7. Rencana Busuk Mbak Sari
"Aaaaaaaaaakkkkkkkhhh ...." Mbak Sari berteriak kaget.
Ia melonjak kaget dan membulatkan matanya penuh. Kulihat, wajahnya pelan-pelan menoleh ke arahku. Penuh emosi yang tersulut. Memang hanya dia yang emosi? Salah siapa memancing macan hamil?
"Ma-maaf—"
"Kamu ...?!"
Dan ... pipiku mendapat cap tangannya dengan keras. Lebih keras daripada tamparannya Abah beberapa waktu lalu, tetapi hatiku lebih sakit mendengar kata-katanya sepagian itu.
"Maaf, Mbak. Saya ... saya tidak sengaja."
"Dasar wanita kotor! Kamu benar-benar menjijikan, tau!" pekiknya.
"Maaf, Mbak. Itu ... itu keluar begitu saja." Aku menyeka aliran air yang hendak keluar dari ekor mata. Aku berinisiatif mengambil lap meja makan dan membersihkan bekas muntahan nasi gorengku yang menyatu dengan cairan lainnya di baju Mbak Sari.
"Jangan sentuh saya dengan tangan kotormu!" bentaknya.
Aku langsung menautkan kedua tangan sambil meremas lap meja makan.
"Maaaas ...." Dia merengek pada Mas Gio sambil menatap jijik bajunya sendiri.
"Kamu ganti baju saja, Sari. Aku akan berangkat sendiri." Mas Gio melenggang pergi begitu saja tanpa ekspresi.
Aku tertunduk sambil berdiri mematung di ruang makan, menahan air mata agar tak terjatuh.
"Dasar Kotor! Mau di mana pun, ya, tetap jadi wanita kotor!" celetuk gadis berambut ikal panjangseperginya Mbak Sari dari ruang makan.
"Lisa, jaga ucapanmu!" Mama menegurnya.
Lisa tak acuh dengan teguran mamanya. Dia langsung berdiri dan bersiap pergi ke sekolah. Wajahnya begitu menyiratkan bahwa aku benar-benar kotor dan tak pantas ada di rumah itu.
Memangnya, serendah itukah aku?
Semua yang terjadi bukanlah keinginanku, tetapi Allah yang membuat jalannya menjadi seperti ini. Di mana salahku? Haruskah aku membiarkan anak ini lahir tanpa seorang ayah? Tidak, aku belum siap mental. Aku tidak siap dengan cibiran yang akan dilontarkan orang-orang apabila itu terjadi. Apa yang akan terjadi dengan anakku nanti jika ia lahir dan beranjak dewasa? Sungguh, aku tidak mau membayangkannya.
"Rimar? Perutmu masih mual?"
"Tidak, Ma," ucapku sambil terisak.
"Sudah biarkan itu—
Aku menggeleng. "Tidak, Ma. Rimar yang akan membersihkannya."
"Ya, sudah. Sebentar lagi, kamu berangkat kerja, ya?"
Aku mengangguk-angguk.
"Semalam, Mama sudah bicara dengan Gio. Terus, Mama mau bicara sama kamu nanti malam. Mama mau dengar penjelasan dari kalian masing-masing, ya?"
"I-iya, Ma." Seperginya mama mertua dari hadapanku, aliran bening dari mata langsung mengalir deras. Aku sendirian di rumah. Tak lama beberapa ART datang untuk merapikan meja makan dan sesekali memperhatikanku yang sedang membersihkan lantai sambil sesenggukan.
Umi, aku kangen sama Umi ... sikap mamanya Mas Gio mengingatkanku pada Umi. Aku ingin sekali memeluknya sebagai pengganti sosokmu. Umiiii ... aku sangat membutuhkan Umi saat ini.
Aku berjongkok sambil menenggelamkan wajah di antara lipatan tangan. Tak peduli para ART itu menatapku terheran-heran.
***
Setelah kenyang menangis di ruang makan, aku kembali ke kamar. Aku harus siap-siap bekerja karena waktu sudah menunjukkan jam setengah delapan pagi.
Namun, ada yang mengusik telinga saat aku hendak masuk kamar dan menutup pintu. Kamar di depanku sedikit terbuka.
"Iya, kita harus atur siasat baru, tapi gimana caranya?"
Aku menguping Mbak Sari yang sedang melakukan panggilan telepon.
"Kita harus singkirkan wanita itu. Kalau tidak, dia akan menghancurkan rencana kita."
"Tidak. Aku tidak mau punya anak darinya."
"Tentu saja. Aku sudah memakai sesuatu. Jadi, mau bagaimana pun aku tidak akan hamil anaknya. Ha-ha-ha."
Mbak Sari menoleh ke arah pintu. Aku sigap bersembunyi dan mengendap masuk ke kamar. Pintu kututup pelan-pelan dan bersandar di baliknya.
Kudengar pintu kamar seberang ditutup. Aku sangat penasaran. Sebenarnya, apa yang dia rencanakan dan dengan siapa dia berbicara tadi? Pasti berhubungan dengan Mas Gio. Terus ... apa wanita yang disebut-sebutnya tadi adalah aku?
Tidak bisa dibiarkan! Kukira, aku macan di rumah ini, ternyata ada singa juga. Aku harus menyelidiki rencana terselubungnya ini.
***
Aku bekerja seperti biasanya.
Saat aku merapikan tempat tidur, masih selalu saja terlintas kejadian malam itu. Aku bergeleng-geleng berusaha menampik kenangan gelap yang sulit dikubur.
Setelah lima kamar diselesaikan dengan baik, akhirnya aku bisa beristirahat. Baru lima kamar saja sudah membuat napasku terengah-engah.
Padahal biasanya, aku bisa merapikan tujuh sampai delapan kamar sebelum jam istirahat. Mungkin karena efek kehamilan ini, aku jadi mudah lelah.
"Rimar, kenapa melamun?" tanya Fitri—teman seprofesi— di saat jam istirahat.
"Ooh, tidak apa-apa, Fit." Aku tersenyum tipis.
"Wajahmu pucat sekali. Kamu sakit?"
"Aku sedikit kurang sehat."
"Kalau sakit kenapa memaksakan bekerja?"
"Aku bosan kalau di rumah, Fit. "
"Mungkin kamu kelelahan. Kemarin-kemarin, kan, kamu sering lembur di hari libur."
"Sepertinya, begitu, Fit. Apa aku cari kerjaan lain saja, ya?"
Selintas, lampu di otakku menyala. Bagaimana kalau aku resign? Setelah itu, aku akan bekerja di kantornya Mas Gio. Sambil menyelam minum air. Aku akan menyelidiki Mbak Sari dan Mas Gio sekaligus.
Kalau mau menyerang musuh, kita harus mendekatinya pelan-pelan. Menjadi orang yang paling dekat dengannya, kemudian menyerang secara halus.
Sebenarnya, ada apa dengan hubungan mereka? Karena sering kali aku melihat perilaku Mas Gio pada istri pertamanya itu seperti hambar. Tak ada senyuman atau ucapan manis. Apakah mereka saling mencintai?
Aku juga jadi berpikir: walau kini aku menjadi istrinya, tak pernah sekali pun mendengar Mas Gio memanggil namaku—tidak satu kali pun.
Di memanggil istrinya pun dengan nama, bukan dengan panggilan sayang, mama, yank, mbeb, mimi, cinta atau panggilan manis lain seperti pasangan suami istri pada umumnya.
Mereka benar-benar misterius.
***
Ojek online yang kusewa berhenti di depan rumah megah berlantai dua. Aku segera turun dan lekas membayar jasanya dengan uang tunai, kemudian berjalan pelan sambil memandangi rumah di depanku.
Seakan masih tak percaya jika aku menjadi bagian dari keluarga pemilik rumah ini. Apalagi bermimpi menjadi seorang madu, tak pernah terlintas sedikit pun.
Di teras rumah, aku melihat Bi Yuna sedang menyapu. Ia langsung menghampiri begitu menyadari kepulanganku.
"Nyonya, tadi Nyonya besar menitip pesan agar Nyonya Rimar menemuinya di kamar kalau sudah pulang."
"Baik, Bi. Terima kasih, ya. Saya permisi masuk dulu."
Mama pasti mau membicarakan hal yang tadi pagi disampaikannya. Aku masuk ke kamar untuk bersih-bersih sebelum menemui mamanya Mas Gio. Setelah selesai, aku segera melangkah menuju kamar yang terletak di lantai atas.
Lantai dua hanya dihuni oleh mamanya Mas Gio dan Lisa—adiknya. Sebelum menaiki tangga, Mbak Sari menghadangku sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
"Mau ke mana? Jangan lancang, ya, naik-naik ke lantai atas!”
