang dipegang Susi.
“Lu gimana sih Sus, brosur itukan untuk seminar hari ini.” Sahut Ifa.
“Langsung saja, kita sambut nara sumber kita yang sangat luar biasa. Riyan Raharja!” Moderator memanggil nara sumber yang mengisi acara seminar siang itu.
Mata Susi terbelalak melihat sosok Riyan ada dihadapannya. Pria yang sangat iya cintai yang sudah lama menghilang karena restu yang tidak berpihak pada mereka.
Susi memperhatikan Riyan dalam menceritakan kisah suksesnya selama berjuang dari 0 di daerah tempat tinggalnya.
Hingga moderator memberikan kesempatan untuk bertanya, Susi langsung mengangkat tangan.
Riyan duduk di kursinya dan meminum air mineral.
Namun Susi tidak kunjung bertanya, Susi ingin bertanya pada saat Riyan melihatnya.
“Silahkan mbak, silahkan berdiri agar semua bisa melihat mbak yang mengangkat tangan.” Pinta moderator seminar tersebut.
“Saya ingin mulai bertanya, tapi nara sumber sedang menikmati air mineralnya. Bolehkah kita menunggu sampai nara sumber kita siap terlebih dahulu.” Ucap Susi.
“Lu apa-apaan sih sus.” Tegur Ifa.
Riyan tersenyum ke arah sumber suara yang masih belum dapat ia lihat wajahnya, namun Riyan merasa ia sangat kenal dengan suara tersebut.
“Terima kasih atas penghargaannya mbak, saya siap mendengarkan pertanyaannya mbak.” Ucap Riyan masih berusaha melihat siapa pemilik suara yang mengingatkannya pada seseorang.
“Sebentar pak, saya susun pertanyaannya agar mudah di pahami.” Susi meminta waktu.
“Bisa sedikit dipercepat mbak?” moderator mengingatkan Susi.
“Selamat sore pak, apa kabar?” Susi menyapa sang nara sumber.
“Kabar baik mbak. Maaf mbak bisa kita sama-sama berdiri mbak.” Ucap Riyan sambil berdiri.
“Bapak boleh duduk saja pak, biar penanyanya saja yang berdiri.” Ucap moderator pada pak Riyan.
“Ngak papa mas, saya penasaran dengan mbaknya. Suara mbaknya mirip sekali dengan seseorang yang pernah saya kenal dulu.” Ucap Riyan.
Susi berdiri untuk bertanya pada Riyan.
“Perkenalkan pak saya Susi, mana tau bapak kenal atau mau kenal dengan saya.” Susi memperkenalkan diri sembari tersenyum dengan harapan Riyan masih mengenalnya.
“Waw Susi, senang bisa bertemu lagi.” Sambut Riyan.
“UP loas untuk mbak Susi.” Lanjut Riyan dengan senyum bahagia.
Suara tepuk tangan di gedung seminar tersebut bergemuruh untuk menyambut Susi.
“Terima kasih semuanya.” Ucap Susi dengan perasaan bahagia karna ternyata Riyan masih mengenalnya.
“Pertanyaan saya pak, bagaimana memanajemen antara tekat usaha dengan peraan terhadap perasan sayang kepada seseorang yang kita cintai.” Tanya Susi.
“Waw ini pertanyaanya menjebak sepertinya ya.” Sahut moderator.
“Tapi ngak papa deh, kayaknya pak riyan bisa menjawabnya. Silahkan pak Riyan.” Lanjut moderator mempersilahkan Riyan menjawab pertanyaan Susi.
“Mudah saja, lurus saja pada tujuan. Jika tujuannya dua ya harus kita yang terus memotivasi agar keduanya bisa berjalan dengan baik sehingga kedua tujuannya bisa di gapai.” Jawab Riyan dengan mantap.
Tanya jawab antara nara sumber dan peserta berjalan dengan lancar dan seru.
Setelah selesai acara seminar, beberapa peserta meminta foto bersama dan meminta tanda tangan kepada Riyan.
Tampak Susi masih menunggu, Riyan melihat Susi masih di ruangan itu. Riyan melanjutkan untuk melayani para peserta untuk berfoto bersama.
“Sus, pulang yuk.” Ajak Ifa.
“Gua mau foto bareng dan minta tanda tangan Fa.” Ucap Susi.
Ifa terkejut dengan ucapan Susi, Susi yang Ifa kenal adalah orang yang sangat suka dengan seminar bisnis namun tidak dengan orangnya melainkan dengan materi seminarnya.
“Lu yakin mau foto? Kok tumben.” Tanya Ifa sedikit penasaran.
“Gua kenal dengan pak Riyan ini fa.” Jawab Susi.
“Pak saya minta tanda tangannya ya.” Ucap Susi sambil mendekat ke Rian disaat peserta yang lain sudah habis.
“Boleh, mau di tanda tangani dimana?” tanya Riyan.
“Di sini aja pak.” Sisi nemunjuk bagian dada atas di bawah bagian pundak Susi.
“Serius?” tanya Riyan.
“Yes.” Jawab Susi dengan senyum manisnya.
“Senang bisa dapat tanda tangan bapak.” Ucap Susi.
“Tanda tangannya ya, berarti hatinya sudah berpaling.” Ucap Riyan.
Susi memperhatikan wajah Riyan.
‘Mau foto berdua?” tanya Susi.
“Pasti.” Jawab Riyan mulai teringat dengan kebersamaannya bersama Susi diwaktu yang sudah lama terlewatkan.
Mereka berfoto berdua, Ifa mengambil foto mereka berdua.
Tapi ada yang janggal dengan pose mereka berdua, mereka terlihat sangat akrab bahkan bisa di bilang lebih pada mesrra.
“Kok kelihatannya mereka ada sesuatu ya.” Gumam Ifa dalam hati.
Ifa menguji rasa curiganya kepada Riyan dan Susi dengan cara Ifa meminta foto berdua dengan Riyan. Dan benar seperti dugaan Ifa, pak Riyan tidak sedekat ketika ia berfoto bersama Susi.
“Trima kasih pak.” Ucap Ifa.
“Yuk kita pulang Susi.” Ajak Ifa.
Riyan memberikan kartu namanya kepada Susi agar Susi dapat menghubunginya.
Susi menerima kartu nama tersebut dengan pandangan mereka masih sangat erat dan serasa tidak ingin dipisahkan kembali.
“Pak, kita bisa langsung ke penginapan untuk beristirahat.” Ujar ajudan yang bertugas untuk menemani Riyan.
“Baik pak.” Jawab Riyan.
Riyan masih memandangi Susi dari kejauhan begitu pula dengan Susi. Mereka masih saling mencuri pandang hingga mereka tidak dapat lagi melihat satu sama lain.
“Lu kenapa sih Sus, beneran kalian saling kenal?” tanya Ifa.
“Lu tau ngak sih Fa, bapak itu berasal dari kampung ku. Dia tu orangnya memang luar biasa banget.” Puji Susi.
“O jadai pak Riyan itu orang kampung lu.” Sahut Ifa.
Susi melihat kartu nama Riyan yang diberikan kepadanya. Susi menyimpan nomor hp Riyan agar suatu saat Susi bisa menghubunginya.
Ifa sebenarnya masih curiga dengan Susi, ia merasa kedekatan Susi dan Riyan tidak seperti kedekatan biasa saja. Tapi karna usia mereka yang terpaut sepuluh tahun membuat Ifa menjadi ragu jika Susi memiliki hubungan dengan Riyan.
Ifa dan Susi kembali ke kos nya setelah mengikuti seminar bisnis di kampus.
