Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

6. Kecipratan

"Bangun! Jangan jadi wanita malas kalau di sini!"

Seketika aku terbangun karena megap-megap setelah mendapati guyuran air membasahi sebagian tubuhku ke atas. Aku melirik gembor (tempat menyiram tanaman) di tangannya. Ya, ampun, memangnya aku bunga mawar. Ternyata, tadi cuma mimpi. Syukurlah, sebab rasanya tidak mungkin si Sergio itu melakukan hal seperti di mimpi.

"Jam berapa sekarang, Mbak?"

Mbak Sari yang melipat tangan di depan dada tak menjawab. Dia hanya memutar bola matanya, lalu berjalan ke arah jendela dan membuka gorden dengan kasar. Sinar matahari langsung menyilaukan pandanganku.

Astagfirullahal'adzhiim! Aku kesiangan. Aku belum terbiasa dengan kamar di rumah itu. Kamar dengan ranjang yang besar dan empuk. Saking nyamannya aku seperti tidur di atas awan walaupun belum pernah merasakannya.

Mataku berkeliling mencari letak jam dinding. Ternyata, posisinya tepat di atas sandaran ranjangku.

"Ya, Allah, sudah jam setengah tujuh."

"Nikmat, ya tidur di rumah baru? Wajar, sih. Kamu pasti belum pernah tidur di atas ranjang mahal."

"Iya, Mbak," jawabku asal.

Aku cepat-cepat beranjak dari tempat tidur dan merapikannya. Setelah itu mengambil handuk dan beberapa peralatan mandi dari koper.

"Mau ke mana kamu?"

"Sa-saya mau siap-siap kerja, Mbak. Takut terlambat."

"Oh, ya. Sebelum bersih-bersih hotel di sana, tolong kamu bersih-bersih rumah ini dulu!"

"Ta-tapi, Mbak? Bukannya sudah ada yang bersih-bersih di sini?"

"Memang ada. Tapi mulai saat ini, dia saya tugaskan hanya membersihkan kamar saya, Mama, dan kamar Lisa."

Waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul setengah tujuh pagi. Sepertinya, aku bisa selesai sebelum jam setengah delapan sampai aku berangkat kerja.

"Ba-baik, Mbak, tapi ... tolong izinkan saya mandi dulu."

Mbak Sari menunjuk dengan wajahnya, mengisyaratkan bahwa dia mengizinkanku mandi dulu.

"Terima kasih. Saya permisi."

Aku berjalan ke luar kamar mencari posisi kamar mandi. Tak jauh, aku melihat keberadaan ibu mertuaku. Ia berjalan semakin mendekat.

"Cari apa, Nak?"

"Saya ... cari kamar mandi." Aku celingak-celinguk di rumah besar itu.

"Kamu lurus ke sana. Di samping ruang makan, sebelah kirinya itu kamar mandi." Ia memberi tahuku.

"Te-terima kasih." Aku membungkukkan badan sebelum berjalan melewatinya. Ngomong-ngomong, ibu mertuaku sepertinya orang baik. Dari cara bicaranya sangat keibuan. Ekspresi wajahnya selalu memancarkan senyuman yang tulus.

Aah, itu dia kamar mandinya, tapi pintunya tertutup. Sepertinya, ada orang di dalam.

Tak sampai lima menit menunggu, pintu terbuka. Pria tinggi berbadan atletis berdiri di balik pintu. Ia memakai handuk putih sambil mengacak-acak rambutnya. Aku langsung menutup mata dengan tangan dan menyadarkan diri saat mataku terus memandanginya.

Ah, aku belum terbiasa walaupun aku sudah pernah melihat isinya. Aku mengintip dari bawah tangan, ia sudah keluar dari kamar mandi dan melewatiku. Huh, memang kamar mandi di rumah ini hanya satu apa? Padahal , rumah besar, tapi kamar mandi bersama.

Baru saja aku hendak melangkah, tapi Lisa tiba-tiba menabrakku dan menyerobot masuk.

"Aku dulu!" Dia menyunggingkan bibir sebelum menutup pintu dengan keras. Dasar Anak Bau Kencur!

"Bi, maaf. Apa ada kamar mandi lain selain ini?" Aku bertanya pada ART yang lewat.

"Ada satu di kamar Nyonya Hasna ." Hah, aku tidak mungkin memakai kamar mandi di sana. "Dan satu lagi, di dekat kamar saya," sambungnya.

Mataku berbinar. "Kalau begitu, saya mandi di sana saja."

Setelah mandi, aku mengerjakan salat yang tadi sempat kesiangan dilanjut salat Duha. Lalu, aku mengambil sapu dan mulai bersih-bersih rumah.

Di tengah kegiatanku itu, aku merasakan mual-mual yang hebat. Aku langsung berlari ke wastafel dan mengeluarkan cairan. Pagi itu, aku belum sarapan. Jadi, tidak ada makanan yang keluar.

Perutku terasa lemah, kepalaku pusing dan sedikit sempoyongan. Tiba-tiba ada tangan yang memijat tengkukku dengan lembut.

"Kamu baik-baik saja? Pasti capek, ya?"

Aku menoleh sekilas dengan menyipitkan mata.

"Rimar baik-baik saja, Nyonya."

"Jangan panggil Nyonya. Panggil Mama, ya?"

Aku tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ma."

"Ayo sarapan dulu, semuanya sudah menunggu."

"Tapi, ini—"

"Sudah, tinggalkan saja. Ada Bi Yuna nanti yang mengerjakan."

"Ba-baik, Ma." Aku mengikuti mama mertuaku berjalan.

Di meja makan, semua sudah berkumpul. Mereka melirikku dengan tatapan tak suka. Sementara itu, aku bingung memilih kursi karena tersisa tiga kursi kosong di sana.

"Rimar, duduklah di samping Sari," ucap ibu mertuaku.

Aku langsung mengikuti perintahnya.

"Enak, ya. Mulai sekarang hidup enak," tutur Mbak Sari sinis.

"Jangan-jangan, hamilnya bohongan, tuh, Kak? mengada-ada!" celetuk lagi adiknya Mas Gio.

"Astagfirullah. Enggak ada saya berpura-pura soal kehamilan ini, Dek."

"Bisa jadi, Lis. Mungkin saja itu bukan anak Mas Gio, tapi anak dari lelaki lain."

"Siapa yang mau disentuh dengan lelaki yang bukan suami sendiri? Apalagi suami orang lain. Bersentuhan fisik dengan lelaki lain pun saya menghindarinya." Aku berbicara dengan nada emosi. Aku ini sedang hamil. Karena itu mood-ku mudah naik dan turun. Aku jadi lebih sensitif.

Mas Gio hanya berdehem. Aku memakluminya karena aku memang bukan bagian yang diharapkan di rumah ini.

"Lisa, Sari, sudah. Mama enggak suka ada yang berbicara saat di meja makan. Bagamainapun Rimar sudah menjadi bagian dari keluarga ini. Kalian harus menerimanya, mengerti?" Mama Mas Gio berbicara tegas membuat Lisa dan Mbak Sari terdiam.

Semuanya memulai makan. Aku hanya mengambil sedikit nasi goreng dengan kerupuk. Nasi goreng di rumah ini beda rasanya dengan di rumahku. Padahal, sama-sama nasi goreng, tapi kenapa rasanya sangat enak. Saat itu, aku sedang tak berselera makan karena menahan mual, tetapi karena nasi goreng itu aku memakannya dengan sangat lahap.

Mas Gio sudah selesai makan, kemudian Mbak Sari ikut berdiri untuk memperbaiki dasi Mas Gio. Lantas, Mas Gio mengecup keningnya sebelum berangkat ke kantor.

Aku yang baru menyelesaikan makan langsung bangkit dari kursi untuk menahan kepergian Mas Gio dan Mbak Sari yang akan mengantarnya ke depan.

"Ada apa?" tanya Mas Gio.

"Aku, cuma mau mencium tangan suamiku sebagai bentuk hormat."

"Oh, tidak usah. Kamu tidak perlu melakukannya denganku."

"Tapi, aku takut berdosa."

Mas Gio menatapku sambil memikirkan ucapanku. Namun, Mbak Sari mendekatiku seakan ingin memberi tahu sesuatu.

"Kamu tidak usah sok suci di rumah ini! Karena kamu tidak lebih dari benalu!"

Ucapannya itu membuat hatiku memanas. Aku menatapnya dan semakin membuat rasa mualku memuncak sampai akhirnya tak bisa kutahan lagi.

"Aaaaaaaaaakkkkkkkhhh ...." Mbak Sari berteriak kaget.

Ia melonjak kaget dan membulatkan matanya penuh. Kulihat, wajahnya pelan-pelan menoleh ke arahku. Penuh emosi yang tersulut. Memang hanya dia yang emosi? Salah siapa memancing macan hamil?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel