Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Satu Atap dengan Macan

"Perhatian, tolong dengarkan semuanya." Suara Mas Gio tampak berat dan jantan mendominasi di ruang keluarga rumah itu.

"Dia siapa, Kak? Pembantu baru, ya?" celetuk seorang gadis yang paling muda di antara yang lainnya.

Enak saja aku dibilang pembantu. Walaupun penampakanku memang terlihat jauh dari apa yang ditampakkan mereka. Setidaknya, jangan melihat orang dari penampilan. Lagi pula, aku tidak jelek-jelek amat, hanya kekurangan polesan cushion bermerk.

Hmm, sepertinya, aku harus menyiapkan kelapangan hati saat tinggal di rumah besar itu.

"Semuanya, perkenalkan. Ini Marimar, istri keduaku."

"Apa? Dia siapa, Gio?" tanya wanita paruh baya dengan pakaian muslimah dan cantik.

"Ini ... istri kedua Gio, Ma," ucapnya memperjelas statusku. "Emm ... kenalkan, itu mamaku, itu Sari—istriku, Lisa—adikku, Kak Haris—Kakakku, dan di sampingnya, Kak Ayu—istri dari Kak Haris."

Mas Gio menunjuk satu persatu setiap orang yang ada di ruangan itu. Namun, mereka tidak menatapku dan hanya sibuk dengan urusannya masing-masing. Rasanya, aku seperti pecundang.

"Apa maksudmu, Mas?" Istri pertama Mas Gio menghampiri kemudian menghardik keras. "Jawab, Mas! Kenapa aku gak tahu sama sekali? Ada apa ini sebenarnya?" Dia mengguncang lengan Mas Gio untuk meminta kejelasan.

Melihat Mas Gio tak menjawab, dia jalan mendekatiku.

"Hei, kamu, Pelakor! Pergi kamu dari sini! Aku tak sudi dimadu denganmu!" Wanita bernama Sari itu memandangku tak suka dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Maaf, saya bukan pelakor seperti yang kamu kira," ujarku dengan sopan.

"Kalau bukan, kenapa kamu bisa jadi istri kedua suami saya! Kamu pasti menggoda dia, kan? Atau kamu guna-guna suami saya biar mau sama kamu! Ngaku kamu!" Dia berbicara dengan nada emosi sambil menarik kerudung yang menutupi kepalaku.

"Aaargh ... bukan, Mbak. Sumpah! Saya gak menggoda dia sama sekali."

"Kamu banyak alasan! Mana ada maling ngaku!" Mbak Sari mengangkat tangannya dan bersiap untuk memukulku. Aku cepat-cepat membuang muka dan menunduk untuk menghindarinya. Namun, setelah beberapa detik, aku tak merasakan apa pun yang menyentuh diriku. Dengan perlahan, aku kembali menoleh. Ternyata, Mas Gio menahan lengan Mbak Sari.

"Sudah, Sari. Dengarkan penjelasanku dulu. Ini semua salahku. Bukan salahnya."

Akhirnya, dia bisa membelaku dan mau mengakui kesalahannya.

"Sari, kemari sebentar," pinta mama Mas Gio untuk duduk di sampingnya.

"Gio, coba kamu jelaskan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut mamanya.

"Ehm. Begini ... Ma. Waktu ada acara kantor bulan lalu. Setelah acara, semuanya minum-minum dan hampir semuanya menginap di hotel. Malam itu, Gio mabuk berat, dan ....”

"Dan apa?!" Mbak Sari menyela.

"Tenang dulu, Sari," bujuk mama mertuaku pada Mbak Sari.

"Gio melakukan kesalahan di kamar hotel ... dan sekarang Rimar hamil karena Gio."

"Tunggu dulu, siapa dia dan kenapa dia bisa ada di sana sama kamu, Mas?"

"Dia, pegawai hotel yang sedang merapikan kamarku, Sari. Entah bagaimana aku bisa melakukan itu dengannya. Aku tidak ingat semua, kecuali wajahnya ini." Mas Gio melirikku.

"Jadi, waktu kamu gak pulang, kamu malah enak-enakan sama wanita tukang bersih-bersih ini? Keterlaluan kamu, Mas! Kamu sering marah-marah karena tiga tahun ini aku belum juga memberikan anak. Tapi, kamu malah menghasilkan anak dari wanita murahan ini!"

Dadaku bergemuruh hebat, lantas beristigfar. Rasanya aku ingin mencabik-cabik mulutnya yang tanpa saringan itu. Akan tetapi, di sini sedang banyak orang dan aku pasti akan kalah kelak.

"Tidak begitu, Sari. Ini kecelakaan dan murni karena kesalahanku. Aku benar-benar melakukannya secara tidak sadar. Lagi pula, mana aku tergoda dengan wanita seperti dia."

"Terus kenapa kamu harus bawa dia ke sini, Mas?!"

"Sari, bagaimana pun aku harus bertanggung jawab atas perbuatanku. Tidak lama, kok."

"Tidak lama? Maksudnya?"

"Dia hanya akan tinggal di sini sampai dia melahirkan. Setelah itu, aku akan menceraikannya dan membiarkan dia membawa anaknya."

"Tetap saja, Mas—"

"Sari, tolong, ya? Aku lelah. Aku sedang tidak mau berdebat lagi! Dan tolong hargai keputusanku!"

Mbak Sari menatapku sinis. Kemudian, dia menghentakkan kaki dan pergi meninggalkan kami sambil mendengkus kesal.

"Sariii ...? Sari ...?" panggil Mas Gio.

"Sudah, Gio. Biarkan dia sendiri dulu. Kalau dia sudah tenang, kamu bisa membicarakannya lagi nanti," ucap mamanya. "Lisa, masuk ke kamarmu! Dan Haris, pulanglah! Biarkan Gio mengurus rumah tangganya sendiri. Emm ... Gio, nanti Mama mau bicara sama kamu."

Mas Gio hanya menjawab dengan anggukan sambil melonggarkan dasinya.

Setelah semua beranjak pergi, ruangan yang tadinya ramai menjadi sepi. Mas Gio masih berdiri mematung sedang memikirkan sesuatu. Pandangannya menatap kosong lantai. Ia terlihat bingung.

Kakiku pegal sekali menunggu Mas Gio. Aku tidak tahu harus apa dan pergi ke mana? Atau ... di mana kamarku?

Setelah beberapa menit, akhirnya Mas Gio mengeluarkan suara.

"Oh,ya, kamarmu di sana." Mas Gio menunjuk salah satu kamar dan rupanya, kamarku persis di depan kamar yang dimasuki Mbak Sari.

Tanpa menunggu lagi, aku langsung berjalan ke kamar itu sembari menarik satu koper dan satu travel bag yang kubawa dari rumah.

Dia tidak membantuku sama sekali. Padahal jelas, aku susah payah membawa barang-barangku sejak keluar dari mobil sampai-sampai aku kerepotan sendiri membawanya.

Sabar, Rimar. Pelan-pelan. Yaa ... pelan-pelan aku akan membuatnya mengemis cinta sampai dia memohon dan bertekuk lutut di hadapanku. Aku akan mengambil sedikit dari apa yang dia miliki sebagai jaminan masa depan anakku nanti. Baru setelah itu, aku akan melepaskannya.

Tunggu saja waktunya, Sergio Ibrahim!

***

"Marimar."

"Iya, Tuan."

Pria berkumis tipis itu menarik kedua tanganku, mengusapnya dengan halus. Perlahan ia mengangkatnya, mendekatkannya, lalu mengecup tanganku seraya tersenyum simpul. Aku tersipu.

Di sebuah meja makan bundar dalam sebuah restoran mewah dengan dekorasi berwarna emas, kami duduk menanti pesanan. Tak ada siapa pun di sana selain para pegawai restoran karena tempat itu khusus di-booking olehnya.

Ia menarik kursi yang aku duduki sampai berada persis di sampingnya. Lengannya melingkari pinggang mungilku. Hmm, jantung rasanya bertalu-talu dengan keras.

Aku duduk malu-malu dalam sandaran dadanya yang berbentuk seperti bar cokelat. Ia mengangkat daguku lima sentimeter ke atas. Aku segera menunduk malu karena pandangan kami saling berpautan.

"Silakan dinikmati hidangannya, Tuan dan Nyonya Sergio." Para pelayan bergegas pergi setelah menyapa kami dan meletakkan banyak sekali menu makanan di atas meja.

Lelaki dengan rambut disisir rapi ke belakang di sampingku mengambil gelas kaca yang berisi minuman berwarna merah. Ia memutarnya sebentar, lalu hendak meminumkannya padaku. Mulutku sedikit menganga menanti cairan segar dari gelas itu.

***

"Bangun! Jangan jadi wanita malas kalau di sini!"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel