LIMA
Isabelle kembali menerima pesan dari Darren. Kali ini, dia menanyakan tentang harinya. Senyum mengembang di wajahnya saat ia membalas pesan itu.
Keluarganya-terutama kakaknya-tidak pernah mengizinkan vampir laki-laki mendekatinya. Bukan berarti ada yang berani mencoba. Tapi entah bagaimana, Kevin justru mendorongnya untuk bertemu dengan Darren. Bahkan, dia yang mengusulkan agar Darren menjadi pendampingnya di acara final Miss Raven Brook.
Menjadi adik perempuan Kevin Greystone memang punya kelebihan, tapi juga ada sisi buruknya. Para vampir di dalam klan selalu menundukkan kepala setiap kali berada di rumahnya. Satu tatapan yang salah saja bisa membuat Kevin murka. Dan bagi mereka yang nekat mencoba, nyaris kehilangan nyawa-jika saja Isabelle tidak sempat menghentikan kakaknya tepat waktu.
Dia diperlakukan seperti seorang putri, dan hanya seseorang yang sangat kuat serta mendapat persetujuan Kevin yang bisa menjadi pasangannya. Dan tampaknya, Darren memenuhi semua syarat untuk itu.
Bukan berarti Isabelle sedang memikirkannya. Ada sesuatu yang masih kurang. Memang, Darren pria yang baik, dan ada ketertarikan di antara mereka. Tapi tetap saja, rasanya ada yang tidak tepat.
"Belle!" suara Jennifer membuyarkan lamunannya.
"Bagaimana menurutmu gaun yang ini?" tanya Jennifer sambil berputar dalam balutan gaun pengantin lainnya.
Isabelle menggelengkan kepala.
"Aku tidak suka, tapi mari kita tanyakan pada Rhea," katanya sambil mengambil foto Jennifer dan mengirimkannya ke Rhea.
("Dia kelihatan gemuk sekali di foto itu,") Rhea membalas pesan yang dikirimkan oleh Isabelle.
("Kenapa Kevin bisa menyukainya?") Rhea mengirim pesan lagi.
("Jennie seksi dan nakal, sementara Kevin licik dan penuh akal,") jawab Isabelle kepada Rhea. ("Mereka memang sudah berjodoh.")
"Gadis bodoh itu!," gerutu Jennifer saat melihat pesan Rhea di ponsel Isabelle.
"Akan ku beri dia pelajaran," gumam Jennifer sambil meraih ponsel Isabelle.
"Jangan coba-coba. Ingat terakhir kali kau mencoba menyerangnya," ujar Isabelle mengingatkan.
Hidung Jennifer kembang-kempis karena marah saat mengingat kejadian itu.
"Dia sudah menggantungmu di pagar teras sebelum kau sempat berteriak memanggil Kevin," tambah Isabelle.
"Baiklah! Kali ini aku akan berteriak lebih cepat," kata Jennifer.
"Kau suka gaunnya?" tanya pramuniaga.
"Tidak," jawab Jennifer sambil menghela napas.
"Oh, ayolah! Jangan menyerah. Kita pasti akan menemukan gaun yang sempurna," hibur Isabelle.
Ponsel Isabelle berbunyi lagi. Ia tersenyum saat membaca pesan lain dari Darren. Darren menulis bahwa dia tak sabar untuk bertemu dengannya lagi.
"Ohhh!" seru Jennifer sambil melongok ke layar ponsel Isabelle. "Kevinbbenar. Pria itu memang benar-benar menyukaimu."
Isabelle langsung merona hebat. "Kevin tahu tentang ini?"
"Kevin tahu segalanya yang terjadi, Belle," jawab Jennifer sambil memutar matanya. "Tapi dia sangat senang dengan ini."
"Oh tidak," kata Isabelle panik. "Tidak. Tidak. Maksudku, iya, Darren memang pria yang luar biasa, dan aku senang Kevin merestui, tapi tidak ada apa-apa di antara kami. Untuk saat ini, aku ingin menjalani semuanya dengan perlahan. Jangan harap ada pernyataan cinta dariku dalam waktu dekat."
Jennifer kembali memutar matanya. "Isabelle! Kalau Darren jatuh cinta padamu, kau tahu bahwa tidak ada jalan keluar, kan? Kau tahu sendiri bagaimana vampir pria bisa jadi gila demi mendapatkan orang yang mereka inginkan dan menjadikannya pasangan mereka. Mereka bahkan bisa membunuh demi pasangannya."
"Aku punya tiga saudara vampir Dravein yang bisa menghapus ingatannya jika dia mulai bertingkah seperti vampir yang jatuh cinta. Aku tidak takut." Isabelle mengangkat bahu. "Lagi pula, vampir tidak mudah jatuh cinta. Lihat saja Kevin. Dia baru jatuh cinta setelah hampir seribu tahun hidupnya."
Itulah salah satu alasan mengapa vampir pria jarang diizinkan mendekatinya. Vampir memang tidak mudah jatuh cinta, tapi sekali mereka jatuh, tidak ada jalan kembali. Mereka tidak akan berhenti sampai mendapatkan orang yang mereka inginkan.
Setahun yang lalu, seorang vampir dari klan mereka mengaku jatuh cinta pada Isabelle. Ia tidak membalas perasaannya, dan vampir itu menjadi gila karenanya-sampai akhirnya saudara-saudaranya tahu.
David dan Kevin langsung ingin memburunya, tapi Isabelle menghentikan mereka. Dia tidak ingin seseorang dihukum hanya karena jatuh cinta. Jadi, dia meminta kakak-kakaknya menghapus ingatan vampir itu dan mengusirnya dari Ravenbrook.
"Oh iya! Aku lupa kalau kau punya cara curang," Jennifer mendengus sambil memutar matanya.
"Menjadi adik Kevin Greystone memang ada keuntungannya," Isabelle menjawab dengan menyeringai.
******
River menyeringai saat memasuki bar. Aroma darah yang begitu kuat hampir membuatnya kehilangan fokus. Ia melangkah mendekati seorang gadis berambut merah yang menarik, duduk di bangku bar.
"Permisi!" katanya dengan nada memuji, membuat gadis itu tersipu. "Aku tidak bermaksud terdengar aneh, tapi astaga! Kau sangat cantik."
Beberapa menit dan beberapa minuman kemudian, gadis itu memohon padanya untuk membawanya ke rumahnya. Ia pun berpesta dengan darahnya. Cairan merah itu menetes dari taringnya ke lehernya saat ia menghela napas puas. Setelah dahaganya terpuaskan, ia memaksanya untuk pergi. Dari kejauhan, ia bisa mendengar erangan yang berasal dari kamar adiknya.
"Aku sudah bilang pada bajingan itu untuk tidak membawa wanita-wanitanya ke rumahku," geramnya.
Mood-nya sedang sangat buruk. Ia tidak lagi melihat "gadis itu" dalam mimpinya. Sudah seminggu berlalu, dan ia putus asa hanya untuk sekadar melihatnya lagi. Dengan emosi, ia masuk ke kamarnya dan menarik buku sketsanya dari dalam lemari.
Ini tidak sehat. Gadis itu bahkan tidak nyata, tetapi ia sangat ingin melihatnya. Ia bahkan belum pernah melihat wajahnya secara utuh.
Telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki sahabatnya yang baru saja masuk ke rumah. Ia bisa mendengar hal-hal dari jarak bermil-mil. Ia bukan manusia biasa. Ia adalah seorang vampir. Salah satu dari klan Nocturn, klan yang tidak dipimpin oleh siapa pun selain dirinya sendiri. Kejam dan berbahaya, kekuatannya ditakuti oleh para vampir di seluruh dunia. Meskipun usianya lebih muda dibanding banyak vampir lain, ia memiliki salah satu klan terkuat. Klan yang berisi manusia serigala, penyihir, dan pemburu.
Ia adalah raja tanpa mahkota.
"Aku baru saja mendengar bahwa 'The Dravein' membuat perjanjian dengan keluarga Storm," ujar Erik. "Ada sesuatu yang tidak beres, River. Aku bisa mencium baunya."
River memasukkan kembali buku sketsanya ke dalam lemari.
"Mereka tidak akan berani menyerang," katanya santai, mengabaikan kekhawatiran Erik. "Terutama sekarang setelah mereka tahu bahwa 'Penyihir Rowena' ada di pihak kita."
"Aku tidak akan mempertaruhkan nyawa pasanganku jika ini berakhir menjadi perang," balas Erik tegas.
River hampir menggeram. Ia menyukai kehidupannya sebagai vampir, tetapi satu hal yang paling mengganggunya adalah naluri protektif para vampir pria terhadap pasangan mereka.
"Erik! Aku tidak masalah bertarung demi klan kita jika memang harus," kata Giselle saat ia muncul di belakang pasangannya. Tangannya menyentuh lengan Erik, dan seketika Erik tampak lebih tenang.
Terkadang, River merasa iri pada mereka. Dalam seratus tujuh puluh lima tahun hidupnya sebagai vampir, ia tak pernah merasakan sesuatu seperti yang mereka rasakan satu sama lain.
"Apa itu?" tanya Giselle saat ia bergerak mendekatinya.
"Apa?"
Giselle mengambil buku sketsa yang ternyata tidak cukup tersembunyi.
"Tidak ada sketsa sejak minggu lalu. Jadi, itu sebabnya kau begitu sensitif belakangan ini," gumamnya sambil tersenyum kecil.
"Ya! Ya! Tidak ada mimpi," gerutu River, hampir merebut buku sketsanya dari tangan Giselle.
"Kalian berdua terus mengatakan ini tidak sehat, dan sekarang aku tidak bisa melihatnya lagi," tambahnya, seolah itu semua adalah kesalahan mereka karena ia tak lagi bisa melihat sosok misterius dalam mimpinya.
"Kau tahu, aku punya teori," ujar Giselle, lalu berhenti ketika River mendesis kesal. "Mungkin, kau sebenarnya sedang melihat sekelebat memori tentang pasangan jiwamu."
"Ssst... berhenti sampai di situ," potong River cepat. "Dia bukan pasanganku. Aku tidak percaya dengan konsep 'mate' atau semacamnya. Gadis ini hanyalah bagian dari imajinasiku. Bagian yang sangat cantik, memang, tapi tetap saja hanya imajinasi. Vampir tidak jatuh cinta."
"Aku jatuh cinta," koreksi Erik.
"Itu karena," River mulai berbicara, "kau bodoh. Dan sekarang, jangan membuang-buang waktu lagu. Malam ini giliranmu menjaga perbatasan. Pergi sana!"
Begitu mereka keluar dari kamarnya, River menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Buku sketsanya terlepas dari genggaman, tapi ia menangkapnya sebelum menyentuh lantai. Ia membuka halaman buku itu dan menarik keluar sketsa favoritnya-sepasang mata milik gadis itu.
Ia berbaring dan menatap sketsa mata malaikat yang ia gambar beberapa minggu lalu. Senyum sedih muncul di wajahnya. Mata seindah dan sepolos itu tidak mungkin nyata. Tidak di dunia tempat ia hidup. Dan sekalipun nyata, ia tidak pantas untuk melihatnya.
Namun tetap saja, malam ini ia berharap bisa melihat sekilas sosoknya lagi dalam mimpi.
******
Isabelle mengisi cangkir dengan darah dari kantong darah. Dari seluruh anggota keluarganya, hanya dia yang tidak bisa minum langsung dari pembuluh darah. Satu-satunya alasan dia menjadi anak kesayangan keluarganya adalah karena dia tidak pernah membunuh.
Mereka adalah vampir. Membunuh adalah bagian dari naluri mereka. Namun sepanjang hidupnya, Isabelle belum pernah menghabisi satu pun nyawa. Dia tetap tak ternoda.
Begitu ia menghabiskan isi cangkirnya, ia membuang gelas plastik itu dan mengembalikan kantong darah ke dalam lemari pendingin.
"Belle!" panggil ibunya dari seberang rumah.
Seketika, Isabelle melesat menuju tempat ibunya berada. Ayahnya duduk di kursi berlengan, membaca koran, sementara ibunya berdiri di dekat para desainer yang kemungkinan besar telah ibunya kendalikan dengan kekuatannya.
"Ini putriku," jelas ibunya. "Ukur tubuhnya. Aku ingin gaun royal blue dengan model sweetheart neckline, dihiasi renda dan payet, serta rok yang mengalir indah untuk acara final Miss Raven Brook Competition. Gaun itu harus memukau. Harus sempurna."
"Baik, Nyonya," desainer yang telah dikendalikan itu mengangguk, memberi isyarat kepada asistennya untuk mencatat instruksi.
"Rhea juga punya beberapa ide bagus," tambah ibunya. "Sebaiknya kau menemuinya sebelum acara final untuk mendapatkan beberapa masukan darinya."
Bunyi notifikasi dari ponsel Isabelle tiba-tiba memotong instruksi ibunya.
"Ini dari Jennie. Aku harus mengangkatnya," ujar Isabelle sebelum melesat keluar dari rumah.
Ibunya tidak terlalu menyukai Jennifer. Namun, karena Jennifer adalah mate Kevin, ibunya tetap harus menghormatinya.
"Hey, Jennie!" sapa Isabelle begitu mengangkat telepon.
"Belle," suara Jennifer terdengar pelan dan penuh kewaspadaan. "Kau sendirian?"
"Ya!" jawab Isabelle sambil menyelipkan sehelai rambut ke belakang telinganya. "Ada apa?"
"Belle... Kau... kau harus menyelamatkanku," suara Jennifer bergetar.
"Jen! Ada apa?" tanya Isabelle, panik.
"A-Aku ada di wilayah Nocturn," bisik Jennifer.
Isabelle tertawa. "Bagus sekali, Jennie," katanya di sela-sela tawanya.
"Aku tidak bercanda, Belle," Jennifer berkata dengan nada panik. "Aku melewati rute Wall Street. Aku menemukan gaun yang sempurna... Sangat indah dengan model ekor duyung dan... pokoknya, mobilku tidak bisa jalan. Aku tidak bisa naik taksi karena takut mereka mengenaliku. Tolong, Belle, kau harus membantuku. Kevin akan membunuhku jika dia tahu."
"Jennie!" Isabelle memohon. "Tolong katakan ini hanya lelucon. Katakan! Ini hanya sebuah candaan!"
"Aku benar-benar minta maaf," Jennifer meratap. "Aku seharusnya mendengarkan Kevin. Aku terjebak, Belle. Tolong! Tolong bantu aku!"
"Kau... Oh, Tuhan!" Isabelle mengumpat panik. "Aku harus memberi tahu Kevin. Jen! Kami akan segera ke sana. Tetaplah di tempatmu!"
"Tidak... Kau tidak bisa. Kevin harus melancarkan serangan. Orang-orang akan terluka karena aku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Pasti ada cara lain."
"Tidak bisakah kau datang dan menjemputku?" Jennifer berkata dengan gugup, ketakutan.
"Perbatasan dijaga ketat," jawab Isabelle. "Vampir wanita bahkan tidak diizinkan mendekat ke sana."
"Tolong," Jennifer memohon. "Isabelle, selamatkan aku kali ini saja. Aku berjanji akan selalu menaati aturan. Aku akan selalu mendengarkan Kevin. Tolong! Kumohon!"
"Jalur mana yang kau gunakan?"
"Jalur yang melewati jalan raya," jawab Jennifer.
"Aku sedang dalam perjalanan," gumam Isabelle sambil berlari menuju mobilnya.
Dengan cepat, ia mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan kepada Rhea.
("Ada sesuatu yang sangat penting. Tolong bantu tutupi aku kalau Kevin menelepon.")
Tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Tanpa membuang waktu, Isabelle melompat ke dalam Hyundai Tucson-hadiah dari saudaranya pada ulang tahun ketiganya sebagai vampir.
Ia segera menghubungkan ponselnya ke Bluetooth mobil dan melaju kencang menuju jalur yang Jennifer gunakan untuk memasuki wilayah Nocturn di Raven Brook.
("Kau mau pergi kemana?") suara Rhea terdengar begitu Isabelle menerima panggilan masuk.
"Ke Wall Street bersama Jennifer untuk menemui beberapa teman lama dari kampus dan mengundang mereka ke pernikahannya," jawabnya tanpa ragu, berbohong dengan mulus.
"Kevin mengizinkanmu pergi ke Wall Street, sendirian?" tanya Rhea terkejut.
"Rhea!" sahut Isabelle dengan nada kesal. "Kenapa aku memintamu untuk menutupiku kalau dia memang mengizinkan kami pergi?"
Biasanya, ia tidak pernah membentak kakaknya. Ia sangat menghormati Rhea. Tapi saat ini pikirannya berada di tempat lain. Dia terlalu khawatir dengan sahabatnya. Selain itu, menjaga Jennifer adalah tanggung jawabnya. Jika sesuatu terjadi pada Jennifer, Kevin pasti tidak akan segan-segan menghukumnya.
"Putar balik mobilmu sekarang. Aku tidak akan menutupimu," perintah Rhea tegas. "Aku tidak akan berbohong pada Kevin." Mereka semua sangat setia pada kakak laki-laki mereka.
"Sudah terlambat," Isabelle berbohong lagi. "Aku sudah sampai di Wall Street."
"Isabelle!" seru Rhea dengan nada tajam. "Apa yang salah denganmu? Sejak Jennifer muncul dalam hidup kita, kau jadi semakin pemberontak. Ini terakhir kalinya aku menutupimu, tapi sikapmu benar-benar membuatku khawatir. Kita akan membahas ini dengan serius begitu kau kembali."
"Terima kasih, kak," ujar Isabelle sambil membelok tajam. "Kau yang terbaik."
Sekitar delapan kilometer lagi, dalam lima belas menit, ia akan berada di wilayah musuh. Pikirannya berteriak agar dia berbalik. Ini salah. Keluarganya pasti akan menghukumnya habis-habisan jika mereka mengetahui hal ini.
Isabelle menelan ludah dengan keras saat melaju menuju perbatasan. Ini saatnya. Ia masih bisa berbalik. Ia bisa menelepon saudara-saudaranya dan membiarkan keluarganya menangani situasi ini. Ia masih muda-baru lima tahun sebagai vampir. Ia tidak akan bisa melawan mereka.
Tapi kemudian, Jennifer akan dalam masalah. Wajah Jennifer yang penuh ketakutan muncul di benaknya. Dengan tekad bulat, ia menekan pedal gas dan melesat memasuki wilayah musuh.
